"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.
Tapi semua orang salah besar.
Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.
Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.
Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Revan Hadinata Dihancurkan
Revan Hadinata tidak suka merasa takut.
Sejak kecil, ia terbiasa melihat orang lain menyingkir saat namanya disebut. Di sekolah, guru menutup mata ketika ia memukul teman sekelas. Di kampus, dosen memberi nilai aman karena keluarganya menyumbang gedung baru. Di dunia bisnis, vendor tersenyum meski ia datang terlambat dua jam.
Tetapi setelah malam di Gedung Takdir, wajah Arya terus muncul di kepalanya.
Gerakan itu.
Satu tarikan kecil yang membuat Dodi, pengawal terbaiknya, jatuh berlutut seperti pemula.
Lebih buruk lagi, Dewi Suryanegara menyebut Arya adikku.
Revan duduk di ruang VIP sebuah klub privat tanpa alkohol, tempat para anak konglomerat biasa berpura-pura membicarakan bisnis sambil memamerkan jam mahal. Di depannya, Wulan duduk dengan wajah cemas.
"Kamu bilang dia cuma menantu miskin," kata Revan.
Wulan menggigit bibir. "Itu yang semua orang tahu."
"Semua orang bodoh."
"Mas Revan, saya sudah melakukan bagian saya. Foto-foto itu berhasil. Arya diusir."
"Dan sehari kemudian Takdir menghancurkan Permata." Revan mencondongkan tubuh. "Kamu tidak merasa itu terlalu rapi?"
Wulan tidak menjawab.
Di sofa lain, seorang perempuan muda bernama Celine memainkan ponselnya. Ia model iklan kecil yang sering dipakai untuk pekerjaan kotor: tersenyum, mendekat, membuat laki-laki terlihat bersalah di kamera.
Revan menatapnya. "Kali ini tidak cukup foto buram. Aku ingin video. Jelas. Arya terlihat memaksamu masuk kamar privat. Paham?"
Celine mengangkat bahu. "Kalau dia tidak mau mendekat?"
"Buat dia mendekat."
Dodi yang berdiri dekat pintu akhirnya bicara. "Tuan Revan, saya sarankan jangan."
Revan menoleh tajam. "Kamu takut?"
Dodi diam.
"Aku tanya, kamu takut?"
"Saya menghormati risiko."
Revan tertawa dingin. "Bahasa orang kalah."
Dodi menerima hinaan itu tanpa ekspresi, tetapi rahangnya mengeras.
Malam itu, undangan dikirim ke Arya melalui jalur yang sengaja dibuat rumit: seorang vendor lama Takdir meminta bertemu di klub privat untuk membahas penyelesaian kontrak Permata. Nama Revan tidak muncul. Nama Wulan tidak muncul. Semuanya tampak seperti pembicaraan bisnis biasa.
Arya membaca pesan itu di mobil.
Pak Satria yang duduk di depan berkata, "Jebakan."
"Tentu."
"Kamera?"
"Pasti."
"Perlu saya kirim tim?"
Arya memasukkan ponsel ke saku. "Tim di luar. Aku masuk sendiri."
Pak Satria tampak ingin membantah, tetapi ia mengenal wajah itu. "Baik, Tuan Muda."
Klub privat itu berada di lantai atas gedung restoran mahal. Tidak ada papan nama besar. Tamu masuk lewat lift khusus dan melewati dua lapis keamanan. Di dalam, cahaya dibuat redup, musik pelan, ruangan-ruangan tertutup tirai tebal.
Arya datang dengan kemeja hitam tanpa dasi.
Seorang resepsionis mengantarnya ke ruang VIP ujung. Begitu pintu terbuka, ia melihat Celine duduk sendirian. Gaunnya putih, bahunya terbuka, matanya langsung dibuat basah.
"Pak Arya?" katanya dengan suara gemetar. "Terima kasih sudah datang. Vendor yang mau bertemu Anda belum sampai. Saya asistennya."
Arya masuk, tetapi tidak duduk.
Matanya bergerak sekali: lampu sudut, vas bunga terlalu besar, jam dinding yang arahnya ganjil, ventilasi kecil di atas tirai.
Empat kamera.
Satu mikrofon.
Aroma parfum Celine terlalu kuat, mungkin untuk menutupi bau perangkat elektronik panas di balik dinding.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Arya.
Celine tertegun. "Apa maksud..."
"Kamera di vas kurang rapi. Kalau mau merekam skandal, jangan pakai lensa yang memantulkan lampu."
Wajah Celine kehilangan warna.
Tirai samping terbuka.
Revan keluar sambil bertepuk tangan, tetapi senyumnya tampak dipaksa. Di belakangnya, lima pengawal masuk. Dodi ada di antara mereka, namun kali ini ia berdiri paling belakang.
"Hebat," kata Revan. "Kamu memang lebih sulit dijebak daripada kelihatannya."
Arya menatapnya. "Setelah gagal memakai Wulan, kamu memakai Celine. Kreativitasmu pendek."
Wajah Revan berubah. "Jangan sok tahu."
Arya mengeluarkan ponsel dan memutar rekaman singkat. Suara Wulan terdengar dari speaker, berbisik tentang pembayaran dan foto hotel. Lalu muncul tangkapan layar transfer ke rekening adiknya.
