Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Pagi hari kompetisi debat antar sekolah, seluruh tim Starline High School berkumpul di depan gerbang sekolah, bersiap menuju lokasi kompetisi yang diselenggarakan di sebuah universitas ternama di pusat kota. Bus khusus telah disiapkan, membawa tim debat beserta beberapa pendukung dan guru pembimbing.
"Semua perlengkapan udah lengkap?" tanya Rean, memeriksa daftar terakhir sebelum keberangkatan.
"Lengkap," jawab salah satu anggota tim, mengangkat map berisi materi debat yang telah mereka persiapkan matang-matang selama tiga minggu terakhir.
Perjalanan menuju lokasi kompetisi memakan waktu sekitar satu jam, dipenuhi suasana campur antara semangat dan ketegangan dari seluruh anggota tim yang duduk berdampingan di dalam bus. Aria, yang ikut mendampingi sebagai pelatih tambahan, berusaha menenangkan suasana dengan berbagai candaan ringan di sepanjang perjalanan.
"Inget, kalian udah latihan keras," katanya menyemangati. "Sekarang tinggal percaya diri aja waktu tampil nanti."
Sesampainya di lokasi, suasana kompetisi terasa jauh lebih formal dan menegangkan dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Puluhan tim dari berbagai sekolah elite berkumpul di aula besar universitas, masing-masing mempersiapkan diri menghadapi babak penyisihan pertama.
"Starline High School akan bertanding melawan Meridian Academy di ruang 3B," umum panitia melalui pengeras suara, memanggil tim pertama yang akan tampil.
Kieran, sebagai kapten tim debat, memimpin timnya menuju ruang pertandingan dengan langkah tenang meski dalam hati ia merasakan ketegangan yang sama seperti anggota tim lainnya.
"Kalian pasti bisa," bisik Rean, menyemangati tim sebelum mereka memasuki ruangan pertandingan.
Babak pertama berlangsung ketat, dengan kedua tim saling melontarkan argumen kuat mengenai mosi yang diperdebatkan — kebijakan lingkungan dalam pembangunan ekonomi. Tim Starline tampil percaya diri, memanfaatkan seluruh persiapan yang telah mereka susun matang-matang selama latihan intensif.
"Argumen kontra kalian solid banget," puji juri setelah babak pertama berakhir, mengumumkan bahwa tim Starline berhasil memenangkan babak penyisihan pertama dengan skor meyakinkan.
Sorak gembira terdengar dari seluruh anggota tim yang menunggu di luar ruangan, disambut pelukan hangat dari Aria yang bangga melihat performa timnya.
---
Babak kedua berlangsung lebih menantang, mempertemukan tim Starline dengan salah satu sekolah favorit juara — sekolah yang kebetulan menjadi mitra bisnis dekat Ashford Group, menambah lapisan tekanan tersendiri bagi Kieran yang menyadari implikasi tersembunyi dari pertandingan tersebut.
"Fokus sama argumen kita aja," Rean mengingatkan Kieran sebelum mereka memasuki ruang pertandingan babak kedua, menyadari sedikit ketegangan ekstra yang tampak dari sikap sahabatnya itu.
Kieran mengangguk, mencoba menepis segala pikiran tentang persaingan bisnis keluarganya, memusatkan perhatian sepenuhnya pada strategi debat yang telah mereka siapkan bersama.
Pertandingan babak kedua berlangsung sengit, dengan kedua tim saling beradu argumen tajam mengenai mosi kebijakan pendidikan nasional. Tim lawan menunjukkan kualitas debat yang tidak kalah kuat, membuat pertandingan berjalan hingga waktu tambahan untuk sesi tanya jawab.
Ketika akhirnya juri mengumumkan hasil, tim Starline berhasil unggul tipis berkat argumen penutup yang disampaikan dengan meyakinkan oleh salah satu anggota tim yang telah dilatih intensif oleh Aria selama beberapa minggu terakhir.
"Kita menang!" seru salah satu anggota tim, disambut sorak gembira seluruh rombongan yang menunggu hasil di luar ruangan.
Kieran menghela napas lega, merasakan beban ganda yang selama ini ia rasakan — baik sebagai kapten tim debat maupun sebagai perwakilan tidak resmi dari Keluarga Ashford — akhirnya terangkat setelah kemenangan meyakinkan itu.
"Kerja bagus," kata Rean, menepuk bahunya bangga. "Kamu memimpin tim dengan baik banget."
"Kita semua yang kerja keras," Kieran membalas, tersenyum tulus. "Nggak akan bisa sejauh ini tanpa kerja sama kita semua."
Tim Starline berhasil melaju ke babak semifinal, membawa optimisme tinggi untuk melanjutkan perjuangan mereka di kompetisi yang akan berlanjut hingga sore hari itu — sebuah pencapaian membanggakan yang semakin memperkuat ikatan kekompakan yang telah mereka bangun bersama selama proses persiapan panjang menuju hari ini.
