NovelToon NovelToon
Sistem Ayah Level Dewa

Sistem Ayah Level Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Bapak rumah tangga
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.

Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.

Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.

Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 030: Garis Start

Angin sore menerpa wajah Arya Pratama saat ia berdiri di atap gedung PT Surya Teknologi.

Jam di ponselnya menunjukkan pukul enam lewat tujuh menit.

Langit Surabaya terbakar warna jingga. Dari lantai delapan belas, jalan raya tampak seperti aliran lampu yang mulai menyala satu per satu. Di kejauhan, garis laut tampak tipis. Di bawah, kampung-kampung rapat memeluk kota, sementara gedung perkantoran berdiri kaku seperti saksi.

Arya memasukkan kedua tangan ke saku celana.

Beberapa bulan lalu, ia masih menghitung uang makan.

Motor tuanya pernah mogok di depan warung kopi. Sepatu kuliahnya pernah basah kena hujan sampai ia masuk kelas dengan kaus kaki dingin. Uang kos, uang bensin, uang fotokopi skripsi, semua selalu membuat kepalanya penuh.

Lalu telepon itu datang.

Kirana menangis.

Dua garis biru muncul di hidupnya seperti petir.

Sejak hari itu, Arya berjalan tanpa sempat benar-benar berhenti. Rumah sakit. Orang tua. Om Agus. Nikah siri. Apartemen. Mobil. Perusahaan. Herman. Denny. Hartono.

Dan sekarang, ia berdiri di atap perusahaan dengan modal puluhan miliar rupiah, ratusan karyawan, serta dua nyawa kecil di rahim perempuan yang menunggunya pulang.

Ia mengangkat telapak tangannya.

Tangan ini dulu menggenggam setang motor bekas.

Sekarang, tangan yang sama menandatangani keputusan perusahaan bernilai miliaran.

Dadanya terasa panas, lalu tenang.

Tanggung jawab membuatnya bergerak. Kirana membuatnya pulang. Dua anaknya membuatnya berani menatap langit lebih tinggi.

Panel biru muncul di sudut pandangnya.

【Sistem Ayah Level Dewa】

【Status Host: Arya Pratama】

【Level: Lv.8】

【Identitas Utama: Suami / Calon Ayah / Direktur Utama PT Surya Teknologi】

【Aset Terdeteksi: Rp 55.000.000.000 lebih】

【Keterampilan Inti: Kepemimpinan Lv.5 | Analisis Bisnis Lv.3 | Manajemen Krisis Lv.2 | Memasak Lv.3 | Bela Diri Lv.3】

【Indeks Harmoni Keluarga: MAX】

【Kredibilitas Sosial: 782/1000】

【Tonggak Berikutnya: Kelahiran Anak Kembar】

【Estimasi Mundur: 120 hari】

Arya menatap angka itu agak lama.

Seratus dua puluh hari.

Waktu yang cukup pendek untuk seorang ayah yang belum pernah mengganti popok, belum pernah begadang karena tangisan bayi, belum pernah memegang tubuh mungil yang rapuh.

Waktu yang cukup panjang untuk seorang musuh menyiapkan jebakan.

Ponselnya bergetar.

Mega Permata mengirimkan satu dokumen ringkas.

Judulnya jelas.

Analisis Awal PT Langit Digital.

Arya membuka berkas itu. Nama direktur, alamat kantor, izin usaha, daftar klien, serta riwayat perubahan pemegang saham muncul berurutan. Sebagian masih bersih. Sebagian lain terlalu rapi.

Terlalu rapi kadang lebih mencurigakan.

Ia menekan nomor Pak Budi Santoso.

Nada sambung berjalan dua kali.

"Selamat sore, Pak Arya."

"Pak Budi, saya sudah baca analisis awal dari Mega."

"Masih permukaan, Pak. Kami perlu dua sampai tiga hari untuk masuk ke jaringan vendor dan riwayat tender."

"Percepat. Saya ingin tahu hubungan PT Langit Digital dengan Hartono Group. Nama pemegang saham belakang, kontrak lama, pinjaman, orang yang sering datang ke kantor mereka. Semua."

Di ujung telepon, Pak Budi diam sejenak.

"Pak, berarti kita masuk fase menyerang?"

Arya memandang garis matahari yang turun perlahan.

"Iya. Kita sudah cukup lama menutup pintu. Besok kita buka pintu itu dan keluar."

"Baik, Pak Arya. Saya kumpulkan tim malam ini."

"Jangan terlalu banyak orang. Pilih yang bisa diam."

"Siap."

Telepon terputus.

Arya masih berdiri di atap. Suara mesin pendingin di belakangnya berdengung pelan. Di bawah sana, banyak orang sedang pulang kerja. Mereka membawa kantong makanan, tas laptop, helm, dan lelah yang sama.

Arya pernah ada di antara mereka.

Ia masih bagian dari mereka.

Satu-satunya perbedaan, sekarang banyak keluarga ikut bergantung pada keputusan yang ia buat.

Panel sistem kembali menyala.

【Misi Volume Satu Selesai: Takdir Terbalik】

【Evaluasi: Host berhasil mempertahankan keluarga, membangun fondasi bisnis, dan menyingkirkan ancaman internal pertama】

【Hadiah Penyelesaian: Semua atribut +10%】

【Gelar Permanen Dibuka: Pembalik Takdir】

【Efek Gelar: Stabilitas mental meningkat saat menghadapi tekanan keluarga dan bisnis】

【Pratinjau Volume Dua Dibuka】

Cahaya biru berubah menjadi emas muda.

【Volume Dua: Kebangkitan Kerajaan】

【Peringatan: Musuh dengan sumber daya lebih besar mulai mendekat】

【Rahasia Sistem Ayah Level Dewa akan terbuka secara bertahap saat host memenuhi syarat keluarga dan tanggung jawab sosial】

Arya membaca baris terakhir dua kali.

