NovelToon NovelToon
Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Diusir Mertua, Ternyata Pewaris Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arya Suryanegara — menantu miskin yang diusir dari rumah mertua tanpa sepeser pun. Dicaci, dihinakan, diperlakukan bagai sampah selama tiga tahun.

Tapi semua orang salah besar.

Arya adalah pewaris tunggal Keluarga Suryanegara, konglomerat terkuat di Indonesia dengan aset ratusan triliun. Perusahaan terbesar di kota itu? Miliknya. Mantan Kapten Kopassus dengan kemampuan bela diri mematikan? Itu dia. Otak bisnis jenius yang bisa menghancurkan perusahaan saingan dengan satu telepon? Juga dia.

Sekarang penyamarannya berakhir. Yang pernah menghinanya akan berlutut. Yang berani menyentuh orang-orangnya akan hancur — secara bisnis, secara hukum, secara total.

Menantu miskin? Tidak. Pewaris triliunan yang kembali untuk mengambil tahtanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026: Sinta yang Jatuh

Sinta Permata berdiri di depan lemari yang hampir kosong.

Dulu, lemari itu penuh dengan tas bermerek, gaun makan malam, sepatu impor, dan kotak perhiasan yang ia pilih tanpa pernah melihat harga dua kali. Sekarang, hanya tersisa dua kemeja putih, satu blazer krem yang mulai kusut, dan sebuah rok hitam yang dulu ia pakai untuk wawancara kerja pertama setelah lulus kuliah.

Ia mengambil blazer itu.

Kainnya masih bagus, tetapi di bagian bahu ada bekas lipatan panjang.

Sinta menyetrikanya sendiri.

Tiga tahun menikah dengan Arya, ia hampir tidak pernah menyentuh setrika.

Arya yang melakukannya.

Pagi-pagi, sebelum ia bangun, kemeja kerjanya sudah tergantung rapi. Sepatu sudah disikat. Kopi sudah di meja. Berkas rapat yang ia tinggalkan berantakan semalam sudah disusun berdasarkan warna sticky note.

Dulu ia menyebut itu kewajiban.

Sekarang, saat uap setrika mengenai jarinya dan membuatnya meringis, Sinta baru mengerti bahwa kewajiban pun bisa menjadi bentuk perhatian.

Telepon dari Maryam masuk.

Sinta menatap layar cukup lama sebelum mengangkat.

"Kamu sudah dapat kerja?" suara ibunya langsung menusuk.

"Hari ini wawancara, Ma."

"Jangan pilih-pilih. Keluarga kita sedang susah. Om Besar juga sudah tidak bisa menanggung semua."

"Aku tahu."

"Dan jangan lagi memikirkan Arya. Laki-laki itu sudah lupa pada kita."

Sinta memejamkan mata.

Di layar berita tadi pagi, Arya berdiri di sebelah Ratna Kusumawardhani dan seorang anak kecil. Judulnya menyebut perlindungan hukum, investasi perhiasan, dan pembukaan dana pendidikan karyawan.

Arya tampak sama seperti dulu.

Tenang.

Tetapi dulu ketenangan itu ia sebut bodoh.

"Aku harus pergi, Ma."

"Ingat, kalau diterima, jangan malu mulai dari bawah. Setidaknya kamu masih Permata."

Sinta hampir tertawa.

Permata.

Nama itu dulu seperti kalung emas di lehernya. Sekarang terasa seperti papan nama bekas yang retak.

Ia berangkat naik ojek online.

Di lampu merah, ia melihat pantulan wajahnya di kaca helm pengemudi. Bedak tipis tidak bisa menutup lelah di bawah matanya. Mobil yang dulu biasa ia pakai sudah dijual untuk membayar vendor. Apartemen ini pun hanya sewa kecil yang dibantu Om Besar selama dua bulan.

Hidupnya menyusut begitu cepat sampai ia belum sempat menjerit.

Alamat wawancara tertulis di pesan rekrutmen: Andini Interior Design.

Sinta belum pernah mendengar nama itu sebelumnya, tetapi kantor kecil di gedung kreatif itu tampak jauh lebih hidup daripada perusahaan Permata yang sekarang penuh wajah ketakutan.

Di resepsionis, ia mengisi formulir dengan tangan kaku.

Posisi: staf administrasi magang.

Gaji: cukup untuk makan, transportasi, dan membayar separuh sewa.

Dulu ia akan tertawa melihat angka itu.

Hari ini ia takut tidak mendapatkannya.

"Mbak Sinta?"

Seorang perempuan muda memanggil dari ruang meeting. "Silakan masuk. Bu Andini sudah menunggu."

Sinta berdiri.

Ruang meeting itu sederhana, tetapi elegan. Di dinding ada papan proyek Restoran Fajar Indah. Nama Andini Pradipta tertulis kecil di pojok beberapa desain.

Sinta duduk di depan seorang perempuan berwajah lembut dengan tatapan jernih.

"Selamat siang, Mbak Sinta. Saya Andini."

"Selamat siang, Bu."

Sinta mendengar suaranya sendiri terlalu pelan.

Andini membaca CV-nya. Tidak ada ejekan. Tidak ada tatapan merendahkan meski nama Permata jelas tertulis di halaman pertama.

"Anda pernah membantu administrasi proyek keluarga?"

"Pernah. Dulu saya menangani koordinasi vendor kecil, invoice, dan arsip kontrak. Tidak secara resmi, tapi..."

Ia berhenti.

