"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : SISA ALKOHOL & PERTEMUAN TAK TERDUGA
Sisa-sisa wine semalam masih menyisakan nyeri yang menghantam kebal-kebul di pelipis Angga.
Saat matanya berkedip berat menyesuaikan dengan cahaya pagi yang menerobos gorden kamarnya, Angga meringis. Kepalanya terasa seberat batu dan perutnya mual bukan main. Namun, profesionalisme yang mendarah daging memaksa pria itu untuk bangkit dari tempat tidur. Usai membasuh wajah dan menenggak segelas air putih, ia merapikan diri dan dengan cepat mengenakan kemeja oxford presisi dan sepatu derby kulit favoritnya.
Di tengah usahanya mengikat tali sepatu, ponsel di atas meja nakas bergetar nyaring. Sebuah nama yang begitu ia sayangi muncul di layar " Ami".
Angga menarik napas panjang, meredam pening di kepalanya lalu menggeser ikon hijau.
"Halo, Ami..." suara Angga serak khas orang baru bangun tidur.
"Kak Angga! Jangan bilang Kakak baru bangun?!" seru suara melengking nan ceria dari seberang sambungan.
Angga tersenyum tipis, rasa nyeri di kepalanya sedikit terangkat oleh keceriaan itu.
"Tidak, Kakak sudah rapi. Baru mau berangkat ke kantor"
"Ingat ya, Kak! Awas kalau sampai lupa!" Ami merengek penuh ancaman manis.
"Malam ini Ami ulang tahun yang ke-12! Kakak sudah janji mau datang, kan? Nggak ada alasan sibuk, nggak ada alasan lembur!"
"Iya, Adikku sayang. Kakak tidak lupa" sahut Angga lembut, nada bicaranya melunak total sangat berbeda dengan sosoknya yang ditakuti di kantor.
"Kakak pasti datang ke pesta ulang tahunmu malam ini"
"Beneran ya? Ami cuma mau Kak Angga ada di sini. Itu hadiah terbesar buat Ami" bisik Ami penuh harap, menyiratkan kerinduan yang mendalam.
"Janji. Bersiaplah dan tampil cantik malam ini, oke?"
"Okeee! Aku tunggu nanti malam, Kak! I love you!"
" Love you too, Ami"
Usai memutus sambungan, Angga terdiam sejenak. Pikirannya mendadak terlempar pada kata-kata Siska di club semalam. Anna... Anna benar-benar sudah kembali. Kenyataan itu berputar-putar di kepalanya bagai bisikan gaib yang memabukkan.
Pukul 08.30 WIB.
Kemacetan Jakarta yang gila berhasil membuat Angga terlambat. Ia setengah berlari menyusuri koridor kantor, jemarinya sibuk menggeser layar ponsel untuk memeriksa agenda rapat yang sudah menumpuk. Karena terlalu fokus pada layar kaca itu, ia sama sekali tak menyadari langkah seseorang dari arah berlawanan.
BRUK!
Seorang wanita bertabrakan keras dengannya dan hampir jatuh jengkang ke lantai marmer. Refleks murni seorang pria membuat tangan Angga melingkar cepat di pinggang wanita itu, menarik tubuhnya rapat-rapat ke dalam dekapan.
Napas Angga tertahan, aroma tubuh yang familier dan manis menyergap inderanya. Sorot mata Angga terkunci rapat pada wajah di depannya.
"Lulu...?"
Tanpa polesan riasan tebal, kepolosan Lulu pagi itu begitu menyengat. Pipinya yang sedikit padat merona kemerahan alami, alisnya tebal menawan serta bibir merah muda tipis yang tampak menggiurkan. Untuk beberapa detik yang sangat krusial, pening kepala Angga, tumpukan berkas pekerjaan bahkan bayang-bayang sosok Anna yang menghantuinya semalam... mendadak menguap begitu saja.
Hatinya diliputi kehangatan asing yang mendebarkan. Tanpa sadar, perlahan jemari tegap Angga terangkat lalu mengusap lembut pipi Lulu yang terasa hangat dan halus.
Pipi Lulu seketika memerah padam, napasnya memburu kaget. Namun, sebelum desah napas mereka makin merapat dan suasana makin intim...
"EKHEM!"
