NovelToon NovelToon
Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Terjebak Nikah Kilat dengan Kapten Dingin yang Diam-diam Memujaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Kapten
Popularitas:187
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

**Demi menyelamatkan pernikahan mewah sang kakak, Kayla dijadikan tumbal keluarga sendiri.**

Diberi obat bius, dijebak masuk ke kamar hotel untuk dijadikan "simpanan" demi melahirkan ahli waris keluarga Chandra—begitulah rencana kakak dan calon iparnya. Tapi takdir salah alamat: nomor kamar tertukar, dan Kayla justru terdampar di suite **Kapten Adrian Gunawan**, pria berwajah dingin yang katanya paling anti disentuh perempuan.

Malam itu mengubah segalanya.

Untuk lepas dari jeratan keluarga yang ingin menjual harga dirinya, Kayla nekat menikah kilat—dan pria yang dijodohkan padanya, entah kebetulan atau takdir, ternyata Adrian yang itu juga.

*"Kalau kau berharap bisa menjebakku dan menuntut tanggung jawab, jangan harap."*
*"Kebetulan sekali. Aku juga tidak mau kau bertanggung jawab,"* balas Kayla dingin.

Semua orang mengira pernikahan ini cuma kontrak tiga tahun yang cepat atau lambat berakhir cerai. Semua orang mengira Kapten Adrian tidak mungkin mencintai dokter IGD berlatar keluarga toko sembako itu.

Sampai orang-orang mulai memergoki sang kapten dingin memapah istrinya dengan sebutan *"sayang"* di setiap kalimat…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 4

Perjodohan sebagai Jalan Keluar

"Kau benar-benar menerima perjodohan dari pasienmu?"

Tiana berdiri di depan lemari kecil kamar dinas Kayla sambil memegang dua gaun. Yang satu biru muda, yang lain berwarna putih gading.

"Dia bukan sekadar pasien." Kayla melipat pakaian jaga dan memasukkannya ke keranjang. "Oma Melly sudah bertahun-tahun berobat di sini. Aku mengenal keluarganya."

"Kau mengenal tekanan darahnya. Itu berbeda dengan mengenal cucunya."

"Aku hanya akan bertemu, bukan langsung menikah."

Tiana menatapnya.

Kayla berhenti melipat pakaian. "Baik. Mungkin aku sedang mempertimbangkan bagian menikahnya."

Tiana menjatuhkan gaun biru ke ranjang. "Aku tahu!"

"Pelankan suaramu."

"Tiga hari lalu kau bilang pernikahan bukan jalan keluar. Sekarang kau mau menikah dengan laki-laki yang bahkan belum pernah kau lihat."

Kayla duduk di tepi ranjang. Sejak Wilson datang ke IGD, dua nomor tak dikenal terus menghubunginya. Satu mengirim foto mobil mewah dengan pesan, `Ini bisa jadi milikmu.` Nomor lain mengirim alamat apartemen.

Semua sudah diblokir. Ancaman di baliknya tetap terasa.

"Wilson punya uang, koneksi, dan terlalu banyak waktu," kata Kayla. "Kalau aku hanya menolak, dia akan menganggap aku sedang menaikkan harga. Kalau aku punya suami, setidaknya ada batas yang bisa dilihat orang seperti dia."

"Aku benci karena cara berpikirmu masuk akal."

"Aku juga."

Tiana duduk di sampingnya. "Kau tidak perlu menikah hanya karena takut. Kita bisa cari pengacara."

"Aku tidak takut menikah. Aku takut kehilangan kendali atas hidupku lagi." Kayla mengambil gaun putih gading dari tangan Tiana. "Kalau laki-laki itu masuk akal, kami bisa membuat aturan. Kalau tidak, aku pulang setelah minum kopi."

"Aturan seperti apa?"

Kayla mulai menghitung dengan jari. "Pekerjaanku tidak boleh diganggu. Penghasilan dan utang masing-masing tetap terpisah. Keluarganya tidak boleh memaksaku berhenti menjadi dokter. Keluargaku juga tidak boleh meminta uang kepadanya."

"Kau sudah menyiapkan perjanjian pranikah di kepala."

"Lebih aman menyiapkan pintu keluar sebelum masuk."

Tiana mengamati wajahnya, lalu meletakkan gaun itu di pangkuan Kayla. "Tambahkan satu aturan lagi. Dia tidak boleh menyentuhmu tanpa izin, meskipun nanti kalian sah menikah."

Jari Kayla berhenti.

"Aku tahu," katanya pelan.

"Aku hanya ingin kau mengatakannya juga kepada dirimu sendiri."

Kayla mengangguk. Kali ini tanpa bercanda.

"Dan kalau dia jelek?"

"Lampu restoran biasanya redup."

Tiana tertawa, lalu memeluk bahunya. "Pakai yang ini. Warnanya membuatmu terlihat seperti perempuan baik-baik yang bisa kabur sebelum tagihan datang."

Di bagian lain Jakarta, Adrian baru keluar dari ruang briefing Angkasa Timur ketika Nico menyerahkan ponselnya.

"Engkong menelepon tiga kali. Ema dua kali. Oma Melly enam kali."

Adrian melepas topi kapten. "Yang terakhir pasti paling berbahaya."

Sean yang berjalan di belakang mereka menyeringai. "Oma cuma mau menyelamatkan masa depan Ko Adrian."

"Masa depanku baik-baik saja."

