Bella Oceana adalah istri kedua dari Alan Elvis. Alan menikahi Bella karena Tevy sudah tidak bisa melaksanakan kewajibannya sebagai istri untuk melayani Alan. Tevy sudah lumpuh sejak tiga tahun terakhir karena kecelakaan. Karena alasan tersebut, Alan menikah lagi dengan wanita yang ia kenal dari sebuah restaurant. Karena pada saat itu Bella adalah Manager Restaurant tersebut. Pernikahan Alan dengan Bella tentunya tidak di ketahui oleh Tevy. Alan sangat menyayangi Tevy, ia tidak akan sampai hati jika harus mengatakan hal yang sejujurnya kepada istrinya. Namun Alan juga pria normal yang membutuhkan sentuhan wanita. Sudah satu minggu ini sikap Tevy begitu berbeda kepada Alan, menjadi sangat manja dan tidak ingin ditinggal terlalu lama. Tentu saja sikap Tevy membuat Alan serba salah karena ia juga harus bekerja dan tentunya menemui Bella, istri keduanya. Setiap Tevy mulai menyentuh tubuh Alan, yang terbayang dalam benaknya adalah wajah Bella, desahan Bella, dan juga erangannya diatas ranjang. Dan itu semua membuat Alan memiliki hasrat berlebih untuk bersama dengan Bella. "Sayang, aku pikir kamu udah gak bergairah, ternyata sentuhanku masih bisa membuat kamu seperti ini" ucap Tevy Seketika mata Alan terbuka, ia menyadari jika yang sedang menyentuh miliknya bukanlah Bella, melainkan Tevy istri sahnya sejak tujuh tahun ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Malam ini Tevy pulang kerumah dengan sia-sia, Alan benar-benar tidak membalas pesannya. Bahkan ia tidak memberi tahunya jika ia akan melakukan business trip.
"Bu Tevy istirahat ya" ucap Intan lirih
"Apa aku kelewatan ya Tan"
"Bu..."
"Jujur aja Tan, aku benar-benar gak tahu harus gimana"
"Menurut saya iya, maaf ya Bu. Pak Alan memang sangat menyayangi Bu Tevy, tapi laki-laki tidak suka dengan perempuan yang tidak bisa mengendalikan dirinya Bu. Apalagi dengan usia Pak Alan sekarang, usia yang sudah cukup matang. Di hidup Pak Alan sekarang hanya di sibukkan untuk bekerja, masa-masa Pak Alan mencari wanita lain sudah selesai Bu. Saingan Bu Tevy hanya pekerjaannya, bukan lagi wanita lain. Jadi jangan buang kesemoatan emas ini hanya karena Bu Tevy merasa kesal"
Tevy menatap Intan, dia seperti baru saja di sadarkan jika apa yang ia lakukan hari ini benar-benar melewati batas. Bahkan selama pernikahan, ini adalah kali pertama Alan mengabaikannya, itu artinya Tevy harus menurunkan egonya.
"Jadi, aku harus minta maaf?"
"Benar Bu, minta maaf sama Pak Alan, di balas atau tidak , Bu Tevy harus tetap tenang, biarkan Pak Alan menenangkan dirinya. Pasti Pak Alan akan kembali ke pelukan Bu Tevy. Apalagi Pak Alan jauh, beliau pasti merindukan Bu Tevy"
"Thanks Tan, aku merasa lebih baik sekarang. Aku coba chat Pak Alan. Kamu istirahat, besok temani aku lagi"
"Baik Bu, selamat malam Bu Tevy"
"Malam Intan"
Tevy mengambil ponselnya di dalam tas, kemudian mengirim pesan kepada Alan. Tevy meminta maaf kepada Alan kemudian ia meletakkan ponselnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Ya, Tevy tidak lumpuh. Hanya saja karena Tevy tidak bisa memiliki anak karena masalah reproduksinya, ia menggunakan alasan lain untuk mengelabuhi Alan.
Meskipun begitu, Tevy juga sangat tersiksa karena di usianya sekarang, ia harus menahan hasrat seksualnya.
Setelah mandi, Tevy menuju ke ranjang dan memejamkan matanya dengan harapan besok pagi ia akan mendapat pesan jawabandari Alan.
.
.
Pagi ini Alan dan Bella sudah berada di dalam pesawat, penerbangan mereka membutuhkan waktu yang sangat lama. Bahkan selisih waktu di negaranya dan negara yang mereka tuju memiliki selisih waktu enam jam.
Sementara Tevy, ia bangun dengan perasaan kecewa karena suaminya tidak membalas pesannya sampai hari ini. Namun karena Tevy mengingat apa yang di sampaikan oleh Intan, ia tetap berusaha tenang meskipun jarinya sudah ingin mengetik dan mengirim pesan bertubu-tubi.
Dan hari ini, adalah hari dimana jadwal Tevy untuk melakukan terapi. Tevy dibantu oleh pembantunya kemudian mereka bersiap dan menuju tempat dokter Tevy melakukan praktek.
"Ditinggal aja gak apa-apa, ini bawa debit aku buat kalian makan. Nanti kembali kesini kabarin ya, aku mau titip sesuatu" ucap Tevy
"Baik Bu" ucap Intan
Intan dan Nisa meninggalkan Tevy di klinik. Mereka berdua dan sopir Tevy menuju sebuah coffee Shop yang menjadi langganan mereka ketika Tevy sedang melakukan terapi kaki.
Tevy masuk kedalam ruangan dokter, kemudian ia berdiri dari kursi rodanya dan menghampiri Devan yang tengah berdiri dengan bersandar di meja kerjanya.
Tanpa ragu, Tevy segera mencium bibir Devan dengan rakus, dan tidak membiarkan Devan melepas ciuman tersebut.
"Relax sayang, aku tahu kamu udah gak sabar" bisik Devan
"Gimana aku bisa sabar"
Devan mengunci pintu ruangan tersebut, kemudian ia membawa Tevy keluar melewati pintu belakang. Dan seperti biasa Tevy menggunakan kacamata, masker dan juga jaket milik Devan.
Lalu keduanya menuju ke sebuah hotel, yang berada tepat di samping klinik.
Memasuki kamar, Tevy dan juga Devan sama-sama tidak bisa menahan hasrat mereka. Tevy tidak ingin menyia-nyiakan pertemuan mereka, Tevy dan Devan sama-sama bermain dengan liarnya karena memang mereka jarang bertemu.
Setelah puas melepas rindu, Tevy masih berada di pelukan Devan. Matanya mulai terpejam, namun Devan segera membangunkan Tevy dan mengingatkan jika mereka harus kembali ke klinik, karena jika terlalu lama, orang-orang Tevy akan merasa curiga.
Dan benar saja, saat di klinik Tevy melihat mobilnya sudah parkir di klinik, Devan mengajak Tevy melewati pintu belakang dengan menggunakan kursi roda milik klinik, namun mereka tidak masuk ke dalam ruangan Devan, melainkan berputar arah.
"Bu Tevy, kok dari sana" tanya Intan panik
"Iya, ruangan dokter Devan ini tidak di pakai, jadi aku terapi di ruangan lain"
"Oh, saya pikir Bu tevy kabur"
"Hahaha... Kabur kemana Intan, aku bahkan gak bisa jalan"
"Jaga diri baik-baik Bu Tevy, lakukan apa yang saya jelaskan tadi untuk membantu otot kaki Bu Tevy" ucap Devan
"Baik Dok, terimakasih"