Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Sayap Suci yang Patah
Gemuruh di langit sembilan tingkat tidak pernah terdengar semencekam ini. Di balik tirai awan emas yang biasanya memancarkan kedamaian, kilatan petir kesakitan membelah cakrawala Alam Langit.
Bau anyir darah suci menguar di antara pilar-pilar giok putih Istana Surgawi.
Dewi Shen Liya berlari tanpa arah. Gaun sutra putihnya yang biasa melambangkan kesucian kini telah koyak di beberapa bagian, menyisakan noda merah pekat yang terus melebar di bagian bahu dan pinggang.
Napasnya terengah-engah, memburu bersama detak jantungnya yang berdentang liar bak genderang perang. Setiap kali kakinya yang tanpa alas melangkah, jejak darah suci tertinggal di atas hamparan awan, menguap menjadi serpihan cahaya keemasan yang redup.
"Tangkap dia! Jangan biarkan Wadah Ilahi itu meloloskan diri!"
Suara teriakan bariton itu menggema di belakangnya, memantul di antara gugusan bintang. Itu adalah suara Panglima Gao, tangan kanan Dewa Tinggi Ling Cang. Pria yang selama ribuan tahun ia hormati sebagai guru dan pelindung alam langit, kini justru menjadi sosok yang mengirimkan mimpi buruk paling mengerikan dalam hidupnya.
Shen Liya menoleh sekilas ke belakang. Di kejauhan, belasan bayangan berbaju zirah emas melesat cepat di atas pedang terbang mereka. Tatapan mata para prajurit langit itu dingin, sekosong boneka jerami. Mereka tidak lagi memandangnya sebagai seorang dewi yang harus dihormati, melainkan sebagai seekor buruan yang harus diseret kembali ke altar pengorbanan.
Mengapa? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Shen Liya, membakar dadanya dengan rasa perih yang teramat sangat.
Hanya beberapa jam yang lalu, ia dipanggil ke aula utama oleh Ling Cang dengan alasan upacara pemberkatan alam. Namun, begitu ia melangkah masuk, segel pembatas langsung mengurungnya. Di tengah ruangan, sebuah altar kuno yang haus darah telah disiapkan. Ling Cang, dengan wajahnya yang dipenuhi senyum penuh kebajikan palsu, mengatakan bahwa tiga alam sedang menuju ambang kehancuran, dan satu satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan mengekstraksi seluruh energi suci dari tubuh Shen Liya.
Tubuhnya yang murni adalah Wadah Ilahi sempurna, sebuah resep rahasia yang dibutuhkan Ling Cang untuk menembus batas kedewaan tertinggi dan menjadi penguasa mutlak tanpa tanding.
"Kebajikan yang kau agungkan selama ini... ternyata hanyalah topeng untuk keserakahanmu, Ling Cang!" desis Shen Liya, menyeka darah yang mengalir dari sudut bibirnya.
Sebuah lesatan angin tajam memotong lamunannya. Panglima Gao telah memperpendek jarak. Pria itu mengangkat busur perak besar, menarik talinya hingga memancarkan cahaya ungu yang berpendar aneh.
"Dewi Shen Liya, menyerahlah! Takdirmu adalah menjadi fondasi bagi keabadian Dewa Tinggi Ling Cang. Jangan mempersulit kematianmu!" seru Panglima Gao dari atas langit.
Takdir? Shen Liya tertawa getir. Jika takdir yang digariskan oleh langit adalah membiarkan yang lemah dikorbankan demi keserakahan yang kuat, maka ia bersumpah akan mendobrak takdir tersebut, bahkan jika ia harus jatuh ke dalam neraka terdalam.
Wusss!
Anak panah berbalut cahaya ungu melesat membelah udara, mengincar punggung Shen Liya. Energi yang memancar dari anak panah itu sangat asing dan pekat. Itu bukan energi suci alam langit, melainkan sebuah kutukan kuno yang dikenal sebagai Jue Qing San—Racun Pemutus Sukma. Sebuah racun yang sengaja dirancang oleh Ling Cang untuk melelehkan inti kultivasi dan mengunci aliran energi korbannya agar tidak bisa melawan.
