"Bayu Prasetyo kehilangan segalanya dalam satu hari.
Dipecat dari kantor karena posisinya diberikan kepada anak bos. Diputus pertunangan karena ""belum mapan."" Dan keris pusaka titipan sahabatnya tertipu terjual Rp 2 juta — padahal nilainya miliaran.
Di titik terendah hidupnya, Bayu Prasetyo menerima Mata Dewa dari kakek misterius — mata yang menembus batu, membaca nilai, dan membongkar kepalsuan. Dari judi batu ke meja lelang, dari pemuda miskin Pacitan ke puncak daftar orang terkaya — sampai ia menatap musuh terakhirnya: sindikat pemalsu pusaka yang dilindungi nama paling dihormati di Indonesia."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Lima Puluh Juta Pertama
Mata gerinda menggigit kulit batu.
Debu hitam bercampur air mengalir ke baki. Dengung mesin menutup semua bisikan, tetapi Bayu masih bisa melihat bibir pembeli berkemeja batik membentuk kata yang sama.
Sampah.
Tukang potong mengikuti garis Bayu. Tiga milimeter ke kiri, tidak lebih. Ketika bilah melewati kerak terakhir, ia mematikan mesin dan membuka pengunci.
Dua sisi batu terpisah.
Warna biru kehijauan muncul di bawah air.
Hening.
Tukang potong mengusap permukaan dengan ibu jari, lalu menyiramnya sekali lagi. Warna itu semakin dalam, bersih, dan padat. Tidak ada retakan besar. Cahaya dari lampu kios menembus bagian tipisnya dan memantul seperti air laut.
"Bacan Doko," gumam seseorang.
Pemilik lapak menerobos ke depan. "Tidak mungkin."
Tukang potong mengangkat salah satu belahan. "Bacan Doko kualitas tinggi. Biru hijaunya rata. Bersih pula."
Kerumunan pecah.
Orang yang tadi menyebut batu itu pemberat pintu menjulurkan leher paling jauh. Senyumnya sudah hilang. Melati menutup mulut. Intan tidak bergerak, tetapi kuitansi yang diremasnya perlahan terbuka di antara jari.
"Berapa nilainya?" tanya Intan.
Seorang pedagang batu jadi mengangkat tangan. "Kalau hasil gosoknya stabil, saya berani lima belas juta untuk bagian ini."
"Delapan belas," sahut orang lain.
"Dua puluh. Saya bayar sekarang."
Pemilik lapak memandang label harga yang sudah dilepas dari batu itu. Wajahnya tampak seperti baru sadar ia menjual dompet berisi uang dengan harga kulitnya.
Bayu tidak ikut menawar. Matanya tertuju pada batu kedua.
"Lanjut," katanya.
Tukang potong kini tidak lagi memandangnya sebagai pemuda yang sedang bergaya. "Garis yang tadi, Mas Bayu?"
"Ya. Putaran pelan. Berhenti begitu lapisan abu-abu habis."
Pembeli berkemeja batik mendengus, lebih pelan dari sebelumnya. "Satu batu bagus bisa saja kebetulan."
Bayu mengangguk. "Benar, Pak. Karena itu masih ada batu kedua."
Jawaban tenangnya membuat beberapa orang tersenyum. Pria itu memalingkan muka.
Mesin kembali menyala.
Batu berbentuk miring itu lebih keras. Tukang potong harus menambah aliran air dan mengurangi tekanan. Garis abu-abu terbuka sedikit demi sedikit, lalu sebuah warna hijau bening muncul.
Tukang potong langsung menghentikan mesin.
"Jangan dibelah penuh," kata Bayu.
Ia tahu persis di mana garis emas di dalam batu berakhir. Potongan lebih dalam akan mengurangi bidang terbaiknya.
Tukang potong membuka jendela kecil dengan gerinda tangan. Setelah permukaannya dibersihkan, serat keemasan tipis tampak mengambang di dalam hijau jernih.
"Giok high-ice," ujar pedagang batu jadi. Suaranya berubah serius. "Ada serat emas."
Ia mengambil lampu senter, meminta izin pada Intan, lalu memeriksa dari tiga sudut. Cahaya menembus jauh tanpa tertahan kabut tebal.
"Bahan seperti ini bisa lewat tiga puluh juta kalau bidang bersihnya sesuai perkiraan."
Kerumunan kembali gaduh, kali ini lebih keras.
Dua batu yang dibeli seharga dua belas juta telah membuka nilai berkali-kali lipat hanya dalam beberapa menit.
Pemilik lapak mencoba tertawa. "Mbak Intan memang beruntung."
Intan menoleh kepadanya. "Tadi Bapak bilang keduanya sampah."
"Saya cuma—"
"Kalau hasilnya buruk, itu salah Mas Bayu. Kalau hasilnya bagus, saya yang beruntung?"
Pemilik lapak kehilangan kata-kata.
Intan mengalihkan pandangan kepada Bayu. Tatapannya kini menyimpan rasa ingin tahu yang serius.
"Sembilan puluh persen?"
"Saya menyisakan sepuluh persen supaya tidak terdengar sombong."
Melati menatapnya selama dua detik, lalu tertawa pendek. "Sekarang justru terdengar sombong."
"Tapi dia berhasil," kata Intan.
Pedagang batu jadi mengeluarkan kartu nama. "Saya ambil dua-duanya lima puluh juta. Barang masih berupa bahan, risiko gosok di saya. Transfer hari ini."
