NovelToon NovelToon
Dewa Abadi Season 2

Dewa Abadi Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Iblis / Romansa / Fantasi Timur
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Kemenangan gemilang dan gunungan harta yang dibawa pulang oleh Zeng Niu dan "Kelompok Perampok Tersenyum" ke Sekte Angin Merah harus dibayar dengan harga yang menentang surga. Kematian tragis Pangeran Pertama, Di Tian, di Lautan Bintang telah menghancurkan kedamaian Alam Abadi.

Kaisar Langit Di Shitian, penguasa Benua Tengah, terbangun dari meditasinya dengan amarah kosmik. Mesin perang terbesar dan paling menakutkan di Alam Abadi pasukan dewa dari Istana Pusat kini digerakkan dengan satu tujuan pasti: meratakan Sekte Angin Merah dan menghapus seluruh Benua Utara dari peta keberadaan.

Saat kebahagiaan sekte berubah menjadi kengerian massal, Zeng Niu tidak memiliki pilihan selain bersiap menghadapi badai kehancuran yang ia tarik sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: Penipu Kecil di Alam Bawah

Langit Benua Utara mengerang seolah menahan beban yang tak tertahankan.

Kota Penghakiman Surga, raksasa mekanis dan tulang kosmik yang luasnya membentang ratusan mil, kini terbelah dua. Puing-puing emas, pilar-pilar giok putih, dan menara-menara pengawas raksasa runtuh dari angkasa, berjatuhan layaknya hujan meteor raksasa ke arah pegunungan di sekitar Sekte Angin Merah.

BOOOOOOOOOOOOOOOM!

Tanah berguncang hebat. Gelombang kejut dari jatuhnya paruh pertama kota itu menciptakan kawah buatan sedalam ribuan tombak di dataran utara. Jutaan prajurit berzirah emas dari Istana Pusat yang tadinya berdiri dengan arogansi dewa kini menjerit panik, berhamburan seperti semut yang sarangnya baru saja ditendang.

Bagi mereka, hari ini adalah kiamat. Sebuah sekte pinggiran yang seharusnya bisa mereka ratakan dalam satu hembusan napas ternyata menyimpan monster tingkat Kaisar Raja!

Di atas balkon paviliun utama, Leluhur Jiu Zui menurunkan dua jarinya. Ia menguap lebar, lalu menepuk-nepuk perutnya yang keroncongan, sama sekali tidak terlihat seperti dewa pembunuh yang baru saja membelah kota melayang.

Ketua Sekte Jiu Feixue menatap pamannya itu dengan pandangan kompleks. Ketakutannya pada kiamat memudar, digantikan oleh rasa aman yang aneh. Namun, Jiu Zui mengangkat tangannya, mencegah Jiu Feixue berbicara.

"Jangan santai dulu, Feixue," gumam Jiu Zui, matanya yang sayu menatap tajam ke arah menara utama kota yang sedang runtuh di kejauhan. "Pria bernama Di Cang itu... dia masih hidup. Serangan tadi hanya memotong kotanya, tapi tidak menghancurkan jiwa Kaisar Bumi-nya."

Sementara para petinggi mengawasi pergerakan musuh, di dalam salah satu kapal perang Divisi Matahari Darah yang disita, Zeng Niu tiba-tiba membuka matanya.

Lautan Ketiadaan di dalam Dantiannya kini telah berubah drastis. Benih Dunia (World Seed) yang ia telan tidak langsung meledakkannya ke ranah Ascendant, melainkan melebur menjadi sebuah pusaran galaksi kecil di pusat Dantiannya. Ruang di dalam Dantiannya kini mulai memiliki 'batas' dan 'hukum dasar'—sebuah prototipe alam semesta yang menunggunya untuk mekar.

"Kultivasi tidak bisa diburu-buru, tapi fondasi ini... benar-benar menentang surga," Zeng Niu mengepalkan tangannya. Fluktuasi Soul Transformation Tahap Akhir-nya kini terasa seberat planet.

Ia melangkah keluar dari Ruang Kapten. Di luar, pemandangan jutaan prajurit emas yang jatuh dari langit menyambutnya. Beberapa prajurit tingkat Nascent Soul dan Soul Transformation dari Istana Pusat mendarat dengan susah payah di hutan sekitar formasi Sekte Angin Merah.

Insting perampok Zeng Niu mendidih. Ia menaruh dua jarinya di bibir dan bersiul sangat keras.

SUUUUIIITTT!

