NovelToon NovelToon
SISTEM DUNIA INI AKAN KURETAS

SISTEM DUNIA INI AKAN KURETAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:293
Nilai: 5
Nama Author: YANDRI HS

Di dunia di mana para penyihir saling pamer ledakan dan mantra panjang, Kaelen Vance mantan pakar cybersecurity yang bereinkarnasi menjadi putra bangsawan miskin memilih menjadi anomali yang tak terlihat. Melihat sihir kuno tak lebih dari sistem jaringan yang penuh celah keamanan, Kael dengan sengaja memasukkan "kode rusak" pada ujian masuk Akademi Sihir. Tujuannya satu: dibuang ke Kelas F, sebuah gedung tua dengan sistem keamanan magis kedaluwarsa yang menjadi titik buta sempurna untuk meretas arsip kerajaan.
Publik mencapnya sebagai "Sampah Akademi". Mereka tidak tahu bahwa Kael tidak butuh merapal mantra; ia menyimpan struktur sihir di otaknya secara permanen layaknya NVRAM, dan menggunakan cincinnya sebagai router untuk meretas dan membelokkan serangan musuh di udara. Kael tidak butuh validasi atau menjadi pahlawan—ia menghancurkan musuhnya secara diam-diam dari balik layar.
Namun,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YANDRI HS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 12: crystal bacon

Malam penentuan itu tiba dengan atmosfer yang jauh lebih pekat dan menekan ketimbang hari-hari sebelumnya. Langit di atas Akademi Sihir Aethelgard diselimuti oleh awan hitam legam tanpa bintang, seolah-olah alam semesta pun ikut menahan napas menyaksikan konfrontasi senyap yang akan segera pecah di dalam tembok-tembok batu kuno tersebut. Di puncak Menara Utama, struktur raksasa yang dikenal sebagai *Crystal Beacon*—sebuah menara pemancar gelombang sihir purba yang menjulang tinggi menembus awan—mulai berdengung rendah. Suara getaran frekuensi tingginya merambat melalui batu-batu fondasi, menciptakan sensasi ngilu di telinga setiap orang yang berada di kompleks akademi.

Di dalam ruang kendali utama menara, Grand Inquisitor Valen berdiri tegak di depan konsol kristal pemancar. Jubah abu-abunya berkibar diterpa angin malam yang menderu kencang dari jendela terbuka. Di belakangnya, Master Therion berdiri dengan tangan terkepal erat, mata lelaki tua itu menyala oleh amarah yang menggebu-gebu dan hasrat balas dendam yang membara. Para *Inquisitor* tingkat tinggi lainnya, berjumlah belasan orang, mengelilingi perimeter ruangan sambil merapalkan mantra konsentrasi, mengalirkan cadangan *mana* mentah mereka secara paralel ke dalam inti *Crystal Beacon*.

"Konsentrasi aliran energi sudah mencapai sembilan puluh persen!" seru salah seorang *Inquisitor* pengawas dengan suara bergetar di tengah deru angin. "Struktur pemancar mulai mengalami tekanan termal! Jika kita tidak segera melepaskan pulsanya, kristal utama bisa retak!"

Valen menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah pilar kristal raksasa di tengah ruangan yang kini berpendar dalam warna ungu menyilaukan. "Tahan sebentar lagi," perintah Valen dengan suara parau namun mutlak. "Entitas di balik penyusupan ini menggunakan protokol enkripsi tingkat tinggi yang tidak kasatmata. Kita tidak bisa sekadar mengetuk pintunya; kita harus mendobrak gerbang digitalnya dengan gelombang kejut penuh dari *Crystal Beacon*. Begitu ia membuka celah untuk menangkis pulsa ini, sensor pelacak kita akan langsung mengunci koordinat fisik terminal asalnya."

"Bakar habis bajingan itu!" geram Therion penuh kebencian. "Tunjukkan pada mereka apa akibatnya mempermainkan otoritas Dewan Agung!"

Di menara utama, persiapan eksekusi berada di ambang batas maksimum. Namun, jauh di bawah tanah, di dalam ruangan Kelas F yang kumuh dan terisolasi, situasinya bagaikan cerminan dunia lain yang tenang dan terukur.

Kaelen Vance berdiri di tengah kamarnya yang sempit. Tidak ada lilin atau lampu magis yang menyala. Satu-satunya sumber cahaya di ruangan itu berasal dari pendaran biru terang yang memancar dari cincin perak di jari telunjuk kanannya. Garis-garis data digital melayang di udara di sekelilingnya, membentuk peta visual tiga dimensi dari seluruh topologi jaringan akademi.

