NovelToon NovelToon
SURVIVAL DI PLANET SUBIRU

SURVIVAL DI PLANET SUBIRU

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:261
Nilai: 5
Nama Author: Ponny Sagita

10 juta orang berusia 18-25 tahun dengan tingkat kecerdasan, kekuatan fisik, ketangguhan mental dan kemampuan beradaptasi di atas rata rata, serta berstatus lajang, dipilih untuk menjadi penghuni planet baru bernama subiru selama 5 tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ponny Sagita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SUARA DARI LANGIT

Planet bumi

Bagian negara Pusaka, Kota Jaya

25 januari 2045, waktu setempat 09.00 wib

Sebuah cahaya gradasi biru hijau pekat melingkupi langit.

Orang orang berhenti bergerak dan mulai mendongak memperhatikan fenomena yang terjadi.

Beberapa mulai mengangkat hp dan mulai merekam.

Tak lama suara keras terdengar memekakkan telinga.

Dong! Dong!

Manusia bumi. 

System semesta akan memilih sepuluh juta orang yang memenuhi syarat, usia 18 tahun hingga 25 tahun, dari seluruh bagian planet bumi.

Tahap pertama, dalam waktu 24 jam, system semesta akan memberikan pertanda bagi kalian yang terpilih. 

Tahap kedua, system semesta akan memberikan calon penyintas terpilih untuk melakukan persiapan. 

Manusia yang terpilih akan system semesta kirim ke planet baru untuk tinggal selama 5 tahun. 

Tring!

Suara statis system semesta terdengar di seluruh penjuru wilayah selayaknya suara penguasa alam.

Warna gradasi biru hijau pekat belum juga beranjak dari langit.

Sebagian orang mulai dilanda kepanikan.

Sebagian lagi menatap langit dengan kekaguman.

...----------------...

Aku sedang setengah mengantuk di dalam kelas saat suara itu mulai bergema.

Bahkan dosenku yang terkenal datar nampak pias dan terdiam saat suara itu terdengar.

Beberapa teman sekelasku sampai meloncat dari kursi dan berlarian ke luar kelas, menunjuk ke arah langit yang berwarna tak normal.

Keributan mulai terdengar di luar sana.

Aku hanya terdiam hingga suara itu lenyap.

Lalu membuka aplikasi toktok, mencari tahu seberapa ramai fenomena itu di seluruh penjuru bumi.

Media sosial benar benar meledak dengan berita fenomena tadi.

Arus berita masuk dari berbagai belahan dunia.

Segala macam teori konspirasi diperbincangkan dan dibedah.

Bagaikan gelombang tsunami mendadak terjadi di seluruh penjuru bumi.

Tak sedikit influencer dari seluruh negara mulai membuat postingan disertai rekaman suara tersebut.

Suara system semesta tersebut menggunakan bahasa yang berbeda-beda disesuaikan dengan penduduk wilayah, namun isinya tetap sama.

Tak lama, pihak kampus memberikan pengumuman bahwa perkuliahan hari ini dihentikan hingga fenomena tersebut selesai, mengantisipasi kondisi global yang baru saja terjadi.

Semua mahasiswa dianjurkan kembali ke rumah masing-masing.

Dari website milik pemerintah dikeluarkan pemberitahuan bahwa siapapun yang nantinya akan terpilih dalam seleksi tersebut, diminta segera melaporkan ke basis terdekat yang dibentuk oleh instansi pemerintah.

Tertulis di mana saja basis itu akan didirikan.

Bahkan tak lama kemudian, presiden membuat pengumuman secara live di semua stasiun televisi mengenai fenomena tersebut.

Meminta masyarakat untuk tetap tenang, tidak melakukan tindakan huru hara dan anarkis.

Pihak kepolisian dan TNI akan berpatroli di seluruh titik rawan untuk meminimalisir kemungkinan terjadi kericuhan.

...----------------...

30 menit setelah kemudian, aku berjalan ke luar area kampus, setelah sebagian besar mahasiswa lainnya dan juga dosen sudah pergi.

"Naya!" Panggil seseorang di belakangku.

Celia, sohibku sejak jaman SMU, berlari kecil ke arahku.

