Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telanjang Didepan Majelis
Waktu bergulir begitu cepat. Tiga puluh hari berlalu sejak Nindya meletakkan berkas gugatan cerai di atas meja makan rumah mereka. Selama satu bulan penuh, Haris terus membual dan bersikap keras kepala. Pria itu mengulur waktu, menolak menandatangani surat kesepakatan, dan bersikeras meminta Nindya mencabut gugatannya demi menyelamatkan sisa-sisa nama baik serta kariernya. Haris berpikir, tanpa tanda tangannya, Nindya tidak akan bisa berkutik.
Namun, Haris lupa bahwa hukum tidak berjalan di atas ego dan kepalsuannya.
Hari ini, di ruang sidang utama Pengadilan Agama, suasana terasa begitu dingin dan menekan. Haris duduk di kursi tergugat bersama kuasa hukumnya dengan wajah tegang. Di seberangnya, Nindya duduk dengan sangat anggun membalut tubuhnya dalam setelan blazer krem yang bersih, didampingi Pak Lukas dan Noval yang duduk di barisan jajaran pendukung.
Hakim Ketua mengetukkan palunya. "Karena pihak Tergugat terus menolak menandatangani surat kesepakatan dan menolak bercerai secara baik-baik, maka persidangan hari ini dilanjutkan langsung ke agenda pembuktian dari pihak Penggugat. Silakan Pihak Penggugat menyajikan bukti-buktinya."
Pak Lukas berdiri dari kursinya dengan senyum tenang namun penuh wibawa. "Terima kasih, Yang Mulia. Pihak kami telah menyiapkan rangkaian bukti materiil yang tidak terbantahkan terkait penelantaran, pengkhianatan, dan perzinahan yang dilakukan oleh Tergugat."
Pak Lukas melangkah maju, menyerahkan bundel berkas fisik kepada Majelis Hakim, lalu menyalakan layar proyektor di dalam ruang sidang atas izin hakim.
Layar putih besar di dinding ruangan seketika menyala.
Slide pertama menampilkan rekaman audio dan video jernih yang diambil oleh Noval di lobi hotel—memperlihatkan Haris yang dibujuk dan berjanji menginap di tempat Siska. Wajah Haris di dalam ruang sidang seketika pucat pasi. Suasana ruang sidang mendadak riuh rendah oleh bisik-bisik para hadirin.
"I-itu tidak benar, Yang Mulia! Itu direkayasa!" seru Haris panik, refleks berdiri dari kursinya.
"Harap Tergugat tenang dan menjaga ketertiban sidang!" tegur Hakim Ketua tegas sembari mengetuk palu.
Belum sempat Haris meredakan kepanikannya, Pak Lukas menampilkan bukti berikutnya di layar proyektor: foto dan video beresolusi tinggi saat Haris bertelanjang dada membuka pintu kamar 802 di apartemen Siska, memperlihatkan Siska dalam balutan gaun piyama seksi di belakangnya.
Mata Haris membelalak lebar, napasnya memburu. Keringat dingin membasahi seluruh kemejanya. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa malam itu perilakunya telah direkam dan terdokumentasi dari berbagai sudut dengan sangat sempurna!
"Dan bukti puncaknya, Yang Mulia," lanjut Pak Lukas dengan suara lantang yang menggelegar di ruang sidang. "Kami menyerahkan barang bukti fisik berupa testpack kehamilan dua garis merah serta hasil pemeriksaan USG asli atas nama Siska, yang mana diserahkan sendiri oleh yang bersangkutan sebagai pengakuan atas kehamilan dari hubungan gelapnya bersama Tergugat."
Hakim Ketua dan anggota Majelis Hakim meneliti foto USG serta berkas bukti tersebut dengan raut wajah sangat serius. Bukti perzinahan itu begitu gamblang, bertumpuk, dan tak memberi ruang sedikit pun bagi Haris untuk mengelak.
Kuasa hukum Haris hanya bisa menunduk pasrah, tahu betul bahwa posisi kliennya sudah hancur total dan tak bisa diselamatkan lagi di mata hukum.
Nindya menoleh sedikit ke arah Haris. Ia melihat pria yang dulu sangat sombong itu kini tertunduk lesu di kursinya dengan tubuh gemetar, ditelan oleh rasa malu dan kehancuran yang diciptakannya sendiri. Tanpa perlu berteriak atau memaki, Nindya telah memenangkan pertempuran ini dengan sangat terhormat.