NovelToon NovelToon
Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Menantu Yang Tak Pernah Dianggap

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:554
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

Kupikir menikah dengan pria yang kucintai adalah awal dari kehidupan yang bahagia. Namun, aku tidak pernah menyangka bahwa musuh terbesarku justru tinggal serumah denganku.
Mertuaku menganggapku hanya menumpang hidup. Aku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, difitnah di depan tetangga, diperas secara materi, bahkan harga diriku diinjak setiap hari. Sementara suamiku... selalu memilih mengalah demi ibunya.
"Fitri, mengalah dulu ya. Mama cuma ingin yang terbaik."
Kalimat itu terus kudengar selama tiga tahun pernikahan kami.
Hingga suatu hari, aku sadar. Seorang istri tidak seharusnya berjuang sendirian mempertahankan rumah tangga.
Saat kesabaranku habis dan perceraian menjadi satu-satunya jalan, penyesalan justru datang kepada mereka yang selama ini menghancurkan hidupku.
Sayangnya, beberapa penyesalan memang selalu datang ketika semuanya sudah terlambat.


ikuti untuk bab selanjutnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Alkisah

“Sayang, mas berangkat dulu ya. Nanti pulang mas kerja mau di beliin apa?”

“Engga mas, aku Cuma maunya kamu.” Jawabku dengan tersenyum menggoda pada suamiku itu.

“Hmm, kamu ini.” Suaminya mencium keningku dan mencubit pipiku.

Setelah itu, aku pun mengatarkan suamiku hingga kedepan rumah.

“Mau berangkat yan?” Tiba-tiba mertua ku datang dengan ramahnya.

“Iya bu. Viyan berangkat dulu ya.”

“Iya iya, hati-hati di jalan ya.”

“Iya bu.” Jawab suamiku yang lalu mencium tangan ibunya.

Aku dan mertua ku pun berjalan kedepan ikut mengantar suamiku. Baru saja suamiku duduk di atas jok motornya dan hendak menyalakan motor itu, aku sedikit terkejut karena adik ipar ku yang tak lain dan tak bukan adalah adik dari suamiku sendiri berteriak-teriak memanggil nama suamiku.

“Bang… bang Viyannnn.. Bang..”

Kami semua sontak langsung menoleh ke arahnya.

“Apa? Ada apa? Jangan teriak-teriak gitu. Berisik, kasian tetangga.” Jawab suamiku itu.

“Hehe maaf bang. Em, bang minta duit dong. Buat fotocopy tugas kuliah nih.” Ucapnya sambil mengulurkan telapak tangannya pada suamiku.

“Berapa?”

“Emm, 500 ribu aja bang.”

“Aduh, maaf din. Kalau segitu abang belum ada. Kan abang baru mulai kerja lagi”

“Lah, bukanya abang dapat banyak amplop waktu nikahan minggu kemarin? Abang juga sempat kan ke bali. Pelit banget sih bang. Ah, maa.. gimana ini. Masa dinda engga ngerjain tugas sih?” Adunya pada ibunya dan dia bergelagat manja padanya.

“Yan, kamu kasih lah itu adik kamu Cuma 500 ribu aja. Uang amplop ibu kemarin mau ibu beli emas nanti. Kalau di kasih dinda ya kurang jadinya.” Jawab mertua ku memaksa pada suamiku.

Aku mendengar itu pun langsung berinisiatif untuk memberi adik ipar ku uang sejumlah yang dia mau itu. Aku tak ingin suamiku itu telat berangkat bekerja hari ini. Kebetulan sisa uang nikahan kemarin aku ada lebih dari itu.

“Emm, Dinda. Sudah, biar mba saja yang kasih kamu uang. Sekarang abang kamu mau berangkat kerja takut telat nanti.” Ucapku menenangkan mereka.

“Nah gitu dong mba. Ya sudah mana sini uang nya. Aku mau berangkat sekalian. Bang, anterin Dinda juga ya bang ke kampus.”

“Iya. Beneran masih ada sayang?” Tanya suamiku padaku.

“Masih mas. Tenang aja.”

“Kalau gitu, mas sekalian pinjam 100 sayang buat isi bensin. Kebetulan hampir habis ini.”

“Iya sebentar ya, aku ambil dulu uang nya.”

Aku pun masuk ke kamar ku kembali untuk mengambil uang yang ku janjikan tadi. Selepas itu, aku keluar dan memberikan nya pada adik ipar dan suamiku.

“Nah.. gini dong.” Ucap adik ipar ku tanpa berterima kasih.

“Ya sudah. Mas berangkat sekarang ya. Bu, Viyan berangkat ya.”

“Iya mas hati-hati.” Jawabku.

