NovelToon NovelToon
Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Sistem Bakat: Dari Pengangguran Menjadi Raja Bisnis

Status: tamat
Genre:System / Balas dendam. / Perubahan Hidup / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid

"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.

Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.

Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Yusuf menulis angka Rp10 miliar di papan.

Hadi Santoso menatap angka itu seperti melihat hujan di musim kemarau. Perwakilan Mahardika Konsumer yang kembali datang pagi itu menatap angka yang sama seperti melihat jebakan.

Reza bersandar di kursi, wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Nadia duduk di sisi Raka dengan kontrak tebal. Bima membuka spreadsheet kapasitas dan biaya produksi.

Raka tidak mendorong cek ke tengah meja.

Ia mendorong rantai syarat.

"Ini bukan pembayaran sekali," kata Yusuf. "Ini purchase order bersyarat. Batch pertama untuk audit, perbaikan minimum, uji laboratorium, dan bahan baku percobaan. Batch kedua hanya terbuka setelah dokumen label, alergi, halal pathway, dan BPOM sesuai jalur produk selesai. Batch ketiga dibayar sesuai pengiriman yang lulus QC."

Hadi mengangkat kepala. "Berapa yang turun pertama?"

Yusuf menyebut angka yang jauh lebih kecil daripada sepuluh miliar.

Wajah Hadi sedikit jatuh.

Perwakilan Mahardika langsung tersenyum. "Pak Hadi, tawaran kami lebih sederhana. Angka masuk, risiko selesai."

"Risiko untuk siapa?" tanya Raka.

Pria itu menatapnya.

Raka tidak menaikkan suara. "Untuk Pak Hadi, mungkin selesai. Untuk pekerja, untuk merek, untuk pabrik, baru mulai."

Hadi memejamkan mata sebentar.

Nadia membuka bagian kewajiban. "Ada hal lain. AKN tidak mengambil alih kewajiban hukum lama PT Rasa Kita Pangan kecuali tertulis sebagai bagian harga atau dukungan program. Pesangon, pensiun, tunggakan, dan hubungan kerja lama tetap berada pada perusahaan Pak Hadi. Kami bisa memasukkan biaya pelatihan, standar produksi, dan dukungan transisi ke harga order, tetapi tidak boleh disamarkan sebagai pengalihan tanggung jawab tanpa angka."

Hadi tampak tersinggung. "Mereka orang saya. Saya tidak akan buang."

"Bagus," kata Nadia. "Maka kita tulis supaya tidak menjadi kalimat kosong."

Reza menyukai kalimat itu. Ia hampir tersenyum.

Bima mengambil alih bagian yang paling kasar: kapasitas.

"Kalau semua pekerja lama dipertahankan di lini yang sama tanpa pelatihan ulang, biaya per unit terlalu tinggi. Kalau dipotong setengah, kualitas tradisional hilang dan konflik sosial naik. Solusinya bukan memilih salah satu slogan. Solusinya membagi fungsi."

Ia menunjukkan peta kerja.

Pekerja senior yang menguasai adonan dan oven masuk tim rasa dan quality check. Pekerja yang siap belajar mesin masuk lini kemasan baru. Yang dekat pensiun diberi jadwal ringan untuk pelatihan resep dan dokumentasi, bukan dipaksa mengejar target fisik seperti usia dua puluh.

"Ini tetap biaya," kata Hadi.

"Ya," jawab Bima. "Tapi biaya yang bisa dihitung lebih baik daripada janji yang nanti meledak."

Perwakilan Mahardika mengetuk dokumen miliknya.

"Mahardika Konsumer siap membeli merek dan aset dengan harga lebih tinggi. Kami juga memiliki jaringan distribusi nasional. Dengan segala hormat, AKN baru belajar makanan. Pak Hadi perlu kepastian, bukan eksperimen."

Kalimat itu masuk akal. Justru karena masuk akal, ruang rapat menjadi berat.

Hadi membuka proposal Mahardika. Ada angka besar. Cukup untuk menutup utang, membayar dirinya, dan menyelesaikan sebagian kewajiban. Ia bisa pulang sebagai orang yang kalah tetapi tidak hancur.

Lalu dari jendela, suara oven uji terdengar lagi. Pekerja lama sedang menunggu keputusan tanpa tahu angka apa yang dipertaruhkan.

"Kalau saya tanda tangan dengan AKN," kata Hadi, "perusahaan tetap milik saya?"

"Ya," kata Raka. "Selama tidak ada perjanjian lain. Order bukan saham."

"Kalau gagal?"

"Order berhenti sesuai syarat. Kami tidak mengambil alih pabrik."

