NovelToon NovelToon
Terbelenggu Dendam

Terbelenggu Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: syitahfadilah

Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

Brak!

Pintu besi itu akhirnya terbuka.

Indri berdiri mematung di ambang gerbang lembaga pemasyarakatan.

Tangannya menggenggam tas lusuh berisi pakaian lama dan beberapa barang pribadi miliknya yang dikembalikan oleh petugas.

Sudah bertahun-tahun lamanya ia membayangkan hari ini, hari ketika dirinya kembali menghirup udara bebas. Namun, entah mengapa langkahnya terasa begitu berat.

"Silakan, kamu sudah bebas. Dan ingat, jangan pernah kembali lagi kesini," ujar petugas dengan nada datar, namun penuh peringatan.

Indri mengangguk pelan.

"Terima kasih." Ia melangkah keluar.

Sinar matahari siang menyilaukan matanya hingga ia harus menyipitkan kedua kelopak matanya. Angin berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambutnya hingga menutupi sebagian wajahnya.

"Akhirnya aku bebas juga..." gumamnya lirih.

Akan tetapi, kata itu justru terasa asing.

Dibalik kebebasan yang baru saja diraihnya, tersimpan sebuah rasa takut yang jauh lebih besar. Penjara memang telah merenggut hidupnya selama bertahun-tahun, akan tetapi rasa bersalah tetap mengurung hatinya.

Matanya menatap jalan raya di depan. Sebuah mobil hitam berhenti tak jauh dari gerbang.

Pintu belakang terbuka.

Seorang pria paruh baya turun perlahan dan melangkah sedikit tertatih menghampirinya. Tubuhnya tampak lebih kurus dibandingkan saat terakhir kali Indri melihatnya.

"Papa..." Suara Indri terdengar bergetar.

Haris tersenyum haru dengan mata berkaca-kaca menatap putrinya. "Indri...."

Tanpa menunggu lagi, pria paruh baya itu memeluk putri bungsunya dengan erat. Meluapkan rasa rindu yang membuncah selama bertahun-tahun lamanya. "Selamat ya, Nak. Akhirnya kamu bebas juga."

Air mata yang selama ini ditahan Indri akhirnya luruh membasahi pipi. "Maafkan aku, Pa...."

Haris mengusap punggung putrinya. "Sudah, Nak. Tidak ada lagi yang perlu dimaafkan."

Kalimat sederhana itu justru membuat tangis Indri semakin pecah.

Perjalanan pulang dipenuhi keheningan, namun terasa haru. Indri menatap keluar jendela, memperhatikan setiap yang dilaluinya. Kota telah banyak berubah. Gedung-gedung baru berdiri menjulang megah. Jalan yang dulu sering ia lewati kini semakin padat dipenuhi kendaraan.

Sedangkan dirinya. Seolah tertinggal bertahun-tahun lamanya dalam jeruji besi.

"Papa sudah tua." Haris memecah keheningan.

Indri menoleh menatap papanya.

"Kesehatan Papa juga semakin menurun," lanjut Haris.

Indri langsung menggenggam tangan sang papa. "Papa pasti sembuh," ujarnya penuh harap.

Haris hanya tersenyum tipis.

"Kalau suatu saat Papa tidak ada..."

"Jangan bicara begitu, Pa," potong Indri cepat. Ia baru bertemu papanya lagi setelah sekian lama, dan ia tidak siap bahkan hanya dengan membayangkan bahwa papanya sedang dalam keadaan sekarat.

"Papa hanya ingin kamu memperbaiki semua yang pernah kamu rusak," kata Haris. Kalimatnya tegas dan terdengar menyindir, tapi itu ia katakan demi kebaikan putrinya.

Indri menunduk dalam. Dadanya kembali sesak. "Aku akan berusaha memperbaiki semuanya, Pa," ujarnya lirih.

Tak berselang lama kemudian, mobil memasuki halaman rumah keluarga Haris. Rumah itu masih sama. Halaman luas, pohon mangga di samping garasi.