"ANAK-ANAK ANGIN MERAH! WAKTU ISTIRAHAT SELESAI!" raung Zeng Niu, suaranya diperkuat oleh Qi hingga menggema ke seluruh puncak gunung. "Harta karun tidak akan merangkak sendiri ke dalam cincin kalian! Keluar dari formasi! Saring yang masih hidup, telanjangi yang sudah mati! Jangan biarkan satu pun zirah emas Istana Pusat lolos dari gunung kita!"

Di bawah, Mo Tian, Wang Chen, Lin Feng, dan Mu Qingqing yang sempat syok melihat kota terbelah, kini matanya berbinar-binar seperti serigala kelaparan.

"DENGAR PERINTAH PAMAN MUDA! BENTUK FORMASI JARING LABA-LABA! KITA TANGKAP IKAN-IKAN EMAS ITU!" teriak Mo Tian.

Ribuan murid Angin Merah berhamburan keluar dari kubah pelindung. Pemandangan absurd terjadi; alih-alih sekte yang bertahan dari invasi, mereka terlihat seperti kawanan belalang yang menyerbu ladang gandum.

Di sebuah lereng bukit tak jauh dari sekte, seorang Komandan Divisi dari Istana Pusat bernama Panglima Jiao mendarat dengan keras. Ia berada di ranah Soul Transformation Awal. Zirah emasnya penyok, tapi harga dirinya tidak. Ia merangkak bangun, meludahkan darah, dan menatap beberapa murid Angin Merah tingkat Nascent Soul yang mendekatinya.

"Kalian semut-semut kotor! Berani kalian menatapku?!" raung Jiao, melepaskan aura Soul Transformation-nya. "Aku adalah keturunan keluarga Jiao dari Benua Tengah! Meski kota kami jatuh, aku tetap—"

BAM!

Sebuah karung goni raksasa tiba-tiba menutupi kepalanya dari belakang.

Wang Chen, yang menggunakan jimat penyembunyi aura (hasil curian tempo hari), telah menyelinap di punggungnya. Tanpa ampun, Wang Chen menghantam belakang kepala komandan itu dengan gagang pedang tingkat bumi yang berat.

"Banyak bicara! Kakak Mo, cepat lepaskan sepatu bot terbangnya, benda itu terbuat dari kulit naga bumi!" teriak Wang Chen sambil terus memukuli karung goni itu hingga Panglima Jiao pingsan.

Sementara itu, di Alam Fana (Alam Bawah)...

Berjuta-juta dimensi di bawah langit Alam Abadi, kehidupan berjalan dengan ritme yang jauh lebih lambat, lebih fana, dan penuh dengan perjuangan kecil yang kadang terasa konyol. Pertarungan para dewa yang menghancurkan langit di atas sana hanyalah mitos yang tak terjangkau di sini.

Di Benua Utara Alam Fana, di dalam sebuah kota kultivator tingkat rendah yang ramai, pasar bawah tanah sedang mencapai puncak kesibukannya. Aroma pil spiritual murah dan bau keringat kultivator Pengumpulan Qi memenuhi udara.

Di salah satu sudut jalan, seorang gadis berwajah imut dengan dua kuncir rambut sedang berdiri di atas sebuah peti kayu. Ia mengenakan seragam biru muda khas Akademi Jiannan, tempat di mana legenda-legenda muda Benua Utara ditempa. Ia adalah Lin Xiaoyu, yang kini telah menembus Foundation Establishment Awal.

"Mari, mari, Saudara-saudara sekalian! Jangan lewatkan kesempatan emas ini!" teriak Xiaoyu, mengetuk-ngetuk sebuah jimat kertas kuning yang terlihat sangat usang di atas mejanya.

Di depannya, sekelompok kultivator Pengumpulan Qi tingkat akhir mengerumuninya dengan wajah penasaran. Seorang tuan muda dari keluarga kecil di kota itu, memegang kipas murahan, maju dengan sombong.

"Hei, Gadis Kecil Akademi. Kau bilang ini adalah 'Jimat Ketiadaan Asura'? Jangan bercanda. Di Alam Fana ini, mana ada hal semacam itu? Paling-paling ini hanya jimat ledakan tingkat rendah yang gagal dibuat," ejek tuan muda itu arogan.

Xiaoyu memicingkan matanya, memasang ekspresi sangat tersinggung. Ia menepuk meja hingga berbunyi keras.

"Tuan Muda, Anda boleh menghinaku, tapi jangan menghina jimat suci Akademi kami! Ini adalah jimat yang ditinggalkan langsung oleh Kakak Senior Zeng Niu sebelum ia diangkat menjadi murid dewa di Alam Abadi!"