Shen Liya mencoba menghindar dengan melompat ke samping. Namun, tubuhnya yang sudah kelelahan tidak mampu bergerak secepat pikirannya.
Jleb!
Anak panah itu tidak mengenai jantungnya, melainkan menancap telak di bahu kirinya. Jeritan kesakitan yang menyayat hati lolos dari bibir sang Dewi. Rasa sakitnya tidak seperti luka tusuk biasa; rasanya seolah-olah ada ribuan jarum es yang membeku di dalam pembuluh darahnya, lalu dalam sekejap berubah menjadi api yang membakar inti jiwanya dari dalam. Racun itu mulai bekerja, memutus paksa aliran energi spiritual yang mengalir di meridian tubuhnya.
"Ugh..." Shen Liya berlutut di atas awan, memegangi dadanya yang mulai terasa membara. Kulitnya yang seputih porselen perlahan memancarkan uap tipis kemerahan, tanda bahwa racun itu sedang menggerogoti kesucian jiwanya.
"Kau sudah tidak bisa lari lagi, Dewi," ujar Panglima Gao, mendarat beberapa puluh langkah di depannya. Pedang panjangnya terhunus, berkilau di bawah cahaya bintang yang kian meredup.
Para prajurit langit segera mengepungnya dari segala penjuru, menutup semua celah untuk meloloskan diri.
Melihat lingkaran kepungan yang kian menyempit, Shen Liya tahu ia tidak memiliki kesempatan untuk menang dalam pertarungan fisik. Inti sucinya bergejolak hebat, menolak racun yang terus merangsek masuk. Jika ia tertangkap sekarang, jiwanya akan dicabik-cabik di atas altar Ling Cang.
Lebih baik aku hancur menjadi debu kosmis daripada harus menyerahkan kekuasaanku pada iblis berwajah dewa itu!
Dengan sisa-sisa kesadaran yang kian menipis dan tekad yang bulat, Shen Liya memejamkan mata. Ia membalikkan telapak tangannya, memaksakan sisa energi suci terakhir yang belum tercemar oleh racun untuk berkumpul di ujung jari telunjuknya.
Tindakan ini memicu rasa sakit yang luar biasa di dadanya, seolah-olah jantungnya sedang diperas hingga hancur. Namun, ia mengabaikannya.
Ia menghantamkan jarinya ke udara di depannya, menggambar sebuah aksara kuno pemecah ruang.
"Dengan darah dan sukmaku sebagai bayaran... Terbukalah!" teriak Shen Liya dengan suara parau.
BOOM!
Sebuah ledakan energi suci yang murni menghantam area sekitarnya, membuat Panglima Gao dan para prajurit langit terlempar beberapa langkah ke belakang untuk melindungi wajah mereka dari cahaya yang menyilaukan. Di hadapan Shen Liya, ruang vertikal terkoyak, membentuk sebuah celah dimensi hitam yang menganga lebar. Itu adalah jalan pintas acak menuju alam fana—dunia manusia yang dianggap hina dan kotor oleh para dewa tinggi.
"Hentikan dia! Dia ingin membuang dirinya ke dunia bawah!" teriak Panglima Gao dengan wajah panik. Jika Wadah Ilahi itu hilang di alam fana, rencana Dewa Tinggi Ling Cang akan tertunda, atau bahkan gagal total.
Namun, peringatan itu sudah terlambat. Sebelum tangan para prajurit langit sempat menyentuh ujung gaunnya, Shen Liya membiarkan tubuhnya jatuh bebas ke dalam celah hitam tersebut. Energi dimensi yang tidak stabil langsung merobek sisa-sisa pertahanan spiritualnya, membanting tubuh rapuhnya menembus batas-batas langit dan awan, sebelum akhirnya celah itu menutup kembali dengan suara berdentum keras.
Sementara itu, jauh di bawah sana, di sebuah sudut terpencil di dunia manusia.
Hutan Bambu Ungu di kaki Gunung Han adalah tempat yang jarang dijamah oleh manusia biasa. Kabut tebal selalu menyelimuti area ini, membuat siapa pun yang mencoba masuk akan kehilangan arah dan berputar-putar di tempat yang sama.
Di tengah hutan yang sunyi itu, berdiri sebuah pondok kayu yang sederhana namun tertata sangat rapi. Di halaman depan, barisan rak anyaman bambu berisi berbagai jenis tanaman obat sedang dijemur di bawah sinar rembulan.
Seorang pria berpakaian kain rami kasar berwarna abu-abu gelap sedang duduk tenang di bangku batu di bawah pohon persik yang belum berbunga. Tangannya yang jemarinya panjang dan kokoh memegang sebilah pisau kecil, dengan teliti mengupas kulit kayu obat beraroma pekat.
Pria itu adalah Gu Jue.
Di dunia fana ini, penduduk desa di kaki gunung mengenalnya sebagai Ah Jue, seorang tabib pengembara yang dingin, jarang berbicara, namun memiliki kemampuan menyembuhkan yang luar biasa.
Tidak ada satu pun manusia yang tahu bahwa di balik wajah tampannya yang tampak acuh tak acuh dan sepasang mata sehitam tinta itu, tersimpan sebuah identitas yang bisa membuat seluruh dunia fana berlutut ketakutan: dia adalah Mo Jue, Raja Iblis penguasa Alam Kegelapan yang agung.
Mo Jue sengaja mengasingkan diri ke dunia fana ini beberapa tahun lalu. Politik di Alam Iblis yang penuh dengan intrik kelicikan antar faksi membuatnya jemu. Ia pergi tanpa memberi tahu siapa pun, bahkan dua pelindung agungnya sekalipun, hanya demi mencari ketenangan sesaat di antara mortalitas manusia yang singkat.
Sret. Sret.
Suara pisau yang mengikis kayu adalah satu-satunya bunyi yang terdengar di malam yang sunyi itu. Namun, gerakan tangan Gu Jue tiba-tiba terhenti.
Mata hitamnya yang setajam elang menyipit, menatap lurus ke arah langit malam di atas hutan bambu. Angin malam yang semula berembus lembut tiba-tiba berhenti total. Hewan-hewan malam, dari jangkrik hingga burung hantu, mendadak bungkam seolah-olah ada predator raksasa yang sedang mendekat.
Sebagai sosok yang berdiri di puncak kekuatan alam bawah, Gu Jue memiliki kepekaan sensorik yang sangat mengerikan. Ia merasakan sebuah riak energi spiritual yang sangat besar—dan sangat asing bagi dunia fana—baru saja merobek langit.
Energi suci tingkat tinggi? batin Gu Jue, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang dingin.
Makhluk bermuka dua dari alam atas... apa yang mereka lakukan di tempat kotor ini?
Belum sempat ia berdiri, sebuah kilatan cahaya keemasan yang redup melesat jatuh dari langit, menembus kabut tebal Hutan Bambu Ungu. Cahaya itu jatuh dengan kecepatan tinggi, menghantam tanah hutan beberapa puluh meter dari pagar pondok kayunya.
BUM!
Suara hantaman itu cukup keras, membuat beberapa pohon bambu di sekitarnya patah. Gu Jue meletakkan pisau dan kayu obatnya dengan santai. Dengan langkah kaki yang sangat tenang—bahkan tidak menimbulkan suara sedikit pun di atas tumpukan daun kering—ia berjalan menuju pusat jatuhnya cahaya tersebut.
Begitu sampai di sebuah celah hutan yang terbuka, bau anyir darah suci langsung menyengat indra penciumannya. Gu Jue menghentikan langkahnya.
Di atas tanah yang sedikit amblas, terbaring sesosok wanita dengan pakaian sutra putih yang berlumuran darah. Rambut hitam panjangnya tersebar acak di atas tanah, membingkai wajahnya yang sangat pucat namun memiliki kecantikan yang teramat anggun, sebuah kecantikan yang tidak akan pernah bisa ditemukan di antara wanita fana.
Gu Jue menatap wanita itu dari atas ke bawah. Meskipun wanita itu sedang sekarat dan kesadarannya telah hilang, sisa-sisa aura suci yang memancar dari tubuhnya berbicara dengan sangat jelas.
"Seorang dewi inti dari kerajaan langit," gumam Gu Jue, suaranya terdengar rendah dan magnetis.
"Dan dia jatuh ke pelataran rumahku dalam kondisi sekacau ini."
Ia melangkah mendekat, lalu berjongkok di samping tubuh wanita yang tidak lain adalah Shen Liya.
Gu Jue mengulurkan dua jarinya, berniat memeriksa aliran meridian di pergelangan tangan wanita itu untuk mengetahui apa yang terjadi. Namun, begitu kulitnya bersentuhan dengan pergelangan tangan Shen Liya, sebuah sengatan panas yang luar biasa menyengat jarinya.
Gu Jue menarik tangannya kembali, matanya berkilat terkejut.
Ia melihat uap kemerahan yang kian pekat mulai keluar dari pori-pori kulit Shen Liya. Napas wanita itu kian memburu, dan bibirnya terus menggumamkan rintihan kesakitan yang tertahan.
"Ini... Jue Qing San?" Gu Jue langsung mengenali jenis racun tersebut. Sebagai musuh bebuyutan alam langit, ia sangat paham dengan taktik kotor para dewa tingkat tinggi yang sering menggunakan racun sukma ini untuk melenyapkan pembangkang di kalangan mereka sendiri.
Namun, ada satu hal yang membuat alis Gu Jue bertaut erat. Racun Pemutus Sukma yang ada di dalam tubuh dewi ini bereaksi dengan cara yang sangat ekstrem. Energi suci di dalam tubuh wanita ini terlalu murni dan terlalu besar, bertindak sebagai bahan bakar yang justru membuat racun tersebut berkobar puluhan kali lipat lebih cepat.
Jika dibiarkan selama beberapa jam lagi, inti spiritual wanita ini akan meledak.
Ledakan dari inti seorang dewi tingkat tinggi tidak hanya akan membunuh wanita itu sendiri, tetapi juga akan meratakan seluruh Hutan Bambu Ungu dan memusnahkan ribuan manusia di desa kaki gunung dalam radius puluhan mil—menghancurkan ketenangan tempat pengasingan yang sangat dinikmati oleh Gu Jue.
Gu Jue menatap wajah Shen Liya yang kini mulai mengerang, tubuhnya bergetar hebat di atas tanah karena rasa panas yang membakar dari dalam. Kulitnya yang semula putih kini perlahan berubah kemerahan, memancarkan daya pikat spiritual yang sangat pekat akibat distorsi racun yin-yang yang kehilangan keseimbangan.
"Menyusahkan sekali," desis Gu Jue, menatap langit malam yang kian pekat, seolah bisa melihat bayangan para pengejar dari langit yang mungkin sedang bersiap turun untuk mencari buruan mereka.
Raja Iblis itu berdiri, lalu dengan satu gerakan mudah, ia menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Shen Liya, mengangkat tubuh ringan sang Dewi ke dalam dekapannya.
Kontak fisik itu membuat energi panas dari tubuh Shen Liya langsung merambat ke dada Gu Jue, sementara energi dingin alami dari tubuh sang Raja Iblis membuat Shen Liya secara tidak sadar bergerak mendekat, mencari sumber kesejukan demi meredakan siksaan di dalam tubuhnya.
Gu Jue membalikkan badannya, membawa sang Dewi yang terluka parah dan teracuni itu melangkah kembali menuju pondok kayunya, tanpa menyadari bahwa malam ini adalah awal dari takdir baru yang akan menjungkirbalikkan tatanan tiga alam selamanya.