NovelToon NovelToon
Wajah Kedua Seorang MAFIA

Wajah Kedua Seorang MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1- Malam yang tiada akhir

Tik...tik...tik...

Hujan yang turun perlahan membasahi kaca jendela besar di sebuah kafe sederhana di sudut kota. Aroma kopi hangat bercampur dengan udara dingin hingga menciptakan suasana yang tenang, bahkan terlalu tenang untuk seseorang yang pernah hidup di tengah suara tembakan dan teriakan kematian.

Aurelia… tidak. Sekarang, namanya Alena.

“Pesan latte satu,” ucapnya pelan, memesan secangkir minuman dengan tersenyum tipis yang nyaris sempurna.

Tak ada yang tau siapa dirinya dulu. Tak ada yang mengenal bagaimana tangannya pernah berlumuran darah, bagaimana satu perintah darinya bisa menentukan hidup dan mati seseorang. Di mata orang-orang di kafe ini, ia hanyalah perempuan biasa. Ramah, tenang, dan sedikit tertutup.

Dan ia ingin tetap seperti itu.

Selamanya… jika bisa.

Namun, hidup tak pernah benar-benar memberi kesempatan kedua tanpa harga. Hingga...

Ting tong!

Bel pintu kafe berdenting pelan lalu seorang pria masuk dengan langkah yang tenang namun berat. Mantel hitamnya basah oleh hujan, dan wajahnya pun tertutup bayangan.

Tidak ada yang aneh bagi pengunjung lain.

Kecuali bagi Alena.

Tangannya yang sedang menggenggam cangkir tiba-tiba berhenti. Nafasnya pun tertahan sepersekian detik. Dan ia pun mengenali aura itu.

Bukan wajahnya. Bukan suaranya. Tapi bahaya yang ia bawa.

Pria itu duduk di sudut ruangan, di tempat yang paling gelap, seolah sengaja memilih posisi yang tak mudah terlihat. Namun matanya… terus mengarah pada satu titik.

Padanya.

Alena hanya menunduk dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang tiba-tiba tak terkendali.

Tidak… tidak mungkin. Semua sudah berakhir.

Ia ingin meninggalkan dunia itu. Mengubur namanya. Menghapus jejaknya. Bahkan bersumpah tidak akan pernah kembali. Sejak malam itu… malam ketika ia kehilangan satu-satunya alasan untuk bertahan.

Namun saat ia kembali mengangkat kepala, pria tadi sudah berdiri di hadapannya lalu berkata,

“Sudah lama, Nona Vanzara.”

Teg!!

Dunia seolah berhenti.

Nama itu…Nama yang ingin ia kubur bersama masa lalunya, kini terdengar lagi.

Cangkir di tangannya pun terlepas, jatuh dan pecah di lantai hingga suara pecahan itu menggema seperti sesuatu yang ikut retak di dalam dirinya.

“Aku tidak tau siapa yang kau maksud,” jawabnya Alena dingin, dan berusaha mempertahankan kebohongan yang telah ia bangun selama ini.

Namun pria itu hanya tersenyum tipis dan menjawab, “Sungguh? Bahkan ketika seluruh kota mulai mencarimu lagi?”

Deg.

“Pergi dari sini,” bisik Alena tajam. “Kau salah orang.”

Namun pria itu malah mendekat, dan suaranya pun kini lebih rendah dan hanya bisa didengar olehnya.

“Kalau begitu… bagaimana kalau aku mulai dengan menyebutkan nama orang yang kau cintai terakhir kali?”

Alena menatap pria itu dan nafasnya pun tercekat. Dunia yang selama ini ingin ia bangun runtuh dalam satu kalimat.

“Dia belum benar-benar pergi, Aurelia.”

Detik itu juga, sesuatu dalam dirinya bangkit. Bukan Alena yang lembut. Bukan wanita biasa yang mencoba hidup damai.

Tapi sosok yang telah lama ingin ia kubur.