Angga dan Lulu terperanjat hebat, buru-buru melepaskan dekapan mereka dan melempar jarak dua langkah. Pak Arya sang pemilik perusahaan kini berdiri di sana bersama Mario. Matanya menatap mereka berdua dengan raut picik, tajam dan penuh selidik.
"Selamat pagi, Pak" sapa Angga berusaha secepat mungkin menguasai diri dan merapikan kemejanya.
"Tumben jam segini kamu baru datang, Angga... Kamu begadang?" tegur Pak Arya dingin, melirik jam tangan mewahnya yang sudah menunjukkan pukul 08.55 WIB.
"Saya tunggu kamu di ruangan saya. Sekarang"
Setelah Pak Arya dan Mario berlalu dengan langkah anggun, Angga mengepalkan tangannya, merutuki kebodohan dan kelengahannya sendiri. Tanpa sanggup mengucap sepatah kata pun pada Lulu yang masih mematung gugup, Angga berbalik dan pergi dengan langkah gusar membelah koridor.
***
Sementara itu, Lulu berusaha setengah mati untuk bersikap profesional di meja kerjanya. Meski sejujurnya, sensasi hangat usapan jemari Angga di pipinya tadi masih membuat jantungnya berdesir aneh tak terkontrol.
"Kerja tuh jangan banyak melamun, Lu!" tegur Vika seraya terkekeh dari mejanya, berhasil menyadarkan Lulu dari lamunannya.
"Iya nih. Lagian Pak Angga aneh banget pagi ini. Tadi pas lewat buru-buru banget kayak dikejar hantu" timpal Rama yang baru saja kembali dari pantry membawa segelas kopi panas.
"Iya, tumben banget dia terlambat sampai ditegur langsung sama Pak Arya di koridor" tambah Vika.
Gumam rumor dan percakapan rekan kerjanya makin membuat Lulu diliputi rasa bersalah. Apa Pak Angga sampai dimarahi Pak Arya gara-gara menolongku dan terlambat tadi? pikir Lulu seraya menutupi wajahnya yang kembali merona.
"Dah ah, mending balik fokus kerja sebelum Pak Angga balik dari ruangan Pak Arya terus ngamuk lagi ke kita," ujar Vika mengingatkan insiden lembur massal minggu lalu yang mengerikan.
Rama yang mendadak ngeri mendengar peringatan Vika langsung berbalik cepat ingin kembali ke mejanya. Namun sayang, gerakannya terlalu ceroboh dan terburu-buru. Ia menyenggol Indah yang baru saja melangkah mendekat dari samping.
CYAARRR!
Kopi panas di cangkir Rama tumpah ruah! Cairan hitam pekat itu membuat mengotori kemeja Indah dan sebagian besarnya menyiram tumpukan berkas penting yang tergeletak di meja kerja Lulu hingga basah kuyup.
"Auuuw! Panas!" jerit Indah spontan seraya melompat mundur, mengibaskan kemeja putihnya yang kini ternoda cokelat pekat.
"S-sorry, Ndah! Aku benar-benar nggak sengaja!" pangkas Rama panik, buru-buru menyambar beberapa lembar tisu dari meja.
Indah menepis tangan Rama dengan wajah merah padam, matanya melotot tajam penuh emosi.
"Aduh, Rama! Punya mata nggak sih?! Lihat nih, baju aku basah kuyup kena kopi panas kamu!" sembur Indah dengan nada tinggi.
"Ini kemeja baru, Rama! Terus aku harus pakai baju kotor begini seharian di kantor?! Ngeselin banget, sih!"
"Maaf, Ndah... tadi aku kaget pas berbalik..." cicit Rama makin ciut.
"Alasan terus! Bukannya hati-hati kalau bawa kopi panas!" potong Indah kesal setengah mati, menyambar tisu di meja lalu berjalan menghentakkan kaki menuju toilet untuk membersihkan bajunya.
"S-sorry, Lu! Aduh, sorry banget! Aku nggak sengaja!" pekik Rama panik setengah mati, tangannya bergerak acak mencoba membasuh genangan kopi.
Lulu membeku seketika. Matanya membelalak menatap lembaran kertas yang kini menghitam dan koyak. Berkas vital pencatatan yang harus dibahasnya bersama Pak Angga dalam hitungan menit... kini hancur tak berbekas.
semangat thor
jadi penasaran nih lanjut baca..