NovelToon NovelToon
Setelah Taksi Itu Berlalu

Setelah Taksi Itu Berlalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Perjodohan / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:19.3k
Nilai: 5
Nama Author: Selie Noris

Diabaikan oleh Arka—suaminya yang dingin—Kirana terbiasa menelan rasa sakit sendirian. Namun, sebuah kecelakaan tragis yang merenggut janinnya mengubah segalanya. Kirana yang manja dan cengeng mati di hari itu, berganti menjadi sosok wanita dingin dan mandiri yang membangun usahanya sendiri dari nol.

Saat Kirana mengembalikan fasilitas rumah tangga dan mengajukan perceraian, Arka baru tersadar dari kesalahannya. Pria yang dulu acuh kini harus meruntuhkan egonya dan mempertaruhkan segalanya demi mendapatkan kembali maaf serta cinta dari sang istri.




#NikahPaksa
#Penyesalansuami
#WanitaMandiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 : Dentuman di Persimpangan

Hujan lebat yang mengguyur ibu kota sejak siang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda, menyisakan genangan air yang pekat di setiap celah aspal dan jarak pandang yang sangat terbatas di setiap sudut jalan raya. Di dalam kabin taksi daring yang beraroma khas campuran kopi basah dan pengharum mobil murahan, Kirana duduk termenung dengan tatapan kosong menembus kaca jendela yang dipenuhi bulir-bulir air hujan. Pikirannya melayang jauh, terjebak pada rasa hampa yang baru saja ia rasakan di lobi megah Pratama Tower, pada senyuman penuh kemenangan milik Sinta, pada tatapan dingin Arka yang mengabaikannya, serta pada kata-kata tajam yang menghujam harga dirinya hingga berkeping-keping.

Bayangan pertemuan singkat di gedung pencakar langit itu terus berputar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak yang tak bisa dihentikan. Betapa ia datang dengan niat tulus untuk memperbaiki segalanya, membawakan rantang makanan hangat, dan menunjukkan sedikit kepedulian di tengah kesibukan suaminya. Namun, apa yang ia dapatkan? Sinta menyambutnya dengan sindiran halus yang penuh racun tersembunyi, seolah menegaskan bahwa kehadiran Kirana di dunia Arka hanyalah sebuah kesalahan besar yang memalukan. Dan Arka sendiri—suami yang seharusnya menjadi pelindung—justru berdiri di sana, membiarkan istrinya diinjak-injak secara tidak langsung oleh wanita lain, sebelum akhirnya mengusirnya dengan tatapan penuh kebencian dan suara dingin yang mengiris hati.

Di dalam rongga perutnya, sensasi mual ringan yang sempat ia abaikan tadi siang karena terlalu lelah berjalan dan menghadapi tekanan mental mendadak berubah menjadi kram tajam yang merayap perlahan, menusuk-nusuk dinding perutnya tanpa ampun. Kirana secara refleks merapatkan jemarinya di atas mantel krem berbahan wol tebal yang membalut tubuhnya, lalu mengelus perut ratanya yang baru saja memasuki usia tiga bulan kehamilan dengan tangan yang gemetar hebat.

*Sabar ya, Nak... sebentar lagi kita sampai rumah,* batin Kirana lirih di dalam hati, mencoba menenangkan debar jantungnya sendiri yang terasa tidak beraturan, berkejaran dengan rasa sakit yang kian menjadi-jadi. Di usia kandungannya yang masih sangat rentan, janin itu adalah satu-satunya alasan tersisa bagi Kirana untuk bertahan hidup, satu-satunya pelita kecil di tengah rumah tangga mereka yang gelap gulita dan penuh dengan duri kepedihan.

Pengemudi taksi di depan tampak memutar setir dengan sangat hati-hati, membelah kepadatan lalu lintas sore menjelang petang di sebuah persimpangan besar kawasan bisnis yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit. Lampu *traffic light* di ujung jalan tampak berpendar kuning redup, membiaskan cahaya lampu jalanan yang menembus tirai air hujan lebat yang turun tanpa ampun dari langit kelabu. Suara deru mesin kendaraan lain terdengar samar di luar, berpadu dengan suara wiper taksi yang bergerak monoton, mengikis embun di kaca depan.

