Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: TATAPAN YANG TERLALU LAMA
Senin pagi, kampus terasa ramai seperti biasa. Kirana berjalan menuju gedung Fakultas Ekonomi bersama Tesa, membawa map berisi hasil revisi tugas kelompok yang sudah rapi setelah malam panjang mereka kerjakan bersama.
"Kir, tugas kelompoknya udah oke banget kan sekarang?" tanya Tesa, melirik map di tangan Kirana.
"Udah, semoga aja Pak Alden puas sama hasilnya," jawab Kirana, sedikit gugup membayangkan reaksi dosen itu nanti.
Mereka masuk kelas, duduk di barisan tengah seperti biasa. Beberapa menit kemudian, Alden masuk membawa map, wajahnya seperti biasa datar, tapi ada sesuatu yang berbeda pagi ini, dia berjalan sedikit lebih pelan dari biasanya, seolah masih menyimpan pikiran dari percakapan mereka berdua sore kemarin di ruang dosen.
"Sebelum masuk materi hari ini, saya mau kembalikan hasil koreksi tugas kelompok minggu lalu," katanya, membagikan kertas satu per satu ke tiap kelompok.
Ketika sampai di meja kelompok tiga, Alden meletakkan kertas hasil koreksi di depan Kirana. Sekilas, matanya bertemu dengan mata Kirana, dan untuk sepersekian detik, tatapan itu bertahan lebih lama dari yang seharusnya.
Kirana merasakan jantungnya berdebar aneh, tidak bisa langsung mengalihkan pandangan meski dia tahu seharusnya begitu. Alden pun tampak sama, matanya tidak segera berpindah seperti biasa dia lakukan ke mahasiswa lain.
"Nilai kelompok kalian bagus," kata Alden akhirnya, memutus kontak mata itu, suaranya kembali ke nada formal seperti biasa.
"Pertahankan untuk tugas berikutnya."
"Terima kasih, Pak," jawab Kirana, suaranya sedikit tercekat.
Alden melanjutkan membagikan kertas ke kelompok lain, tapi Kirana masih terdiam, menatap punggung dosen itu dengan pikiran yang berkecamuk.
"Kir," bisik Tesa, menyenggol lengannya, "tadi itu... lama banget ya kalian saling natap."
"Nggak lama kok, cuma sebentar," Kirana buru buru menyangkal, meski dia sendiri tahu itu bohong.
"Lima detik itu lama, Kir, buat orang yang cuma ketemu di kelas doang," Tesa menyipitkan mata, curiga.
Kirana tidak menjawab, hanya menunduk fokus pada kertas hasil koreksi di depannya, meski matanya tidak benar benar membaca tulisan yang tertera.
Di depan kelas, Alden melanjutkan penjelasan materi hari itu tentang manajemen konflik dalam organisasi. Tapi sesekali, tanpa dia sadari sepenuhnya, matanya kembali tertuju ke barisan tengah, ke tempat Kirana duduk mencatat dengan serius.
Setiap kali itu terjadi, dia buru buru mengalihkan pandangan, memfokuskan diri kembali ke slide presentasi. Tapi kebiasaan kecil itu mulai terjadi lebih sering dari yang seharusnya, dan dia mulai merasa tidak nyaman dengan pola itu sendiri.
"Coba jelaskan, apa perbedaan konflik fungsional dan disfungsional dalam organisasi," Alden melempar pertanyaan ke kelas, mencoba mengalihkan fokusnya sendiri dari kebiasaan yang mulai mengganggu.
Beberapa mahasiswa mengangkat tangan, dan Alden sengaja menunjuk salah satu dari mereka, bukan Kirana, meski dalam hati dia tahu Kirana mungkin bisa menjawab dengan baik.
Jawaban yang diberikan cukup memuaskan, dan Alden melanjutkan materi tanpa banyak komentar. Tapi Kirana yang memperhatikan dari bangkunya menyadari sesuatu, Alden sepertinya sengaja menghindari untuk menunjuknya kali ini, berbeda dari biasanya yang cenderung sering memberi pertanyaan padanya.
"Kenapa ya, dia jadi kayak ngehindarin aku," gumam Kirana pelan pada dirinya sendiri, sedikit kecewa meski tidak sepenuhnya mengerti kenapa perasaan itu muncul.
