Tujuh tahun lalu, Alena melarikan diri dari Kerajaan Aveloria dalam keadaan hamil. Ayah anaknya adalah Pangeran Adrian, pewaris takhta yang dicintainya diam-diam. Takut dihukum mati dan kehilangan bayinya, Alena memilih menghilang tanpa memberitahu kebenaran. Kini, ia kembali sebagai selir kerajaan bersama Elian, putranya yang berusia tujuh tahun. Adrian membencinya karena mengira Alena meninggalkannya, tetapi kemiripan Elian perlahan membangkitkan kecurigaan. Di tengah intrik istana, pertunangan politik, dan ancaman terhadap putranya, Alena harus mempertahankan rahasia terbesar hidupnya. Namun semakin dekat Adrian dengan Elian, semakin sulit Alena menyembunyikan kebenaran yang dapat mengubah masa depan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 — SEORANG IBU TIDAK BOLEH LEMAH
Gerimis tipis yang mengguyur Istana Valerian sejak petang berganti menjadi hujan lebat saat jamuan kerajaan usai. Di dalam ruangan utama Paviliun Barat, Alena melangkah bolak-balik dengan napas memburu. Gaun hijau zamrudnya yang memikat kini terasa bagai beban berat yang mencekik lehernya.
Pintu kayu mahoni ruangan itu terdorong terbuka tanpa ketukan.
Pangeran Adrian melangkah masuk. Jubah beludru hitamnya basah oleh air hujan, namun tatapan mata abu-abunya yang tajam dan pekat menyala oleh emosi yang tertahan.
"Keluar," perintah Adrian pendek pada Mira dan dua pelayan yang berada di sudut ruangan.
Mira sempat ragu, menatap Alena dengan khawatir. Namun Alena memberikan anggukan pelan, meminta sahabatnya meninggalkan mereka. Begitu pintu ditutup rapat dan menyisakan dentuman hujan di luar jendela, Alena membalikkan tubuhnya mendadak, menatap Adrian dengan kemarahan yang meluap.
"Apa yang Anda lakukan di Aula Besar tadi, Yang Mulia?!" seru Alena, suaranya gemetar oleh kepanikan dan kejengkolan yang memuncak. "Apakah Anda sadar apa yang baru saja Anda perbuat?!"
Adrian menghentikan langkahnya di tengah ruangan, memiringkan kepalanya sedikit. "Aku membentengi seorang selir kerajaan dari penghinaan vulgar seorang menteri yang tidak tahu tata krama. Apa yang salah dengan itu?"
"Semuanya salah!" teriak Alena, melangkah mendekati Adrian tanpa takut. "Anda tidak sekadar membentengi saya, Adrian! Anda melangkah keluar dari barisan calon mertua Anda, memotong pembicaraan Dewan Kerajaan, dan secara terang-terangan pasang badan untuk saya di depan ratusan bangsawan! Anda membuat semua orang di ruangan itu—termasuk Duke Darius dan Lady Seraphina—makin curiga!"
Alena mencengkeram dadanya sendiri, napasnya tersengal-sengal. Air mata kemarahan tergenang di pelupuk matanya.
"Selama ini saya berusaha bersikap rendah hati, menerima semua penghinaan, dan membiarkan orang-orang menganggap saya wanita dangkal yang tak berarti... demi keselamatan Elian! Tapi tindakan emosional Anda barusan justru menaruh sorotan lampu raksasa tepat di atas kepala putra saya!"
Adrian menatap Alena dalam diam. Kemarahan wanita di hadapannya begitu nyata, begitu membakar. Namun bukannya tersinggung, Adrian justru merasakan kepedihan yang teramat sangat melihat betapa dalamnya luka dan ketakutan yang menanggung jiwa Alena.
"Aku tidak bisa tinggal diam melihatmu dipojokkan seperti itu, Alena," suara Adrian merendah, kehilangan nada kaku pangerannya. "Aku tidak akan biarkan Vincent atau siapa pun di istana ini menginjak-injak harga dirimu di hadapan publik."
"Saya tidak butuh pelindungan Anda jika harga dari pelindungan itu adalah nyawa putra saya!" pangkas Alena tajam. "Apakah Anda tidak paham?! Di istana ini, perhatian dari seorang Putra Mahkota adalah kutukan terburuk bagi seorang selir dan anaknya!"
"Kenapa kau selalu berpikir tentang kematian dan ancaman?!" bentak Adrian, frustrasi di dadanya meluap seketika. Ia maju dua langkah lebar, memangkas jarak di antara mereka hingga Alena bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya. "Kenapa kau selalu bertindak seolah-olah seluruh dunia di istana ini siap membunuhmu dan Elian?!"
"Karena memang begitulah kenyataannya!" balasan Alena menggema di dalam ruangan, beradu dengan suara petir di luar.
Adrian membeku. Matanya terkunci rapat pada mata hijau hazel Alena yang kini basah oleh air mata yang akhirnya menetes.
"Tujuh tahun lalu..." bisik Adrian, suaranya mendadak bergetar oleh campuran luka lama dan kebenaran yang mulai menyingkap. "Tujuh tahun lalu kau pergi... bukan karena kau tidak pernah mencintaimu, bukan?"