Namun, di tengah kesunyian batin Kirana dan kelelahan yang menderu, hukum fisika dan takdir seolah bersekongkol untuk meruntuhkan segalanya dalam hitungan detik.

Dari arah lajur berlawanan yang melintasi persimpangan tersebut, sebuah truk kargo bermuatan berat melaju dengan kecepatan tinggi, seolah kehilangan kendali akibat jalanan aspal yang licin gila diguyur air hujan dan sistem pengereman yang tidak berfungsi sempurna di tengah badai sore itu. Pengemudi truk besar tersebut membunyikan klakson panjang yang memekakkan telinga, melengking tajam memecah deru air hujan dan kemacetan jalan raya.

"Ya Tuhan!" pekik pengemudi taksi itu kaget setengah mati, wajahnya pucat pasi dalam sekejap saat melihat bayangan truk raksasa meluncur tanpa rem ke arah sisi kendaraan mereka. Secara refleks, sang pengemudi membanting setir ke arah kanan secara ekstrem untuk mencoba menghindari tubrukan frontal yang fatal.

*SKRREEEET—DARRR!*

Waktu seolah berjalan lambat, melarikan diri dari realitas yang terlampau kejam bagi Kirana. Dalam sepersekian detik yang terasa begitu abadi dan penuh kengerian, bagian samping mobil taksi tempat Kirana duduk dihantam secara telak dan brutal oleh bodi depan truk bermuatan berat tersebut. Dentuman keras bagaikan petir menyambar bumi mengguncang kabin dengan kekuatan luar biasa, menghancurkan kaca jendela samping berkeping-keping menjadi serpihan beling tajam yang menghujani tubuhnya, dan meremukkan kerangka logam kendaraan hingga tak berwujud lagi dalam satu hantaman maut.

Tas kanvas tahan air yang ia dekap erat di dadanya terlepas seketika dari pelukannya. Rantang susun empat berukuran sedang yang berisi makanan pesanan khusus di dalamnya terpental keluar dari tas, menghantam lantai mobil yang berserakan, sementara tutupnya terlepas dan isi *goulash* daging sapi berempah tumpah ruah bercampur serpihan pecahan kaca berkilau serta genangan air hujan yang keruh berdarah.

Di dalam kabin taksi yang kini ringsek parah, berbau bensin menyengat bercampur asap tipis, tubuh Kirana terempas sangat keras ke sisi pintu yang hancur lebur, membentur komponen mobil yang tajam dan keras.

Sebuah rasa sakit yang teramat sangat, tajam membakar, dan belum pernah ia rasakan seumur hidupnya langsung menghantam perut bagian bawahnya dengan kekuatan penuh. Seketika itu juga, dunia di sekeliling Kirana berputar hebat, gelap, dan kehilangan gravitasi. Napasnya tersengal pendek dalam terpaan rasa sakit yang melumpuhkan, udara seolah lenyap seketika dari paru-parunya, meninggalkan rongga dada yang hampa dan terbakar.

Dengan pandangan mata yang mulai mengabur, buram oleh air mata kepedihan, serta tetesan darah segar yang mengalir hangat dari pelipisnya yang robek, Kirana merasakan sesuatu yang jauh lebih berharga, jauh lebih suci sedang terenggut darinya secara paksa oleh kejamnya takdir. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia meraba perutnya yang kini basah oleh cairan merah pekat—bukan lagi sekadar rasa kram biasa, melainkan sebuah kehancuran mutlak dari kehidupan rapuh yang selama ini ia coba lindungi dengan segenap sisa cinta, air mata, dan pertahanan jiwanya.

"Anak...ku..." lirih suara Kirana tercekat di tenggorokan, sangat lemah, nyaris tak terdengar, tertelan sepenuhnya oleh deru air hujan badai yang menderu-deru di luar sana.

Sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam dalam kegelapan malam yang pekat dan abadi, bayangan wajah Arka yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh melintas di benaknya untuk terakhir kalinya—sebuah perpisahan tanpa kata, tanpa pelukan, dan tanpa penyesalan dari pria yang paling ia cintai. Di kejauhan, suara sirene ambulans mulai terdengar menderu membelah jalanan basah, menyayat keheningan sore yang berdarah, menandai awal dari keruntuhan total seluruh dunia, kepolosan, dan kepribadian lama seorang Kirana Pratama yang mati bersama badai hari itu.