Mendengar nama itu, kerumunan langsung berdengung. Legenda tentang Zeng Niu, murid akademi yang membantai sekte iblis dan akhirnya dibawa naik ke Alam Abadi, telah menjadi cerita pengantar tidur paling terkenal di Benua Utara Alam Fana.

"T-Tunggu... jimat dari Sang Algojo Zeng Niu?!" beberapa kultivator mulai terpengaruh oleh kemampuan akting tingkat dewa Xiaoyu.

"Tentu saja! Lihat bekas hangusnya ini? Ini mengandung setitik Niat Asuranya. Jika Anda mengaktifkannya, bahkan ahli Foundation Establishment Puncak pun akan bertekuk lutut! Hanya dengan lima ratus batu roh tingkat rendah, jimat peninggalan legenda akademi ini bisa menjadi milik Anda!"

Di sebuah kedai tak jauh dari meja Xiaoyu, seorang pemuda gemuk berseragam akademi yang sama sedang duduk menghitung tumpukan kecil batu roh dengan mata berbinar-binar. Qian Fugui. Meskipun tubuhnya makin gemuk dan ia masih tertahan di Pengumpulan Qi Tahap Puncak, kemampuannya dalam membukukan uang tak ada tandingannya.

"Xiaoyu benar-benar berbakat menipu," gumam Qian Fugui sambil mencatat di buku besar. "Jimat kertas itu padahal baru saja kubeli dari tukang loak seharga dua batu roh. Ah, menggunakan nama Niu-bro yang sudah jadi dewa di atas sana untuk berbisnis memang sangat menguntungkan."

Di belakang Qian Fugui, Bao Tu yang juga telah mencapai Foundation Establishment Awal, sedang gemetar bersembunyi di balik pilar kedai. Ia memeluk pedang kayunya erat-erat, matanya mengawasi jalanan dengan paranoid.

"F-Fugui... kapan kita kembali ke asrama akademi?" bisik Bao Tu pucat pasi. "Aku dengar di ujung jalan ada preman sekte Serigala Besi yang sedang mencari masalah. Bagaimana kalau mereka tahu kita menjual jimat palsu? Niu-bro tidak ada di sini untuk mematahkan leher mereka!"

Qian Fugui mendengus, memasukkan sekantong batu roh ke lengan bajunya. "Tenanglah, Bao Tu. Niu-bro mungkin sudah sibuk minum teh bersama bidadari di Alam Abadi sana, tapi kita di sini bertugas menjaga kantong kita tetap penuh. Lagipula, jika ada masalah, kita masih punya Guru."

Tepat saat ia berbicara, seorang pria paruh baya berjubah guru akademi berjalan mendekat sambil memegang kepalanya yang pusing. Tetua Mo Yin, yang kini telah mencapai ranah Golden Core Puncak. Ia menatap ketiga mantan rekan Zeng Niu itu dengan pandangan putus asa.

"Kalian bertiga... tidak bisakah kalian fokus berlatih di Akademi sehari saja? Kenapa aku, seorang Tetua Akademi Jiannan, harus turun gunung mengawasi kalian berjualan jimat palsu?!" keluh Tetua Mo Yin.

Sejak Zeng Niu naik (ascend), kehidupan di akademi kembali tenang, tapi ketiga murid ini justru selalu mencari celah untuk berulah.

"Hehe, Guru Mo, tanpa bisnis kecil kami, dari mana akademi mendapat dana tambahan untuk merenovasi aula latihan?" jawab Qian Fugui polos.

Xiaoyu berlari mendekat sambil mengibas-ngibaskan sekantong penuh batu roh hasil menipu tuan muda tadi. "Panen hari ini bagus! Ayo kita makan daging panggang sebelum preman Serigala Besi itu benar-benar datang!"

Tetua Mo Yin hanya bisa menghela napas panjang menatap langit biru Alam Fana. "Zeng Niu... di Alam Abadi sana, apakah kau tahu namamu sedang digunakan oleh adik-adik seperguruanmu untuk memeras bangsawan lokal?" batinnya pasrah.

Kembali ke Alam Abadi — Reruntuhan Kota Penghakiman Surga

Sementara kehidupan sehari-hari yang konyol dan damai berlangsung di Alam Fana, situasi di Alam Abadi sedang berada pada puncak krisisnya.

Di tengah puing-puing Kota Penghakiman Surga yang jatuh dan terbakar, sebuah ledakan energi emas menyapu ribuan bebatuan kosmik.