Jam istirahat, Kirana duduk sendirian di taman belakang kampus, menunggu Tesa yang masih ada urusan di sekretariat jurusan. Dia membuka buku catatannya, mencoba mengulang materi yang baru saja dia pelajari, tapi pikirannya terus melayang ke tatapan tadi pagi.
"Kenapa sih tadi rasanya beda banget," gumamnya sambil menatap kosong ke arah kolam kecil di tengah taman. "Biasanya kalau natap orang lain kan biasa aja, tapi kalau natap dia, kok jadi... aneh."
Dia menggeleng cepat, mencoba mengusir pikiran itu, tapi sia sia. Bayangan mata Alden yang menatapnya lebih lama dari biasanya terus berputar di kepalanya, membuatnya sulit berkonsentrasi pada apa pun.
Tidak lama kemudian, langkah kaki mendekat dari arah belakang. Kirana menoleh, dan jantungnya hampir melompat ketika melihat siapa yang datang.
"Boleh saya duduk di sini?" tanya Alden, menunjuk bangku kosong di sebelah Kirana, map masih dia bawa di tangan.
"Eh, boleh, Pak, silakan," jawab Kirana, buru buru menggeser posisinya meski bangku itu sudah cukup luas.
Alden duduk, meletakkan map di pangkuannya, menatap kolam kecil di depan mereka dalam diam beberapa saat. Kirana merasakan keheningan itu terasa canggung, tapi juga entah kenapa terasa nyaman di saat bersamaan.
"Kamu lagi ngapain di sini sendirian?" tanya Alden akhirnya, memecah keheningan.
"Nunggu Tesa, Pak, dia masih ada urusan di sekretariat," jawab Kirana, menutup buku catatannya. "Bapak sendiri kenapa ke sini?"
"Butuh udara segar sebentar. Rapat tadi pagi cukup melelahkan," jawab Alden, menyandarkan punggung ke bangku.
Mereka terdiam sejenak, hanya suara angin yang menggoyangkan dedaunan pohon di sekitar taman yang mengisi keheningan.
Kirana mencuri pandang ke arah Alden, memperhatikan profil wajahnya yang tampak lebih santai dari biasanya di bawah cahaya matahari siang.
"Pak," Kirana akhirnya memberanikan diri bicara, "tadi pagi, pas Bapak bagi kertas nilai, kenapa natap saya agak lama?"
Pertanyaan itu membuat Alden menoleh cepat, sedikit terkejut dengan keberanian Kirana bertanya langsung seperti itu. "Kamu sadar?"
"Iya, Pak. Tesa juga sempet nanya, katanya kelamaan," Kirana menjelaskan, wajahnya mulai terasa hangat mengakui hal itu.
Alden terdiam cukup lama, seperti mempertimbangkan jawaban yang tepat.
"Saya nggak sadar melakukan itu selama itu," jawabnya akhirnya, suaranya terdengar sedikit lebih pelan dari biasanya. "Maaf kalau bikin kamu nggak nyaman."
"Bukan nggak nyaman, Pak," Kirana buru buru meluruskan, "cuma... aneh aja rasanya. Kayak ada sesuatu yang pengen Bapak omongin, tapi nggak jadi."
Alden menatap Kirana lama, matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan, campuran antara keraguan dan sesuatu yang lebih dalam. "Mungkin ada," akunya pelan, "tapi belum waktunya."
Jawaban itu membuat jantung Kirana berdebar kencang, campuran antara penasaran dan harapan yang belum sepenuhnya dia mengerti sendiri. "Kenapa belum waktunya, Pak?"
"Karena beberapa hal butuh waktu yang tepat," jawab Alden, nadanya kembali menjaga jarak, meski matanya masih menatap Kirana dengan cara yang sama seperti tadi pagi. "Dan saya belum yakin sekarang adalah waktu yang tepat itu."
Kirana mengangguk pelan, meski dalam hati dia ingin sekali mendesak lebih jauh. Tapi dia menahan diri, merasa tidak sopan kalau terlalu memaksa dosen itu untuk membuka sesuatu yang jelas belum siap dia bagikan.
