Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 008: Kontrak Bunker
Manajer Bonar berhenti tersenyum saat melihat daftar spesifikasi Hendra.
Satu menit sebelumnya, pria itu masih menyambutnya seperti menyambut klien kaya biasa. Jas abu-abunya rapi. Rambutnya disisir licin. Kartu nama CV Karya Graha diletakkan di meja dengan gerakan percaya diri.
Lalu Hendra membuka laptop.
Senyum itu retak.
"Pak Hendra," kata Bonar perlahan, "ini... bukan gudang biasa."
"Saya tidak pernah bilang gudang biasa."
"Pelat baja seratus milimeter di beberapa titik. Beton bertulang berlapis. Pintu baja mekanis tiga puluh sentimeter. Ventilasi dengan katup satu arah. Sumur dalam. Ruang genset terpisah. Panel insulasi penuh. Kaca anti-peluru untuk ruang kontrol." Bonar mengangkat wajah. "Bapak mau bangun fasilitas apa sebenarnya?"
"Gudang pendingin bawah tanah untuk logistik pribadi."
Jawaban Hendra datar.
Terlalu datar untuk ukuran permintaan segila itu.
Di ruang rapat kecil CV Karya Graha, dua insinyur muda yang duduk di samping Bonar saling melirik. Mereka mungkin ingin tertawa, tetapi angka di lembar spesifikasi membuat mereka menahan diri.
Orang yang meminta dinding seperti itu biasanya bukan pedagang biasa.
Kalau bukan pengusaha paranoid, mungkin orang kaya dengan hobi aneh.
Atau orang yang tahu sesuatu.
Bonar mengetuk kertas dengan ujung pulpen. "Kalau alasan Bapak hanya cold-storage, spesifikasi ini berlebihan."
"Saya membayar untuk berlebihan."
"Biayanya akan sangat mahal."
"Bagus. Berarti Anda tidak akan merasa ini proyek kecil."
Bonar terdiam.
Hendra melihat perubahan di mata pria itu.
Kaget.
Curiga.
Lalu hitungan.
Hitungan selalu datang setelah curiga pada orang yang tamak.
"Waktu pengerjaan?" tanya Bonar.
"Secepat mungkin."
"Kami perlu survei struktur tanah. Perlu gambar kerja. Perlu material khusus. Pelat baja setebal itu tidak bisa datang dalam dua hari."
"Berapa lama jika uang bukan masalah?"
Kalimat itu membuat dua insinyur muda kembali saling melirik.
Bonar mencondongkan tubuh. "Untuk tahap galian, struktur utama, dan ruang inti, minimal empat puluh lima hari jika kerja tiga shift. Finishing sistem dan instalasi bisa paralel, tapi tetap butuh waktu."
"Buat tiga shift."
"Tetangga bisa protes."
"Lahan jauh dari permukiman. Akses jalan diperbaiki dulu. Pekerja diberi uang lembur. Material dikirim malam jika perlu."
"Izin?"
"Urus sebagai gudang pendingin bawah tanah dan fasilitas penyimpanan logistik. Tidak ada kata bunker di dokumen."
Bonar menatapnya lama.
Hendra membalas tatapan itu tanpa berkedip.
Ia tahu pria seperti Bonar.
Di kehidupan lalu, terlalu banyak orang berwajah profesional berubah menjadi pencuri ketika suhu turun. Bonar belum mengkhianatinya hari ini. Belum.
Tapi mata itu sudah memberi tahu Hendra satu hal.
Jika suatu hari pintu baja ini sudah berdiri, Manajer Bonar akan ingin tahu apa yang ada di baliknya.
Tidak masalah.
Orang yang akan berkhianat juga bisa dipakai sebelum ia berkhianat.
"Saya ingin survei lahan hari ini," kata Hendra. "Kontrak malam ini. Uang muka masuk setelah kontrak ditandatangani. Bonus kecepatan jika tahap struktur selesai lebih awal. Penalti harian jika terlambat tanpa alasan teknis."
Bonar tertawa kecil. "Bapak menekan dari semua sisi."
"Saya membayar dari semua sisi."
Ruangan itu hening.
Lalu Bonar menutup map spesifikasi.
"Baik. CV Karya Graha bisa ambil proyek ini."
Sore itu, tiga mobil menuju lahan pinggiran timur Bandung.
Mobil off-road Hendra berjalan paling depan. Di belakangnya, mobil Bonar dan mobil surveyor membawa alat ukur, helm proyek, tripod, dan beberapa dokumen awal.
Begitu tiba, para insinyur turun dan mulai bekerja. Mereka mengukur kemiringan tanah, memeriksa bekas gudang tua, menandai titik akses truk, dan menilai kondisi jalur yang harus diperkeras.