"Naya! Aku panik. Haduuh.. Gimana coba kalo kita yang terpilih." Celia langsung memelukku.

Aku menepuk nepuk pundaknya. Menenangkannya.

"Ya udah sih kalo kepilih. Rejeki kita berarti. " Aku mencoba bercanda.

Dia melepas pelukannya dan memukul lenganku. "Iiih... Gamau aku tuuhh... Mana bisa aku hidup jauh dari mama papa, dari kamu, dari mas Al, mas Ben, Dami." Celia yang drama queen langsung mulai berkaca kaca.

"Iya.. Iya.. Semoga aja kita gak kepilih ya. Tenang dulu dong kamu nya. Cup cup cup... Jangan nangis."

Celia malah mulai sesenggukan dan kembali memelukku.

"Celia! Naya!" Suara mas Ben memanggil kami dari arah parkiran mobil.

"Maaas... Huhuhuuu..." Celia berlari kecil ke arah mas Ben dan memeluknya erat.

Aku hanya menggeleng kan kepala melihat kelakuannya.

...----------------...

Celia memang berkebalikan sifat denganku.

Dia yang princess of the house. Menjadi satu satunya anak perempuan di keluarga nya.

Membuatnya jadi agak manja dan keras kepala. Namun dia tidak egois dan sangat setia sebagai temanku.

Bahkan saat SMU dulu dia jadi partnerku dan pendampingku yang sering jadi target bully.

Meski aku bisa melawan para pembully, Celia tak segan ikut serta kalau mulai pake otot.

Adiknya yang masih dibangku SMU, Damian, bahkan lebih dewasa darinya. Lebih kalem.

Meski ternyata dia juga tukang berantem, cuma gak ketahuan aja sama orang tuanya.

Dan sejak SMU, aku dan Celia lumayan aktif mengikuti olah raga bela diri kickboxing.

Awalnya karena aku butuh menjaga diri dari para pembully, lama kelamaan jadi olah raga kegemaranku. Bahkan aku didapuk menjadi pelatih oleh pembimbingku.

Dan sejak Celia menjadi sobatku, kami berlatih bersama.

Kebetulan kakak sulung Celia, mas Alex adalah pemilik sasana olah raga dimana kami berlatih.

Saat ini aku menjadi pelatih lepas di sana, untuk anak anak usia 7-12 tahun. Seminggu sekali.

...----------------...

Aku mendekati kakak beradik yang masih berpelukan itu.

Mas Ben berusaha menenangkan Celia.

Kuusap punggung Celia.

"Udah sih, Cel. Kita kan belum tau apa kita bakalan kepilih apa nggak. Berdoa aja ya. Semoga nggak. Udahan dong nangisnya. Malu ah." Mas Ben berusaha menenangkan nya.

Celia mulai agak tenang, meski masih ada sisa sesenggukan nya.

Aku mau tertawa, tapi tar dia nangis lagi. Jadi kukulum saja bibirku.

Mas Ben yang melihatku, hanya tersenyum geli.

"Kita pulang yuk. Ngumpul dulu sama keluarga. Kita berdoa sama sama." Ajak mas Ben.

Celia mengangguk.

Dia menoleh ke arahku, "Kamu mau dianter gak, Nay?" Tawarnya.

Aku menggeleng, "Gak usah, makasih. Kan aku bawa motor. Kalian hati hati ya."

Celia memelukku, "Kamu hati hati juga ya, Nay. Kabar kabari besok ya."

Aku mengangguk.

Lalu menoleh ke mas Ben, "Take care ya mas."

Mas Ben mengangguk ke arahku, "Kamu juga." Ujarnya dengan suara baritonnya.

Lalu menggandeng Celia menuju mobilnya.

Aku melihat jam di hpku.

Pukul 09.50 wib.

Memang ada baiknya aku segera pulang.

Aku melambaikan tangan ke Celia saat mobil mas Ben meninggalkan area parkir.

Satu kali suara klakson darinya sebelum berbelok masuk ke jalan raya.

Menarik nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan.

Aku melangkah ke area parkir motor.

Saat ini semua orang hanya bisa menunggu waktu hingga jam 10 besok, cemas apakah salah satu dari kami akan terpilih.

...----------------...

