Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATAS YANG MULAI KABUR
Pukul 08.15 pagi.
Alya kembali ke mejanya dengan langkah sedikit lebih lambat dari biasanya.
Kalimat Raka masih terngiang di kepalanya.
“Karena saya membutuhkan kamu di sini.”
Sebenarnya tidak ada yang aneh.
Seorang direktur membutuhkan asistennya untuk bekerja.
Wajar.
Sangat wajar.
Tetapi entah kenapa, cara Raka mengatakannya membuat Alya merasa ada sesuatu yang berbeda.
Dia menggeleng.
“Jangan berpikir aneh-aneh.”
Maya yang duduk di sebelahnya langsung menoleh.
“Siapa yang kamu omongin?”
Alya terkejut.
“Tidak ada.”
“Barusan kamu ngomong sendiri.”
“Aku cuma berpikir.”
“Pasti soal Pak Raka.”
Alya memutar mata.
“Kenapa setiap aku berpikir kamu selalu menghubungkannya dengan dia?”
“Karena sejak kamu bekerja di sini, sebagian besar ceritamu memang tentang dia.”
Alya terdiam.
“Tidak juga.”
Maya menghitung dengan jari.
“Senin: bos menyebalkan.”
“Selasa: bos mengubah jadwal.”
“Rabu: bos tidak mau makan.”
“Kemarin: bos cemburu.”
Alya langsung menoleh.
“Dia tidak cemburu.”
Maya tersenyum lebar.
“Aku tidak bilang siapa yang cemburu.”
Alya menyadari dirinya terpancing.
“Ya sudah.”
Dia membuka laptop.
Maya masih tersenyum.
“Jadi hari ini?”
“Hari ini apa?”
“Bosmu melakukan apa?”
Alya menjawab datar,
“Melarang aku bertemu Pak Dimas.”
Maya langsung berhenti tersenyum.
“Serius?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Katanya membutuhkan aku.”
Maya menatapnya beberapa detik.
Kemudian bertanya,
“Untuk pekerjaan?”
Alya terdiam.
“Katanya.”
Maya bersandar.
“Hmm.”
Alya mulai tidak nyaman.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
“Jangan ‘hmm’ begitu.”
Maya tertawa.
“Kalau menurutku, bosmu mulai bermasalah.”
“Bermasalah bagaimana?”
“Mulai suka.”
Alya langsung menggeleng.
“Tidak mungkin.”
“Kenapa?”
“Karena dia bosku.”
“Justru itu.”
Alya hendak menjawab, tetapi pintu ruang Raka terbuka.
Keduanya langsung diam.
Raka berdiri di ambang pintu.
“Alya.”
“Iya, Pak?”
“Masuk.”
Alya berdiri.
Maya menahan senyum.
Alya melewatinya sambil berbisik,
“Jangan senyum.”
Maya menjawab,
“Semoga sukses.”
RAPAT YANG TIDAK ADA DI JADWAL
Alya masuk.
Raka sedang berdiri di depan meja sambil melihat beberapa dokumen.
“Duduk.”
Alya duduk.
Raka menyerahkan sebuah map.
“Ini laporan dari divisi marketing.”
Alya membukanya.
“Kenapa?”
“Saya mau kamu pelajari.”
“Untuk meeting sore?”
“Ya.”
Alya membaca sekilas.
“Bapak mau saya buatkan rangkuman?”
“Bukan.”
“Lalu?”
“Berikan pendapatmu.”
Alya mengangkat wajah.
“Pendapat saya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Raka menatapnya.
“Karena saya ingin tahu bagaimana kamu melihatnya.”
Alya diam.
Selama beberapa hari bekerja, Raka memang sering meminta pendapatnya.
Tetapi kali ini berbeda.
Ini bukan sekadar pekerjaan administratif.
Raka benar-benar meminta pandangannya.
Alya membaca laporan lebih teliti.
“Boleh jujur?”
“Memang saya meminta apa?”
Alya tersenyum.
“Baik.”
Dia menunjuk satu bagian.
“Menurut saya angka penjualan naik, tapi efektivitas promosinya turun.”
Raka mengangguk.
“Lanjut.”