Matanya yang semula tenang kini berubah menjadi tajam, dingin, dan mematikan.

"Aku katakan pergi!!!"

......

............

Brushhhh!!

"Hah hah hah...!."

Aurelia terbangun dengan napas yang terengah-engah.

Keringat dingin membasahi pelipisnya, jemarinya mencengkeram seprai dengan kuat seolah baru saja terjatuh dari jurang yang dalam. Dadanya naik turun tak beraturan. Matanya berkeliaran seakan mencari seseorang.

Lagi.

Mimpi itu… lagi. Mimpi yang selalu menghantuinya seakan tiada henti.

Setelah napasnya sedikit tenang, Ia menatap langit-langit kamar yang gelap dan mencoba meyakinkan dirinya bahwa semuanya sudah berakhir. Namun bayangan itu terlalu nyata. Suara tembakan, pecahan kaca, dan… suara terakhir itu.

“Marko…”

Namanya keluar lirih dari bibirnya dan hampir tak terdengar.

Sudah berbulan-bulan berlalu sejak malam itu. Malam yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan… justru berubah menjadi akhir dari segalanya.

Dan setiap kali ia memejamkan mata, ia selalu kembali ke sana.

__________

_______________

Flashback...

Beberapa bulan lalu…

Langit malam itu tampak cerah karena lampu kota berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi. Mobil hitam yang dikendarai Marko melaju dengan tenang di jalanan yang relatif sepi.

Sementara Aurelia duduk di kursi penumpang, dengan mengenakan gaun merah pekat elegant. Tatapannya sesekali mengarah ke luar jendela, namun senyum kecilnya tak lepas dari wajahnya.

“Jadi… kita mau ke mana sebenarnya?” tanyanya sambil melirik pria di sampingnya.

Marko hanya tersenyum, sedangkan satu tangannya memegang setir dan satu lagi dengan santai mengetuk pelan kemudi.

“Rahasia.”

"Hufth..." Aurelia menghela napasnya dan pura-pura kesal. “Kau tau aku tidak suka kejutan.”

“Oh ya?” canda Marko seraya meliriknya sekilas dengan senyumnya yang melebar. “Padahal dulu kau bilang hidupmu terlalu penuh rencana. Katanya, sekali-sekali ingin sesuatu yang tak terduga.”

Aurelia menatapnya namun hanya terdiam lalu terkekeh kecil. “Tidak untuk hal besar.”

Marko tidak menjawab. Namun sorot matanya… menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar candaan.

Beberapa detik telah berlalu dalam keheningan yang nyaman.

Hingga...

Sorot lampu tiba-tiba menyilaukan mereka dari arah depan. Marko langsung mengerem sedikit dan matanya pun menyipit.

“Aneh…” gumamnya.

Dua mobil hitam pun muncul dari depan dan melintang menutup jalan.

Belum sempat Aurelia bereaksi, ia mendengar suara mesin yang meraung dari belakang. Lalu satu mobil lain datang dan berhenti tepat di belakang mereka hingga tiga mobil mengurung mobil mereka.

Suasana pun berubah menjadi tegang.

“Aurelia…” suara Marko yang terdengar rendah namun serius. “Tunduk.”

Nada itu.

Nada yang tak pernah ia gunakan kecuali dalam situasi bahaya.

Aurelia menatap Marko tanpa bertanya dan ia pun langsung menunduk.

Dan detik berikutnya...

DOR! DOR! DOR!

Rentetan peluru menghujani mobil mereka sehingga kaca depan retak, beradu dengan suara logam yang memekakkan telinga.

“Brengsek!” teriak Marko sambil membanting setir dan mencoba mencari celah.

Melihat situasi semakin tidak baik, dengan cepat Aurelia membuka laci dashboard dan mengambil pistol yang sudah sangat familiar.

“Kiri dua orang, kanan satu di balik pintu!” ucapnya cepat dengan sorot mata yang tajam.