Orang lain hendak menyela, tetapi Intan mengangkat telapak tangan. Ia meminta pedagang itu menjelaskan berat, perkiraan hasil, dan risiko retak tersembunyi. Bayu memperhatikan caranya bertanya. Ringkas, tepat, tanpa tergoda kegaduhan.
Ia memahami nilai batu dan berani menanggung risiko pembelian.
"Lima puluh juta dan transaksi tercatat," putus Intan. "Buat kuitansi dengan foto kedua bahan."
Pedagang itu setuju.
Dokumen sederhana disiapkan. Foto diambil. Berat dicatat. Nomor rekening diminta.
Bayu menoleh pada Intan. "Rekening Mbak Intan dulu. Modalnya milik Mbak."
"Tidak." Intan mendorong ponsel ke arahnya. "Masukkan rekeningmu."
"Kesepakatan kita bagi dua."
"Saya berubah pikiran."
"Itu bukan kebiasaan bisnis yang baik."
Intan mengangkat alis, seolah tidak menyangka seorang pria dengan saldo di bawah setengah juta akan mengajarinya disiplin bisnis.
"Anggap saja hadiah perkenalan," katanya. "Saya membayar dua belas juta untuk menguji penilaianmu. Hasil uji itu lebih berharga daripada modalnya. Lima puluh juta milikmu."
Bayu tidak langsung menerima.
"Kalau begitu, saya berutang satu penilaian kepada Mbak Intan. Nilainya tidak boleh lebih kecil dari hari ini."
"Sepakat."
Pedagang memasukkan nomor rekening Bayu.
Beberapa detik kemudian, ponsel retak itu bergetar.
Rp50.000.000 telah masuk.
Angka tersebut memenuhi layar, melintang tepat di bawah retakan yang tadi pagi membelah saldo Rp432.700.
Bayu menatapnya lama.
Itu bukan angka di dalam mimpi. Ada nama pengirim, waktu transaksi, dan bukti pembelian. Untuk pertama kalinya sejak merantau, ia memiliki uang yang cukup untuk bernapas tanpa menghitung harga setiap porsi makan.
"Mas Bayu."
Intan menyodorkan sebuah kartu nama tebal berwarna putih gading. Nama lengkapnya tercetak timbul, dengan logo Wibowo di sudut kiri.
"Hubungi saya kalau kamu menemukan batu lain seperti ini."
Ponselnya berdering sebelum Bayu sempat menjawab. Intan melihat layar, lalu wajahnya berubah serius.
"Saya harus pergi. Melati, ayo."
Ia melangkah dua kali, kemudian menoleh.
"Dan jangan menghilang sebelum melunasi satu penilaian itu."
Bayu mengangkat kartu namanya. "Saya tidak suka utang."
Intan tersenyum, lalu pergi bersama Melati.
Kerumunan mulai bubar. Orang-orang yang sebelumnya menertawakan pilihan Bayu kini menanyakan dari mana ia belajar, apakah ia menerima jasa memilih batu, bahkan kapan ia akan datang lagi. Pemilik lapak tidak berani menatapnya.
"Yu!"
Sebuah suara keras memotong semua pertanyaan.
Hendra Maulana menyelip di antara dua orang sambil masih mengenakan kaus bengkel bernoda oli. Sandalnya mengeluarkan bunyi tepuk cepat. Ia memandang meja potong, dua kuitansi, lalu layar ponsel Bayu.
Matanya membulat.
"Lima puluh juta?"
"Pelankan suaramu, Ndra."
"Pelan bagaimana? Koen kemarin masih tanya tempat makan yang boleh utang! Sekarang sekali potong dapat lima puluh juta? Rek, aku tiap hari memotong rantai motor. Kenapa tidak pernah keluar giok?"
Tukang potong tertawa. Beberapa orang yang belum pergi ikut tertawa.
Bayu memasukkan ponsel ke saku. "Karena yang kamu potong rantai motor."
"Cie. Baru kaya lima menit, jawabannya sudah mahal."
Hendra menepuk bahunya, lalu menurunkan suara. "Serius, Yu. Koen benar-benar bisa baca batu?"
"Sedikit."
"Sedikit apanya? Dua batu, dua-duanya jadi!"
"Aku masih belajar."
Hendra menatapnya, ingin bertanya lebih jauh, tetapi memilih tidak memaksa. Itulah sebabnya Bayu selalu mempercayainya. Hendra banyak bicara, namun tahu kapan harus menjaga batas.
"Kalau begitu pasar ini terlalu kecil," katanya. "Koen pernah dengar Martapura? Kalimantan Selatan. Pasarnya besar, pedagang datang dari mana-mana, dan bahan mentah masuk terus. Kalau Surabaya kolam, Martapura itu lautnya."
Martapura.
Bayu menyimpan nama itu bersama kartu Intan.
Sebelum meninggalkan kios, ia membuka aplikasi bank dan mentransfer lima juta rupiah kepada Sinta.
Pesannya hanya satu baris.
Pakai untuk kuliah. Mas baik-baik saja.
Saldo tersisa Rp45 juta.
Hendra mengintip dari samping. "Kirim ke Sinta dulu?"
"Dia menunggu."
Hendra tidak bercanda kali ini. Ia mengangguk dan merangkul bahu Bayu saat mereka berjalan keluar dari pasar.
Bayu pulang membawa kartu nama pewaris keluarga Wibowo di saku, uang pertama yang mengubah hidup di ponsel, dan tujuan baru bernama Martapura di kepalanya.
Lima puluh juta rupiah terasa sangat banyak.
Namun Bayu tahu, itu baru potongan pertama.