“Kalau kita hanya melihat omzet, hasilnya terlihat bagus.”
“Ya.”
“Tapi kalau dilihat dari biaya promosi, pertumbuhannya tidak terlalu sehat.”
Raka menatapnya.
“Kenapa?”
“Karena kita mengeluarkan lebih banyak uang untuk mendapatkan pertumbuhan yang lebih kecil.”
Raka diam.
Kemudian mengambil pena.
“Bagian mana lagi?”
Alya mulai menjelaskan.
Lima belas menit berlalu.
Mereka berdiskusi tanpa menyadari waktu.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada nada tinggi.
Hanya percakapan antara dua orang yang mulai memahami cara berpikir satu sama lain.
Sampai akhirnya Raka berkata,
“Kamu belajar bisnis dari mana?”
Alya tersenyum.
“Baca.”
“Buku?”
“Buku, artikel, berita.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak mau hanya menjadi orang yang menjalankan perintah.”
Raka menatapnya.
“Bagus.”
Alya menutup map.
“Sudah?”
“Belum.”
Raka menunjuk kursi.
“Tetap di sini.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Saya mau membahas satu hal lagi.”
Alya menghela napas.
“Baik.”
Raka kembali melihat dokumen.
Namun sebenarnya pikirannya sedikit terganggu.
Dia menyukai percakapan seperti ini.
Alya tidak hanya menjalankan perintah.
Dia berpikir.
Dia berani menyampaikan pendapat.
Dan dia tidak takut berbeda pendapat dengannya.
Raka menyadari sesuatu yang cukup berbahaya.
Dia mulai menghargai Alya bukan hanya sebagai asisten.
PUKUL 11.30
Pembahasan akhirnya selesai.
Alya berdiri.
“Saya kembali ke meja.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
Alya berjalan menuju pintu.
Kemudian berhenti.
“Pak.”
“Ya?”
“Bapak sebenarnya bisa meminta manajer marketing melakukan ini.”
Raka mengangkat wajah.
“Apa?”
“Analisis laporan.”
“Bisa.”
“Kenapa meminta saya?”
Raka terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi jawabannya tidak.
Karena dia ingin mendengar pendapat Alya.
Karena dia mulai percaya pada cara berpikirnya.
Dan mungkin karena dia menyukai waktu yang mereka habiskan bersama.
Namun Raka hanya berkata,
“Karena kamu ada di sini.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Dia keluar.
Begitu pintu tertutup, Raka bersandar ke kursi.
“Jawaban yang aman.”
PUKUL 12.30
Alya makan siang sendirian di pantry.
Maya datang membawa makanan.
“Pak Dimas mencari kamu.”
Alya mengangkat wajah.
“Kenapa?”
“Katanya mau membahas proposal.”
Alya menghela napas.
“Aku sudah bilang tidak bisa.”
“Karena Raka?”
“Karena pekerjaan.”
Maya tersenyum.
“Bedanya tipis.”
Alya mengabaikannya.
Beberapa menit kemudian Dimas muncul.
“Alya.”
Alya menoleh.
“Pak Dimas.”
Dimas duduk di depan mereka.
“Jadi sore ini tidak bisa?”
Alya menggeleng.
“Tidak.”
“Besok?”
“Saya lihat jadwal dulu.”
Dimas tersenyum.
“Baik.”
Dia kemudian menatap Maya.
“Kamu sahabatnya?”
Maya mengangguk.
“Iya.”
“Kalau begitu tolong bujuk Alya supaya mau makan siang bersama saya lain kali.”
Maya tertawa.
“Saya tidak ikut campur.”
Dimas berdiri.
“Baiklah.”
Dia pergi.
Alya menatap Maya.
“Jangan mulai.”
Maya mengangkat tangan.
“Aku tidak bilang apa-apa.”
Namun dari pintu pantry, seseorang memperhatikan.
Raka.
Dia sebenarnya sedang mencari Alya.
Tetapi ketika melihat Dimas berdiri di dekatnya, langkahnya berhenti.
Alya melihat Raka.
“Pak?”
Raka segera berjalan mendekat.
“Sudah selesai makan?”
“Sudah.”
“Masuk.”
