"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.
Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.
Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.
Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11 — Sistem Menjadi Digital
Kemajuan peningkatan tetap tertahan pada 23 persen saat Surya kembali bekerja.
Angka itu mengambang di sudut pandangan Surya saat dia berjalan, memeriksa pasien, bahkan ketika menutup mata. Botol Pahala di belakang angka terus bergetar seperti mesin yang sedang dibongkar dari dalam.
Putra pasien keracunan kobalt datang lagi membawa amplop tebal. Surya mengembalikannya sebelum sempat dibuka.
"Gunakan untuk perawatan Ayah dan pemeriksaan keluarga lain yang memakai bahan dari klinik sama," katanya.
"Tapi Dokter sudah melakukan lebih dari pekerjaan biasa."
"Saya menerima gaji untuk melakukan pekerjaan ini. Kalau Bapak ingin membalas, pastikan Ayah tidak dipermalukan lagi saat gejalanya kambuh."
Pria itu memeluk ayahnya dari samping dan mengangguk. Cahaya di Botol Pahala menjadi semakin jernih tanpa bertambah besar. Surya mulai memahami bahwa sistem menilai kadar dan ketulusan ucapan terima kasih.
Anindya melihat amplop itu kembali ke tangan keluarga. "Kamu tidak pernah tertarik menerima uang tambahan?"
"Tertarik. Saya juga manusia."
"Lalu kenapa ditolak?"
"Karena kalau saya mengambilnya sekarang, keluarga itu mungkin mengurangi biaya kontrol. Saya lebih suka pasiennya kembali sehat."
Anindya menggigit lolipop. "Jawaban yang menyebalkan. Sulit dicari celahnya."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Lo kenapa melihat udara?" tanya Rizki.
"Sedang menunggu pembaruan."
"Pembaruan apa?"
"Otak. Versi lama terlalu sering mendengarkan omongan lo."
Rizki melempar gulungan kertas ke arahnya.
Pada pukul delapan malam, kemajuan mencapai 61 persen. Surya sudah pulang ke rumah kontrakannya, tetapi tidak bisa tidur. Dia membuka kulkas, menutupnya, lalu membuka kembali seolah jawaban sistem mungkin tersimpan di belakang botol air.
Dian menelepon melalui WhatsApp.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah."
"Apa?"
Surya melihat mi instan yang belum dimasak. "Rencana makan."
"Rencana bukan makanan. Masak sekarang."
Dia menyalakan kamera dan menunggu sampai Surya memasukkan mi ke panci. Hubungan mereka masih baru, tetapi Dian sudah memiliki kemampuan mengubah satu pertanyaan sederhana menjadi pemeriksaan kepatuhan.
"Besok kita makan siang?" tanya Surya.
Dian terdiam sebentar. "Kalau kamu tidak mendapat panggilan operasi."
"Saya akan berusaha tidak menjadi satu-satunya dokter di Surabaya."
"Bagus. Selamat malam."
Panggilan berakhir. Kemajuan sistem mencapai 88 persen.
Pukul sepuluh lewat lima belas menit, semua lampu di pandangan Surya padam.
Botol Pahala retak tanpa suara.
Pecahannya berubah menjadi titik-titik cahaya, lalu menyusun panel transparan dengan angka dan kategori. Tidak ada lagi cairan emas di dalam botol. Di tengah panel, sebuah angka besar menyala.
120 persen.
『Peningkatan selesai. Sistem Dokter Ilahi Super mencapai Level 3.』
『Botol Pahala telah dikonversi menjadi Nilai Pahala digital.』
『Setiap 100 persen Nilai Pahala dapat ditukar melalui undian. Rasa terima kasih palsu tidak dihitung. Kebencian tulus dari pasien dapat mengurangi nilai.』
Surya menggerakkan pandangan. Panel lain terbuka.
Bedah: 6.
Penyakit Dalam: 3.
Diagnosis: 5.
Stamina: 6.
Ketelitian tangan: maksimum pada tingkat saat ini.
Nilai sepuluh menjadi batas kemampuan manusia yang dapat diukur sistem pada setiap bidang. Keahlian tingkat dunia yang dia peroleh tidak otomatis membuat seluruh pengetahuan medisnya sempurna. Dia masih memiliki bagian lemah.
Panel berikutnya menampilkan daftar kemampuan spesifik. Transplantasi hati dan jantung tercatat sebagai keahlian khusus, terpisah dari skor bidang umum. Itu menjelaskan kenapa Surya dapat melakukan operasi luar biasa, tetapi masih harus membaca jurnal untuk memahami penyakit yang tak termasuk hadiah.