Dan taman kecil yang dipenuhi berbagai macam bunga.

Pintu rumah terbuka.

Seorang wanita cantik berdiri di sana.

Cinta... Kakak tirinya tersenyum lembut menatapnya.

"Selamat datang kembali di rumah, Indri."

Tak ada pelukan hangat. Namun juga tak ada kebencian. Justru sikap tenang Cinta membuat Indri semakin merasa bersalah dan malu.

"Maafkan aku," ujar Indri lirih.

Cinta menggeleng pelan.

"Hari ini bukan untuk membicarakan masa lalu. Masuklah."

Belum sempat Indri menjawab, suara langkah kaki kecil terdengar dari dalam rumah.

Seorang gadis kecil berlari keluar.

"Mama!" Anak perempuan itu berhenti ketika melihat Indri.

Matanya membulat penasaran.

"Ma, Tante ini siapa?" Ia menatap Indri, lalu mendongak menatap mamanya.

Cinta tersenyum.

"Ini Tante Indri. Adiknya Mama."

Gadis kecil itu mendekat Indri.

"Halo, Tante."

Indri menatap wajah mungil itu.

Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Mata, hidung, senyumnya... Semuanya sangat mirip dengan seseorang.

Laura. Nama itu kembali menghantam ingatannya.

Tanpa sadar, air mata Indri kembali jatuh.

Gadis kecil itu terlihat bingung.

"Tante kenapa menangis?"

Indri berjongkok. Dengan tangan gemetar ia mengusap kepala anak perempuan itu. "Tidak apa-apa. Namamu pasti Laura, ya?"

Gadis kecil itu mengangguk.

Indri memejamkan mata. Laura, nama yang menjadi pengingat bahwa dosa masa lalu tak akan pernah benar-benar hilang.

"Tante..." Laura kecil menarik ujung baju Indri. "Ayo masuk," ajaknya.

Indri mengangguk. Saat memasuki ruang tamu, pandangannya bertemu dengan seorang pria yang baru keluar dari ruang kerja.

Vano yang merupakan suami Cinta, pria itu berhenti melangkah. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan.

Hanya keheningan panjang yang dipenuhi rasa bersalah.

Vano akhirnya mengangguk pelan dan berkata. "Selamat datang."

"Terima kasih." Hanya dua kalimat. Namun keduanya sama-sama tahu bahwa luka masa lalu terlalu besar untuk dihapus oleh kata-kata.

Malam harinya.

Seluruh keluarga berkumpul di meja makan. Haris memandang satu per satu wajah mereka.

"Papa ingin mengatakan sesuatu," kata Haris.

Semuanya langsung terdiam. Menatap Haris, menunggu apa yang ingin dikatakan oleh pria paruh baya itu.

"Mulai minggu depan, Indri akan mulai bekerja di perusahaan."

Indri terkejut. "Pa?"

"Kamu harus belajar mengambil alih perusahaan," ujar Haris tanpa ingin dibantah.

Cinta mengangguk setuju. "Aku sudah sepakat dengan papa, dan kami sudah membicarakan ini sebelum kebebasan kamu. Aku lebih memilih fokus mengurus suami dan anak-anakku," ujarnya.

Haris memotong pelan.

"Papa percaya kamu sudah berubah." Ia menatap Indri.

Indri menundukkan kepala.

"Terima kasih atas kepercayaannya."

Di balik meja makan yang tampak hangat itu, tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa sepasang mata sedang mengawasi rumah mereka dari kejauhan.

Di dalam sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang jalan.

Seorang pria mematikan layar tablet yang menampilkan foto Indri keluar dari penjara siang tadi.

Tatapannya dingin. Tidak sedikit pun tersisa kelembutan. "Dia sudah bebas," ujarnya dalam hati.

Seorang pria di kursi depan bertanya pelan. "Pak Evan, apa kita akan mulai?"

Evan memandang rumah keluarga Haris. Lampu-lampu rumah itu menyala hangat. Terdengar tawa anak kecil dari dalam sana. Seketika wajah adiknya kembali terlintas di benaknya.