 

Langkah kaki Arka bergemuruh hebat, menghantam lantai keramik putih yang mengkilap di Rumah Sakit Harapan Bangsa dengan kecepatan penuh, bagaikan guntur yang memecah kesunyian malam. Jas kerja desainer ternama yang melekat di tubuhnya sudah tidak lagi beraturan; kancing teratasnya terlepas lebar, dan dasi sutra mahalnya kusut masai akibat ditarik dengan kasar di dalam mobil saat ia mengemudi dalam kepanikan luar biasa yang nyaris merenggut kewarasannya. Telepon dari pihak kepolisian dan rumah sakit yang diterimanya tadi di kantor mendadak meruntuhkan seluruh pertahanan ego dan kesombongannya dalam hitungan detik. Hujan deras di luar sana masih menyisakan genangan air di sepatu pantofel mahalnya, namun ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Seluruh panca indra, detak jantung, dan isi kepalanya kini tersedot habis oleh satu nama yang terus berputar tanpa henti: Kirana.

Begitu ia tiba di area Instalasi Gawat Darurat (IGD), bau khas cairan antiseptik yang tajam, aroma darah segar yang pekat, dan kepanikan yang membeku langsung menyergap indra penciumannya. Lorong panjang berlampu neon putih menyilaukan itu terasa begitu mencekam, dipenuhi oleh keheningan tegang yang hanya dipecah oleh suara bip monitor jantung dari bilik-bilik tirai di sekitarnya serta langkah panik para tenaga medis yang berlalu-lalang menyelamatkan nyawa.

"Permisi! Di mana pasien atas nama Kirana Pratama?!" suara Arka melengking tajam, mencengkeram lengan seorang perawat jaga wanita yang kebetulan melintas membawa nampan berisi instrumen medis steril dengan tangan yang gemetar hebat.

Perawat itu terperanjat kaget setengah mati melihat penampilan Arka yang berantakan, basah kuyup, dengan mata merah menyala penuh genangan air mata dan keputusasaan. "T-Tuan Arka? Suami dari pasien Kirana?" tanyanya memastikan dengan suara terbata-bata.

"Ya! Saya suaminya! Di mana istri saya sekarang?!" desak Arka, suaranya bergetar hebat, nyaris kehilangan kendali hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar.

"Pasien baru saja selesai menjalani penanganan darurat di ruang tindakan utama dan sedang dipindahkan ke ruang pemulihan intensif..." perawat itu menunjuk dengan jari yang gemetar ke arah sebuah pintu kaca ganda yang tertutup rapat di ujung koridor. "Tapi, Tuan... Anda harus mempersiapkan mental Anda. Kondisinya..."

Tanpa menunggu kalimat perawat itu selesai atau mendengarkan peringatan lanjutan, Arka langsung berlari melewati wanita tersebut. Ia mendorong pintu ganda itu dengan hantaman kasar, menerobos masuk ke dalam area tindakan IGD yang steril, sunyi, dan berdarah.

Langkah kaki Arka seketika terhenti. Seluruh darah di tubuhnya mendadak berdesir dingin, membeku di tempat, dan jantungnya serasa berhenti berdetak.

Di atas meja brankar baja beroda yang bergeser sedikit ke sudut ruangan, sebuah kantong plastik transparan besar berukuran medis tergeletak terbuka di atas meja samping. Di dalam kantong transparan itu, pakaian yang dikenakan Kirana siang tadi—mantel rajut panjang berwarna krem yang indah, syal rajut hangat berbulu lembut, dan piyama rumahan—tampak bersimbah bercak darah merah pekat yang kini mulai menghitam dan mengering. Kain-kain mahal itu tampak compang-camping, sebagian besar sengaja digunting oleh tim bedah darurat demi memudahkan akses pemasangan infus serta penanganan trauma masif pada tubuh istrinya.

