Vivian Winata mengidap sindrom lapar sentuhan. Saat kambuh, tubuhnya terbakar oleh hasrat menyiksa yang hanya bisa dipadamkan oleh satu pria: Sebastian Gunawan, suami kontraknya sekaligus taipan paling dingin di Jakarta.
Setiap malam, Vivian harus memohon dalam pelukannya. Sentuhan Sebastian membuatnya gemetar, basah, dan ketagihan. Namun pria itu selalu berhenti sebelum batas terakhir, seolah menginginkannya sekaligus membencinya.
Tak tahan lagi, Vivian berniat meminta cerai. Tiba-tiba ia teringat kehidupan pertamanya.
Dahulu, kata “cerai” membuat Sebastian kehilangan kendali. Ia mengurung Vivian, memisahkannya dari keluarga, lalu menguasai tubuhnya malam demi malam sampai kematian menjemputnya.
Kini Vivian kembali ke malam yang sama.
Ia ingin melarikan diri, tetapi tubuhnya tetap membutuhkan sentuhan Sebastian untuk bertahan hidup. Semakin ia menjauh, semakin posesif pria itu mengejarnya.
Barulah Vivian menyadari kebenaran yang mengerikan.
Sebastian tidak pernah jijik menyentuhnya. Selama ini, ia hanya menahan diri agar tidak melahap Vivian sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14
Sebuah Pulau untukmu
Sebastian tidak mengetuk pintu Vivi malam itu.
Saat bangun keesokan pagi, Vivi menemukan sarapan diletakkan di meja kecil luar kamar. Tidak ada pesan, tidak ada pertanyaan tentang mengapa ia mundur dari sentuhan Sebastian. Hanya bubur hangat, obat vitamin, dan satu gelas air.
Pria itu benar-benar menghormati pintu yang ia tutup.
Kesadaran itu mengikuti Vivi sepanjang hari, bercampur dengan notifikasi saldo satu miliar yang masih terasa seperti kesalahan sistem.
Ketika waktu makan malam tiba, ia turun dengan jantung lebih tenang.
Sebastian sudah duduk di meja. Sebuah map hijau tua terletak di samping piringnya.
“Duduk,” katanya.
Vivi menarik kursi. “Kamu belum pergi ke kantor?”
“Sudah kembali.”
“Cepat.”
“Ada urusan di rumah.”
Tatapannya jatuh pada map.
Pak Yanto datang membawa sup ayam. Ia meletakkan mangkuk di depan Vivi, lalu berdiri beberapa langkah dari meja seperti menunggu sesuatu.
Sebastian mendorong map hijau itu ke arah Vivi.
“Untukmu.”
“Apa lagi?”
“Buka.”
Vivi menarik map dengan curiga. Setelah transfer kemarin, ia tidak yakin sanggup menghadapi kejutan finansial lain.
Halaman pertama memuat foto udara sebuah pulau kecil dengan garis pantai hijau kebiruan. Di bawahnya terdapat nama yang membuat ujung jari Vivi membeku.
Pulau Zamrud.
Dokumen berikutnya adalah akta pengalihan saham perusahaan pengelola lahan, dokumen hak guna bangunan, peta bidang, dan surat notaris. Nama Vivian Winata tercetak sebagai pemilik baru seluruh kepentingan yang sebelumnya berada di bawah perusahaan pribadi Sebastian.
“Ini...” Vivi membuka halaman demi halaman. “Kamu memindahkan pulau ini kepadaku?”
“Dokumennya sudah ditandatangani. Pendaftaran perubahan di BPN sedang diproses oleh notaris.”
“Kenapa?”
“Kamu mau ke pantai.”
“Orang normal membeli tiket hotel.”
“Hotel penuh orang.”
Vivi menatapnya.
Sebastian mengambil sendok, sangat tertarik pada supnya sendiri. “Pulau ini lebih aman.”
“Aman dari apa?”
“Kamera. Orang asing. Siapa pun yang tidak kamu undang.”
Kini alasannya terlihat jelas.
Foto pakaian renang.
Larangan yang kemarin berhasil ditelan Sebastian rupanya berubah menjadi rencana mengosongkan seluruh pantai. Ia tidak melarang Vivi memakai pakaian hijau. Ia hanya memberikan sebuah pulau agar tak ada orang lain yang bisa melihat.
Joce benar. Red flag berjas mahal tetap red flag.
Sayangnya, red flag yang satu ini baru saja menyerahkan hak kepemilikan tempat tersebut kepada Vivi sendiri.
“Kalau pulau ini atas namaku,” kata Vivi, “berarti aku yang menentukan siapa boleh datang.”
“Ya.”
“Aku boleh mengundang Joce?”
Sendok Sebastian berhenti sepersekian detik. “Kamu sudah mengatakan itu kemarin.”
“Aku ingin memastikan kamu tidak berubah pikiran.”
“Aku tidak berubah.”
“Aku juga boleh pulang kapan pun?”
“Kapal dan helikopter tersedia.”
“Kuncinya?”
Sebastian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku jas. Di dalamnya ada kartu akses, kunci mekanis, dan token keamanan berwarna hitam.
“Semua akses utama terdaftar atas biometrikmu mulai besok,” katanya. “Pak Yanto punya salinan darurat. Aku tidak.”
Vivi mengangkat wajah.
“Kamu tidak punya?”
“Pulau itu milikmu.”
