Di Benua Awan Merah, bakat surgawi, garis keturunan, dan dukungan klan besar adalah segalanya. Awan tidak memiliki satupun dari hal itu. Lahir dengan meridian sempit sebagai anak seorang pandai besi miskin, dunia telah menakdirkannya untuk hidup dan mati sebagai manusia fana.
Namun, Awan menolak bertekuk lutut pada takdir. Tanpa bantuan artefak dewa purba, tanpa roh guru sakti, dan tanpa pil mujarab, ia menempuh jalan kultivasi melalui siksaan fisik yang ekstrem. Saat para jenius menyerap energi alam dengan mudah sambil duduk bermeditasi, Awan mengayunkan pedang besinya puluhan ribu kali di bawah terik matahari dan badai hujan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tangga Seribu Beban
Tiga hari berlalu secepat kepakan sayap burung pegar.
Di kaki Gunung Daun Angin, kabut pagi masih menggantung rendah, namun ratusan remaja telah berkumpul di alun-alun batu bata biru yang luas. Mereka datang dari berbagai kota dan desa di sekitar radius seratus batu, membawa mimpi yang sama: melangkah ke gerbang keabadian, menjadi murid Sekte Daun Angin.
Awan berdiri di sudut alun-alun, tampak sangat mencolok karena betapa tidak mencoloknya dia.
Berbeda dengan para pemuda dari klan-klan besar yang mengenakan jubah sutra bersulam benang perak, Awan hanya mengenakan pakaian linen kasar yang ditenun ibunya. Di punggungnya, terikat sebuah pedang besi hitam yang baru selesai ditempa ayahnya semalam. Pedang itu tidak memancarkan aura spiritual, murni sepotong baja tajam.
"Lihat gembel di sana itu. Apa dia tersesat? Ini ujian sekte kultivasi, bukan pendaftaran kuli panggul," bisik seorang remaja bertubuh gempal yang mengenakan giok hijau di pinggangnya.
Temannya, seorang pemuda berwajah arogan dengan kipas lipat di tangan, tertawa meremehkan. "Biarkan saja. Setiap tahun selalu ada orang fana yang bermimpi di siang bolong. Nanti di ujian pertama, tulang-tulangnya akan remuk."
Awan mendengar cemoohan itu, namun wajahnya sedatar permukaan danau yang tenang. Selama bertahun-tahun tangannya berdarah dan kapalan, telinganya sudah kebal terhadap hinaan.
Tiba-tiba, suara deru angin yang kencang menyapu alun-alun, memaksa debu dan kerikil berterbangan. Dari atas langit, sesosok pria tua berjubah abu-abu turun perlahan, seolah-olah udara adalah anak tangga yang tak kasat mata.
Itu adalah teknik terbang dari Alam Inti Emas!
Ratusan remaja di alun-alun seketika menahan napas, menatap pria tua itu dengan sorot mata penuh pemujaan.
"Aku adalah Penatua Kuang, pengawas ujian murid luar tahun ini," suara pria tua itu bergema, mengandung tekanan Qi yang membuat dada semua orang terasa sesak. "Sekte Daun Angin tidak memelihara sampah. Kami hanya menerima mereka yang memiliki tekad dan fondasi yang kokoh."
Penatua Kuang mengibaskan lengan jubahnya ke arah gunung. Kabut seketika terbelah, menampakkan deretan anak tangga batu yang menjulang tinggi hingga menembus awan.
"Ini adalah Tangga Seribu Beban. Terdapat seribu anak tangga menuju gerbang sekte. Formasi spiritual telah ditanam di setiap anak tangga. Semakin tinggi kalian naik, tekanan gravitasi yang menimpa tubuh kalian akan semakin berat," jelas Penatua Kuang dengan nada dingin. "Hanya mereka yang bisa mencapai puncak sebelum matahari terbenam yang berhak menjadi murid pelayan dan murid luar. Ujian dimulai!"
Begitu kata "dimulai" diucapkan, ratusan remaja itu melesat maju seperti kawanan kuda liar.
Mereka yang berasal dari klan besar segera mengalirkan Qi Spiritual ke kaki mereka, membuat tubuh mereka seringan kapas. Mereka melompati dua hingga tiga anak tangga sekaligus, meninggalkan Awan yang berjalan paling belakang dengan langkah biasa.
Tap. Tap. Tap.