Di sebelah kantong pakaian berdarah itu, terdapat sisa-sisa kain kasa medis kotor yang ternoda merah dan sarung tangan *latex* bekas pakai yang dibuang begitu saja ke dalam wadah sampah, menjadi saksi bisu betapa pertarungan antara hidup dan mati baru saja terjadi di ruangan itu beberapa menit yang lalu.

Arka melangkah mendekati brankar kosong tersebut dengan lutut yang terasa lemas, seolah seluruh tulangnya mendadak mencair. Ia menjulurkan tangan gemetarnya secara perlahan, menyentuh ujung mantel krem Kirana yang basah oleh sisa air hujan dan darah. Pemandangan itu menghantam dadanya dengan kekuatan ribuan ton, meremukkan paru-parunya. Setiap tetes darah di kain itu seolah meneriakkan kebodohannya, membongkar betapa egois, buta, dan kejamnya ia selama ini mengabaikan wanita yang mencintainya separuh mati.

"Kirana..." bisik Arka lirih, suaranya pecah menjadi isakan yang menyayat hati. Air matanya tumpah seketika, mengalir deras membasahi pipinya yang pucat pasi.

Ia tidak hanya kehilangan pakaian istrinya yang basah oleh hujan; di ruangan bernuansa putih steril inilah seluruh masa lalu, kehangatan rumah tangga yang diabaikannya, dan janji-janji semu yang tak sempat ia tepati hancur berkeping-keping menjadi debu. Bayangan rantang makanan berisi potongan buah dan goulash yang mendingin di meja kerjanya kembali terlintas dengan kejam, berpadu dengan kenyataan pahit bahwa ia telah membunuh harapan terakhir istrinya dengan kebisuan, keangkuhan, dan bentakan-bentakannya sendiri.

Seorang dokter bedah berjas putih dengan masker bedah yang melorot di dagunya keluar dari balik bilik tirai medis di dekat sana, menatap Arka dengan pandangan penuh kelelahan, rasa iba, dan duka mendalam yang tak bisa disembunyikan.

"Tuan Arka?" panggil dokter itu dengan suara berat, mencoba menarik perhatian pria yang tengah terduduk hancur di hadapan pakaian berdarah istrinya.

Arka mendongak perlahan, menatap sang dokter dengan tatapan kosong penuh permohonan agar seseorang mengatakan bahwa semua mimpi buruk ini tidak nyata. "Dok... bagaimana istri saya? Dan... anak saya..."

Dokter itu menghela napas panjang dengan berat, meletakkan papan klip rekam medis di tangannya ke atas meja *stainless steel*. Ia melangkah mendekat, lalu menepuk pundak Arka perlahan dengan penuh empati yang justru terasa begitu menyakitkan.

"Nyawa Nyonya Kirana berhasil kami selamatkan. Beliau adalah wanita yang sangat kuat, memiliki ketahanan mental luar biasa, dan berjuang mati-matian melewati batas kritis..." dokter itu berhenti sejenak, menelan ludah sebelum melanjutkan kalimat mautnya. "Tapi, maafkan kami, Tuan. Benturan fisik yang sangat keras di sisi samping kendaraan serta pendarahan internal yang hebat membuat kami tidak bisa menyelamatkan janinnya. Kehamilan beliau... gugur akibat trauma fisik yang terlalu parah."

Mendengar konfirmasi telak itu secara langsung dari mulut sang dokter, pertahanan terakhir Arka runtuh sepenuhnya tanpa sisa. Ia jatuh tersungkur bersimpuh di lantai IGD yang dingin, tepat di samping tumpukan pakaian berdarah istrinya, meratapi kehilangannya dalam isak tangis tertahan yang merobek-robek dadanya hingga sesak—sebuah penyesalan abadi yang datang terlambat, saat segalanya telah hancur lebur menjadi puing-puing tak berwujud.

Suara isakan Arka perlahan memecah keheningan koridor rumah sakit yang kian larut. Di tengah kehancuran batinnya, pikiran pria itu ditarik mundur secara paksa ke masa-masa di mana Kirana masih berada di dekatnya, tersenyum tulus menyambut kepulangannya, menyiapkan makan malam sederhana, dan mencoba mencairkan kebekuan sikapnya dengan kelembutan yang selalu ia balas dengan dingin. Selama ini, Arka menganggap kehadiran Kirana sebagai sebuah kewajiban rumah tangga yang membosankan—sebuah rantai pengikat yang membatasi ruang geraknya sebagai seorang eksekutif sukses. Ia menutup mata rapat-rapat terhadap setiap usaha kecil yang dilakukan istrinya, menganggap semua perhatian Kirana sebagai bentuk kemanjaan yang tidak berguna.