Kulajukan motorku keluar area parkir dan mengarah ke rumah ku. Rumah yang kutempati bersama kedua sepuh ku.

Di mana aku tinggal dengan mereka sejak kedua orang tuaku meninggal, dalam kecelakaan beruntun di jalan tol saat aku berusia 5 tahun.

Hanya aku yang selamat saat itu, mengalami patah tulang tangan dan luka baret di sana sini, sempat koma selama seminggu, tapi aku hidup.

Mamaku, Adinda, sempat masih bernafas hingga sehari kemudian, mengalami koma sejak dievakuasi hingga menghembuskan nafas terakhirnya di ICCU.

Papaku, Pradipta, tak bisa diselamatkan, meninggal di tempat kejadian perkara, tulang dadanya remuk dan menusuk jantungnya,karena terjepit diantara setir dan jok mobil.

...----------------...

Sepanjang diperjalanan yang kulalui, terlihat beberapa orang berkumpul di sisi jalan.

Nampaknya basis pemerintah sudah mulai didirikan dibeberapa titik, termasuk di kotaku.

Dan truk truk yang berisi petugas keamanan sudah mulai di sebar di beberapa area potensi rawan kericuhan.

Sejauh ini, keadaan masih kondusif.

Toh kenapa juga harus jadi bahan keributan?

Apa lagi jadi bahan berbuat onar.

Hal ini kan tidak termasuk bencana negara.

Tidak jadi kiamat dunia.

Hanya seleksi oleh system semesta.

Hanya akan ada beberapa orang usia muda yang bakalan "pergi" ke dunia lain. Ke planet baru tepatnya. Itu pun untuk 5 tahun.

Sudah bisa dibayangkan, bakal sepurba apa hidup di sana. Memulai hidup dari nol.

Entah nanti bekal apa yang bisa dibawa ke sana untuk menghadapi banyak kemungkinan, terutama bahaya dari hal yang belum bisa diketahui sebelumnya.

Apakah di sana ada mahluk lain selain manusia?

Apakah akan ada monster atau sejenis mahluk mutasi?

Apakah tumbuhan di sana layak dikonsumsi?

Apakah cuacanya seperti di bumi?

Dan pastinya hanya mereka yang siap lahir batin yang bakalan terpilih.

Kalau tidak, bisa habis manusia yang dikirim ke sana karena sudah pasti kalau tidak terbunuh, sakit atau depresi.

...----------------...

20 menit kemudian aku sampai di depan gerbang rumahku.

Mematikan mesin motor.

Membuka gerbang dan mendorong motorku masuk ke garasi.

Mobil yangkung ada di sana.

Nampaknya beliau pulang awal hari ini.

...----------------...

Meski aku yatim piatu, kedua sepuhku termasuk mapan secara ekonomi.

Yangkung mempunyai usaha bengkel dan pencucian mobil skala menengah yang digelutinya sejak 10 tahun yang lalu.

Juga usaha pembibitan tanaman yang merupakan usaha keluarga sejak jaman buyutku dulu.

Yangti sendiri mempunyai toko bakery yang sudah berjalan 15 tahun.

Meski begitu, aku memilih sekolah di SMU elit dan kuliah di kampus bonafid dengan berbekal beasiswa melalui jalur prestasi.

Orang tuaku menurunkan kecerdasan dan tampilan fisik yang tak mengecewakan padaku.

Dulu papa seorang ahli gizi, dan mama seorang arsitektur.

Entah bagaimana dulu mereka bertemu dan berjodoh.

Aku sadari, aku satu satunya keturunan terakhir mereka. Bahkan dari kedua sisi kakek nenekku, yang mana orang tua mamaku.

Karena aku tak pernah mengenal orang tua papaku.

Bisa dibilang, papa dibuang oleh keluarga nya sejak menikah dengan mamaku.

Keuntungan menjadi anak dari kedua orangtuaku, secara pribadi aku termasuk sangat baik secara fisik maupun secara akademis.

Menjadi langganan juara kelas dan sekolah.

Juga sempat menjadi model salah satu butik pakaian wanita, meski pakai jalur ordal, alias milik kerabat yangtiku. Hehehe..

Mungkin itu lah yang membuatku dulu di bully saat di sekolah. Terlalu banyak yang iri.