"Oke, Pak. Saya tunggu aja kalau emang waktunya udah tepat nanti," katanya akhirnya, tersenyum kecil.
Alden menatapnya sejenak, dan untuk pertama kalinya, senyum tipis yang biasanya hanya muncul sekilas kini bertahan sedikit lebih lama di wajahnya. "Kamu punya kesabaran yang jarang dimiliki orang lain seusiamu."
Pujian sederhana itu membuat pipi Kirana memanas, dia menunduk sedikit untuk menyembunyikan senyum yang tidak bisa dia tahan. "Makasih, Pak."
Tidak lama kemudian, Tesa muncul dari kejauhan, berjalan cepat menuju taman sambil melambaikan tangan. Melihat Alden duduk di sebelah Kirana, langkahnya sempat terhenti sejenak, matanya membelalak kaget.
"Eh, Pak Alden," sapa Tesa begitu sampai, mencoba terlihat biasa meski jelas terkejut dengan pemandangan yang dia lihat.
"Tesa," Alden mengangguk singkat, lalu bangkit dari bangku, merapikan map di tangannya. "Saya permisi dulu, ada urusan lain yang harus diselesaikan."
"Baik, Pak," jawab Kirana, menatap punggung Alden yang berjalan menjauh sampai menghilang di balik gedung fakultas.
Begitu Alden benar benar tidak terlihat lagi,
Tesa langsung duduk di bangku yang tadi ditinggalkan, matanya berbinar penuh rasa penasaran. "Kir, apa apaan tadi itu? Kalian berduaan di taman?"
"Nggak berduaan, dia cuma kebetulan lewat terus duduk sebentar," Kirana menjelaskan, meski dia tahu penjelasannya terdengar kurang meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
"Terus ngobrolin apa? Mukamu merah gitu dari tadi," Tesa mendesak, mencondongkan badan penuh rasa ingin tahu.
Kirana menghela napas panjang, akhirnya menceritakan percakapan singkat tadi, tentang tatapan yang terlalu lama, tentang jawaban Alden yang menggantung, tentang sesuatu yang katanya belum waktunya untuk diungkapkan.
"Kir," Tesa menatapnya serius setelah mendengar cerita lengkap itu, "ini udah bukan sekadar kebetulan lagi. Aku yakin banget ada sesuatu yang lagi tumbuh di antara kalian berdua."
"Tapi dia bilang belum waktunya, Tes. Mungkin emang nggak ada apa apa," Kirana mencoba realistis, meski hatinya sendiri berharap sebaliknya.
"Atau mungkin dia juga lagi nahan diri, sama kayak kamu," Tesa menjawab, nadanya lebih lembut kali ini. "Kir, aku tau ini situasi yang rumit. Status kalian beda, dan risikonya juga gede kalau sampe ketahuan ada apa apa. Tapi kamu juga nggak bisa terus terusan pura pura nggak ngerasain apa apa."
Kirana terdiam, menatap kolam kecil di depan mereka yang riaknya bergerak pelan tertiup angin. Dalam hati, dia tahu Tesa benar, tapi mengakuinya secara terbuka terasa seperti melangkah ke area yang penuh risiko, area yang bisa saja menghancurkan segalanya kalau tidak dijalani dengan hati hati.
"Aku takut, Tes," akunya akhirnya, suaranya pelan. "Takut kalau ternyata ini cuma perasaan sepihak. Atau lebih parah lagi, takut kalau ternyata perasaan ini beneran ada di antara kita berdua, tapi nggak ada cara buat itu berjalan dengan baik."
Tesa merangkul bahu sahabatnya, mencoba memberi ketenangan. "Apapun yang terjadi nanti, aku selalu ada buat dengerin kamu. Sekarang, nikmatin dulu aja prosesnya. Nggak usah buru buru mikirin akhirnya bakal gimana."
Kirana mengangguk pelan, menyandarkan kepala ke bahu Tesa sejenak, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum sepenuhnya normal sejak tatapan panjang tadi pagi. Di balik kekhawatirannya, ada secercah harapan kecil yang mulai tumbuh, harapan yang dia sendiri belum sepenuhnya berani akui keberadaannya.