Anya gadis muda 18 tahun harus mengahadapi kenyataan pahit saat Pria yang selama ini disukainya dijodohkan dengan kakak Anya, Joana. Anya berusaha untuk menghalanginya namun dia masalah diasingkan oleh Ayahnya. Anya yang patah hati akhirnya berusaha melepaskan perasaanya dan fokus akan study nya. 4 tahun berlalu saat kelulusan Anya, Edgae yang selama ini Alya coba melupakan malah datang membawa seikat bunga. apakah dia datang sebagai kakak Ipar atau ada hal lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perputaran Poros Takdir
Aroma kopi hitam mengepul tipis dari cangkir porselen di sudut meja kerja kafe estetik kawasan Surabaya Barat. Anya menggerakkan pena digitalnya di atas tablet, menyelesaikan guratan sketsa kasar untuk revisi minor tata letak poster komersial milik Baskoro Logistic. Ketukan demi ketukan jemarinya pada layar kaca menjadi satu-satunya pelarian dari rasa sesak yang kembali mengusik ketenangannya sejak pertemuan di auditorium kampus kemarin.
"Nanti malam tim kita diundang makan malam bersama jajaran direksi dari Jakarta, Nya," Ririn tiba-tiba duduk di kursi kosong di hadapan Anya, meletakkan dua botol teh hijau dingin. "Dosen pembimbing bilang kita wajib datang. Katanya, Pak CEO sendiri yang meminta seluruh tim inti hadir tanpa terkecuali."
Gerakan tangan Anya terhenti. Dia tidak perlu bertanya siapa "Pak CEO" yang dimaksud. Sosok tinggi tegap berwajah tegas mirip Daniel Henney itu langsung terbayang di pelupuk matanya. Anya meletakkan pena digitalnya perlahan, lalu menyandarkan punggung ke kursi kayu kafe.
"Aku ada urusan lain nanti malam, Rin. Kamu saja yang pimpin tim," jawab Anya dengan nada suara yang sengaja dibuat sedatar mungkin.
Ririn menghela napas panjang, menatap sahabatnya dengan pandangan tidak berdaya. "Enggak bisa, Anya. Pak Edgard itu secara spesifik menyebut namamu sebagai ketua tim. Beliau bilang, kalau ketua tim tidak hadir, proses penandatanganan kontrak kerja sama dan pendanaan pameran seni DKV semester ini akan ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Kamu mau mengorbankan kerja keras anak-anak seangkatan kita?"
Anya mengepalkan jemarinya di bawah meja. Rasa kesal yang teramat sangat mulai merayap di dadanya. Pria egois, batin Anya mengumpat. Edgard masih menggunakan cara yang sama seperti dulu—menggunakan kekuasaan, angka, dan komitmen bisnis untuk memaksakan kehendaknya. Bedanya, dulu Edgard menggunakan bisnis untuk mengusir Anya dari kehidupannya, dan kini pria itu menggunakan bisnis untuk menjerat Anya agar tidak bisa berlari menjauh.
"Jam berapa?" tanya Anya akhirnya, menyerah demi kepentingan teman-temannya.
"Jam tujuh malam. Di restoran hotel bintang lima pusat kota," Ririn tersenyum lega, tidak menyadari badai emosi yang sedang berkecamuk di dalam diri Anya.
Pukul tujuh malam tepat, sebuah taksi berhenti di lobi restoran mewah yang mengusung konsep semi-terbuka dengan pemandangan lampu-lampu kota Surabaya dari ketinggian. Anya melangkah keluar dari taksi dengan keanggunan yang memikat mata setiap orang yang berpapasan dengannya.
Malam ini, dia sengaja memilih pakaian yang tidak hanya feminin, tetapi juga memancarkan aura wanita berkelas yang berani. Anya mengenakan gaun midi backless berbahan satin sutra berwarna hitam pekat yang membingkai siluet tubuhnya yang proporsional dengan berat 55 kg dan tinggi 165 cm. Punggung mulusnya yang putih cerah terekspos sebagian, kontras dengan warna hitam gaunnya. Rambut panjang lurusnya yang hitam berkilau dijepit rapi ke samping, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut di dekat rahangnya yang tegas.