Hanya saja mereka tak tahu bahwa aku siap melawan.

Apalagi sejak aku menggeluti olah raga kickboxing, para pria yang ikutan membully pun keder kalau sudah berhadapan denganku.

...----------------...

"Assalamualaikum." Seruku saat membuka pintu samping dari garasi, yang menyambung ke ruang cuci pakaian, lalu ke ruang makan.

"Waalaikumsalam" Jawab kedua sepuhku. Mereka tengah duduk di meja makan. Menunggu ku.

Aku mencium tangan keduanya.

Yangti memelukku.

Bahunya bergetar. Aku mengusap punggungnya.

Dapat kurasakan ketakutan nya seandainya aku ikut terpilih.

Yangkung mengusap punggungku. Matanya berkaca kaca.

Kami tak berkata kata selama beberapa waktu. Tak ada yang perlu diucapkan.

Hanya menunggu waktu.

...----------------...

Malamnya, aku tidur diantara kedua sepuhku itu.

Yangti tak henti mengecup tanganku, menggenggamnya, menatapku.

Yangkung mengusap kepalaku. Mencium ubun ubunku. Memanjatkan doa keselamatan untukku.

Berharap ini semua hanya mimpi.

Tapi ini lah kenyataannya.

Kenyataan yang harus dihadapi semua manusia di muka bumi.

Dimana 1 juta penduduk usia mudanya akan bermigrasi ke planet lain.

"Yangti kayaknya gak sanggup kalo kamu ikutan kepilih, Nay. Sungguh yangti gak siap."

"Naya juga gak mau, yangti. Naya mikirin gimana yangti dan yangkung kalo Naya gak ada."

"InsyaAllah kami baik baik aja, Nay. Tapi yangti gak bisa bayangin kamu harus sejauh itu dari kami. Gimana kamu hidup nanti di sana. Gimana kamu bisa bertahan di tempat yang gak pernah kita tau seperti apa."

"Udah kebayang kan, namanya planet baru." Sambung yangkung, "Bayangkan itu bumi yang baru terbentuk pertama kali, pastinya ada mahluk mahluk semacam dinosaurus, bahkan mungkin ada mahluk mitologi. Mungkin juga mahluk mutasi. Segala kemungkinan bisa saja terjadi."

"Doakan aja Naya gak kepilih, yangti, yangkung." Ucapku lirih. Sambil menepuk nepuk lengan yangtiku.

Yangti menggeleng pelan, "Feeling yangti, kamu bakal kepilih Nay. Kamu kuat jasmani dan mental. Kamu cerdas,cerdik, mampu bertahan. Kamu selalu melakukan yang terbaik selama ini. Kamu sanggup membela diri di saat ada yang jahat ke kamu. Kamu bisa buktikan kamu cerdas di sekolah. Kamu gak ada kekurangan nya. Makanya yangti udah gak enak hati."

Aku terkekeh, "Kalo gitu Naya harus mulai belajar hal lain kan, yangti. Kayak bercocok tanam, menangkap ikan, menjerat hewan liar, mengenal tumbuhan yang aman buat di makan. Sekalian belajar cara bikin rumah, bikin api, bikin senjata, bikin kendaraan."

Yangti memelukku erat. "InsyaAllah kamu bisa. Tapi hati yangti yang gak bisa lepasin kamu. Kamu itu cucu kami satu satunya. Penerus kami satu satunya. Apa jadinya kalo kami harus kehilangan kamu juga, Nay."

Yangti kembali menangis sambil memelukku.

Yangkung hanya terdiam, namun beliau pun memelukku.

Kami baru benar benar tertidur jauh melewati malam. Saling berpelukan.

...----------------...

Note othor :

Hiii guys..

Pertama kali penasaran pengen bikin novel genre system, kultivasi, survival, petualangan.

Semoga gak bosenin ya guys..

Aku udah baca banyak referensi.

Tapi kalo di rasa masih ada yang gak klop, silahkan ditegor akunya.

Selamat membaca...

...----------------...

1
Ardella Ardellaarcell
lanjut
Ardella Ardellaarcell
lanjut kak😍
PonsParadiso: tiap hari update, makasih ya udah mau respon.. seneng akuh 😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!