Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : GUBUK REOT DAN SENYUM PERTAMA
Rangga terbangun dari mimpi buruk yang terasa sangat nyata. Dalam mimpinya, ia melihat ayahnya memanggil-manggil namanya dari kejauhan, tetapi setiap kali ia berlari mendekat, sosok ayahnya berubah menjadi genangan darah yang mengalir di lantai marmer. Ia berteriak, tetapi suaranya tidak keluar. Ia menendang, tetapi kakinya terasa berat seperti batu. Kemudian, ia mendengar suara parau yang lembut—seperti nyanyian nenek-nenek di masa lalu—dan ia terbangun.
Matahari pagi bersinar terang melalui celah-celah atap rumbia yang berlubang. Sinar itu jatuh di lantai tanah yang padat, menciptakan titik-titik terang seperti bintang-bintang jatuh di siang hari. Rangga memejamkan mata beberapa kali, beradaptasi dengan cahaya yang menusuk. Tubuhnya terasa sangat sakit—setiap otot, setiap sendi, setiap luka di kulitnya berdenyut nyeri. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi terasa berat. Di sekujur tubuhnya, ada selimut kain perca yang hangat—bermotif kotak-kotak pudar dengan banyak tambalan, tetapi baunya harum, seperti minyak kayu putih dan jahe.
Ia menoleh perlahan. Ruangan itu sangat kecil—mungkin hanya tiga kali empat meter. Dindingnya dari anyaman bambu yang sudah berwarna kecokelatan karena usia, dengan celah-celah kecil yang membiarkan angin pagi masuk. Di salah satu sudut, ada tungku batu sederhana dengan api kecil yang masih menyala, di atasnya tergantung panci tanah liat yang mengeluarkan uap harum. Di sudut lain, ada meja kayu jati tua yang permukaannya sudah lekuk oleh penggunaan bertahun-tahun, di atasnya teronggok beberapa butir telur ayam dan seikat sayuran hijau.
Di dekat pintu, seorang nenek tua duduk bersila di atas tikar pandan, tangannya sibuk menumbuk cabai di cobek batu dengan gerakan ritmis yang penuh pengalaman. Ia mengenakan kain jarik cokelat tua dengan motif parang rusak, kebaya lusuh berbahan katun tipis, dan rambut putihnya disanggul sederhana dengan tusuk konde dari kayu. Wajahnya keriput seperti buah yang dikeringkan, tetapi di balik itu ada cahaya kehangatan yang luar biasa.
Melihat Rangga terbangun, nenek itu berhenti menumbuk dan tersenyum. Senyumnya menunjukkan giginya yang tinggal beberapa di bagian depan, tetapi senyum itu begitu tulus sehingga Rangga merasa seperti disentuh oleh sinar matahari.
“Alhamdulillah, kau sadar, Nak,” ucapnya dengan suara parau yang lembut. “Tadi malam kau meracau sepanjang malam. Nenek takut kau meninggal. Tapi kau kuat, anakku. Nenek sudah memberi ramuan kunyit dan jahe, dan kau meminumnya meskipun pahit.”
Rangga mencoba duduk, tetapi tubuhnya lemas. Nenek itu segera menghampiri, menopang punggungnya dengan tangan yang ringkih tapi mantap. “Diam dulu, Nak. Jangan banyak bergerak. Tubuhmu masih demam. Nenek buatkan bubur dulu.”
Ia berjalan ke tungku dan mengambil mangkuk tanah liat. Di dalamnya, ada bubur yang masih mengepul—hanya nasi yang dimasak dengan banyak air, ditambah sedikit garam dan irisan daun bawang. Sangat sederhana, tidak ada daging, tidak ada telur, hanya bubur polos yang hangat. Tetapi bagi Rangga yang perutnya keroncongan, bubur itu terlihat seperti hidangan terbaik di dunia.
Nenek Saroh menyuapinya pelan-pelan, meniup setiap sendok agar tidak panas. Rangga membuka mulut, menelan bubur yang lembut. Rasa hangat menyebar dari perut ke seluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya dalam dua hari, ia merasakan sesuatu yang hangat di dalam dirinya—bukan hanya fisik, tetapi juga emosional. Ada kehadiran yang mengasuhnya, yang tidak menuntut apapun selain ia makan dan sembuh.
