NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Keesokan paginya, Vio sudah mengenakan setelan jas hitam yang dijahit khusus untuknya. Penampilannya begitu rapi dan berwibawa. Berbeda jauh dengan sosok Vio yang selama ini hidup sederhana di desa.

Sebuah mobil mewah telah menunggu di depan mansion.

"Tuan Muda, mobil sudah siap," ujar sopir sembari membukakan pintu.

Vio hanya mengangguk singkat sebelum masuk ke dalam mobil.

Tak lama kemudian, kendaraan itu berhenti di depan gedung pencakar langit milik Mahendra Group. Bangunan megah dengan puluhan lantai itu menjadi pusat bisnis keluarga Mahendra selama puluhan tahun.

Begitu Vio turun, seluruh karyawan yang kebetulan berada di lobi langsung menoleh.

"Itu Tuan Muda Mahendra, ya?"

"Ganteng banget."

"Kudengar beliau baru pulang dari luar kota."

"Bukannya katanya beliau yang bakal menggantikan posisi Pak Armand?"

"Iya. Bahkan kabarnya, beliau juga sudah dijodohkan."

"Berarti sebentar lagi kita punya nyonya baru."

"Enak banget ya, wanita yang bakal jadi istrinya. Jadi istri pewaris Mahendra Group."

Bisik-bisik itu terus terdengar, tetapi Vio sama sekali tidak memedulikannya. Langkahnya tetap tenang memasuki lift khusus menuju lantai paling atas.

Sesampainya di ruang direktur utama, Armand sudah menunggu bersama beberapa petinggi perusahaan.

"Hari ini kamu mulai belajar menjalankan perusahaan. Aku ingin kamu memahami semua lini bisnis Mahendra Group."

Vio mengangguk singkat.

"Saya mengerti."

Sejak pagi hingga sore, berbagai divisi memperkenalkan sistem kerja perusahaan kepadanya. Mulai dari keuangan, investasi, ekspor-impor, hingga negosiasi bisnis internasional.

Yang membuat seluruh direksi terkejut, Vio mampu memahami setiap penjelasan hanya dalam sekali paparan.

"Pak Armand, Tuan Muda benar-benar luar biasa," puji Direktur Keuangan.

"Beliau bahkan menemukan kesalahan dalam laporan triwulan hanya dalam waktu beberapa menit."

"Kemampuan analisanya jauh di atas ekspektasi kami."

Armand hanya tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia memang sudah tahu kemampuan putranya.

Sejak kecil, Vio dikenal sebagai anak yang memiliki daya tangkap luar biasa. Apa yang dipelajarinya hampir tidak pernah membutuhkan pengulangan.

Menjelang siang, Vio akhirnya memiliki sedikit waktu luang.

Ia mengunci pintu ruang kerjanya, lalu mengambil ponsel dari saku jasnya.

Nama pertama yang ia cari adalah Zilia.

Tak butuh waktu lama hingga panggilannya diangkat.

"Halo?"

Suara lembut Zilia langsung terdengar dari seberang.

"Lagi ngapain?"

"Lagi bantu Ibu masak. Kamu gimana? Hari pertama kerja?"

Vio tersenyum tipis.

"Lumayan sibuk."

"Capek?"

"Sedikit."

"Jangan lupa makan, ya."

"Iya. Kamu juga jangan terlalu capek."

Percakapan sederhana itu justru membuat hati Vio jauh lebih tenang. Seolah semua tekanan yang ia rasakan sejak kembali ke rumah utama perlahan menghilang hanya karena mendengar suara Zilia.

"Aku kangen."

Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Vio.

Di seberang telepon, Zilia tersipu malu.

"Aku juga."

Senyum Vio semakin lebar.

"Nanti malam aku telepon lagi."

"Iya."

Setelah panggilan berakhir, Vio kembali fokus pada pekerjaannya.

Sore harinya, saat seluruh karyawan mulai bersiap pulang, Armand memasuki ruang kerja putranya.

"Sudah selesai?"

"Masih ada beberapa berkas."

"Tinggalkan dulu."

Vio mengangkat kepalanya.

"Ada apa?"

"Malam ini kita makan malam bersama keluarga Wijaya."

Raut wajah Vio langsung berubah datar.

"Aku tidak tertarik."

"Kamu harus datang."

"Aku sudah bilang, aku tidak ingin menikah."

Armand menatap putranya dengan tegas.

"Hari pernikahan kalian sudah ditentukan. Cepat atau lambat, kamu harus bertemu dengan calon istrimu."

Vio mengepalkan tangannya di balik meja.

Baginya, setiap kata yang diucapkan sang ayah terasa seperti belenggu yang semakin mengikat.

"Kalau aku menolak?"

"Konsekuensinya sudah kamu tahu."

Ruangan kembali hening.

Beberapa detik kemudian, Vio mengembuskan napas panjang.

"Baik. Aku akan datang."