Dan kini, semesta membayarnya kontan dengan cara yang paling brutal. Kehadiran kecil yang tidak pernah ia ketahui dan tidak pernah ia harapkan—seorang anak yang tumbuh di rahim Kirana—telah pergi untuk selama-lamanya sebelum sempat ia lihat wujudnya, sebelum sempat ia dengar tangis pertamanya, bahkan sebelum ia tahu bahwa ia akan menjadi seorang ayah. Realitas itu menghantamnya bagaikan palu godam raksasa. Arka menenggelamkan wajahnya di antara kedua telapak tangannya yang gemetar hebat, merutuki kebodohannya sendiri yang terlampau arogan untuk melihat kebenaran di balik kesabaran wanita yang kini terbaring tak berdaya di balik tirai putih.

"Maafkan aku... maafkan aku, Kirana..." rintih Arka berulang-ulang di atas lantai rumah sakit yang dingin, mengabaikan tatapan iba dari beberapa perawat dan petugas medis yang berlalu-lalang di sekitarnya. Harga diri, jabatan tinggi, kekayaan korporasi, dan kesuksesan yang selama ini ia banggakan mendadak terasa tidak ada artinya sama sekali ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa ia telah kehilangan segalanya dalam satu malam yang basah oleh air mata dan darah.

Beberapa jam berlalu dalam keheningan yang menyiksa. Arka dipindahkan oleh petugas keamanan dan perawat ke ruang tunggu V.I.P yang terletak tidak jauh dari ruang pemulihan intensif tempat Kirana dirawat. Pria itu duduk terpaku di atas kursi sofa kulit berwarna gelap dengan pandangan kosong menatap lurus ke lantai keramik. Jas kerjanya yang basah kini telah mengering, meninggalkan noda kusut dan kaku yang mencerminkan kekacauan jiwanya.

Pintu ruang pemulihan perlahan terbuka dari dalam, menampilkan sosok dokter yang tadi berbicara dengannya, didampingi oleh seorang suster senior. Arka langsung berdiri dari duduknya dengan gerakan cepat, menghampiri sang dokter dengan napas tertahan.

"Dokter... bagaimana keadaan Kirana? Apakah saya sudah boleh melihatnya?" tanya Arka cepat, suaranya parau dan serak akibat terlalu lama menangis.

Dokter paruh baya itu melepas stetoskopnya, lalu menghela napas pelan sebelum menatap mata merah Arka dengan pandangan yang sulit diartikan. "Secara fisik, kondisi Nyonya Kirana sudah mulai stabil. Proses pembersihan dan pemulihan pascaoperasi kuretase berjalan lancar tanpa infeksi lanjutan. Namun, Tuan Arka... ada hal lain yang jauh lebih penting yang harus Anda ketahui dan hadapi sebagai suami."

Jantung Arka kembali berdegup kencang secara tidak teratur. "Maksud Dokter? Apa yang terjadi padanya?"

"Trauma psikologis akibat kecelakaan maut itu, ditambah dengan tekanan emosional berat yang mungkin telah ia pendam jauh-jauh hari sebelum kejadian, memicu kondisi yang disebut sebagai *traumatic dissociation* atau respons penolakan emosional yang ekstrem," jelas dokter tersebut dengan nada profesional namun sarat empati. "Saat ini, pasien menunjukkan gejala *withdrawal* yang parah. Beliau menolak untuk berbicara, menolak merespons rangsangan di sekitarnya, dan mematikan seluruh ekspresi emosionalnya. Jiwanya seolah memilih untuk menutup diri sepenuhnya dari dunia luar sebagai bentuk pertahanan diri terhadap rasa sakit yang terlalu besar untuk ditanggung."