“Nenek… aku di mana?” tanyanya di sela-sela suapan, suaranya serak dan pelan.
“Di rumah Nenek. Dusun Sumbermulyo, Desa Kedungwungu. Jauh dari kota,” jawab Saroh sambil menyeka sudut bibir Rangga dengan kain lap. “Kau Nenek temukan di pinggir hutan, terbungkus selimut, penuh luka. Siapa yang melakukan ini padamu, Nak?”
Rangga menunduk. Air mata mengalir di pipinya, mengingatkan pada malam pembunuhan, wajah ayah dan ibunya, pria botak dengan pistol, dan suara rubah yang memerintahkan pembuangannya. Ia ingin menceritakan semuanya, tetapi kata-kata itu terasa terlalu berat, terlalu menyakitkan untuk diucapkan. Mulutnya terbuka, tetapi yang keluar hanya isakan.
“Sudahlah,” kata Nenek Saroh cepat, tangannya mengusap rambut Rangga yang kusut. “Kau tidak usah cerita sekarang. Yang penting kau selamat. Nenek tidak akan memaksamu. Nanti kalau kau sudah kuat, kau bisa cerita. Atau tidak sama sekali. Itu hakmu. Nenek hanya ingin kau tahu, di sini kau aman. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi.”
Rangga mendongak, menatap mata nenek itu. Matanya jernih dan teduh, tidak ada kepalsuan di dalamnya. Ia ingat ibunya, yang juga memiliki mata indah, tetapi sering kali tidak bisa ia temukan karena sibuk dengan dunia bisnis. Di sini, di gubuk reot ini, ia menemukan tatapan yang selalu ia rindukan—tatapan yang berkata, “Kau berharga.”
Sepanjang pagi, Rangga berbaring di tikar sambil memandangi sekeliling. Gubuk itu tidak memiliki kursi atau lemari—hanya perabot seadanya. Di dinding tergantung cangkul, sabit, dan beberapa anyaman bambu. Di luar, ia melihat hamparan sawah yang menguning, pohon-pohon kelapa yang bergoyang lembut, dan beberapa ekor ayam kampung yang mematuk tanah mencari cacing. Suasana begitu sunyi, hanya suara burung yang berkicau di dahan, dan sesekali kokok ayam jantan yang terdengar dari kejauhan. Tidak ada klakson, tidak ada deru mesin, tidak ada suara pesawat melintas. Hanya alam yang bernapas dengan tenang.
“Nenek, boleh aku lihat ke luar?” tanya Rangga setelah merasa sedikit lebih kuat.
Nenek Saroh mengangguk, lalu membantunya berdiri. Rangga berpegangan pada dinding bambu, melangkah pelan-pelan ke ambang pintu. Begitu ia melangkah keluar, matanya membelalak. Di hadapannya terbentang pemandangan yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Sawah-sawah bertingkat membentang hijau kebiruan, seperti tangga raksasa yang terbuat dari tanaman padi. Gunung di kejauhan menjulang dengan puncak diselimuti kabut tipis yang bergerak perlahan seperti kerudung sutra. Di bawah, sebuah sungai kecil berliku-liku mengalir di antara batu-batu besar, airnya jernih dan berkilau. Aroma tanah basah, rumput, dan bunga liar memenuhi udara—aroma yang tidak pernah ia temukan di toko parfum manapun.
“Ini… indah sekali,” gumamnya, setengah tidak percaya.
“Ya,” kata Nenek Saroh di sampingnya, “ini rumah Nenek. Mungkin kecil, mungkin reot, dan Nenek tidak punya harta duniawi. Tetapi di sini, semua orang saling membantu. Tidak ada kejahatan, tidak ada kebohongan. Hanya orang-orang sederhana yang bekerja keras dan berbagi rezeki. Kau bisa tinggal di sini selama kau mau, Nak.”