Jawaban itu bukan karena ia menerima perjodohan tersebut, melainkan karena untuk saat ini ia belum memiliki pilihan lain.

Malam pun tiba.

Sebuah restoran mewah yang telah dipesan khusus menjadi tempat pertemuan dua keluarga besar.

Keluarga Mahendra telah lebih dulu tiba.

Tak lama kemudian, pintu ruang VIP terbuka.

Seorang pria paruh baya bersama istrinya melangkah masuk, diikuti seorang wanita muda berparas cantik dengan gaun putih sederhana yang memancarkan aura anggun.

Armand berdiri sambil tersenyum.

"Selamat datang, Pak Wijaya."

Sementara itu, Vio hanya duduk di tempatnya dengan wajah dingin.

Ia sama sekali tidak berniat menatap wanita yang disebut-sebut akan menjadi calon istrinya.

Baginya, perempuan itu bukanlah orang yang ia cintai.

Di dalam hatinya, hanya ada satu nama.

Zilia.

Namun tanpa disadari Vio, wanita dari keluarga Wijaya itu diam-diam memperhatikannya sejak pertama kali memasuki ruangan.

Tatapannya tidak menunjukkan rasa malu ataupun bahagia.

Sebaliknya, sorot matanya justru menyimpan penolakan yang sama kuatnya.

Seolah-olah... bukan hanya Vio yang dipaksa hadir dalam pertemuan itu.

Suasana ruang VIP dipenuhi nuansa formal. Para pelayan bergantian menyajikan hidangan, sementara kedua keluarga saling berbincang mengenai kerja sama bisnis yang selama ini telah terjalin.

Vio duduk tegak tanpa banyak bicara. Wajahnya tetap datar, seolah kehadirannya di sana hanyalah sebuah kewajiban.

"Vio," panggil Armand.

Vio mengangkat pandangannya.

"Kenalkan. Ini Pak Wijaya, sahabat sekaligus rekan bisnis Papa."

Vio mengangguk sopan.

"Selamat malam, Pak."

Pak Wijaya tersenyum ramah.

"Sudah lama saya ingin bertemu langsung denganmu. Ternyata benar, kamu memang sangat mirip dengan ayahmu ketika masih muda."

"Terima kasih."

Jawaban Vio terdengar singkat.

Armand kembali melanjutkan.

"Dan ini putri kami, Alena."

Barulah Vio mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang duduk di samping Pak Wijaya.

Alena membalas tatapan itu dengan senyum tipis.

"Selamat malam."

"Selamat malam."

Tak lebih dari itu.

Tidak ada tatapan kagum ataupun ketertarikan pada Vio. Karena dihatinya hanya ada Zilia.

Keheningan sesaat membuat suasana terasa canggung.

Melihat keadaan itu, Pak Wijaya terkekeh pelan.

"Sepertinya mereka sama-sama pendiam."

Armand ikut tersenyum.

"Nanti juga terbiasa."

Namun, Vio langsung bangkit.

"Maaf, Tuan Wijaya. Boleh saya bicara sebentar dengan Alena?"

"Tentu saja."

Wijaya mengangguk tanpa curiga.

"Kalian bisa berbincang di taman belakang restoran."

Vio sebenarnya enggan, tetapi demi menghormati kedua orang tua mereka, Vio mencoba menghormatinya.

"Silakan."

Mereka berjalan menuju taman yang berada di belakang restoran.

Begitu berada di tempat yang cukup sepi, Alena menghentikan langkahnya.

"Aku akan bicara terus terang."

Vio memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

"Silakan." Kata Alena

"Aku tidak ingin menikah denganmu."

Kalimat itu membuat Alena menoleh.

Untuk pertama kalinya sejak bertemu, raut wajahnya sedikit berubah.

Alena mengembuskan napas lega.

"Aku tidak bisa menolak."

Vio mengernyit.

"Kenapa?"

"Aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku."

Vio terdiam.

"Tapi Papaku memaksa karena kerja sama bisnis dengan keluargamu."

"Aku tidak bisa berbuat apa-apa."

Alena memandang Vio.

"Kalau begitu... kamu juga?"

Vio ikut menatap ke arah kolam kecil di depan mereka.

"Aku hanya menikahimu sebagai status."

Alena begitu geram mendengarnya.

Namun, tanpa mereka sadari, dari balik jendela ruang VIP, Armand memperhatikan keduanya.

Melihat Vio dan Alena berjabat tangan sambil berbincang cukup lama, Armand tersenyum puas.

"Lihat, Pak Wijaya."

"Ada apa?"

"Sepertinya mereka mulai akrab."

Pak Wijaya ikut tersenyum lega.

"Kalau begitu, saya rasa keputusan kita sudah tepat."

Kedua ayah itu sama sekali tidak menyadari bahwa di balik senyum kedua anak mereka, telah lahir sebuah kesepakatan rahasia.

Kesepakatan yang suatu hari nanti bisa menghancurkan rencana besar kedua keluarga.

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!