Laura. Perempuan yang meninggal dengan membawa luka yang tak pernah sempat sembuh.

Semua berawal dari satu orang.

Yaitu Indri.

Evan mengepalkan tangannya.

"Belum. Biarkan dia menikmati kebebasannya dulu." Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Lalu tersenyum tipis. "Sebab mulai besok, dia akan tahu bahwa keluar dari penjara bukan berarti bebas sepenuhnya. Karena penjara yang sebenarnya, adalah hidup bersama rasa takut."

Mobil hitam itu perlahan meninggalkan tempat.

Sementara di dalam rumah, Indri berdiri di balkon kamarnya menatap langit malam.

Ia mengira seluruh hukuman telah berakhir saat gerbang penjara terbuka siang tadi.

Tanpa ia sadari... Hukuman yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.

1
Eva Karmita
Evan kah...??
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
Nurlinda: 💃💃💃🕺🕺🕺
total 1 replies
ken darsihk
Rio berbalas pesan dngn siapa ya ??
Eva Karmita
kasih vote untuk Evan .. siap tahu Mak otor berbaik hati buat Evan hidup lagi 😩🤣🤣

sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁
Nurlinda: 😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
ken darsihk
secangkir kopi meluncur thor 😍
Nurlinda: Mamaciii 😘🙏🙏
total 1 replies
ken darsihk
Lanjuttt thor
Aditya hp/ bunda Lia
hamilkan .... bapaknya udah kamu bunbun
Eva Karmita
Indri kamu akan menyesal karena sudah membunuh calon ayah anakmu ...
ken darsihk
Fix Indri hamil anak nya Evan
ken darsihk
Nekat juga Indri kenapa sampai sekeji itu , kenapa juga Indri tidak belajar dari pengalaman yng sudah 2
Eva Karmita
berharap Evan tidak meninggal 😭💔... Indri kenapa kamu kejam sekali,, sekali lagi kamu membuat kesalahan menghilangkan nyawa orang seperti itu 😭...,, berharap semoga saja di rahim mu tumbuh benih Evan waktu itu biar kamu makin merasa bersalah dengan calon anakmu...🥺😔
ken darsihk
Semoga Indri mengurungkan niat nya itu
ken darsihk
Janganlah mengulang kesalahan yng sama Indri , fikir kan dampak nya untuk keluarga mu
Eva Karmita
sudah aku kasih vote ya Mak 🥰🥰
Nurlinda: tengkyu 😘🙏🙏
total 1 replies
Eva Karmita
apa rencana Indri akan berjalan lancar atau Indri berubah haluan.... astaghfirullah semoga Indri tidak berbuat yg membahayakan hidupnya sendiri,, sabar Indri jgn mengambil keputusan yang salah .. ingat masih ada keluarga mu yg bisa di minta tolong atau tidak lebih baik kamu pergi yg jauh saja di mana tidak ada orang yang mengenali mu... biarkan Evan hidup dlm penyesalan seumur hidup nya
Eva Karmita
Evan kalau cemburu ya cemburu aja ngak usah bawa" masa lalu yang pahit ... kasihan Indri selalu jadi bahan hinaan mu van 🥺 ... kalau memang kamu benci yg tinggal kamu jauhi untuk apa kamu dekati hanya menambah luka baru 💔😔 , ingat Van jangan terlalu benci nanti kamu malah sakit hati melihat Indri menjauh
ken darsihk
Indri sudah menderita dan terluka Evan , dan kamu selalu datang menabur kan garam di luka itu 😠😠😠
Aditya hp/ bunda Lia
Tuh denger kamu Evan ... jangan sibuk ajah ngurusin dendam
ken darsihk
He he cemburu kata kan saja bos 😂😂😂
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya cembukor tuh mas Evan 😂
Eva Karmita
mulai ada percikan api kecil di hati Evan 🤣🤣🤣
Nurlinda: 🤫🤫🤫🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!