NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:735
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Sang Pewaris Kedua

Jika Arsen mewarisi kecerdasan dan ketenangan Amara, maka Raka mewarisi sisi paling berbahaya dari dirinya. Raka tidak banyak bicara. Namun sekali marah, bahkan para petinggi perusahaan memilih diam.

Ia bekerja di bidang hukum internasional dan diplomasi bisnis keluarga. Wajahnya tenang, sopan, dan sangat profesional.

Tetapi di balik jas rapinya, ia adalah orang yang mampu menghancurkan lawan hanya dengan satu dokumen.

Banyak orang takut pada Arsen. Namun mereka menghormati Raka dengan cara berbeda. Karena Raka tidak pernah mengancam. Ia hanya memastikan hidup lawannya perlahan runtuh.

Amara memahami putra keduanya lebih dari siapa pun. Raka tampak dingin di luar. Namun sebenarnya ia paling rapuh.

Itulah sebabnya Amara diam-diam selalu memperhatikan siapa saja perempuan yang mendekati putranya.

Dan berbeda dengan Arsen. Raka sama sekali tidak tertarik menikah.

“Pernikahan itu melelahkan,” katanya suatu malam sambil membaca dokumen.

Amara menaikkan alis.

“Kau bicara seperti duda lima puluh tahun.”

Raka tertawa kecil.

“Aku serius.”

“Karena melihat pernikahanku gagal?”

Raka diam, karena jawaban itu terlalu jelas. Namun Amara tahu, ada alasan lain yang tidak pernah Raka ucapkan. Sejak kecil, Raka memang berbeda. Ia adalah anak yang paling sering membuat Amara takut kehilangan.

Ketika Raka berusia sembilan bulan, sebuah wabah diare menyerang daerah tempat mereka tinggal. Banyak bayi dan balita jatuh sakit dalam waktu yang hampir bersamaan.

Amara tahu keadaan itu berbahaya. Ia tidak pernah menganggap sakit Raka sebagai sesuatu yang biasa. Namun saat itu, mereka hidup dengan keterbatasan. Fasilitas kesehatan sulit dijangkau, tenaga medis tidak selalu tersedia, dan Amara tidak memiliki cukup uang untuk membawa Raka ke rumah sakit di kota.

Hari demi hari, tubuh kecil Raka semakin lemah. Ia terus mengalami diare dan kehilangan banyak cairan. Amara hanya memiliki zinc dan oralit sebagai pertolongan yang tersedia saat itu. Sedikit demi sedikit, ia memberikan cairan kepada putranya sambil berharap tubuh kecil itu masih mampu bertahan.

Di sekeliling mereka, kabar duka terus datang. Bayi dan balita lain yang terkena wabah mulai meninggal sebelum sempat mendapatkan pertolongan yang memadai. Setiap kabar membuat ketakutan Amara semakin besar.

Namun ia tidak menyerah.

Ia menggendong Raka sepanjang malam. Tangisnya tidak pernah benar-benar berhenti. Ia terus memandangi wajah putranya yang pucat sambil berbisik,

“Bertahanlah, Nak. Ibu akan mencari cara.”

Saat itu Reza sedang pergi ke kampung halaman orang tuanya tanpa memberi kabar. Amara tidak tahu kapan ia akan pulang. Namun ia juga tidak bisa menunggu.

Kakak Amara ketika pulang dari suatu kegiatan selama satu minggu itu, kaget melihat kondisi Raka yang semakin melemah. Akhirnya mereka mengambil keputusan untuk membawa bayi itu ke rumah sakit di kota.

“Kita harus pergi sekarang,” kata kakaknya tegas.

“Tapi aku tidak punya uang,” jawab Amara dengan suara bergetar.

“Urusan uang nanti. Sekarang yang penting Raka selamat.”

Tanpa menunggu Reza pulang, Amara dan kakaknya membawa Raka untuk mendapatkan pertolongan. Sambil mencari bantuan keuangan.

Ketika tiba di instalasi gawat darurat, Amara hampir tidak mampu berdiri. Namun malam itu, keberuntungan masih berpihak pada mereka. Dua teman laki-laki Amara sedang bertugas. Begitu melihat Raka yang lemah dalam pelukannya, keduanya langsung mengambil tindakan.

“Amara, serahkan Raka pada kami,” kata salah satu dari mereka.

Amara memeluk putranya lebih erat sebelum akhirnya menyerahkannya dengan tangan gemetar.

“Tolong selamatkan anakku.”

Mereka tidak banyak bertanya. Raka segera dibawa masuk untuk mendapatkan penanganan.

Amara hanya bisa menunggu di luar bersama kakaknya. Ia menangis dalam diam sambil berharap anaknya mampu bertahan.

Di tengah wabah yang telah merenggut begitu banyak bayi dan balita, Raka menjadi satu-satunya bayi berusia sembilan bulan yang berhasil bertahan sampai akhirnya mendapatkan pertolongan.

Bertahun-tahun kemudian, Raka tumbuh menjadi pria yang tenang, cerdas, dan sulit dikalahkan. Tidak ada yang tahu bahwa pria yang kini mampu menghancurkan lawannya hanya melalui satu dokumen itu pernah begitu kecil, lemah, dan hampir hilang dari pelukan ibunya.

