Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu! Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 01 - Wawancara Kerja Terburuk
Damar selalu berpegang teguh pada satu prinsip hidup sederhana, yakni menjadi orang biasa yang tidak kasat mata adalah kunci keselamatan. Dia bukan tipe pria yang suka menjadi pusat perhatian, benci situasi penuh drama, dan selalu sebisa mungkin menghindari kerumunan.
Cita-cita hidupnya sama sekali tidak megah. Dia hanya ingin bekerja santai di balik meja kantor dari jam sembilan pagi hingga jam lima sore, lalu pulang ke kamar kosnya untuk menyeduh mi instan sambil menonton maraton serial komedi favoritnya.
Namun, kenyataan hidup sering kali memiliki cara yang cukup kasar untuk menghancurkan rencana-rencana sederhana.
Mata Damar menatap nanar layar ponsel murahnya yang retak di sudut kanan bawah. Angka saldo di aplikasi perbankannya tinggal menyisakan tiga digit—tiga digit yang bahkan tidak cukup untuk membeli sepiring nasi goreng di pinggir jalan.
Lebih parahnya lagi, di atas meja kayunya yang agak lapuk, tiga lembar surat tagihan sewa kos berstempel merah sudah menumpuk seperti ancaman eksekusi mati. Ibu kosnya sudah memberikan tenggat akhir sampai nanti malam pukul delapan. Jika uang sewa tidak segera dilunasi, seluruh pakaian dan barang-barang milik Damar akan dijemur di atas trotoar depan.
"Gaji lima belas juta per bulan. Tanpa syarat pengalaman kerja. Cukup membawa kartu identitas," gumam Damar, membacakan selembar brosur kertas tebal yang tak sengaja dia temukan tertempel di tiang halte bus pagi tadi.
Damar mengusap wajahnya yang letih. Logika sehatnya terus membunyikan alarm peringatan di dalam kepala.
Di zaman sekarang, in this economy, tidak ada pekerjaan halal yang sudi membayar belasan juta rupiah untuk pemuda fresh graduate serba rata-rata tanpa keahlian khusus seperti dirinya. Ini pasti semacam penipuan organ tubuh, agen perdagangan manusia, atau skema investasi bodong.
Namun, perutnya yang meronta-ronta karena lapar dan ancaman pengusiran dari kamar kos berhasil membungkam akal sehatnya.
Dengan sisa keberanian yang dipaksakan, Damar melangkah menyusuri gang sempit di sudut kota tua yang selalu sepi dan lembap.
Di sanalah dia berada sekarang. Berdiri terengah-engah di depan sebuah ruko berarsitektur gaya kolonial Belanda. Dinding batunya yang tebal tampak sedikit kusam, dilapisi lumut kering di beberapa sudut.
Di atas pintu kayu mahoni yang tinggi, melintang sebuah plang kayu berukir tulisan berwarna emas pudar.
Last Trip Express – Agen Perjalanan Spesial.
Damar menarik napas panjang, mencoba mematangkan nyawanya sebelum memutar gagang pintu kuningan yang terasa dingin menembus kulit telapak tangannya.
Kring ....
Lonceng kecil berbunyi halus saat pintu terdorong ke dalam. Damar melangkah ragu-ragu melewati ambang pintu, dan seketika itu pula, rasa herannya mencetus.
Suasana di dalam ruko terbilang sangat mewah, sangat berbanding terbalik dengan bagian luarnya yang suram dan terbengkalai. Lantainya terbuat dari marmer hitam mengilap yang memantulkan bayangan lampu gantung kristal di langit-langit. Udara di dalam ruangan tidak terasa pengap, melainkan dihiasi aroma unik—perpaduan antara wangi sedap malam yang manis dan aroma seduhan kopi mahal.
Di balik meja kayu jati berukuran raksasa di ujung ruangan, seorang wanita tampak sedang duduk santai. Dia sibuk merapikan kukunya memakai kikir perak kecil, sama sekali tidak mengalihkan pandangannya saat Damar masuk.
