NovelToon NovelToon
Suamiku Anak Mami

Suamiku Anak Mami

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aisyah, seorang gadis solehah dan mandiri, mengira pernikahannya dengan Dimas, pria tampan dari keluarga terpandang yang berkata sangat mencintainya akan berjalan manis. Namun, kehidupan pasca nikah Aisyah berubah menjadi ujian kesabaran yang pada kenyataannya Dimas adalah seorang anak mami sejati.
Hampir seluruh hidup Dimas dikendalikan oleh Tante Rosma, ibunya yang dominan. Mulai dari urusan rumah tangga, keuangan, hingga keputusan pribadi, kalimat "Kata Mami..." selalu jadi hukum mutlak bagi Dimas. Aisyah pun terjepit di antara kewajiban menghormati suami dan tekanan mertua yang terlalu campur tangan.
Tak ingin rumah tangganya hancur, Aisyah memutuskan tidak menyerah. Berbekal kesabaran, kelembutan, dan prinsip agama yang teguh, ia memulai misi, melunakkan hati mertuanya sekaligus membentuk Dimas agar berani menjadi pemimpin keluarga yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: DMAM

NOVEL BARU ✨

Halo, para pembaca tersayang.

Novel ini lahir dari perenungan sederhana tentang arti sebuah kedewasaan dan kehormatan diri. Di zaman sekarang, kita sering kali silau oleh kilau harta dan penampilan luar, hingga lupa bertanya: Apakah sosok yang berdiri di depan kita adalah seorang nakhoda yang siap mengarungi badai, atau sekadar anak kecil yang bersembunyi di balik ketiak orang tuanya?

Lewat kisah Aisyah dan Dimas, saya ingin mengajak kalian menyelami perjuangan seorang wanita sederhana yang mencoba berani berkata "tidak" demi mempertahankan kehormatan dan hatinya. Menikahi seorang pria berarti menyerahkan masa depan, dan seorang 'Anak Mami' yang tak pernah belajar berdiri di atas kakinya sendiri hanya akan menyisakan luka dan derita.

Semoga kisah ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi penguatan bagi setiap wanita di luar sana untuk selalu menghargai dirinya sendiri.

Selamat membaca dan selamat menyelami perjuangan Aisyah!

✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨

BAB 1: MAMI, MAMI, DAN MAMI

Aroma kapur tulis, kertas ujian yang sedikit lembap, serta riuh rendah tawa anak-anak SD mengisi seluruh sudut koridor Sekolah Dasar Negeri 04 Pagi.

Di dalam salah satu ruang kelas yang berada paling ujung, seorang gadis berhijab kain merah muda sibuk menata tumpukan buku latihan matematika.

Aisyah, gadis berusia dua puluh tiga tahun itu, menyapu peluh tipis di dahinya menggunakan saputangan sederhana. Senyumnya melengkung tulus saat seorang murid kecil menghampirinya sambil membawa sebuah mangga arumanis yang agak memar.

"Bu Guru Aisyah! Ini buat Bu Guru. Kata Ibu di rumah, makasih ya kemarin udah ngajarin Rangga perkalian sampai bisa," ucap anak laki-laki itu sambil menyerahkan buah mangga tersebut dengan kedua tangan kecilnya.

Aisyah berlutut sejenak agar pandangan mata mereka sejajar. Jemarinya yang halus merapikan kerah seragam Rangga yang sedikit terlipat. "MasyaAllah, terima kasih banyak ya, Rangga. Sampaikan salam Ibu ke Ibu kamu di rumah. Dan ingat, besok kita belajar pembagian, jadi di rumah dibaca lagi bukunya, ya?"

"Siap, Bu Guru!" Rangga hormat dengan gaya jenaka sebelum berlari kencang menyusuri koridor, dan menyatu dengan kebisingan jam pulang sekolah.

Aisyah berdiri kembali, lalu mengelus mangga di tangannya. Kebahagiaan bagi Aisyah sederhana. Sebagai seorang anak yatim yang tumbuh besar bersama ibunya yang sudah sepuh dan hidup dari gaji guru honorer yang sering terlambat cair, kehangatan-kehangatan kecil seperti inilah yang membuat napasnya terasa lapang.

Teman-teman sejawatnya kerap bertanya, kapan Aisyah akan menyusul menikah seperti gadis seusianya. Namun, Aisyah selalu menjawabnya dengan senyuman tenang. Bagi Aisyah, jodoh adalah takdir yang tak perlu dikejar hingga hilang akal.

Tap tap tap!!!

Suara langkah sepatu berhak tinggi membuyarkan lamunannya. Bu Maya, rekan sesama guru, bersandar di pintu kelas sambil memegang kipas angin lipat.

"Syah, kamu belum pulang? Sudah jam dua siang, loh," tegur Bu Maya.

"Bentar lagi, Bu Maya. Mau ngerapihin rekap nilai kelas empat dulu sebentar. Biar besok tinggal bagi tugas."

Bu Maya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu ini ya, gajinya nggak seberapa tapi rajinnya melebihi guru PNS. Eh, ngomong-ngomong, gimana sama acara lamaran besok? Ibu denger keluarga calon suami kamu mau datang?"

Wajah Aisyah merona sedikit, namun ada gurat keraguan yang menyelip di antara binar matanya. "Iya, Bu. InsyaAllah besok malam keluarga Mas Dimas datang ke rumah. Mohon doanya ya, Bu."

"Aamiin. Tapi Syah..." Bu Maya melangkah mendekat dan mengecilkan volume suaranya. "Kamu yakin sama Dimas? Maaf ya, bukannya Ibu mau campur tangan. Tapi sewaktu kita ketemu di acara nikahan anak Kepala Sekolah bulan lalu, Ibu kok ngerasa ada yang aneh ya sama gaya calon kamu itu?"

Aisyah menata buku terakhir ke dalam tas kainnya. "Aneh gimana, Bu?"

"Ya itu... dari urusan piring makan, ambil minum, sampai pilih tempat duduk, semuanya harus ditunjukkin sama ibunya. Umurnya kan udah mau tiga puluh tahun, Syah. Apa dia beneran udah siap jadi kepala keluarga?"

Aisyah terdiam sejenak. Kalimat Bu Maya persis seperti bisikan keraguan yang selama ini berusaha ia tepuk keluar dari dadanya. Namun, mengingat pesan almarhum ayahnya bahwa menolak iktikad baik seseorang tanpa alasan syar'i adalah hal yang kurang bijak, Aisyah pun mencoba tersenyum positif.

"Mas Dimas anak tunggal, Bu. Mungkin karena tinggal berdua aja sama Tante Rosma sejak almarhum ayahnya meninggal, jadi mereka memang sangat dekat. InsyaAllah, setelah menikah nanti kan Mas Dimas akan belajar memimpin."

"Ya sudahlah kalau kamu sudah mantap," desah Bu Maya sambil menepuk bahu Aisyah. "Cuma pesan Ibu satu, Hati-hati. Menikah sama lelaki mandiri itu menyatukan dua kepala, tapi menikah sama anak mami itu artinya kamu harus siap hidup di bawah bayang-bayang ibunya."

**

Sore harinya, Aisyah menumpang angkutan kota menuju rumahnya di pinggiran Jakarta. Rumah kayu beratap seng yang bersih itu dikelilingi tanaman hias sederhana milik ibunya, Bu Rahmi.

Begitu Aisyah menggeser pintu kayu, aroma masakan gulai nangka langsung menyambut indra penciumannya.

"Assalamu’alaikum, Ibu," panggil Aisyah sambil mengulurkan tangan mencium telapak tangan ibunya yang keriput.

"Wa’alaikumussalam, Nak. Cepat mandi, bersih-bersih. Tadi Nak Dimas telepon, katanya sore ini mau mampir sebentar. Mau ngomongin persiapannya besok malam."

Bu Rahmi tersenyum hangat, meski kerutan di matanya tak bisa menyembunyikan rasa lelah usai mengupas bawang seharian untuk katering kecil-kecilan.

Belum sempat Aisyah melangkah ke kamar mandi, suara derung mesin mobil meraung tebal di depan gang rumah mereka. Sebuah mobil sedan warna putih metallic mentereng masuk perlahan, hingga membuat anak-anak kompleks berhenti bermain kelereng.

Tak lama kemudian, suara ketukan pintu berbunyi, disusul suara langkah kaki yang mantap. Tapi, bukan hanya satu pasang kaki.

"Aisyah! Mana kamu?" suara wanita setengah baya yang nyaring melengking memenuhi ruang tamu yang sempit.

Aisyah bergegas keluar dari kamar. Di sana sudah berdiri Tante Rosma dengan pakaian gamis sutra berwarna kuning emas mencolok, lengkap dengan perhiasan emas yang berjejer di kedua pergelangan tangannya.

Di belakangnya, berdiri Dimas, pria tinggi bertubuh agak tegap, mengenakan kemeja bermerek mahal, namun pandangannya sibuk tertuju pada layar ponsel pintar di tangannya.