Melalui persepsi analitisnya, Kael bisa melihat gelombang energi ungu raksasa yang sedang dihimpun oleh para *Inquisitor* di puncak menara. Bagi orang awam, itu adalah ancaman pemusnah yang mengerikan. Bagi Kael, itu hanyalah sebuah *ping request* berkapasitas masif yang dikirimkan secara serampangan—sebuah upaya bodoh untuk membanjiri saluran komunikasi (*buffer overflow*) demi memancing respons dari sistem.

"Mereka berniat menggunakan kekuatan mentah untuk memaksa gerbang terbuka," gumam Kael datar. Suaranya terdengar sangat tenang, nyaris seperti seorang ilmuwan yang mengamati eksperimen tikus putih di dalam lab. "Tindakan yang sangat boros energi, tidak sabaran, dan tentu saja... sangat tidak efisien."

Pintu kamar berderit pelan, dan Elara Vane melangkah masuk dengan cepat. Wajahnya tampak pucat, dan napasnya sedikit tersengal. Ia baru saja kembali dari koridor utama setelah melihat pergerakan para penjaga yang berhamburan menuju menara.

"Kael, seluruh akademi gemetar!" ucap Elara cepat, suaranya mengandung nada cemas yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. "Para *Inquisitor* benar-benar menyalakan *Crystal Beacon*. Getaran energinya bahkan terasa hingga ke lantai dasar perpustakaan lama. Mereka memancarkan gelombang sinyal pemaksa ke seluruh jaringan internal. Kalau sistemmu merespons secara otomatis, mereka akan langsung melacak posisi kamar ini!"

Kael menoleh perlahan menatap Elara. Wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda kepanikan sedikit pun. "Sistem tidak akan merespons secara otomatis, Elara. Karena aku telah menonaktifkan protokol respons otomatis tersebut sejak tiga jam yang lalu."

Alis Elara bertaut dalam. "Lalu... apa yang akan kau lakukan? Kau tidak mungkin membiarkan gelombang *Crystal Beacon* itu menghantam inti server kita begitu saja, kan? Itu bisa merusak memori pusat!"

"Aku tidak akan membiarkannya menghantam server," jawab Kael dingin. Ia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan cincin peraknya lurus ke depan. "Sebaliknya, aku akan menyambut gelombang itu. Kita akan melakukan apa yang dalam dunia jaringan disebut sebagai *Handshake Spoofing*."

Sebelum Elara sempat meminta penjelasan lebih lanjut, suara deru angin di luar mendadak berubah menjadi dengungan sonik yang sangat memekakkan telinga.

*BOOM!*

Sebuah denyutan gelombang kejut magis berfrekuensi tinggi menghantam seluruh bangunan akademi secara serentak. Di puncak menara, *Crystal Beacon* melepaskan seluruh energi ungunya ke dalam jaringan kabel magis, merambat dengan kecepatan cahaya ke setiap terminal, koridor, dan ruang bawah tanah di Aethelgard. Gelombang itu dirancang untuk memindai, memaksa, dan membakar segala bentuk enkripsi yang menghalanginya.

Di kamar Kelas F, udara mendadak terasa berat. Buku-buku tua di rak bergetar hebat, dan debu-debu beterbangan liar.

Kael menutup matanya sejenak. Kesadarannya menyelam jauh ke dalam jalur kabel utama tempat gelombang ungu itu datang menyerbu bagaikan tsunami data. Alih-alih memasang perisai fisik untuk menahan hantaman tersebut—yang pasti akan memicu pelacakan sinyal balik—Kael justru membuka lebar-lebar gerbang penerima data di cincin peraknya.

*Menyerap paket data masuk...*

*Memproses otorisasi palsu...*

"Sekarang," bisik Kael pelan.

Jari telunjuk Kael mengetuk udara kosong di depannya. Cincin peraknya memancarkan kilatan cahaya biru yang sangat menyilaukan, memotong gelombang ungu dari *Crystal Beacon* tepat di tengah jalurnya, lalu memantulkannya kembali ke sumbernya dengan alamat IP digital yang dipalsukan secara total.

Jauh di puncak Menara Utama, Grand Inquisitor Valen dan para pengikutnya merasakan konsentrasi mereka mendadak terhenti. Pilar kristal utama di hadapan mereka berderak keras, memancarkan percikan api magis ke segala arah.

"Ada respons!" teriak salah seorang *Inquisitor* dengan mata terbelalak. "Sinyal balik dari entitas tak dikenal! Kita berhasil memanggilnya!"