Penjelasan itu menghantam Arka untuk kedua kalinya dengan telak. *Menutup diri sepenuhnya...* Kalimat itu berdenging di telinga Arka, mengingatkannya pada ekspresi dingin tanpa emosi yang ditunjukkan Kirana di kamar rumah mereka beberapa jam sebelum kecelakaan itu terjadi—tatapan mata yang sama sekali tidak menyisakan kehangatan, tatapan yang menunjukkan bahwa wanita itu telah lama menyerah pada pernikahan mereka.

"Apakah... apakah dia mengenali saya jika saya masuk ke sana?" tanya Arka dengan suara tercekat di tenggorokan, diliputi rasa takut yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

"Anda boleh masuk, Tuan. Tapi saya sarankan agar Anda berhati-hati. Jangan memaksanya untuk berbicara atau merespons, karena itu justru akan memperparah tekanan mentalnya. Biarkan beliau beristirahat, dan mulailah belajar untuk menerima kenyataan bahwa pemulihan psikologis ini akan membutuhkan waktu yang sangat, sangat panjang," pesan sang dokter sebelum menepuk pundak Arka pelan lalu berlalu meninggalkan koridor.

Dengan langkah kaki yang terasa begitu berat, seolah terseret beban berton-ton, Arka mendorong pintu kamar perawatan V.I.P nomor 402.

Ruangan itu bernuansa tenang dengan pencahayaan yang sengaja diredupkan. Aroma khas obat-obatan rumah sakit berpadu dengan keheningan malam yang pekat. Di atas ranjang rumah sakit berseprai putih bersih, Kirana terbaring kaku. Wajahnya tampak sangat pucat pasi, nyaris senada dengan warna bantal di bawah kepalanya. Perban putih melilit rapi di pelipis kirinya yang sempat terluka akibat pecahan kaca, sementara selang infus transparan tertusuk di punggung tangan kanannya yang kurus.

Arka melangkah mendekati sisi ranjang dengan gerakan sangat lambat, seolah takut kehadiran suaranya akan merusak kerapuhan udara di sekitar istrinya. Ia menarik sebuah kursi kecil, lalu duduk tepat di samping ranjang, menatap wajah wanita yang selama ini ia sia-siakan.

"Kirana..." panggil Arka dengan suara yang begitu lirih, hampir berupa bisikan angin.

Tidak ada respons. Kirana bahkan tidak mengedipkan kelopak matanya. Pandangan mata wanita itu menatap lurus ke arah langit-langit kamar yang kosong, hampa, tanpa jiwa, seolah raganya tertinggal di sana sementara jiwanya telah melayang jauh meninggalkan dunia yang penuh luka ini.

Arka perlahan menjulurkan tangannya, mencoba meraih jemari Kirana yang terkulai lemas di atas selimut putih. Namun, begitu ujung jarinya hampir menyentuh kulit istrinya, Kirana secara refleks menarik tangannya menjauh dengan gerakan pelan namun tegas, seolah keberadaan sentuhan Arka adalah sebuah racun mematikan yang harus ia hindari demi keselamatannya sendiri.

Tindakan kecil itu mencabik-cabik hati Arka tanpa ampun. Air mata hangat

1
Dokkan Battle
bacot awokawok lemah jir
.. mending pretty cure
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Dokkan Battle
haha CEWEK LEMAH ANYING... ANAK LO NOH KECEWA GOBLOK
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Dokkan Battle
ah goblok malah balikan awokawok masokis juga ya ternyata 🤣🤣🤣🤣
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir ♥️
total 1 replies
putmelyana
semangat thor 💪
Selie Noris: Kak, terima kasih ya.... ♥️
total 1 replies
Selie Noris
♥️♥️♥️
Sulicungliieee
ડɑ𝗍υ ƙɑ𝗍ɑ υ𐓣𝗍υƙოυ ɑ𝗋ƙɑ.......ડυ𝗈𝗈ƙ𝗈𝗋𝗋𝗋𝗋𝗋.....
Selie Noris: Kak, makasih sudah mampir....
total 1 replies
Yusria Mumba
seorang wanita kalau sudah sakit hatiny, susah d, obati,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
nyesalkan sudah terlambat,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 1 replies
Yusria Mumba
ti galon ajasumi kaya gitu,
Selie Noris: Kak, terima kasih sudah mampir. ♥️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!