Ia mengatakannya tanpa ragu. Bukan pulau kita. Bukan hadiah yang tetap dikontrol pemberi. Milikmu.
Sebastian menggeser satu lembar tambahan. Itu surat kuasa sementara yang memberi Vivi hak membatalkan akses staf, mengganti perusahaan keamanan, bahkan menjual kepemilikan setelah proses BPN selesai.
“Kalau ada orang di pulau yang membuatmu tidak nyaman, tekan kode merah di token. Semua pintu luar terbuka dan helikopter dipanggil otomatis.”
“Termasuk kalau orang itu kamu?”
Tatapan mereka bertemu.
Sebastian menjawab tanpa mengalihkan mata. “Termasuk aku.”
Vivi menyentuh tombol merah kecil pada token. Ini bukan sekadar kunci masuk. Sebastian memberinya alat untuk mengusir sang pemberi hadiah dari pulau itu sendiri.
Rasa takut yang sejak tadi menggelitik tengkuk Vivi surut sedikit.
Pak Yanto akhirnya tersenyum. “Pak Sebastian meminta semua proses diselesaikan sejak pagi. Beliau bahkan menghubungi notaris sebelum jam kantor buka.”
Sebastian menatap pengurus rumah. “Pak Yanto.”
“Saya hanya menjelaskan prosesnya, Pak.”
“Kembali ke dapur.”
“Baik.”
Pak Yanto meninggalkan ruang makan dengan senyum yang belum sepenuhnya hilang.
Vivi menahan tawa. “Kamu menelepon notaris sebelum jam kerja?”
“Dia menjawab.”
“Karena kamu pasti menelepon nomor pribadinya.”
“Nomor ada untuk dipakai.”
“Sebas, kamu bisa mengajakku ke sana tanpa memindahkan kepemilikan.”
Wajah pria itu kembali kaku. “Aku tidak ingin kamu merasa dibawa ke tempat yang tidak bisa kamu tinggalkan.”
Kalimat itu menghantam terlalu tepat.
Vivi menatap kartu akses di kotak. Sebastian tidak tahu kehidupan pertama. Ia tidak tahu tentang pintu besi, permohonan pulang, atau bagaimana kata pulau pernah terdengar seperti ancaman.
Namun, entah bagaimana, ia memberikan jalan keluar bahkan sebelum Vivi memintanya.
“Terima kasih,” bisiknya.
Sebastian mengangguk sekali. Telinganya mulai merah lagi.
Vivi menutup map, tetapi tidak mendorongnya kembali. “Kapan pulau ini bisa didatangi?”
“Kapan saja.”
“Kamu sudah pernah ke sana?”
“Beberapa kali.”
“Sendirian?”
“Ya.”
Ada jawaban lain yang tidak diucapkan: ia menyiapkan tempat itu untuk sesuatu, jauh sebelum foto pakaian renang dikirim.
Vivi belum tahu untuk apa. Ia menolak menebak rahasia suaminya tanpa bukti.
Namun, untuk pertama kalinya, rasa ingin tahu lebih besar daripada keinginannya untuk lari.
“Kalau begitu...” Ia menarik napas. “Kapan-kapan kita pergi ke sana bersama?”
Sebastian membeku.
Benar-benar membeku. Sendoknya menggantung di atas mangkuk. Mata gelapnya menatap Vivi seolah ia baru mengucapkan sesuatu yang mustahil.
“Bersama?” ulangnya.
Vivi mulai menyesal. “Kalau kamu sibuk, tidak usah.”
“Aku tidak sibuk.”
“Kamu bahkan belum melihat jadwal.”
“Aku kosongkan.”
Jawaban itu keluar cepat, berat, dan pasti.
Vivi tersenyum tanpa bisa dicegah. “Jadi?”
Sebastian meletakkan sendok dengan hati-hati. “Boleh.”
Satu kata sederhana. Namun, sorot matanya membuat seolah Vivi baru memberikan sesuatu yang jauh lebih besar daripada perjalanan.
Keberaniannya habis pada detik itu.
Vivi berdiri sambil membawa map. “Aku selesai makan.”
“Supmu belum habis.”
“Aku kenyang.”
Ia berjalan cepat menuju tangga sebelum Sebastian melihat senyum bodohnya. Di kamar, Vivi menutup pintu, memeluk map ke dada, lalu bersandar di permukaan kayu.
Ia baru saja mengajak suaminya berlibur.
Dan Sebastian terlihat seperti orang yang baru diberi seluruh dunia.
Vivi tertawa kecil, lalu perlahan meluncur duduk di lantai.
Namun, saat matanya kembali jatuh pada nama Pulau Zamrud, sebuah serpihan ingatan lama menyambar.
Dalam kehidupan pertama, setelah Vivi meminta cerai, Sebastian pernah menyebut pulau ini.
Di sana tidak ada siapa pun yang bisa membawamu pergi dariku.
Ia tidak ingat apakah pernah benar-benar dibawa ke sana. Ingatannya tentang masa itu terputus-putus, penuh pintu terkunci dan obat penenang. Ia juga tidak tahu apa yang sudah Sebastian siapkan di pulau itu.
Yang ia ingat hanya rasa kalimat tersebut.
Bukan undangan.
Ancaman.
Vivi memegang kartu akses yang kini hanya mengenali biometriknya.
Kali ini, Pulau Zamrud datang bersama kunci di tangannya sendiri.