Alya mengerutkan kening.
“Sekarang?”
“Ya.”
Maya menunduk untuk menyembunyikan senyum.
Alya berdiri.
PUKUL 14.00
Alya duduk di depan Raka.
“Pak, sebenarnya ada apa?”
“Tidak ada.”
“Bapak memanggil saya dua kali hari ini tanpa alasan yang jelas.”
Raka menatapnya.
“Saya direktur.”
Alya mengangguk.
“Saya tahu.”
“Saya boleh memanggil asisten saya kapan saja.”
“Boleh.”
Alya kemudian tersenyum.
“Tapi saya boleh bertanya kenapa?”
Raka diam.
Alya menunggu.
Akhirnya Raka membuka sebuah file.
“Ini laporan.”
Alya melihat layar.
“Ini yang tadi.”
“Ya.”
“Sudah saya analisis.”
“Saya tahu.”
“Lalu?”
Raka menghela napas.
“Saya ingin membahas bagian terakhir.”
Alya melihat layar.
Namun setelah beberapa detik, dia sadar.
Tidak ada bagian terakhir yang perlu dibahas.
Dia menatap Raka.
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak sebenarnya hanya ingin saya masuk ke sini, kan?”
Raka terdiam.
Alya tersenyum.
“Kenapa?”
“Saya tidak tahu maksudmu.”
“Bapak tadi bisa membahas ini lewat email.”
“Bisa.”
“Bisa juga meminta saya kirim revisi.”
“Bisa.”
“Berarti?”
Raka menatapnya.
“Berarti apa?”
Alya menyandarkan tubuh.
“Bapak sedang bosan?”
Raka hampir tersenyum.
“Tidak.”
“Kesepian?”
“Tidak.”
“Tidak ada teman bicara?”
Raka menatapnya cukup lama.
Kemudian berkata,
“Mungkin.”
Alya terdiam.
Jawaban itu membuat suasana berubah.
Raka menatap meja.
“Lanjutkan pekerjaanmu.”
Alya berdiri.
“Baik.”
Sebelum keluar, dia berkata pelan,
“Kalau Bapak kesepian, sebenarnya tidak perlu mencari alasan untuk memanggil saya.”
Raka menoleh.
Alya tersenyum.
“Bapak bisa bilang saja.”
Pintu tertutup.
Raka tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya, seseorang mengatakan sesuatu yang begitu sederhana kepadanya.
Dan dia tidak tahu bagaimana harus menjawab.
PUKUL 16.00
Meeting internal dimulai.
Alya duduk di sebelah Raka.
Dimas juga hadir.
Pembahasan proposal berlangsung cukup serius.
Sampai salah satu anggota tim bertanya,
“Pak Raka, menurut saya lebih baik kita menggunakan konsep yang diajukan Pak Dimas.”
Raka melihat Alya.
“Alya?”
Alya membuka dokumen.
“Saya kurang setuju.”
Dimas menoleh.
“Kenapa?”
Alya menjelaskan alasannya.
Dimas mendengarkan.
Kemudian mengangguk.
“Masuk akal.”
Raka melihat keduanya.
Dia merasa sedikit lega ketika Dimas tidak membantah Alya.
Namun kemudian Dimas berkata,
“Kalau begitu nanti kita bahas lagi berdua.”
Raka langsung menyela.
“Tidak perlu.”
Semua menoleh.
Raka melanjutkan,
“Bahas di meeting berikutnya.”
Dimas mengangguk.
“Baik.”
Alya menatap Raka.
Dia tahu.
Raka sengaja memotong pembicaraan.
Setelah meeting selesai, Alya menunggunya di luar ruangan.
“Pak.”
Raka berhenti.
“Ya?”
“Bapak tadi sengaja?”
“Sengaja apa?”
“Memotong pembicaraan saya dengan Pak Dimas.”
“Tidak.”
“Bapak bohong.”
Raka menatapnya.
“Kamu terlalu banyak menuduh.”
“Karena Bapak aneh.”
“Aneh bagaimana?”
Alya menatapnya.
“Bapak tidak suka saya terlalu dekat dengan Pak Dimas.”
Raka diam.