"Eh, Tante... Mas Dimas. Mari masuk, Tante. Ibu, ada Tante Rosma datang," panggil Aisyah ramah, seraya menggeser kursi kayu agar tamunya duduk.

Tante Rosma melirik kursi kayu tua itu dengan pandangan menilai, lalu mengibaskan selendangnya sebelum duduk dengan amat hati-hati, seolah takut bajunya ternoda.

"Aduh Aisyah, panas banget ya daerah sini. AC kamu mati atau gimana?" celetuk Tante Rosma sambil mengipas-ngipaskan tangannya yang berhias cincin permata besar.

"Maaf Tante, rumah kami memang cuma pakai kipas angin dinding," jawab Aisyah lembut.

Dimas menghempaskan dirinya di sebelah ibunya tanpa mengucapkan salam, sementara tangannya masih menari di atas layar ponsel. "Mami, ini game nya keliru deh. Dimas mati terus. Mami beliin top up diamond yang jutaan itu dong, yang kemarin Dimas bilang."

Aisyah terpaku melihat seorang pria berusia dua puluh delapan tahun berbicara seperti anak SD yang meminta mainan di depan calon istrinya dan calon ibu mertuanya.

Lalu beralih menatap tante Rosma yang mengelus kepala Dimas dengan penuh kasih sayang, dan mengabaikan fakta bahwa ada orang lain di ruangan itu. "Iya, nanti Mami transferin sepuluh juta ya sayang. Jangan cemberut gitu ah, muka anak ganteng Mami jadi jelek nanti."

"Asyik! Makasih Mami," jawab Dimas sambil tersenyum puas, lalu mencium pipi ibunya sekilas.

Ibu Rahmi baru keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan piring berisi pisang goreng. "Silakan diminum, Bu Rosma, Nak Dimas. Maaf cuma ada sajian seadanya."

Tante Rosma hanya melirik gelas teh itu tanpa menyentuhnya sama sekali. "Iya, Bu Rahmi. Gini ya, saya datang ke sini sengaja menggejot si Dimas. Soalnya untuk urusan lamaran besok malam, saya nggak mau ada salah paham."

Aisyah ikut duduk di samping ibunya. "Maksud Tante gimana?"

"Begini, Aisyah. Saya sudah booking katering dari restoran langganan saya. Makanan dari kampung sini kan takutnya kurang higienis ya, secara perut keluarga besar kami sensitif. Jadi kamu sama Ibu tidak perlu repot-repot masak apa-apa. Biar Mami yang urus semuanya!" ujar Tante Rosma penuh kebanggaan.

"Tapi Bu Rosma," potong Bu Rahmi perlahan. "Saya sudah beli bahan-bahan masakan dari kemarin. Kami mau menyambut keluarga besar Bu Rosma dengan olahan tangan kami sendiri, sebagai bentuk rasa hormat—"

"Gak usah, Bu Rahmi!" potong Tante Rosma sambil mengibaskan tangannya. "Gak perlu dipaksain. Nanti kalau sakit perut kan malah berabe. Semuanya sudah beres, ada mami yang kerjakan. Lagian Dimas ini kan anak tunggal saya, penerus keluarga. Jadi standar acaranya harus tinggi."

Aisyah menatap Dimas yang masih asyik bermain game lalu bertanya, "Mas Dimas... gimana menurut Mas? Apa nggak sebaiknya masakan Ibu Aisyah tetap dihidangkan sebagai pendamping? Ibu udah repot-repot persiapin..."

Dimas bahkan tidak mengangkat wajahnya dari layar ponsel dan menjawab, "Kamu gak usah pikirin, ada Mami aku yang akan urus. Mami kan lebih tau mana yang bagus mana yang enggak. Lagian makanan katering Mami pasti lebih enak lah, Syah."

Kata-kata itu terucap begitu ringan dari mulut Dimas. Tanpa rasa bersalah dan tanpa empati pada raut wajah Bu Rahmi yang seketika layu. Aisyah meremas pinggiran roknya. Dadanya terasa sesak oleh kombinasi antara rasa terkejut dan kekecewaan yang tertahan.

Bersambung...

1
Tuti Nurhayati
up LG KK dtunggu
Aurora: udah update Kaka... yuk lanjut baca lagi 🤗. Kalau suka, jangan lupa kasih like nya ya...🥰
total 1 replies
Tuti Nurhayati
up LG y dtunggu
Aurora: siap kakak... makasih udah mau mampir 🤗🥰
total 1 replies
fans
Menarik, lanjutkan...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!