Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Altar Darah dan Nama Sang Pengkhianat
Lorong bawah tanah itu sempit dan pengap, dipenuhi oleh lumut beracun yang memancarkan cahaya hijau sakit. Lin Tian melangkah tanpa suara, jubah hitam Faksi Ular Berbisa menyatu sempurna dengan kegelapan. Topeng besi di wajahnya terasa dingin, menekan qi hitam berurat emas di dantiannya hingga menyerupai aura pedang yang tajam dan ortodoks.
Di ujung lorong, sebuah formasi penghalang bercahaya biru menghalangi jalan. Dua penjaga berjubah perak berdiri tegak dengan tombak qi di tangan mereka. Mata mereka menatap tajam ke arah sosok berjubah hitam yang baru saja muncul dari bayangan.
"Area terlarang Paviliun Pedang Suci. Tunjukkan identitasmu," ucap salah satu penjaga dengan suara datar. Ujung tombaknya sedikit menurun namun tetap waspada. Mereka tahu jubah hitam itu hanya dipakai oleh anggota inti Faksi Ular Berbisa yang bertugas membersihkan kotoran sekte.
Lin Tian tidak berbicara. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, memperlihatkan token giok bermotif awan perak milik Wang Chen. Aura dingin dari token itu langsung membuat kedua penjaga itu menundukkan kepala mereka dengan rasa hormat yang bercampur ketakutan.
"Maafkan ketidaksopanan kami, Tuan. Silakan masuk," ucap penjaga itu, segera mematikan formasi penghalang. Lin Tian melangkah melewati mereka tanpa menoleh. Ia meninggalkan kedua penjaga yang tidak tahu bahwa mereka baru saja membiarkan iblis masuk ke ruang pribadi majikan mereka.
Pintu batu raksasa di ujung koridor terbuka secara otomatis saat token giok itu didekatkan. Lin Tian melangkah masuk ke dalam ruang rahasia di bawah Paviliun Pedang Suci. Udara di sini sangat berat, bercampur antara wangi dupa cendana yang mahal dan bau amis darah yang pekat.
Ruangan itu sangat luas, dindingnya diukir dengan relief dewa-dewa pedang yang agung. Namun, lantai di tengah ruangan telah diubah menjadi altar persembahan yang mengerikan. Parit-parit kecil mengalirkan darah segar yang terus-menerus dipompa, bermuara ke sebuah lubang besar di tengah altar.
Di atas lubang tersebut, melayang sebuah benda seukuran kereta kuda. Itu adalah Telur Naga Iblis. Cangkangnya berwarna merah darah dengan urat-urat hitam yang berdenyut seirama dengan detak jantung. Setiap denyutan memancarkan gelombang panas yang membuat udara di sekitarnya berdistorsi.
Lin Tian menatap telur raksasa itu, matanya yang tersembunyi di balik topeng besi menyipit tajam. Ia bisa merasakan resonansi samar dari darah yang mengalir di parit altar. Darah itu berasal dari keluarga Lin. Darah dagingnya sendiri, yang disedot dan dimurnikan untuk memberi makan monster keserakahan musuh-musuhnya.
Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada teriakan kemarahan yang meledak. Yang tersisa di dalam dada Lin Tian hanyalah kehampaan yang dingin dan niat membunuh yang membekukan tulang. Mereka tidak hanya membunuh keluarganya, mereka memperbudak jiwa dan darah mereka untuk ambisi pribadi.
Di sisi altar, terdapat sebuah meja giok yang dipenuhi oleh gulungan bambu dan lempengan catatan. Lin Tian berjalan mendekat, menyapu benda-benda itu dengan tatapan dingin. Ia mengambil sebuah buku catatan bersampul kulit manusia yang terbuka di tengah meja.
Di halaman pertama buku itu, terdapat cap stempel pribadi berbentuk awan perak—lambang yang sama persis dengan yang dipakai oleh Tetua Emas saat memimpin ujian seleksi di alun-alun. Namun, di bawah stempel itu, terukir nama asli pemiliknya dengan tinta emas yang arogan: Jin Wuya.
"Jadi nama asli anjing tua berjubah emas itu adalah Jin Wuya," desis Lin Tian. Suaranya terdengar serak dan mengerikan di balik topeng besi. Ia akhirnya memiliki nama yang jelas untuk diukir di atas nisan musuhnya. Sosok Tetua Emas yang selama ini hanya ia kenal dari warna jubah dan auranya, kini memiliki identitas yang nyata.