Rangga menatap neneknya. “Tapi Nenek, aku tidak punya apa-apa. Aku tidak bisa bayar. Aku hanya—”
“Hush,” Nenek Saroh memotong dengan jari telunjuk di bibirnya. “Nenek tidak minta bayaran. Nenek minta satu hal saja: kau mau belajar hidup sederhana. Mau membantu Nenek di ladang, menjaga ayam, memikul air. Bukan karena kau harus membayar, tetapi karena itu akan membuatmu kuat. Kau anak pintar, Nenek bisa lihat dari matamu. Kau punya masa depan yang cerah. Nenek hanya ingin kau tidak lupa, bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari emas dan permata. Kebahagiaan datang dari hati yang tulus dan tangan yang mau bekerja.”
Rangga mengangguk. Di dalam hatinya, ia membuat janji. Suatu hari, ia akan kembali ke kota, ia akan menemukan kebenaran tentang pembunuhan orang tuanya, dan ia akan menghukum para pelaku. Tetapi untuk saat ini, ia ingin merasakan menjadi anak desa. Ia ingin merasakan pelukan hangat, meskipun datang dari gubuk reot dan kain perca. Ia ingin merasakan bahwa ia dicintai—bukan karena nama atau kekayaan, tetapi karena ia adalah dirinya sendiri.
Sore harinya, setelah makan siang berupa sayur asem dan ikan asin bakar, Nenek mengajak Rangga ke belakang gubuk. Di sana, ada sepetak kebun kecil yang ditanami kacang panjang, cabai, tomat, dan singkong. Nenek mengajari Rangga cara mencabut rumput liar tanpa merusak akar tanaman.
“Lihat, Nak. Rumput ini harus dicabut dari pangkalnya, jangan dipotong. Kalau dipotong, ia tumbuh lagi. Begitu juga dengan masalah hidup. Kalau masalah dihindari, ia akan kembali. Tetapi kalau kau hadapi dari akarnya, kau selesai dengan selamanya,” kata Nenek sambil menunjukkan gerakan mencabut yang tepat.
Rangga memperhatikan dengan serius, lalu meniru. Tangannya yang dulu hanya memegang ponsel dan sendok perak kini kotor oleh tanah, tetapi ia tidak peduli. Ia malah menikmati sensasi lumpur yang membasahi jari-jarinya. Ia merasakan kegembiraan aneh—kegembiraan karena melakukan sesuatu dengan tangannya sendiri.
Malamnya, mereka duduk di teras gubuk. Langit malam di desa begitu bersih—tidak ada polusi cahaya, tidak ada gedung-gedung tinggi yang menghalangi. Bintang-bintang terhampar begitu banyak, begitu terang, seperti berlian yang ditaburkan di atas kain beludru hitam. Rangga bahkan bisa melihat gugusan Bima Sakti—sesuatu yang hanya ia lihat di buku pelajaran.
“Nenek, bintang yang banyak itu apa?” tanya Rangga sambil menunjuk.
“Itu Bima Sakti, Nak. Kata orang tua, di sanalah arwah orang baik tinggal. Mereka menatap kita dari atas, menjaga kita yang masih hidup,” jawab Nenek Saroh sambil membelai rambut Rangga.
Rangga memikirkan ayah dan ibunya. Apakah mereka di sana? Apakah mereka menatapnya dari kejauhan? Air mata perlahan mengalir, tetapi kali ini bukan karena ketakutan—melainkan karena kerinduan yang bercampur syukur. Ia masih hidup. Ia ditemukan. Ia dirawat. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tersenyum—senyum yang tulus, senyum yang datang dari dasar hati.
“Nenek,” katanya pelan, “terima kasih telah menyelamatkanku.”
Nenek Saroh memeluknya erat. “Tidurlah, Nak. Besok kita mulai hari pertama. Hari pertama kehidupan barumu.”
Rangga berbaring di tikar, memeluk selimut perca yang hangat. Meskipun kasur itu keras dan kamar itu sempit, ia merasa lebih nyaman daripada di ranjang king size di istananya. Karena di sini, ia tidak sendirian. Ada degup jantung nenek yang berdetak di ruangan yang sama, ada api tungku yang menyala menghangatkan, dan ada cinta yang tulus yang merangkulnya seperti selimut terhangat di dunia. Ia memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya sejak malam pembunuhan, ia tertidur dengan damai—tanpa mimpi buruk, tanpa teriakan, tanpa darah. Hanya keheningan yang penuh kasih.
---
[Bersambung...]
---