Atmosfir di ruangan itu mendadak menjadi teramat sunyi. Hanya suara rintik hujan yang menghantam kaca jendela yang terdengar di antara mereka.
Adrian menunduk, menatap Alena dengan keputusasaan yang mendalam. "Surat kejam yang kau tinggalkan... kata-kata bahwa kau pergi bersama pria lain dari desamu... semuanya kebohongan, bukan? Kau melarikan diri karena kau ketakutan. Kau melarikan diri untuk melindungi anak kita."
Dada Alena serasa dihantam oleh bongkahan es raksasa. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit yang fisik. Ia mengepalkan tangannya di balik lipatan gaunnya, kuku-kukunya menekan telapak tangannya hingga perih demi mempertahankan akal sehatnya.
Kebenaran itu begitu dekat. Hanya butuh satu kata 'ya' dari bibirnya, dan Adrian akan tahu seluruh penderitaan yang ditanggungnya selama tujuh tahun. Adrian mungkin akan memeluknya, membalas dendam pada Rowan yang sudah mati, dan berusaha mendeklarasikan Elian sebagai anaknya.
Namun, bayangan wajah Seraphina yang dingin di jamuan tadi, serta senyuman culas Duke Darius Ardent, kembali hadir di benak Alena bagai hantu yang mengerikan.
Jika kau mengaku... anak itu akan menjadi sasaran racun dan belati.
Jika kau mengaku... perang saudara akan pecah di Aveloria.
Alena memejamkan matanya sekilas. Seorang ibu tidak boleh lemah. Seorang ibu harus rela menjadi penjahat, terpidana, bahkan dibenci oleh pria yang dicintainya, asal anaknya tetap bernapas.
Alena membuka matanya. Ia memandangi Adrian dengan tatapan yang sengaja dipasangnya menjadi dingin, keras, dan tak tersentuh—sebuah benteng kebohongan terakhir yang dirancangnya dengan darah dan air mata.
"Kenapa kau pergi, Alena?" desak Adrian, suaranya parau, memohon dengan sangat. "Katakan padaku kebenarannya. Tolong..."
Alena menarik napas pendek yang terasa menyiksa.
"Saya pergi... karena saya memang harus pergi, Yang Mulia," jawab Alena, suaranya datar, tanpa emosi sedikit pun.
"Alena!"
"Saya pergi karena saya sadar tempat seorang putri baronet kecil tidak pernah ada di samping calon penguasa Aveloria!" lanjut Alena, suaranya makin dingin. "Saya pergi karena saya ingin hidup tenang, tanpa harus menjadi bayang-bayang di Taman Mawar setiap malam! Dan surat itu... kata-kata di dalam surat itu adalah kenyataan yang harus Anda terima!"
Adrian mundur satu langkah perlahan, seolah-olah kata-kata Alena adalah belati nyata yang menusuk dadanya. Wajah tampannya pucat pasi, matanya yang berwarna abu-abu memancarkan kekecewaan yang teramat dalam dan menyakitkan.
"Kau... kau masih memilih untuk berbohong padaku bahkan setelah semua ini?" bisik Adrian, suaranya pecah oleh rasa sakit yang membatu.
"Saya tidak berbohong," bohong Alena lagi, menahan agar air matanya tidak meluncur keluar lagi dari pelupuk matanya. "Saya meminta Anda berhenti mencari alasan romantik atas kepergian saya. Dan berhenti mencampuri kehidupan Elian. Kembalilah ke calon Ratu Anda, Pangeran Adrian."
Adrian menatap Alena cukup lama. Keheningan di antara mereka terasa jauh lebih menyiksa daripada pertengkaran terhebat sekali pun. Di mata sang pangeran, Alena melihat retakan dinding harapan yang baru saja dicoba dibangun pria itu—hancur kembali menjadi kepingan-kepingan kekecewaan yang dingin.
"Baiklah," kata Adrian pelan, suaranya kini kembali membeku seperti Putra Mahkota yang tak tersentuh emosi. "Jika itu jawaban yang kau pilih... aku tidak akan bertanya lagi padamu."
Adrian berbalik, melangkah menuju pintu keluar. Sebelum melangkah keluar ke dalam lebatnya hujan malam, Adrian menghentikan langkahnya sejenak tanpa membalikkan badan.
"Tapi ketahuilah satu hal, Alena," kata Adrian dingin. "Kebohongan yang kau pertahankan dengan begitu keras... tidak akan bisa mengubah darah yang mengalir di dalam tubuh anak itu."
Pintu ditutup dengan dentuman kencang.
Begitu sosok Adrian menghilang, pertahanan diri Alena runtuh sepenuhnya. Kedua kakinya lemas, dan ia merosot jatuh berlutut di atas lantai marmer yang dingin. Alena menutupi wajahnya dengan kedua tangan, membiarkan tangis keputusasaannya yang pecah bergema di dalam ruangan yang sunyi, meratapi cinta yang harus ia kubur kembali demi keselamatan buah hatinya.