Wanita itu mengenakan gaun serba hitam berpotongan vintage haute couture yang sangat anggun. Rambut hitam pekatnya disanggul rapi dengan sebuah jepit bermotif mutiara.
Parasnya luar biasa cantik dengan garis rahang yang tegas dan bibir terpoles gincu merah tua.
Namun, aura yang memancar dari tubuhnya terasa begitu pekat, dingin, dan menindas. Damar yang pada dasarnya penakut mendadak merasa seperti seekor kelinci kecil yang melangkah masuk ke dalam sarang serigala.
Instingnya berteriak agar dia segera berbalik arah dan melarikan diri, tetapi saat dia memutar badan, pintu mahoni di belakangnya tertutup sendiri dengan dentuman keras.
Brak!
Damar meloncat kaget. Kakinya mendadak gemetar di atas karpet beludru merah.
"Pintunya sudah dikunci otomatis dari dalam, Anak Muda. Kamu tidak bisa kabur!
Suara wanita itu terdengar halus, meliuk tajam dengan nada sarkastis yang kental. Dia masih belum mendongak, fokusnya masih tertuju penuh pada kikir di tangannya.
Damar menelan ludah yang terasa sekeras batu. "M-maaf ... Mbak? Atau ... Ibu? Saya datang mau menanyakan lowongan kerja yang di brosur."
Wanita itu akhirnya menghentikan kegiatannya. Dia meletakkan kikir perak di atas meja jati, melipat kedua tangannya yang berkulit pucat, lalu menatap Damar dari ujung rambut hingga ujung sepatu ketsnya yang sudah jebol di bagian samping. Pandangannya begitu dingin, seolah sedang membedah isi kepala Damar.
"Panggil saya Madam Helga," ucapnya dengan nada datar namun penuh wibawa yang tak tertahankan. "Siapa namamu?"
"D-Damar, Bu ... maksud saya, Madam Helga. Damar Prasetya."
"Damar," ulang wanita itu, menyebut kembali nama tersebut di lidahnya dengan nada setengah meremehkan. "Pria muda yang penakut, introvert, muka pas-pasan, dan aromamu sangat bau stres akibat melilitnya masalah keuangan. Singkatnya ... bau-bau kemiskinan. Sempurna."
Damar mengedipkan matanya berkali-kali, benar-benar terperangah.
Baru satu menit di sini, tapi kenapa mentalku rasanya langsung dihantam sampai hancur? batinnya meratapi nasib.
"Tugasmu sederhana," lanjut Madam Helga tanpa peduli dengan wajah syok yang ditunjukkan calon pegawainya. "Kamu hanya perlu menjadi tour guide atau pemandu wisata. Memandu perjalanan grup tur keliling ke beberapa destinasi pilihan, membacakan rantai itinerary, memastikan peserta tur merasa nyaman, dan menangani komplain jika ada pelanggan yang rewel."
Mendengar penjelasan itu, setitik harapan mulai menyala di dada Damar. Dia menghela napas lega.
"Cuma ... memandu turis biasa, Madam? Kalau cuma itu, rasanya saya mampu. Ya, walau saya agak pemalu dan pemarah kalau kaget, tapi saya cukup pintar menghafal materi tur, kok."
"Bagus!" Madam Helga tersenyum tipis—sebuah senyuman yang bukannya menenangkan, malah makin membuat bulu kuduk Damar berdiri tegak.
Wanita itu menarik sebuah gulungan kertas perkamen tebal dari dalam laci meja jatinya. Dia mendorong perkamen itu ke tengah meja bersama sebuah pulpen bermaterial logam hitam dengan ujung yang diruncingkan tajam bak jarum.
"Tandatangani bagian paling bawah perkamen ini. Kontrak kerjamu akan langsung aktif mulai malam ini juga."