"Menurut keluarga, laki-laki dua puluh delapan tahun yang lebih sering tidur di hotel daripada pulang tidak baik-baik saja."

Adrian menatapnya.

Sean langsung mengangkat kedua tangan. "Itu kata Ema, bukan aku."

Ponsel kembali bergetar. Kali ini nama Engkong muncul.

Adrian menjawab sambil masuk ke ruang istirahat kru. "Ya, Engkong."

"Makan malam hari Minggu. Vanessa Wijaya akan datang bersama keluarganya."

Tidak ada salam atau pertanyaan tentang penerbangan. Engkong Herman selalu langsung pada tujuan.

"Aku ada jadwal."

"Sudah diperiksa. Kau bebas."

Adrian menahan napas. Keluarganya bahkan memeriksa jadwal terbangnya.

Suara Ema Lanny terdengar dari dekat telepon. "Vanessa cantik, pendidikannya bagus, dan keluarganya sepadan. Apa lagi yang kau cari?"

"Aku tidak mencari siapa pun."

"Kalau begitu biarkan keluarga memilih," jawab Ema.

Adrian memijat pangkal hidung. "Aku tidak akan menikahi Vanessa."

"Karena perempuan di hotel itu?" tanya Ema tajam.

Berita tentang pagi di Grand Regalia rupanya sudah sampai ke rumah utama. Adrian tidak terkejut. Hotel itu bagian dari jaringan bisnis Gunawan; terlalu banyak mata yang melapor kepada Engkong.

"Tidak ada hubungannya dengan siapa pun," katanya. "Aku tidak datang hari Minggu."

Ia menutup telepon sebelum perdebatan berubah menjadi perintah.

Nico meletakkan secangkir kopi di depannya. "Semakin kau menolak, semakin mereka yakin kau menyembunyikan perempuan."

"Aku memang menyembunyikan perempuan. Namanya ketenangan."

Sean tertawa keras.

Seorang staf masuk membawa kotak kue dengan pita emas. Kartu kecil di atasnya bertuliskan nama Amanda dan ajakan makan malam di Grand Regalia.

Adrian bahkan tidak membuka kotaknya.

"Bagikan ke kru. Kartunya buang."

"Amanda sudah mengirim tiga kali minggu ini," kata Nico.

"Blokir nomornya."

Sean duduk di seberang Adrian. "Ko, sebenarnya solusi paling cepat gampang sekali. Cari perempuan yang tidak membuatmu kesal, menikah, lalu semua orang berhenti menjodohkanmu."

"Perempuan yang tidak membuatku kesal belum tentu mau menikah denganku."

Nico dan Sean saling pandang.

Untuk sesaat, bayangan Kayla muncul di kepala Adrian. Perempuan itu berdiri dengan jubah hotel, wajah pucat, lalu mengatakan bahwa ia sama sekali tidak menginginkan tanggung jawab darinya.

Sejak pagi itu, Nico telah mendapatkan salinan rekaman. Kayla memang dibawa ke lantai dua puluh dalam keadaan hampir tidak sadar. Seorang perempuan tua dan seorang perempuan muda meninggalkannya di depan kamar 2001.

Kayla tidak berbohong.

Namun ia juga tidak pernah menghubungi hotel untuk meminta rekaman atau menuntut apa pun.

Ponsel Adrian berdering lagi.

"Oma," jawabnya.

"Besok lusa, jam empat sore," kata Oma Melly tanpa pembukaan. "Oma sudah menemukan perempuan untukmu."

"Aku baru saja menolak makan malam dengan Vanessa."

"Bagus. Oma tidak menyuruhmu menemui Vanessa."

"Aku juga tidak mau menemui perempuan lain."

"Dia dokter IGD. Pintar, cantik, tidak manja, dan pernah menyelamatkan Oma saat tekanan darah Oma turun."

Adrian memutar gelas kopi di tangannya. Dokter IGD.

Entah mengapa, ia kembali teringat pada sorot mata tenang Kayla.

"Namanya siapa?"

Oma Melly tertawa puas. "Datang saja. Kalau Oma beri tahu sekarang, kau akan menyuruh Nico memeriksa seluruh hidupnya."

Nico, yang mendengar namanya disebut, menunjuk dirinya sendiri.

Adrian mengabaikannya. "Satu kali pertemuan. Setelah itu Oma berhenti menjodohkanku."

"Setuju. Pakai kemeja yang bagus. Jangan pasang wajah seperti hendak memecat orang."

Telepon ditutup.

Sean bersiul. "Akhirnya Kapten Adrian mau kencan buta."

"Aku datang supaya Oma berhenti menelepon."

"Tentu."

Dua hari kemudian, seusai jaga sore, Kayla berdiri di depan cermin kamar dinas dengan gaun putih gading pilihan Tiana.

Potongannya sederhana, panjangnya melewati lutut. Tidak berlebihan untuk minum kopi, tetapi cukup rapi untuk bertemu cucu kesayangan Oma Melly.

Tiana memperbaiki ujung rambutnya. "Besok, jam empat. Jangan terlambat."

Di ponsel Kayla, pesan dari Oma Melly muncul pada saat yang sama dengan pesan yang masuk ke ponsel Adrian.

`Besok. Pukul 16.00. Jangan ada yang membatalkan.`

Tak satu pun dari mereka tahu orang yang akan duduk di seberang meja adalah orang terakhir yang ingin mereka temui lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!