Namun Amara tidak pernah melupakan malam itu. Karena sejak saat itu, ia berjanji dalam hati bahwa selama ia masih hidup, ia akan berjuang agar anak-anaknya tidak pernah menghadapi kesulitan sendirian.

Namun semuanya berubah ketika Amara bertemu seorang wanita bernama Hana Pradipta.

Hana adalah jaksa muda di unit kejahatan finansial internasional. Ia cantik, tegas, dan sangat cerdas.

Yang membuat Amara tertarik bukan penampilannya. Melainkan keberaniannya. Karena wanita itu pernah memarahi Raka di depan banyak orang.

Hari itu sebuah sidang bisnis internasional berlangsung panas. Beberapa perusahaan besar sedang diselidiki terkait pencucian uang. Raka datang sebagai penasihat hukum utama. Semua orang di ruangan itu tahu siapa dirinya. Dan kebanyakan memilih berhati-hati.

Namun Hana berbeda.

“Tim Anda terlambat menyerahkan dokumen tambahan,” katanya dingin.

Raka mengangkat mata perlahan.

“Dokumen sudah kami kirim.”

“Dikirim terlambat.”

“Masih sesuai batas waktu.”

“Secara teknis, iya. Secara etika, tidak.”

Ruangan langsung hening. Tak ada yang pernah bicara setajam itu pada Raka. Bahkan para direktur tua mulai berkeringat.

Namun yang mengejutkan, Raka malah tersenyum kecil. Dan dari sudut ruangan, Amara yang diam-diam memperhatikan hanya menyesap tehnya tenang.

Ia menyukai wanita itu.

Beberapa minggu kemudian, Amara sengaja mengundang Hana makan malam. Hana datang dengan sedikit gugup. Namun rasa gugupnya berubah bingung ketika melihat Amara sedang menyiram tanaman sendiri di taman belakang rumah.

“Aku tidak menyangka Anda suka berkebun,” ujar Hana hati-hati.

Amara tersenyum kecil.

“Aku juga manusia.”

Jawaban itu membuat Hana tertawa kecil. Dan untuk pertama kalinya, Amara merasa rumahnya kembali hangat.

Malam itu mereka banyak berbicara. Tentang hukum, dunia dan keluarga.

Hana akhirnya memberanikan diri bertanya,

“Kenapa Anda mengundang saya?”

Amara menjawab santai sambil menuang teh.

“Aku sedang menilai calon menantu.”

Hana hampir tersedak.

“Ibu— maksud saya Madam—”

“Tenang saja,” potong Amara tenang. “Aku tidak memaksamu menikah.”

Wajah Hana merah total. Dan dari pintu ruang makan, Raka diam-diam memperhatikan sambil memijat pelipis.

“Ibu serius sekali…”

Amara melirik putranya datar.

“Kau sudah tiga puluh tahun.”

“Lalu?”

“Aku ingin cucu lagi.”

Raka langsung menyerah.

Berbeda dengan Arsen yang perlahan jatuh cinta, hubungan Raka dan Hana justru dipenuhi perdebatan. Mereka sama-sama keras kepala, sama-sama pintar dan sama-sama sulit mengalah. Namun anehnya, mereka selalu kembali satu sama lain.

Suatu malam setelah bertengkar besar soal pekerjaan, Hana berkata kesal,

“Kamu selalu ingin menang!”

Raka menatapnya tenang.

“Karena aku tidak suka kehilangan.”

“Manusia bukan kasus hukum, Raka!”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Raka berkata pelan,

“Itulah kenapa aku takut kehilanganmu.”

Hana langsung diam. Dan sejak malam itu, tidak ada lagi jalan mundur.

Ketika Raka akhirnya melamar Hana, seluruh keluarga bahkan tidak percaya. Terutama Arsen.

“Aku kira kau akan menikahi pekerjaanmu.”

Raka menatap kakaknya datar.

“Aku juga kira begitu.”

Amara yang duduk di sofa hanya tersenyum tipis sambil menggendong cucu pertamanya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah besar itu terasa benar-benar hidup.

Pernikahan Raka dan Hana berlangsung elegan namun jauh lebih hangat dibanding pernikahan Arsen. Tidak terlalu banyak politik dan tidak terlalu banyak pengusaha asing.

Hanya keluarga dan orang-orang penting yang benar-benar dekat. Namun tetap saja, keamanan acara itu dijaga setingkat kepala negara. Karena semua orang tahu siapa ibu pengantin pria.

Saat Hana menghampiri Amara setelah ikrar suci selesai, wanita muda itu tampak gugup.

“Aku belum pernah menjadi bagian keluarga sebesar ini,” katanya pelan.

Amara menggenggam tangannya lembut.

“Keluarga ini tidak sempurna.”

Tatapan wanita itu sedikit melembut.

“Tapi kami saling melindungi.”

Hana tersenyum. Dan saat itu Amara sadar, meski hidupnya dipenuhi darah, rahasia, dan kekuasaan, pada akhirnya yang paling ia inginkan tetaplah sederhana.

Keluarga yang pulang ke rumah dengan selamat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!