Begitu Anya memasuki ruang makan privat restoran tersebut, keheningan instan terjadi di kubu direksi Baskoro Group. Edgard yang sedang duduk di kepala meja, menghentikan obrolannya dengan dosen pembimbing Anya. Sepasang mata elang pria itu langsung mengunci pandangannya pada Anya.
Edgard menahan napasnya sejenak. Jantungnya berdegup dengan ritme yang liar. Tatapannya menelusuri penampilan Anya dari atas ke bawah. Rasa kagum, terkejut, sekaligus rasa bersalah yang membakar kembali mengaduk-aduk isi dadanya. Pria itu menyadari, sisa-sisa gadis remaja yang dulu mengejarnya dengan kaos kasual dan parfum stroberi murahan kini benar-benar telah sirna. Di hadapannya kini berdiri seorang wanita dewasa yang begitu seksi, memikat, sekaligus memiliki dinding pertahanan yang sedingin es.
"Selamat malam semuanya. Maaf saya sedikit terlambat karena jalanan macet," ucap Anya dengan suara baritonnya yang tenang, sopan, namun sepenuhnya formal tanpa riak emosi.
"Ah, tidak apa-apa, Anya. Silakan duduk. Kebetulan kursi di sebelah Pak Edgard masih kosong," ujar dosen pembimbing dengan ramah, menunjuk satu-satunya kursi yang tersisa.
Anya melirik kursi di samping Edgard. Dia tahu ini adalah jebakan yang disengaja. Namun, alih-alih menunjukkan kegugupan, Anya melangkah maju dengan kepala tegak. Dia menarik kursi tersebut dan duduk di samping Edgard, meletakkan tas jinjing kecilnya di atas meja dengan gerakan yang teramat anggun. Aroma parfum barunya—wangi bunga lili yang dewasa dan misterius—seketika menyerang indra penciuman Edgard, menggantikan sisa wangi stroberi yang setahun ini tersimpan di ingatan pria itu.
"Selamat malam, Nona Anya. Terima kasih sudah meluangkan waktu," suara Edgard terdengar rendah dan berat di samping telinga Anya. Nada suaranya tidak lagi memerintah, melainkan terdengar begitu lembut, hampir seperti sebuah bisikan permohonan.
Anya tidak menoleh. Dia hanya menatap piring porselen kosong di hadapannya sambil tersenyum tipis yang sarat akan formalitas. "Sama-sama, Pak Edgard. Ini adalah kewajiban saya sebagai ketua tim desain."
Acara makan malam pun dimulai. Obrolan bisnis mendominasi meja makan, dipimpin oleh penjelasan dosen dan Ririn mengenai progres tim. Edgard sesekali menanggapi, namun perhatian utama pria itu sepenuhnya terbagi pada wanita di sebelahnya. Setiap kali Anya bergerak, setiap kali jemari lentik wanita itu memegang garpu, Edgard tidak pernah melepas pandangannya.
"Pak Edgard, bagaimana dengan konsep warna sekunder untuk logo baru yang diajukan oleh tim Anya kemarin? Apakah pihak Jakarta sudah menyetujuinya?" tanya Ririn di sela-sela hidangan utama.
Edgard mengalihkan pandangannya dari Anya ke arah Ririn, mencoba mengembalikan profesionalitasnya. "Pihak manajemen pusat sangat menyukainya. Konsep yang dirancang oleh... tim Nona Anya sangat matang dan memiliki visi jangka panjang yang jelas. Kontrak kerja sama akan resmi ditandatangani besok pagi di kampus."
"Wah, syukurlah!" seru teman-teman tim Anya dengan wajah berseri-seri.
Anya sendiri hanya mengangguk pelan, menyesap anggur putih di gelasnya dengan tenang. Dia menyadari perhatian intens yang diberikan Edgard sepanjang malam. Namun, di dalam hatinya yang telah membeku, tindakan Edgard saat ini justru terasa menggelikan. Poros takdir di antara mereka kini telah berputar seutuhnya. Dulu, Anya yang selalu mengemis perhatian, duduk di seberang meja perjamuan di Jakarta sambil menusuk-nusuk makanannya karena diabaikan oleh Edgard. Sekarang, Edgard-lah yang duduk di sampingnya, mencari-cari celah untuk mendapatkan perhatian atau setidaknya sebuah tatapan tulus dari matanya.