Karena tiba-tiba ia ingat.

Tiga tahun lalu, ketika laporan vendor Permata berantakan, Arya yang duduk di meja makan malam-dini hari menyusun ulang semua invoice. Ia bahkan membuat daftar jatuh tempo pembayaran agar perusahaan keluarga tidak terkena denda.

Sinta waktu itu lewat sambil berkata, "Kalau memang tidak berguna, setidaknya rapikan berkas."

Arya hanya menjawab, "Baik."

Sinta menggenggam ujung roknya di bawah meja.

"Tapi?" tanya Andini lembut.

"Tapi saya mau belajar dari awal."

Andini menatapnya cukup lama.

"Posisi ini bukan posisi nyaman. Anda akan mulai dari arsip, input data, follow up vendor, dan kadang membantu tim membeli sampel material. Tidak ada perlakuan khusus."

"Saya mengerti."

"Kenapa melamar ke sini?"

Karena tidak ada perusahaan besar yang mau menerima seseorang dari keluarga yang baru hancur.

Karena nama Permata tidak lagi membuka pintu.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia harus mengakui bahwa ia tidak punya apa-apa selain sisa kesombongan.

Namun Sinta hanya berkata, "Saya butuh pekerjaan. Dan saya ingin membuktikan bahwa saya bisa bekerja sungguh-sungguh."

Andini mengangguk.

"Baik. Kita coba satu bulan. Mulai besok."

Sinta hampir tidak percaya. "Saya diterima?"

"Sebagai magang administrasi. Kalau performa baik, kita bicarakan lagi."

"Terima kasih, Bu Andini."

Ketika keluar dari ruang meeting, Sinta melihat foto kecil di meja samping.

Foto itu bukan foto pribadi, melainkan potongan berita tentang Restoran Fajar Indah. Di sudut gambar, ada Arya berdiri di samping Andini, wajahnya setenang biasa.

Jantung Sinta seperti berhenti.

"Bu Andini..." Ia menahan suara. "Anda mengenal Pak Arya Suryanegara?"

Andini mengikuti arah pandangnya.

Senyumnya berubah sangat halus.

"Ya. Beliau teman saya."

Teman.

Kata itu lembut, tetapi menampar lebih keras daripada makian.

Sinta menunduk. "Oh."

Ia berjalan keluar kantor dengan langkah yang terasa kosong.

Di lift, ia melihat wajahnya di cermin. Ia, mantan istri Arya, baru saja diterima sebagai magang di perusahaan perempuan yang mungkin sekarang lebih dipercaya Arya daripada dirinya.

Nasib tidak berteriak.

Nasib hanya membuka pintu lift dan membiarkan seseorang melihat pantulannya sendiri.

Malam itu, setelah membeli nasi bungkus murah di warung, Sinta duduk sendirian di apartemen.

Ia membuka ponsel lama. Galeri fotonya masih menyimpan beberapa gambar Arya di rumah Permata. Sebagian besar tidak sengaja: Arya di dapur, Arya membawa galon, Arya duduk di ruang tamu sambil memperbaiki kabel internet, Arya menunduk saat Maryam memarahinya.

Sinta memperbesar satu foto.

Di meja sebelah Arya, ada tumpukan berkas Permata yang dulu ia kira dibereskan staf kantor.

Ternyata Arya.

"Kamu..." bisiknya. "Kamu sebenarnya selalu membantu."

Air mata jatuh ke layar.

Ponsel bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Sinta menghapus air mata. "Halo?"

Suara Revan Hadinata terdengar dari seberang, lebih pelan daripada dulu, tetapi tetap membawa racun lama.

"Sinta. Aku dengar kamu sekarang kerja sebagai magang."

Tubuh Sinta menegang. "Apa maumu?"

"Aku mau membantumu bangkit."

"Aku tidak butuh bantuanmu."

"Jangan sombong. Kamu sudah tidak punya posisi untuk sombong."

Sinta diam.

Revan tertawa kecil. "Aku hanya butuh satu hal. Kamu sekarang dekat dengan Andini Interior Design. Lingkaran itu dekat dengan Arya. Bantu aku mencari kelemahannya."

"Kamu mau melakukan apa?"

"Membuat dia merasakan apa yang pernah dia lakukan pada kita."

"Dia tidak melakukan apa-apa padaku."

Kalimat itu keluar sebelum Sinta sempat menahannya.

Di ujung telepon, Revan diam sejenak.

"Jadi kamu mulai membelanya?"

Sinta menatap foto Arya di layar ponsel.

Untuk pertama kalinya, rasa malu lebih kuat daripada rasa takut.

"Aku belum menjawab apa pun."

"Pikirkan. Aku bisa membuatmu kembali punya uang, mobil, nama. Atau kamu bisa terus mengantar sampel kain untuk perempuan yang merebut laki-laki yang dulu kamu buang."

Telepon terputus.

Sinta duduk lama dalam diam.

Di luar jendela, lampu Kota Awan berkedip seperti dunia yang tidak peduli pada penyesalan seseorang.

Ia memegang ponsel dengan kedua tangan.

Dulu, ia membiarkan orang lain menuduh Arya tanpa bukti.

Sekarang, seseorang memintanya mengkhianati Arya dengan sengaja.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sinta Permata tidak yakin apakah ia masih sanggup menjadi orang seburuk itu.

1
Riski Channel
mantap
Riski Channel
cerita bagus sayang orang pada tidak tahu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!