“Jangan kebut-kebut yan. Adik kamu bonceng kamu itu loh. Takut jatuh nanti.”

“Iya bu.”

Suami ku dan adik ipar ku pun berangkat lalu setelah mereka tak terlihat lagi, tiba-tiba saja ibu mertua ku menepuk pundakku.

“Fitri..”

“Emm? Iya ma?”

“Mama habis ini mau pergi arisan sama sekalian pergi ke mall bareng ibu-ibu sini. Kalau mama nitip cucian baju kotor mama dan Dinda boleh? Kamu habis ini mau nyuci kan?” Ucap mertua ku dengan lugas.

Aku terkejut dengan perkataan mertua ku itu. Memang benar, setelah ini aku hendak mencuci dan memasak untuk suamiku namun apa aku juga harus menuruti perkataan mertua ku ini? Setau aku, tidak wajib bagiku untuk mencucikan semua baju kotor milik mertua dan ipar ku itu. Namun karena aku baru saja pertama kali menginjakan kaki ku di rumah ini, aku iyakan saja untuk kali ini. Toh ini engga selamanya juga. Setelah rumah ku jadi nanti, aku dan mas Viyan akan pindah dari sini.

“Emm, iya ma iya. Taruh saja di samping mesin cuci ya ma.” Ucapku sambil tersenyum.

“Aduh, berat fit. Mama engga kuat. Itu cucian sudah seminggu jadi banyak banget. Kamu bisa kan angkat sendiri? Pinggang mama sering encok fit.”

“Oh ya sudah ma. Nanti biar Fitri saja yang pindahkan.”

“Nah gitu dong. Ya sudah, mama langsung mandi deh. Bentar lagi ibu-ibu pada dateng nih.” Setelah mengatakan itu, mertua ku pun berbalik dan masuk kedalam rumah.

Aku hanya bisa menghela nafasku saja kali ini. Setelah itu aku pun juga masuk kedalam rumah dan lebih dulu membereskan semua cucian kotor milikku dan suamiku. Sesudah itu, aku pun langsung mengangkat semua itu ke depan mesin cuci. Karena mesin cuci ini kecil kapasitasnya, aku lebih dulu mencuci pakaian ku dan suamiku namun di saat aku memasukan baju-baju kedalam mesin cuci, Mertua ku berteriak.

“Fitri… jangan, jangan pakai mesin cuci itu.” Seru nya padaku.

“Loh kenapa ma?”

“Jangan. Pokoknya jangan. Boros listrik. Aduh, banyak pengeluaran kalau pakai ini.”

“Kok gitu ma? Ma, kalau pakai ini setengah jam saja engga akan buat tagihan membengkak ma. Mama tenang aja.” Ucapku pada mertua ku itu.

“Tenang, tenang. Kamuy a tenang, orang yang bayar listrik kan si Viyan.”

“Terus gimana ma? Fitri engga bisa cuci sebanyak ini tanpa pakai mesin cuci ini.”

“Gini aja, cucian Viyan, mama sama Dinda pakai mesin cuci. Kalau cucian kamu, kamu cuci sendiri pakai sikat di sana.”

Aku lagi-lagi terkejut dengan perkataan nya, “Kok gitu ma? Kenapa engga sekalian saja? Kan lebih hemat tenaga Fitri.”

“Pokoknya kamu lakuin saja begitu. Mama sudah cukup mempermudah kamu ya.” Setelah itu, tanpa pikir panjang, mertua ku pun masuk kedalam kamar mandi.

Aku sempat tak percaya dengan apa yang mertua ku katakan. Namun aku diam-diam memasukan pakaian ku juga kedalam mesin cuci lalu mencucinya. Sembari menunggu mesin itu bekerja, aku ke kamar mertua dan adik ipar ku untuk mengambil cucian kotor mereka.

“Astaga.. banyak sekali. Sehari berganti pakaian berapa kali sih? Banyak sekali, ughhh..” Aku membereskan pakaian itu dan sempat mual karena bau yang tak sedap dari pakaian itu.

Setelah aku selesai, ku lanjutkan semua pekerjaan ini hingga mertua ku pun keluar dari kamarnya dengan dandanan nyentrik khas ibu-ibu sosialita. Tangan kanan dan kiri serta lehernya terdapat perhiasan, lalu pakaiannya bak abg yang baru pubertas.

“Ingat Fitri. Jangan campurkan pakaian mu. Oh ya, mama juga minta tolong ya ke kamu buat sekalian belanja bahan masakan ya tata saja di kulkas. Mama pulang jam 5 sore nanti, mama mau semua yang mama minta tolong ke kamu itu sudah ada ya fit.”

“Iya ma,”

“Ya sudah, mama berangkat dulu.”

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!