Rahasia sistem.

Ia ingin bertanya. Panel sudah lebih dulu mengecil, seolah menolak memberi jawaban tambahan.

Arya tertawa pelan.

"Baik. Pelit seperti biasa."

Ia memasukkan ponsel ke saku, turun lewat lift, lalu menuju parkiran. Mercedes hitamnya menunggu di antara deretan mobil karyawan. Security menunduk hormat.

"Hati-hati, Pak."

"Terima kasih, Pak Joko. Jangan lupa makan malam."

Security itu tersenyum kaget.

"Siap, Pak."

Mobil melaju keluar dari gedung. Surabaya sudah berubah warna. Lampu toko menyala. Pedagang kaki lima mulai menarik pembeli. Aroma sate, gorengan, dan knalpot bercampur di udara malam.

Saat memasuki Grand Surya Residence, bahu Arya baru terasa berat.

Pintu apartemen terbuka sebelum ia menekan bel.

Kirana berdiri di sana dengan daster lembut warna hijau muda. Perutnya tampak semakin jelas. Rambutnya diikat asal, wajahnya sedikit pucat, namun matanya langsung hidup saat melihat Arya.

"Mas sudah pulang."

Satu kalimat itu menghapus setengah beban di dadanya.

Arya melepas sepatu, mencuci tangan, lalu menghampirinya.

"Kamu berdiri lama?"

"Sebentar saja."

"Duduk."

Kirana menurut, meski bibirnya maju sedikit.

"Aku ini hamil, Mas. Aku masih bisa jalan."

"Aku tahu. Aku hanya suka cerewet."

"Sangat."

Arya tertawa, lalu duduk di sampingnya. Tangannya menyentuh perut Kirana dengan hati-hati.

"Anak-anak hari ini aktif?"

"Yang kiri aktif sekali. Yang kanan seperti ikut protes kalau aku telat makan."

"Berarti dua-duanya mirip ibunya."

Kirana memukul pelan lengannya.

"Aku mau bakso."

Arya menatapnya.

"Sekarang?"

"Sekarang."

"Bakso mana?"

Kirana menunduk, suaranya mengecil.

"Bakso Pak Kumis. Yang kuahnya banyak bawang goreng."

Arya bangkit.

"Ambil jaket. Kita berangkat."

Kirana mengerjap.

"Serius?"

"Untuk urusan ngidam, keputusan sudah final."

Wajah Kirana langsung berbunga. Ia mengambil jaket tipis, sementara Arya menyiapkan vitamin, air mineral, tisu basah, dan sandal yang paling empuk.

"Mas, cuma makan bakso."

"Kamu bawa dua penumpang VIP."

Kirana tertawa sampai matanya menyipit.

Malam itu, Direktur Utama PT Surya Teknologi duduk di warung bakso pinggir jalan bersama istrinya. Meja plastik sedikit goyang. Kipas angin tua berputar malas. Mangkok bakso panas mengepul di depan mereka.

Kirana meniup kuah pelan, mencicipi sedikit, lalu mengangguk puas.

"Ini enak sekali."

Arya melihatnya makan seperti melihat hadiah terbesar hari itu.

Ponselnya bergetar lagi.

Pesan dari Mega.

Pak, ada perkembangan kecil. Salah satu vendor PT Langit Digital pernah menerima pembayaran dari anak perusahaan Hartono Group.

Arya membaca, lalu mematikan layar.

Kirana melihat gerakannya.

"Ada masalah?"

"Ada pekerjaan."

"Besar?"

"Cukup."

Kirana meletakkan sendok.

"Mas boleh cerita."

Arya menatap wajahnya. Ia bisa saja menyimpan semuanya, membiarkan Kirana hanya tahu sisi aman. Namun perempuan di depannya sudah berjalan bersamanya sejak hari pertama rasa takut itu datang.

"Hartono mulai pakai perusahaan lain untuk menyerang kita. Aku akan melawan."

Kirana diam sebentar.

Lalu ia mengambil tangan Arya dan menempelkannya di perutnya.

"Pulang tetap harus tepat waktu kalau bisa."

Arya tersenyum.

"Aku usahakan."

"Makan juga."

"Iya."

"Kalau lelah, bilang."

"Iya, Sayang."

Kirana kembali menyendok bakso.

"Kalau begitu, lawan mereka besok. Malam ini, makan dulu."

Arya tertawa rendah.

Di luar warung, kendaraan terus lewat. Kota bergerak. Musuh bergerak. Sistem menyimpan rahasia.

Namun di meja kecil itu, di antara kuah panas dan tangan Kirana yang hangat, Arya menemukan garis start yang sesungguhnya.

Ia mengangkat sendok.

"Bismillah."

Kirana tersenyum.

Malam itu, perang menunggu di luar.

Di dalam mangkok bakso, keluarga kecilnya menang lebih dulu.

【Volume Satu: Takdir Terbalik】

【Selesai】

1
Ria Gazali Dapson
kirana bnyak tanya ya, udh untung arya mo tanggung jawab, dg fasilitas wow , ga da rasa syukur nya ,cuma penasaran⁹ doang , liatin ja dulu , bersama dg waktu akn mnjawab semua , karena suatu anugerah, sedang tercurah k arya
Maulana Sejati
buruk
Maulana Sejati
ni yg nggak masuk akal, punya sistem,sdh tau ada ancaman tpi trnyata msh dbuat cerita yg bgini...prettt
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
sitanggang
gak seru, kok system org Lain ad yg tau🤣🤣🤣🤣🤣
σяιмσтσ (^• . •^)
.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!