Dari dalam kawah raksasa, Raja Perang Di Cang merangkak keluar. Keadaannya sungguh mengenaskan. Mahkota emasnya hancur. Jubah kekaisarannya sobek berlumuran darah. Luka sayatan dari dua jari Jiu Zui memanjang dari bahu kiri hingga pinggang kanannya, memancarkan Niat Kehancuran Kaisar Raja yang terus menerus merusak organ dalamnya.

Di Cang terengah-engah. Matanya membelalak dipenuhi ketakutan dan kebencian.

Ia menengadah ke arah langit Benua Utara, menatap Puncak Pedang Sekte Angin Merah di kejauhan.

"Kaisar Raja... Tahap Akhir... Hahaha... Pantas saja Tian'er mati. Pantas saja armada pelopor hancur," tawa Di Cang terdengar gila dan putus asa.

Ia tahu ia tidak akan bisa menang. Jika Jiu Zui mengayunkan jarinya satu kali lagi, nyawanya akan benar-benar terhapus dari siklus reinkarnasi.

"Tapi... jangan pikir Istana Pusat akan melepaskan penghinaan ini!"

Di Cang menggertakkan giginya. Ia merogoh dadanya, mengeluarkan sebuah giok berwarna merah darah yang berbentuk seperti naga melingkar. Itu adalah Giok Darah Kaisar, harta karun penyelamat nyawa tingkat Primal yang dihubungkan langsung dengan jiwa Kaisar Langit Di Shitian.

"Atas nama darah keturunan Di! Aku mengorbankan separuh fondasi duniaku!"

Di Cang meremukkan giok darah itu.

ZRAAAAAASH!

Seketika, pusaran darah yang luar biasa pekat terbuka di belakang Di Cang. Ia memuntahkan seteguk darah esensinya yang paling berharga, kultivasinya merosot tajam dari Kaisar Bumi Puncak menjadi Kaisar Bumi Awal dalam hitungan detik! Harga untuk membuka portal pelarian darurat di bawah tekanan Kaisar Raja sangatlah brutal.

Di balkon paviliun, Jiu Zui menyipitkan matanya melihat fluktuasi ruang tersebut. Ia mengangkat jarinya lagi. "Tikus kecil ini mau kabur rupanya."

Namun, sebelum tebasan kedua Jiu Zui meluncur, dari dalam pusaran darah itu, memancar sebuah suara yang begitu agung, begitu absolut, hingga membuat seluruh hukum dunia di Benua Utara berhenti berputar.

"SIAPA... YANG MEMOTONG KOTAKU... DAN MELUKAI ADIKKU?"

Suara itu bukanlah fisik, melainkan Proyeksi Jiwa dari Kaisar Langit Di Shitian! Tekanan dari Kaisar Raja Tahap Menengah berbenturan langsung dengan Niat Jiu Zui.

Memanfaatkan jeda seperseribu detik dari benturan dua Niat tersebut, Di Cang melompat masuk ke dalam portal darah dan menghilang, melarikan diri kembali ke Istana Pusat.

Di Puncak Pedang, Zeng Niu mendarat di samping Jiu Feixue. Sang Algojo memandang sisa-sisa portal darah yang menutup di kejauhan. Ia tidak tampak kecewa karena buruannya lepas.

"Kaisar mereka akhirnya menyapa," gumam Zeng Niu dengan senyum tipis yang mematikan. Ia menoleh pada Jiu Zui. "Guru Tua, sepertinya kau baru saja menendang sarang lebah terbesar di Alam Semesta."

Jiu Zui menenggak sisa arak imajiner dari botolnya yang sudah pecah, lalu mendengus bosan.

"Biarkan mereka datang. Arak di Utara sudah mulai terasa hambar. Darah kaisar langit mungkin bisa menjadi campuran yang bagus untuk musim dingin."

1
Abidin Ariawan
kalo dari Utara semut ,, lha putra mu apa🤣,, mosok gajah. udah pikun
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
hancurrrrkannnn sudahhhhhhh...
saniscara_Patriawuha
serapppppppp semuaaaaa.....
saniscara_Patriawuha
gassssdddd keunnnnnnn deuiiiiii...
Rhaka Kelana
harusnya sungkem atau cium tangan sama bapak mertua bukan malah ngajak gelut...ajak ngopi bareng...kena sentil kan..🤣🤣🤣🤣
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
Rinaldi Sigar
lanjut
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
saniscara_Patriawuha
lumayannnnm lahhhh...
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!