Saat makan malam hampir selesai, Anya pamit berdiri menuju toilet untuk merapikan penampilannya. Dia membutuhkan beberapa menit untuk menghirup oksigen tanpa harus berada di dekat aura mengintimidasi Edgard.
Setelah membasuh tangan dan memastikan riasannya tetap sempurna di depan cermin toilet restoran mewah itu, Anya berjalan keluar menyusuri koridor marmer yang sepi menuju ruang privat kembali.
Namun, di tengah koridor yang remang-remang, sebuah langkah kaki tegap menghentikan langkahnya. Sosok Edgard berdiri di sana, menyadarkan punggungnya pada dinding pembatas koridor dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana bahan hitamnya. Struktur wajahnya yang tampan dengan garis rahang tegas khas keturunan oriental-modern tampak melunak di bawah bias lampu koridor.
Anya menghentikan langkahnya beberapa meter di depan Edgard. Dia menatap pria itu dengan sepasang mata indahnya yang dingin. "Ada yang bisa saya bantu, Pak Edgard? Jika ada urusan bisnis yang ingin direvisi, kita bisa membicarakannya besok pagi di kampus."
Edgard menegakkan tubuhnya, melangkah maju memotong jarak di antara mereka hingga dia berdiri tepat di hadapan Anya. Dia menatap mata Anya dengan sorot mata yang sarat akan penyesalan yang mendalam—tatapan mata seorang pria dewasa yang sedang meratapi kebodohannya di masa lalu.
"Anya, tolong berhenti memanggil saya dengan sebutan itu saat kita sedang berdua," ucap Edgard, suaranya terdengar serak dan bergetar. "Saya datang ke Surabaya bukan hanya untuk urusan bisnis anak perusahaan. Saya ke sini... saya ke sini untuk mencarimu."
Anya tertawa kecil—sebuah tawa sinis yang memotong ulu hati Edgard seketika. "Mencari saya? Untuk apa, Pak Edgard? Untuk mengingatkan saya lagi bahwa perasaan saya di masa lalu hanyalah obsesi remaja yang egois? Atau untuk memastikan bahwa saya tidak akan mengganggu rencana pernikahan megah Anda dengan Kak Joana?"
"Perjodohan itu sudah dibatalkan, Anya!" potong Edgard cepat dengan nada suara yang meninggi karena frustrasi, menahan diri agar tidak mencengkeram bahu wanita di hadapannya. "Saya membatalkannya secara resmi enam bulan lalu. Saya tidak bisa menikah dengan Joana. Saya tidak bisa... karena sejak kamu pergi malam itu, rumah di Jakarta terasa mati. Dan saya menyadari satu hal yang terlambat... saya kehilangan gangguan terkecil yang ternyata menguasai seluruh isi kepala saya setiap harinya."
Mendengar pengakuan emosional dari seorang Edgard Baskoro yang terkenal sedingin es, Anya tidak bergeming. Dinding harga diri di dadanya tidak runtuh sedikit pun. Dia justru menatap Edgard dengan pandangan kosong yang teramat dalam, membuktikan bahwa kata-kata pria itu tidak lagi memiliki kekuatan untuk melukainya.
"Bagus kalau begitu," jawab Anya dengan nada suara yang teramat tenang, sedini dinding es yang tidak akan pernah bisa dicairkan oleh penyesalan apa pun. "Berarti Anda dan Kak Joana sekarang tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang berharga karena keegoisan kalian sendiri. Tapi maaf, Pak Edgard... penyesalan Anda sudah terlambat satu tahun. Anya yang dulu mengemis cinta Anda sudah mati, dan saya menolak untuk menghidupkannya kembali."
Anya melangkah maju, berjalan melewati Edgard tanpa keraguan sedikit pun. Sisa wangi bunga lili dari tubuhnya tertinggal di udara koridor yang dingin, membakar sisa-sisa keangkuhan Edgard Baskoro malam itu. Pria itu berdiri terpaku dalam keheningan, menyadari bahwa mengemis perhatian dari wanita yang hatinya telah dia hancurkan adalah hukuman paling kejam yang harus dia jalani seumur hidupnya.
semangat nulisnya 💪