Marko pun tersenyum tipis meski situasi semakin kacau. “Sepertinya aku tidak pernah benar-benar bisa mengajakmu kencan normal.”

Aurelia menoleh sekilas dengan tatapan yang dingin namun penuh arti. “Denganmu? Mustahil.”

DOR DOR DOR!!!

Peluru pun kembali menghantam.

Marko menginjak gas dan memutar setir tajam sehingga menabrak salah satu mobil di depan hingga bergeser sedikit.

“Pegangan!”

Mobil pun melesat, namun tembakan semakin brutal.

DOR DOR DOR DOR!!!

Aurelia membuka jendela sedikit lalu mengangkat pistolnya hingga satu pria di sisi kanan terjatuh kena tembakannya.

Namun...

DOR! DOR!

Balasan datang lebih cepat sehingga kaca samping mobil mereka pecah dan pecahannya pun melukai lengan Aurelia.

"Ishh!!" Ia meringis, tapi tak berhenti dan tetap waspada.

“Jumlah mereka lebih banyak dari biasanya,” gumamnya.

“Ini bukan serangan biasa,” jawab Marko tegas. “Mereka tau rute kita.”

Aurelia pun terdiam sejenak.

Pengkhianatan.

Kata itu langsung terlintas di benaknya sehingga mobil di belakang menabrak mereka dengan keras.

BRAK!

Mobil mereka pun oleng hingga tubuh mereka pun sempat terombang ambing.

“Marko!” teriak Aurelia.

“Aku masih pegang!” sahut Marko sambil mencoba menstabilkan kendaraan.

Namun...

DOR!!!

Satu tembakan menembus kaca depan dan mengenai Marko.

“A—”

Suaranya terhenti. Tangannya yang memegang setir pun mulai melemah sehingga mobil kehilangan kendali.

“MARKO!!”

Aurelia langsung memegang setir dengan satu tangan dan mencoba menjaga arah, sementara tangan lainnya menahan tubuh Marko yang mulai kehilangan kesadaran.

“Hey! Lihat aku! Jangan tutup mata!” teriak Aurelia dengan suara yang bergetar untuk pertama kalinya.

Marko menatap Aurelia dengan tersenyum samar meskipun darahnya mulai mengalir dari sisi tubuhnya.

“Sepertinya… kejutan malam ini… gagal ya…”

“Diam!” bentak Aurelia, padahal matanya mulai memanas. “Kau tidak boleh bicara seperti itu!”

"he-he..." Marko tertawa pelan, meski suaranya melemah.

“Aku sudah menyiapkan… semuanya… Kau pasti akan marah… karena ini terlalu berlebihan…” lanjutnya terbata-bata.

“Marko… tolong…” pekik Aurelia sementara air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Untuk pertama kalinya, Aurelia Vanzara, wanita yang tak pernah takut pada kematian tapi kini terlihat rapuh.

Marko mengangkat tangannya dengan susah payah lalu menyentuh pipi Aurelia.

“Kalau aku tidak sempat bilang nanti…” bisiknya pelan. “Aurelia… aku mencintaimu.”

Kini...dunia serasa hening. Tembakan, suara mesin, semuanya seolah hilang hingga detik berikutnya...

Tangan Marko jatuh dan matanya pun terpejam.

“Aku… juga…” suara Aurelia terpatah-patah.

Namun semuanya sudah terlambat. Karena pada saat itu Marko sudah menghembuskan nafas terakhirnya.

_________

_____________

Kembali ke Masa Kini

Aurelia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, sementara napasnya masih berantakan.

Mimpi itu tidak pernah berubah. Tidak pernah selesai dengan cara yang berbeda. Selalu sama. Selalu berakhir dengan rasa kehilangan.

1
𝐀⃝🥀Weny
keren kau Max👍🏻
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya dapat restu juga dari camer🤭 hati² kamu Sofia jangan sampai kamu membangunkan singa yang sedang tidur😁
𝐀⃝🥀Weny
dobel up thor
Aurora: siap... di usahakan ya.../Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!