"Kalau berhasil?"

"Kami beli sesuai kontrak, bisa negosiasi kerja sama jangka panjang, dan Rasa Kita tetap berdiri sebagai pemasok independen."

Hadi tertawa kecil, pahit. "Anda memberi saya jalan yang lebih sulit."

"Saya memberi jalan yang masih punya nama Bapak di pintunya."

Perwakilan Mahardika menyela, "Pak Hadi, romantisme tidak membayar gaji."

Raka menoleh padanya. "Benar. Karena itu kami datang dengan PO, bukan puisi."

Untuk pertama kalinya, Bima tidak menahan senyum.

Hadi mengambil pena, tetapi belum menandatangani. "Saya punya permintaan. Pekerja lama tidak boleh tahu dari berita. Saya sendiri yang jelaskan."

"Itu hak Bapak," kata Raka.

"Dan kalau ada yang tidak sanggup ikut standar baru?"

Bima menjawab, "Kita pisahkan pelatihan, penempatan ulang, dan kewajiban perusahaan lama. Tidak semua orang bisa diselamatkan dengan posisi yang sama. Tapi tidak ada yang dipakai sebagai dekorasi lalu dibuang diam-diam."

Hadi mengangguk lama.

Ia menutup dokumen Mahardika.

Perwakilan itu berdiri. Senyumnya masih rapi, tetapi matanya dingin.

"Keputusan ini akan membuat Pak Hadi menanggung risiko lebih besar."

"Saya sudah menanggung risiko sejak ayah saya meninggalkan resep di buku tua," kata Hadi. "Setidaknya kali ini saya memilih dengan mata terbuka."

Pena menyentuh kertas.

Perjanjian Pesanan Rasa Kita ditandatangani.

Tidak ada tepuk tangan besar. Tetapi di luar ruang rapat, ketika kabar bahwa oven uji akan berjalan lagi menyebar, beberapa pekerja tua berdiri dari bangku. Salah satu dari mereka menutup wajah dengan handuk kecil. Yang lain pura-pura mengecek rak bahan baku padahal tangannya gemetar.

Raka melihat dari kaca.

Rp10 miliar itu bukan uang pahlawan.

Ia adalah tali, dengan simpul yang bisa menahan atau mencekik jika salah ditarik.

Setelah Mahardika pergi, Reza meletakkan map baru di depan Raka.

"Sekarang bagian saya."

Nadia mengangkat alis. "Kita baru selesai satu kontrak."

"Maka sebelum semua orang pura-pura lupa, saya bicara."

Reza menunjuk angka potensi pasar. Paket camilan Saga, revitalisasi kemasan, distribusi toko mitra, dan produk keluarga. Ia juga menunjuk risiko: kegagalan rasa, izin lambat, kritik publik karena bekerja dengan pabrik tua, dan reputasinya sendiri jika brand ini mati di tangannya.

"Saya minta tiga persen project profit untuk lini kebangkitan Rasa Kita yang dikelola AKN," katanya. "Bukan saham Rasa Kita. Bukan saham AKN. Bukan hak suara. Dibayar hanya dari laba proyek setelah biaya, pajak, refund, compliance, dan support yang bisa diverifikasi. Kalau proyek nol, bagian saya nol."

Bima langsung menyipit. "Kamu baru dapat skema Saga."

"Dan saya baru membuktikan saya bisa hidup dengan rem."

Yusuf berkata datar, "Tiga persen dari proyek makanan bisa lebih besar dari gaji banyak orang."

"Kalau saya gagal, nilainya nol. Kalau berhasil, perusahaan juga menang."

Hadi, yang masih di ruangan, melihat perdebatan itu dengan bingung. "Ini bisa dibahas nanti?"

Raka menutup map perlahan. "Tidak. Justru harus dibahas sebelum jalan."

Ia menatap Reza.

"Kamu meminta bagian dari pekerjaan yang belum kamu menangkan."

"Saya meminta alasan untuk memenangkannya."

Ruangan menjadi sunyi. Di luar, oven uji mulai mengeluarkan aroma kelapa lagi, seolah pabrik tua itu sengaja mengingatkan semua orang bahwa kesempatan selalu datang bersama biaya.

Raka berdiri.

"Kita bawa ke rapat manajemen inti. Hari ini."

Reza tidak tersenyum. Ia hanya mengangguk.

Kontrak dengan Rasa Kita baru saja menyelamatkan satu pabrik dari dijual murah.

Tetapi di dalam AKN sendiri, pertanyaan yang lebih tajam baru muncul.

Berapa harga yang pantas untuk orang yang bisa mengubah risiko menjadi kerajaan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!