Damar mendekati meja dengan ragu. Dia memungut pulpen hitam yang terasa dingin menusuk jemarinya. Ketika dia menunduk untuk membaca isi perjanjian di atas perkamen, dahi Damar berkerut dalam. Huruf-huruf yang tertulis di sana bukanlah huruf Latin maupun abjad yang biasa.
Bentuknya meliuk-liuk aneh menyerupai aksara kuno, dan anehnya lagi, tulisan itu seolah-olah terus bergerak samar di atas permukaan kertas.
"Anu ... Madam Helga, ini tulisan apa ya? Kok hurufnya agak aneh dan berbayang?" tanya Damar ragu.
"Jangan banyak tanya! Kalau kamu memang butuh uang lima belas juta itu! Tinggal tanda tangan saja di sana. Jangan bawel!" gertak Madam Helga sambil menghentakkan telapak tangannya ke atas meja jati.
Brak!
Gertakan yang tiba-tiba itu membuat Damar tersentak kaget. Jarinya tergelincir, dan ujung pulpen logam yang tajam itu tanpa sengaja menggores kulit jempol kanannya cukup dalam.
"Aduh!" Damar mengaduh kesakitan, refleks menarik tangannya.
Setetes darah segar berwarna merah pekat menetes dari jempolnya, jatuh tepat di atas garis kosong tempat tanda tangan di bagian bawah perkamen.
Seketika itu juga, udara di dalam ruangan mendadak menjadi sangat berat. Kertas perkamen di atas meja memancarkan pendar cahaya merah redup yang aneh.
Asap tipis beraroma menyengat—perpaduan antara baunya kayu cendana dan kemenyan terbakar—merebak keluar dari permukaan kertas. Tulisan aksara kuno di atas perkamen itu seolah hidup, menyerap tetesan darah Damar, lalu perlahan-lahan hangus terbakar menjadi abu hitam tanpa menyisakan api sedikit pun.
Damar melompat mundur dua langkah, matanya melotot selebar piring.
"A-apa-apaan itu tadi?! Kertasnya ... kertasnya kok bisa terbakar sendiri?!"
Madam Helga hanya terkekeh pelan. Dia memajukan tubuhnya, meraih abu hitam perkamen yang mendadak memadat dan berubah bentuk menjadi sebuah kartu identitas bertali gantung dari material logam dingin.
Dengan gerakan santai, wanita itu melempar kartu tersebut ke arah dada Damar. Damar menangkapnya secara refleks. Di permukaan kartu logam itu, terukir namanya sendiri dengan tinta berwarna merah darah.
DAMAR PRASETYA – TOUR GUIDE.
"Selamat, Damar. Kamu sudah resmi terikat kontrak kerja dengan Last Trip Express," ucap Madam Helga seraya berdiri anggun dari kursinya dan merapikan lipatan gaun mewahnya. "Tugas pertamamu akan dimulai tepat lima menit lagi."
Jantung Damar berdegup kencang bak ditabuh drum perang.
"T-tapi saya belum paham semuanya! Turisnya siapa? Kita mau pergi ke mana malam-malam begini?"
Tiiiiinnnnnn ...!
Suara klakson bus yang begitu berat, dalam, dan bergema—seolah berasal dari dasar sumur tua yang amat dalam—tiba-tiba mengguncang ruko tersebut dari arah jalanan luar.
Suasana di dalam ruangan mendadak turun drastis hingga mencapai titik beku. Hembusan napas Damar yang panik bahkan kini mengeluarkan uap tipis berwarna putih.
Madam Helga melangkah perlahan melewati Damar, meliriknya dari sudut mata dengan tatapan yang sangat kelam.
"Turis kita adalah jiwa-jiwa yang mati membawa penasaran dan tidak tenang, Damar," bisik Madam Helga tepat di sebelah telinganya, menyebarkan rasa dingin yang membekukan tengkuknya.
"Dan kalau kamu tidak bisa memandu mereka dengan baik sampai mereka merasa puas ... kamu sendiri yang akan dijadikan hidangan penutup oleh mereka malam ini."
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt