Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Matahari mulai condong ke barat saat Shen Yunche melangkah sendirian membelah Hutan Bambu Utara. Suara gesekan daun-daun bambu yang tertiup angin malam menerpa indra pendengarannya—desir... desir...—menciptakan suasana misterius yang mencekam.
Yunche mempererat genggamannya pada gagang pedangnya. Dia tidak tahu siapa sosok yang telah melayangkan surat panggilan tersebut. Namun, bentuk ukiran simbol yang persis dengan peninggalan ayahnya tak memberi Yunche pilihan selain melangkah masuk ke dalam hutan ini.
Makin jauh melangkah, keheningan makin menelan area hutan. Yunche mendadak menghentikan langkahnya. "Keluar!" serunya tajam.
Tak ada sahutan. Hutan bambu itu tetap bungkam.
Yunche mengerutkan keningnya. "Aku sudah datang sesuai perintah surat itu!"
Hening sejenak. Lalu, gesekan batang bambu terdengar menyibak. Seorang wanita melangkah keluar dari kegelapan bayangan pohon. Parasnya anggun, berumur sekitar tiga puluh tahunan, memakai jubah putih polos dengan rambut panjang terurai. Namun, wajah wanita itu tampak teramat pucat.
Yunche refleks mengambil posisi siaga dengan pedangnya. "Siapa kau?"
Wanita itu tak menjawab. Sorot matanya yang redup terpaku lurus pada Yunche, sebelum akhirnya turun menatap liontin hitam yang menggantung di balik jubah dada pemuda itu.
"Jadi... ini benar-benar terjadi," gumam wanita itu lirih.
Yunche memicingkan mata penuh curiga. "Apa yang benar?"
"Kau memang putra Shen Tianyu," bisiknya seraya mengulas senyuk pahit. "Kau sangat mirip dengannya."
Yunche melangkah maju secara impulsif. "Kau kenal ayahku?!"
"Jangan mendekat!" tegur wanita itu seraya mengambil langkah mundur.
"Jawab aku dulu!" tuntut Yunche tak sabar.
"Shen Yunche," panggil wanita itu, menatapnya lurus. "Waktuku tidak banyak di sini."
"Siapa kau sebenarnya?"
Wanita itu membisu sejenak, lalu menjawab pelan, "Namaku... Shen Yue."
Yunche terpaku. Marga yang diucapkan wanita itu menyentak kesadarannya. "Shen?"
Wanita itu mengangguk lirih. "Aku adalah adik kandung ayahmu."
"Adik Ayah?" Yunche melongo tak percaya. "Kenapa selama bertahun-tahun ini aku tidak pernah mendengarkan namamu?"
"Karena..." Shen Yue menghela napas berat, "...seluruh anggota Keluarga Shen mengira aku sudah lama tewas. Ayahmu sendiri yang memintaku untuk melenyapkan jejak dan menghilang."
Yunche makin dibuat bingung oleh penyataan itu. "Kenapa Ayah memintamu menghilang?"
Bukannya menjawab pertanyaan Yunche, Shen Yue justru melemparkan pertanyaan balik, "Apakah kau sudah membuka segel liontin itu?"
Yunche mengerutkan kening, lalu merogoh liontin hitam di dadanya. "Maksudmu ini?"
Raut wajah Shen Yue mendadak berubah drastis menjadi kian pucat pasi begitu melihat pergeseran ukiran pada permukaan liontin. "Segel kedua..." bisiknya gemetar. "Kau sudah membukanya?"
Yunche mengangguk pelan.
Shen Yue memejamkan mata rapat-raptat. "Bagaimana bisa secepat ini..."
"Apa maksud ucapanmu?" cecar Yunche bingung.
Shen Yue menatapnya dengan raut amat serius. "Yunche, berapa banyak ingatan yang sudah kau dapatkan?"
"Hanya sedikit."
"Apa yang kau lihat di dalam ilusi memori itu?"
Yunche terdiam sejenak. "Lautan api."
Shen Yue mengangguk paham. "Lalu?"
"Lalu... Ayah muncul," lanjut Yunche dengan suara berat. "Dia menyampaikan sebuah pesan... bahwa seseorang telah membunuhnya."
Shen Yue menundukkan kepalanya dalam-dalam, tak bersuara.
Yunche menyergah maju dengan tatapan menuntut. "Apakah pesan itu benar?! Siapa orang yang telah membunuh Ayah?!"
Shen Yue mendongak perlahan, mengucap satu nama dengan teramat berat: "Gu Tianming."
Hawa dingin mendadak menusuk tulang Yunche. Sekali lagi, nama itu terlontar. "Jadi... Patriark Gu..."
"Ya," potong Shen Yue tegas. "Gu Tianming."
Yunche mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Kenapa? Kenapa dia melakukan hal sekejam itu pada Ayah?!"
"Karena ayahmu menemukan sesuatu," terang Shen Yue seraya menyapu pandangannya ke sekeliling hutan yang remang. "Sebuah rahasia besar yang seharusnya tidak boleh disentuh oleh siapa pun."
"Rahasia apa?"
"Gunung Tianyuan."
Yunche tersentak. Pesan terakhir ayahnya mendadak terngiang jelas di benaknya: Jangan pernah mendatangi Gunung Tianyuan.
Shen Yue melanjutkan, "Di puncak Gunung Tianyuan tersimpan sebuah warisan kuno—sebuah kekuatan masif yang sanggup merombak tatanan dunia kultivasi."
"Lalu apa hubungannya dengan Ayah?"
"Ayahmu berhasil menemukan kunci dan jalur rahasia menuju ke sana. Gu Tianming bertekad menghentikannya dengan cara apa pun."
"Kenapa dia harus menghentikannya?!" Yunche meringis gusar.
Shen Yue menatap Yunche iba. "Karena jika Shen Tianyu sampai menguasai warisan itu... keseimbangan seluruh dunia kultivasi ini akan hancur lebur."
"Omong kosong!" bentak Yunche menolak percaya.
Namun Shen Yue tak tersinggung oleh gertakan itu. Dia justru berbisik tegas, "Dengarkan aku, Yunche. Di dunia ini... jangan pernah memercayai siapa pun."
Kalimat itu persis seperti wanti-wanti yang ditinggalkan ayahnya. "Termasuk... Keluarga Gu?"
Shen Yue mengangguk pasti. "Termasuk Keluarga Gu."
Yunche bungkam seribu bahasa. Seketika, bayangan paras jernih Gu Qingli berputar di kepalanya. Yunche menelan ludah dengan susah payah sebelum memberanikan diri bertanya, "Lantas... bagaimana dengan Gu Qingli?"
Langkah Shen Yue membeku seketika. "Jangan."
Yunche langsung paham implikasi dari satu kata itu. "Kenapa? Dia adalah putri kandung Gu Tianming!"
Yunche meremas erat gagang pedangnya. "Jika ayahnya benar-benar pembunuh ayahku, bagaimana bisa aku—"
"Yunche," sela Shen Yue lembut namun penuh penekanan. "Jangan pernah melimpahkan Dosa seorang ayah kepada anaknya yang tak tahu apa-apa."
Yunche terpaku menatap bibinya. Shen Yue menyunggingkan senyum tipis yang menggoda. "Lagi pula... kalau kau benar-benar menyukai gadis itu..."
Wajah Yunche seketika membeku. "Apa?!"
"Putri Gu Tianming itu... Gu Qingli, kan?"
"Aku tidak menyukainya!" sergah Yunche cepat.
Shen Yue terkekeh pelan melihat reaksi spontan keponakannya. "Jangan berbohong pada bibimu sendiri."
"Aku serius tidak menyukainya!" tegas Yunche, meski rona merah terang kini telah menjalar hingga ke ujung telinganya.
"Benarkah? Kalau begitu kenapa wajahmu merah padam seperti itu?" goda Shen Yue.
Yunche refleks menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan sembari bergumam defensif, "Ini... ini cuma karena udara di Hutan Bambu ini terlalu panas!"
Shen Yue melirik ke sekeliling hutan bambu yang justru kian mendingin tertiup angin malam. "Panas? Di tengah hutan seperti ini?"
Yunche cuma bisa meracau bungkam. Untuk pertama kalinya di tengah lingkaran takdir yang rumit ini, Yunche merasakan sepercik rasa hangat dan nyaman dari seorang kerabat darahnya.
Namun, kenyamanan itu melenyap secepat kilat.
Shen Yue mendadak menegang dan menoleh tajam ke arah kegelapan hutan. "Cepat pergi dari sini!"
Yunche terperanjat. "Ada apa?"
"Pergi sekarang juga, Yunche!"
"Ada apa sebenarnya?!"
"Mereka sudah datang," bisik Shen Yue dingin.
Yunche menajamkan indranya dan seketika merasakan gelombang aura spiritual dalam jumlah masif tengah mengepung posisi mereka dari segala penjuru.
"Siapa mereka?!" tanya Yunche seraya mencabut pedang kayunya.
"Para pemburu," sahut Shen Yue mundur beberapa langkah. "Pemburu yang haus akan garis keturunan Shen Tianyu."
"Kalau begitu kita bertarung bersama!" seru Yunche bersiap pada posisi kuda-kuda.
Namun Shen Yue menggeleng keras. "Jangan konyol! Mereka bukan tandingan kultivasimu yang sekarang!"
Kening Yunche bertaut tajam. Dan sebelum dia sempat memprotes lagi, gemerisik derap langkah kaki yang teramat cepat meledak dari balik kegelapan batang-batang bambu.
apa gk syok tuh thor