Wajah Therion berseri-seri penuh kemenangan. "Cepat! Lacak koordinat asalnya! Jangan biarkan ia lolos!"

Valen segera memutar roda konsol kristal, mengerahkan seluruh sensor pelacak menara untuk menangkap balik sinyal yang baru saja masuk. Layar proyeksi di hadapan mereka berpendar terang, menampilkan garis koordinat yang menembus lorong-lorong bawah tanah, mengarah lurus... ke sebuah titik di sayap selatan akademi.

"Dapat!" seru Valen dengan napas memburu. "Titik asalnya berada di sayap selatan! Blokir seluruh akses keluar di sana! Bawa pasukan golem sekarang juga!"

Namun, tepat sebelum layar proyeksi itu menampilkan detail gambar ruangan yang dituju, garis koordinat tersebut mendadak berubah warna dari biru menjadi merah darah. Tulisan besar berkedip-kedip di atas layar konsol utama, memuat pesan tunggal yang ditulis dalam baris kode biner murni:

*ACCESS DENIED. YOU HAVE REACHED THE END OF THE LINE.*

Seketika itu juga, seluruh pilar kristal di ruang kendali menara utama meledak bersamaan, memuntahkan kepulan asap hitam pekat dan memadamkan seluruh cahaya di ruangan tersebut dalam kegelapan total.

Di ruang kendali yang kini gelap gulita, Valen terhuyung mundur, menabrak dinding batu di belakangnya dengan napas terengah-engah. Layar konsol hancur berkeping-keping, meninggalkan bau hangus ozon yang tajam.

"Apa... apa yang terjadi?!" cicit Therion histeris di dalam kegelapan, meraba-raba dinding dengan tangan gemetar. "Di mana koordinatnya?!"

Valen menatap layar konsol yang kini telah mati total. Wajah tua Inquisitor itu pucat pasi, dipenuhi oleh keringat dingin yang mengucur deras. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: mereka tidak sedang memancing seekor tikus keluar dari sarangnya. Mereka baru saja mengetuk pintu kandang naga, dan naga itu baru saja meniupkan api ke arah wajah mereka.

"Kita... kita terjebak," bisik Valen dengan suara gemetar, menyadari bahwa seluruh sistem pertahanan akademi kini sepenuhnya telah menutup rapat akses mereka untuk selamanya.

Kembali ke kamar sempit di Kelas F, debu-debu yang tadinya beterbangan kini perlahan turun kembali ke lantai. Suara dengungan sonik dari *Crystal Beacon* telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh kesunyian malam yang kembali normal.

Kaelen Vance menarik napas perlahan, menurunkan tangan kanannya. Cincin perak di jarinya meredup, kembali ke pendaran birunya yang tenang.

Elara Vane, yang berdiri terpaku di sudut ruangan menyaksikan seluruh proses manipulasi digital tersebut dari jarak dekat, menelan ludah dengan susah payah. Kakinya terasa lemas, namun matanya memancarkan rasa takjub yang teramat sangat.

"Mereka melacak balik sinyalmu," bisik Elara, suaranya nyaris tak terdengar. "Aku melihat sensor menara mengunci koordinat... tapi kau membalikannya pada detik terakhir. Apa yang kau kirimkan ke konsol mereka, Kael?"

"Hanya sebuah pesan perpisahan," jawab Kael datar, berjalan kembali ke meja kayunya dan duduk dengan tenang. "Aku mengirimkan seluruh log kesalahan sistem dan membuat konsol mereka mengalami *kernel panic*. Mereka tidak akan bisa menyalakan *Crystal Beacon* itu lagi untuk beberapa minggu ke depan."

Elara melangkah mendekati meja Kael, menatap pemuda itu dengan pandangan yang menyiratkan bahwa batas antara manusia dan dewa perlahan mulai kabur di matanya. "Kau baru saja melumpuhkan para *Inquisitor* kerajaan dan memutus seluruh otoritas Dewan Agung tanpa meninggalkan satu pun goresan fisik. Akademi ini... sepenuhnya ada di dalam genggaman tanganmu sekarang."

"Kekuasaan bukanlah tujuan akhir," balas Kael dingin, jari-jarinya kembali mengetuk permukaan meja dengan ritme teratur yang menenangkan. *Tap. Tap. Tap.* "Ini baru permulaan. Sistem utama akademi sudah kita kuasai. Sekarang, saatnya kita memperluas koneksi ke dunia luar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!