Wulan, yang baru keluar dari ruang samping, langsung membeku.
Celine mundur satu langkah.
Revan mengepalkan tangan. "Kamu merekamku?"
"Aku mengumpulkan sampah yang kamu buang sembarangan."
"Kamu pikir bukti kecil itu cukup?"
"Untuk polisi? Belum tentu. Untuk membuat Sinta tahu siapa yang ia dengarkan? Cukup. Untuk membuat vendor dan bank mempertanyakan Hadinata? Lebih dari cukup."
Revan melangkah maju. "Kamu mengancamku?"
"Aku menjelaskan posisi."
Kemarahan Revan pecah.
"Hajar dia!"
Lima pengawal bergerak.
Kali ini Arya tidak menunggu mereka menyentuhnya. Ia mengambil gelas kosong dari meja, melemparkannya ke lantai tepat di depan kaki pengawal pertama. Pria itu refleks menahan langkah. Arya masuk dari samping, siku menghantam perut, lutut menekan paha, tubuh lawan jatuh ke sofa.
Pengawal kedua mencoba menangkap bahunya. Arya memutar, memakai tarikan lawan sebagai poros, lalu mengunci pergelangan tangan dan mendorongnya ke meja. BUK. Napas pria itu terputus.
Ketiga dan keempat menyerang bersamaan.
Arya mundur ke ruang sempit antara sofa dan dinding. Di tempat luas, jumlah mereka berguna. Di ruang sempit, mereka justru saling menghalangi. Satu pukulan lewat di samping wajahnya. Arya menunduk, menendang pergelangan kaki, lalu menekan tengkuk lawan ke sandaran sofa.
Pengawal keempat mengeluarkan baton lipat.
Dodi bergerak.
Bukan menyerang Arya.
Ia menahan tangan pengawal itu. "Jangan pakai senjata."
"Minggir!" bentak Revan.
Dodi tidak minggir.
Arya menatapnya sekilas, lalu kembali bergerak. Dalam kurang dari setengah menit, lima pengawal itu berada di lantai, sofa, atau berlutut sambil menahan sakit. Tidak ada tulang patah. Tidak ada darah berlebihan. Tetapi tidak ada yang bisa berdiri tegak.
Revan mundur sampai punggungnya membentur dinding.
"Kamu... kamu berani menyentuhku?"
Arya mendekat.
Revan mencoba mengangkat tangan, tetapi Arya sudah menangkap pergelangannya, memutar tubuhnya, dan menekannya ke meja rendah. Wajah Revan menempel ke permukaan kaca. Tangannya terkunci di belakang punggung. Tubuhnya terlipat memalukan.
"Lepaskan!" Revan berteriak. "Kamu tahu aku siapa?"
Arya menunduk dekat telinganya.
"Dengar baik-baik, Revan. Ini peringatan pertama dan terakhir. Kalau kamu berani menyentuh orang-orang di sekitarku lagi, yang rusak bukan cuma tubuhmu."
Revan terengah, mata merah karena malu.
Pintu ruang VIP terbuka.
Eko dan dua orang keamanan Takdir masuk, diikuti Pak Satria. Salah satu dari mereka langsung mencabut memori dari kamera tersembunyi. Yang lain mengamankan ponsel Celine dan Wulan.
Pak Satria membungkuk sedikit. "Semua perangkat sudah teridentifikasi, Tuan Muda."
Arya melepaskan Revan.
Revan jatuh ke lantai, batuk, rambutnya berantakan. Tidak ada lagi senyum anak konglomerat di wajahnya. Yang tersisa hanya malu dan takut.
Dodi menunduk pada Arya. "Saya tidak ikut bagian ini."
"Aku tahu."
"Saya akan mundur dari pekerjaan Keluarga Hadinata setelah malam ini."
Revan menatapnya tidak percaya. "Dodi!"
Dodi tidak menoleh.
Arya berjalan keluar ruangan. Di koridor, suara malam Kota Awan terdengar samar dari balik kaca.
Di parkiran gedung, ia melihat tiga pria mengganggu seorang perempuan dekat mobil putih. Salah satu pria menarik tas perempuan itu, yang lain tertawa sambil menghalangi jalan.
Perempuan itu berusaha tetap tenang, tetapi bahunya tegang.
"Lepaskan," katanya.
Pria di depannya justru maju. "Sombong sekali, Mbak. Kami cuma mau kenalan."
Arya berhenti.
Pak Satria mengikuti pandangannya. "Tuan Muda?"
Arya sudah berjalan.
Tiga pria itu belum sempat bereaksi ketika tangan Arya mencengkeram pergelangan salah satunya dan memutarnya ke belakang. Pria itu menjerit. Dua lainnya mundur, melihat wajah Arya yang dingin, lalu memutuskan kabur lebih cepat daripada mereka datang.
Perempuan itu berdiri terpaku.
Lampu parkiran jatuh di wajahnya: lembut, bersih, tetapi matanya tidak lemah. Ia mengenakan blazer krem dan memegang map desain yang hampir jatuh.
"Terima kasih, Mas..." suaranya pelan.
Arya melepas pria yang masih meringis dan menatap perempuan itu.
"Anda baik-baik saja?"
Perempuan itu mengangguk, lalu mencoba tersenyum.
"Saya Andini. Andini Pradipta."