Ada pula riwayat penggunaan sumber daya. Botol Energi Kecil tercatat habis. Kapsul Memori tercatat aktif selama delapan jam dan selesai tanpa efek samping. Setiap hadiah meninggalkan jejak, sehingga dia tidak bisa lupa apakah sebuah alat masih tersedia atau sudah digunakan.
Bagian paling bawah diberi tanda peringatan: kemampuan sistem tidak membawa kewenangan hukum. STR, SIP, kredensial, persetujuan pasien, dan supervisi tetap mengikuti dunia nyata.
Surya mengangguk pelan. Setidaknya sistemnya tidak berniat membuat dia masuk penjara.
Itu melegakan.
Surya justru tersenyum.
"Jadi sekarang kelihatan bagian mana yang bodoh."
『Pemilihan kata Inang tidak elegan, tetapi akurat.』
Nilai awal 120 persen berdenyut.
『Undian otomatis tersedia.』
Empat kartu terbuka satu demi satu.
『Poin Atribut ×3 diperoleh.』
『Botol Energi Sedang ×1 diperoleh. Efek: mempertahankan kesadaran dan stamina selama 48 jam. Efek kompensasi: tidur wajib 24 jam setelah daya berakhir.』
『Detektor Medis Sekali Pakai ×1 diperoleh. Efek: diagnosis instan pada satu target.』
『Fungsi Misi Pemicu dibuka.』
Nilai Pahala turun dari 120 menjadi 20 persen setelah undian.
Surya menyentuh kategori Penyakit Dalam. Tiga Poin Atribut muncul di bawah jarinya, siap dimasukkan.
"Kalau tidak paham, tinggal tekan bagian yang tidak paham."
『Inang diminta tidak memperlakukan pendidikan medis seperti gim murahan.』
"Tapi memang bisa diklik."
『...Sistem menyesali desain antarmuka ini.』
Surya tidak langsung memakai poin tersebut. Tiga poin terlalu berharga untuk dibuang tanpa mengetahui kebutuhan berikutnya. Dia memeriksa inventaris.
Super Dopamin: satu.
Botol Energi Sedang: satu.
Detektor Medis Sekali Pakai: satu.
Kapsul Memori: sudah digunakan.
Dua kuota pemilihan keahlian operasi masih tersedia.
Semua perubahan tercatat rapi. Untuk pertama kalinya, dia dapat membandingkan pertumbuhan dirinya melalui angka.
Panel tiba-tiba berubah merah.
『Misi Pemicu pertama.』
『Sebelum pukul 00.00, lakukan penjahitan luka pada seorang asing di luar area rumah sakit.』
『Berhasil: Poin Atribut +2. Gagal: Poin Atribut -3.』
『Waktu tersisa: 4 jam 30 menit.』
Surya melihat jam dinding.
Pukul menunjukkan 19.30.
Dia mengerutkan kening. Sistem rupanya menghitung batas tugas sejak pemicu mulai disiapkan. Empat setengah jam masih tersisa, tetapi Surabaya bukan tempat orang antre meminta dijahit di trotoar.
"Harus orang asing?"
『Ya.』
"Tidak boleh di rumah sakit?"
『Tidak.』
"Boleh saya sengaja melukai orang?"
Panel merah berkedip keras.
『Inang mencoba melakukan tindakan jahat akan langsung kehilangan kelayakan sistem.』
"Saya cuma menguji batas aturan."
『Jangan menguji dengan pertanyaan mengerikan.』
Surya mengambil tas medis kecil, benang jahit, antiseptik, sarung tangan, dan anestesi lokal yang tercatat sebagai perlengkapan pribadi resmi. Dia keluar rumah dan mulai menyusuri area ramai: warung malam, halte, lapangan, lalu jalan di dekat kawasan hiburan.
Satu jam berlalu.
Tidak ada luka.
Dua jam.
Seorang pengendara jatuh dari motor, tetapi hanya mengalami lecet.
Tiga jam.
Waktu tersisa tinggal satu jam dua puluh menit. Surya mulai curiga sistem sedang mengajarinya arti putus asa.
Dia memeriksa kembali kasa, anestesi lokal, dan formulir tindakan di dalam tasnya. Semua masih lengkap.
Lalu dari gang sempit terdengar suara botol pecah.
Seorang lelaki mabuk terhuyung keluar sambil memegang lengan. Darah menetes dari sela jarinya dan meninggalkan garis di trotoar.
Panel merah menyala.
『Target potensial terdeteksi. Waktu tersisa: satu jam tujuh belas menit.』
Surya mengangkat tasnya.