Bonar berjalan di samping Hendra sambil memandang lereng belakang.
"Kalau ruang utama ditempatkan di sisi sana, galian bisa lebih terlindung," kata Bonar. "Tanah penutup juga bisa dipakai kembali untuk menyamarkan struktur."
"Saya pikir begitu."
"Ventilasi sebaiknya keluar ke sisi pohon, tapi pipa harus dilindungi. Kalau ini untuk cold-storage, kegagalan ventilasi bisa merusak mesin."
"Buat jalur ganda."
"Biaya naik."
"Naikkan."
Bonar mulai tidak lagi menyembunyikan rasa puasnya.
Klien seperti ini jarang.
Tidak menawar.
Tidak cerewet soal harga.
Hanya meminta cepat, kuat, dan rahasia.
Bonar mungkin merasa mendapatkan tambang uang.
Hendra merasa mendapatkan sekop.
Mereka berdiri di bekas gudang tua saat seorang surveyor menancapkan patok pertama.
TOK.
Kayu kecil masuk ke tanah.
Suara itu tidak sekeras stempel notaris, tetapi bagi Hendra bunyinya sama.
Satu lagi tanda dimulai.
Di bawah patok itu nanti akan ada beton, baja, kabel, pipa, pintu, kamera, dan ribuan barang yang tidak akan diketahui dunia luar.
Ketika orang-orang berebut satu botol air di jalanan, tempat ini harus sudah menyala dari dalam.
Ketika orang-orang mengetuk pintu dengan tangan membeku, pintu ini tidak boleh bergerak satu milimeter pun.
Malamnya, kontrak ditandatangani di Hotel Mahkota, Bandung.
Bonar memilih hotel itu karena dekat dengan kantor rekan notaris dan cukup pantas untuk pertemuan bisnis. Hendra tidak keberatan. Ia hanya membutuhkan meja, dokumen, dan satu malam untuk beristirahat sebelum mengawasi tahap berikutnya.
Di ruang privat restoran hotel, kontrak proyek dibuka halaman demi halaman.
Nama proyek: gudang pendingin bawah tanah.
Lokasi: lahan pinggiran timur Bandung.
Lingkup kerja: galian, struktur beton bertulang, pelat baja, insulasi, ruang genset, ruang kontrol, ventilasi, sistem pintu mekanis, jalur listrik, sumur dalam, drainase, dan pagar perimeter.
Kerahasiaan: ketat.
Uang muka: besar.
Bonus: besar.
Penalti: lebih besar.
Bonar membaca bagian penalti dua kali.
"Pak Hendra benar-benar tidak suka keterlambatan."
"Saya tidak punya waktu untuk keterlambatan."
"Proyek lain bisa kami geser, tapi material tetap perlu antre."
"Saya bayar biaya percepatan."
"Semua tertulis?"
"Semua tertulis."
Bonar akhirnya mengangguk.
Tanda tangan jatuh.
Satu dari Hendra.
Satu dari Bonar.
Satu dari saksi.
Stempel perusahaan menyusul.
Ketika notifikasi bank menunjukkan uang muka proyek masuk ke rekening CV Karya Graha, wajah Bonar berubah lebih hangat dari sebelumnya.
"Senang bekerja sama dengan Bapak," katanya.
"Pastikan saya tetap senang."
Bonar tertawa, menganggap itu candaan.
Hendra tidak tertawa.
Setelah pertemuan selesai, Hendra naik ke kamar hotelnya di lantai yang cukup tinggi. Lorong berkarpet merah tua itu sepi. Lampu dinding menyala kuning. Dari jendela kamar, Bandung tampak seperti hamparan cahaya kecil yang damai.
Ia meletakkan map kontrak di meja.
Cincin tembaga di jarinya memantulkan cahaya lampu.
Proyek bunker resmi berjalan.
Tanah sudah ada.
Kontraktor sudah masuk.
Stok awal sudah tidur di Ruang Penyimpanan.
Langkah berikutnya adalah memperbesar semuanya sebelum siapa pun menyadari dunia sedang menghitung mundur.
Hendra baru saja membuka jas ketika dari lantai atas terdengar bunyi keras.
BUK!
Seperti tubuh menabrak dinding.
Lalu suara laki-laki menahan makian.
Langkah kasar bergerak cepat di atas plafon.
Hendra berhenti.
Beberapa detik kemudian, suara benda berat diseret melintas.
Lalu hening.
Hening yang terlalu dipaksa.
Mata Hendra perlahan menjadi dingin.
Empat tahun bertahan hidup mengajarinya satu hal: suara kacau di malam hari jarang datang sendirian.
Ia mematikan lampu kamar.
Di kegelapan, cincin tembaga di jarinya tetap dingin.
Dan dari atas, terdengar satu ketukan pelan lagi.