Di seratus anak tangga pertama, tekanannya belum seberapa. Namun ketika melewati anak tangga ke-300, banyak yang mulai melambat. Tekanan tak kasat mata yang setara dengan memanggul karung beras seberat lima puluh kilogram mulai menekan pundak mereka.
Pemuda berkipas yang sebelumnya mengejek Awan kini terengah-engah di anak tangga ke-400. Keringat sebesar biji jagung mengucur di dahinya. Qi di dalam Dantiannya mulai menipis.
Di saat itulah, terdengar suara langkah kaki yang teratur dari bawahnya.
Satu langkah... napas ditarik.
Satu langkah... napas dihembuskan.
Pemuda arogan itu menoleh ke belakang dan matanya membelalak tak percaya. Awan, si anak miskin berpakaian linen kasar, sedang mendaki dengan ritme yang sangat konstan. Wajahnya berkeringat, namun punggungnya tegak lurus bagai pedang.
"B-bagaimana mungkin? Dia sama sekali tidak memancarkan fluktuasi Qi! Dia hanya manusia fana!" batin pemuda itu, mengertakkan gigi dan mencoba mempercepat langkahnya, menolak disusul oleh seorang kasta rendah.
Namun, kultivasi di Alam Pengumpul Qi tingkat awal memiliki kelemahan fatal: kapasitas Dantian sangat terbatas. Ketika Qi habis, tubuh kultivator muda yang jarang dilatih secara fisik akan menjadi sangat lemah.
Saat mencapai anak tangga ke-700, tekanan gravitasi melonjak drastis, setara dengan menahan beban dua ratus kilogram di atas pundak.
Brukk!
Puluhan remaja ambruk, memuntahkan darah, pingsan tak sadarkan diri di atas anak tangga batu. Beberapa anak klan besar terpaksa menelan Pil Pemulih Qi untuk bertahan, mengandalkan kekayaan keluarga mereka demi melewati ujian.
Awan tidak punya Pil. Ia tidak punya Qi.
Tetapi, apa arti beban dua ratus kilogram bagi seseorang yang selama lima tahun berturut-turut mengayunkan pedang besi hitam tumpul sebanyak sepuluh ribu kali sehari di bawah guyuran hujan badai dan terik matahari?
Otot kakinya menegang, urat-urat di leher dan lengannya menonjol keluar, menciptakan pola seperti akar pohon purba di balik kulitnya. Ia memejamkan mata, menyelaraskan pernapasannya dengan ritme Seni Pedang Dasar Angin Jatuh.
Jangan lawan tekanannya. Jadikan dirimu paku, dan biarkan tekanan itu menjadi palu yang menancapkanmu lebih kuat ke tanah.
Langkah Awan semakin berat, namun tidak pernah berhenti.
Anak tangga ke-800.
Anak tangga ke-900.
Anak tangga ke-999.
Di puncak gunung, Penatua Kuang berdiri dengan tangan terlipat di belakang punggung, mengawasi para kandidat yang berhasil sampai. Kebanyakan dari mereka, yang merupakan jenius dari kota besar, tergeletak di tanah sambil meraup udara dengan rakus.
Mata Penatua Kuang yang setajam elang menyapu kerumunan dan tiba-tiba membeku pada satu sosok yang baru saja melangkah melewati anak tangga terakhir.
Itu adalah seorang pemuda berpakaian linen. Pakaiannya basah kuyup oleh keringat, dan jejak darah menetes dari sela-sela sepatunya yang jebol, tanda bahwa pembuluh darah kapiler di kakinya pecah menahan beban ekstrem. Namun, tidak seperti anak-anak bangsawan yang ambruk, pemuda itu tetap berdiri.
Meski kedua kakinya gemetar hebat, ia berdiri tegak.
Penatua Kuang memicingkan matanya, melepaskan indera spiritualnya untuk memindai tubuh Awan. Detik berikutnya, sang Penatua dari Alam Inti Emas itu tanpa sadar bergumam pelan, tersentak oleh apa yang dirasakannya.
"Meridiannya tertutup rapat seperti batu mati... Tidak ada setetes Qi pun di Dantiannya," Penatua Kuang mengelus jenggotnya yang putih, matanya memancarkan ketertarikan yang langka. "Bocah ini... Dia menaiki Tangga Seribu Beban murni menggunakan kekuatan daging dan tulang fana?"