---
Setelah berhasil melaju melalui babak semifinal dengan kemenangan meyakinkan melawan sekolah unggulan lainnya, tim debat Starline High School akhirnya mencapai babak final — pencapaian yang belum pernah diraih sekolah mereka dalam lima tahun terakhir, menurut catatan yang disampaikan salah satu guru pembimbing dengan bangga.
"Kalian udah buat sejarah," kata guru pembimbing itu, memberi semangat kepada seluruh tim yang tampak lelah namun tetap bersemangat menjelang pertandingan final.
Lawan mereka di babak final adalah Ravenswood International School, sekolah yang selama ini dikenal sebagai juara bertahan kompetisi debat regional selama tiga tahun berturut-turut — tantangan besar yang harus dihadapi tim Starline dengan persiapan mental maupun teknis sebaik mungkin.
"Mosi final adalah tentang etika kecerdasan buatan dalam pengambilan keputusan bisnis," umum panitia, mengejutkan beberapa anggota tim yang tidak menyangka topik sekompleks itu akan menjadi mosi penutup kompetisi.
Rean, yang bertugas membantu tim mempersiapkan argumen mendadak untuk topik yang belum sepenuhnya mereka latih sebelumnya, bekerja cepat bersama Kieran menyusun kerangka argumen dalam waktu persiapan yang sangat terbatas.
"Kita fokus pada sisi kemanusiaan versus efisiensi," usul Rean, teringat berbagai bacaan yang pernah ia temui soal etika teknologi. "Itu sudut pandang yang jarang dipakai tim lain."
Kieran mengangguk setuju, cepat mencatat kerangka argumen itu untuk dibagikan kepada seluruh anggota tim yang akan tampil di podium debat.
Pertandingan final berlangsung dengan tensi tinggi, disaksikan ratusan penonton dari berbagai sekolah yang hadir menyaksikan puncak kompetisi tahun ini. Tim Ravenswood tampil dengan gaya debat agresif dan penuh statistik meyakinkan, sementara tim Starline mengandalkan sudut pandang humanis yang telah mereka susun mendadak namun matang.
"Argumen kalian menarik, tapi apakah realistis diterapkan dalam skala industri besar?" tantang salah satu juri dalam sesi tanya jawab, menguji kedalaman pemahaman tim Starline.
Salah satu anggota tim, dengan tenang namun percaya diri, menjawab tantangan itu dengan contoh konkret yang telah mereka siapkan bersama Rean dan Kieran sebelumnya, mengutip kasus nyata perusahaan yang berhasil mengintegrasikan pertimbangan etis dalam kebijakan teknologi mereka.
Jawaban itu disambut anggukan setuju dari beberapa juri, menunjukkan bahwa argumen tim Starline berhasil menyentuh sisi yang belum sepenuhnya dieksplorasi tim lawan.
---
Ketika sesi debat berakhir dan juri mulai berdiskusi menentukan pemenang, seluruh anggota tim menunggu dengan jantung berdebar kencang di luar ruangan, dikelilingi dukungan dari teman-teman dan guru pembimbing yang datang menyaksikan pertandingan final.
"Apa pun hasilnya," kata Kieran, menatap seluruh anggota timnya dengan bangga, "kalian udah tampil luar biasa hari ini."
"Kalian juga yang bikin ini semua mungkin," balas salah satu anggota tim, menghargai kepemimpinan Kieran dan koordinasi Rean yang telah membawa mereka sejauh ini.
Ketika panitia akhirnya memanggil seluruh finalis untuk pengumuman hasil, suasana hening menegangkan menyelimuti aula besar itu.
"Juara kedua kompetisi debat regional tahun ini," umum panitia, membuka amplop hasil penilaian, "diraih oleh Starline High School."
Meski bukan juara pertama, pencapaian itu tetap disambut sorak gembira luar biasa dari seluruh rombongan Starline, mengingat ini adalah pencapaian terbaik yang pernah diraih sekolah mereka dalam kompetisi bergengsi tersebut.
"Kita berhasil!" seru salah satu anggota tim, memeluk rekan-rekannya dengan haru.
Rean dan Kieran saling bertukar pandang, tersenyum lebar penuh kebanggaan atas pencapaian yang telah mereka perjuangkan bersama sejak awal persiapan hingga hari final ini.
"Kerja bagus, partner," kata Kieran, mengulurkan tangannya.
"Kerja bagus juga," balas Rean, menjabat tangan itu dengan hangat, sebuah simbol kemitraan yang telah tumbuh jauh melampaui sekadar rekan kerja OSIS biasa — menjadi persahabatan tulus yang terbentuk melalui berbagai tantangan dan pengalaman berharga yang telah mereka lalui bersama sepanjang perjalanan panjang menuju hari ini.