Alya menunggu.
Akhirnya Raka berkata,
“Saya hanya ingin pekerjaan selesai.”
Alya mengangguk.
“Baik.”
Dia berjalan pergi.
Namun Raka memanggil.
“Alya.”
Dia menoleh.
Raka ingin menjelaskan.
Tetapi sekali lagi dia tidak punya alasan yang bisa diterima.
“Besok…”
Dia berhenti.
“Jangan lupa meeting pagi.”
Alya tersenyum.
“Baik, Pak.”
Dia pergi.
PUKUL 18.30
Kantor mulai sepi.
Alya masih menyelesaikan beberapa dokumen.
Raka keluar dari ruangannya.
“Kamu belum pulang?”
“Lima menit lagi.”
“Sudah makan?”
Alya mengangguk.
“Sudah.”
Raka melihat meja.
“Banyak pekerjaan?”
“Tidak terlalu.”
Dia mengangguk.
Kemudian berdiri di samping meja Alya.
Untuk beberapa detik mereka sama-sama diam.
Alya akhirnya bertanya,
“Pak.”
“Hm?”
“Boleh saya tanya sesuatu?”
“Ya.”
“Kenapa Bapak selalu memperhatikan saya?”
Raka membeku.
Alya melanjutkan,
“Jadwal saya.”
“Jam makan saya.”
“Siapa yang pergi dengan saya.”
“Bahkan Bapak tahu saya tidak suka makanan pedas.”
Raka tidak menjawab.
Alya menatapnya.
“Saya hanya ingin tahu.”
Raka menarik napas.
Kemudian berkata,
“Karena kamu bekerja untuk saya.”
Alya tersenyum kecil.
“Jawaban yang aman.”
Raka menatapnya.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
Alya berdiri.
“Saya pulang dulu.”
Dia mengambil tas.
Namun ketika berjalan melewati Raka, pria itu tiba-tiba berkata,
“Alya.”
Dia berhenti.
“Ya?”
“Kalau suatu hari nanti…”
Raka terdiam.
Alya menunggu.
“Kalau suatu hari nanti saya berhenti terlalu banyak memperhatikanmu…”
Dia menatap Alya.
“Jangan merasa aneh.”
Alya mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Raka tidak menjawab.
Alya tersenyum tipis.
“Baik.”
Dia pergi.
Pintu lift tertutup.
Raka berdiri sendirian di lantai yang hampir kosong.
Dia melihat meja Alya.
Kemudian kembali ke ruangannya.
Namun malam itu, ada satu kalimat yang terus berputar di kepalanya.
Kalau suatu hari saya berhenti memperhatikanmu…
Kenapa dia bahkan memikirkan kemungkinan itu?
Dan untuk pertama kalinya, Raka menyadari sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Dia tidak takut Alya menyukai pria lain.
Dia tidak takut Dimas mendekatinya.
Yang sebenarnya dia takutkan adalah—
suatu hari Alya tidak lagi membutuhkan dirinya.
DI RUMAH ALYA
Alya membuka tas.
Ada sebuah map yang ternyata tertinggal di kantor.
Dia menghela napas.
“Besok saja.”
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Raka.
Map biru ada di meja kamu.
Alya membalas:
Iya, Pak. Besok saya ambil.
Raka:
Jangan lupa.
Alya:
Bapak bisa simpan dulu.
Raka:
Tidak.
Alya tersenyum.
Kenapa?
Balasan Raka datang beberapa detik kemudian.
Karena itu alasan saya punya untuk melihat kamu besok pagi.
Alya membeku.
Dia membaca pesan itu sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Kemudian sebuah pesan baru masuk.
Maksud saya, alasan untuk mengembalikan map itu.
Alya langsung tertawa.
“Bapak ini…”
Dia mengetik:
Saya tahu, Pak.
Namun di balik senyum kecilnya, ada sesuatu yang mulai berubah.
Untuk pertama kalinya—
Alya juga mulai menunggu pesan dari Raka.
Dan mungkin, tanpa mereka sadari…
pertengkaran mereka bukan lagi sekadar kebiasaan.
Mereka mulai mencari alasan untuk tetap berada dekat satu sama lain.