Lin Tian membaca isi halaman selanjutnya. Tulisan tangan Jin Wuya tertera jelas, mencatat setiap detail eksperimen gila yang ia lakukan. 'Hari ke-45. Darah keturunan Penjaga Kunci mulai menunjukkan reaksinya. Cangkang telur telah menipis. Tiga hari lagi, saat bulan merah muncul, aku akan menelan janin naga ini dan menembus ranah Inti Emas. Sekte Pedang Perak akan tunduk di bawah kakiku.'
Lin Tian menutup buku itu dengan kasar, meremukkannya hingga hancur menjadi serbuk. Jin Wuya. Nama itu kini terukir di dalam tulang sumsumnya, bersanding dengan nama Zhao Yan dan Istana Langit Hitam. Pria tua gila itu berencana menjadi Patriark dengan menginjak bangkai keluarga Lin.
"Tiga hari lagi?" gumam Lin Tian, matanya menatap nanar ke arah telur naga. "Kau tidak akan punya waktu sebanyak itu, Jin Wuya."
Menghancurkannya sekarang adalah pilihan yang paling mudah. Satu tebasan pedang beracun, dan mimpi Jin Wuya akan hancur berantakan. Namun, itu tidak cukup. Kematian monster ini tidak akan membayar utang darah yang begitu besar. Jika Jin Wuya ingin menggunakan telur ini untuk menjadi kuat, maka Lin Tian akan merampasnya.
Ia melangkah naik ke atas altar, mengabaikan panasnya udara yang membakar ujung jubah hitamnya. Lin Tian meletakkan kedua telapak tangannya langsung di atas cangkang telur yang bersisik merah itu. Panas yang luar biasa mencoba menembus kulitnya, namun langsung ditelan oleh Teknik Tulang Iblis.
"Makan," bisik Lin Tian.
Pusaran qi hitam terbentuk di telapak tangannya, menembus cangkang telur dan langsung menyedot esensi kehidupan janin naga di dalamnya. Telur itu bergetar hebat, urat-urat hitam di permukaannya mulai memudar, digantikan oleh warna abu-abu kematian. Janin naga di dalamnya menjerit tanpa suara, mencoba melawan hisapan paksa yang merenggut nyawanya.
Namun, qi hitam Lin Tian terlalu dominan. Esensi darah keluarga Lin yang menjadi nutrisi telur itu tiba-tiba memberontak, mengenali darah sang pemilik asli yang kini menyentuh cangkangnya. Resistensi dari dalam telur langsung runtuh, membiarkan Lin Tian menyerap energi murni naga tersebut seperti air yang mengalir ke hilir.
Kekuatan besar membanjiri meridian Lin Tian, membuatnya merasa seperti akan meledak. Urat-urat di lehernya menonjol, matanya berubah menjadi hitam pekat tanpa bagian putih. Ia memaksa energi liar itu masuk ke dalam segel Dewa Penelan Langit, memadatkannya menjadi bahan bakar untuk pertarungan nanti.
Setelah janin naga itu mati dan mengering, Lin Tian menarik pedang hijaunya. Ia menggoreskan bilah beracun itu ke permukaan cangkang telur yang kini rapuh, membiarkan racun korosif meresap ke dalam sisa-sisa cairan ketuban di dalamnya. Ia sedang menyiapkan racun mematikan untuk pria yang akan datang.
Tiba-tiba, getaran hebat mengguncang seluruh ruangan. Debu berjatuhan dari langit-langit gua, dan suara ledakan dahsyat terdengar dari arah pintu masuk koridor. Aura spiritual yang sangat menekan dan penuh amarah menerobos masuk, membuat kedua penjaga di luar menjerit kesakitan sebelum suara mereka lenyap selamanya.
Jin Wuya telah kembali.
Pria tua itu akhirnya menyadari bahwa Lembah Naga Jatuh telah kosong dan bergegas kembali ke Paviliun Pedang Suci. Langkah kaki yang berat dan penuh dengan qi membunuh terdengar mendekat dari ujung koridor, membawa tekanan yang membuat udara di dalam ruang rahasia terasa seperti timah cair.
Lin Tian melepaskan topeng besi Faksi Ular Berbisa dari wajahnya, membiarkannya jatuh berdenting ke lantai batu. Ia tidak butuh penyamaran lagi. Ia menarik napas panjang, membiarkan qi hitam berurat emasnya meledak keluar, menghancurkan semua ilusi aura pedang ortodoks di dalam ruangan.
Malam ini, ruang bawah tanah ini akan menjadi kuburan bagi salah satu dari mereka. Dan Lin Tian sudah memutuskan siapa yang akan dikubur lebih dulu.