NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29: Pintu ke Dunia Baru

Atap sekolah menjadi tempat terbaik untuk melihat seberapa kecil SMA Garuda Cendekia sebenarnya.

Dari atas, lapangan terlihat seperti kotak hijau kusam. Koridor yang biasanya penuh teriakan hanya garis semen. Gerbang tempat wartawan menunggu berubah menjadi celah kecil di pagar. Arya berdiri di dekat tangki air, memegang amplop turnamen gomoku. Putri duduk di tembok rendah dengan hati-hati. Rizky tidak ikut karena Pak Surya menangkapnya mencoba membawa mi instan ke atap.

"Kamu akan ikut?" tanya Putri.

"Kemungkinan besar."

"Karena UNG menyarankan?"

"Karena ada Grandmaster Hendra Kusuma."

Putri membaca nama itu dari daftar peserta. "Dia legenda. Ayahku menonton pertandingannya. Katanya Hendra menang karena bisa membaca orang dan papan sekaligus."

"Membaca orang berguna kalau lawannya berpikir dengan cara manusia biasa."

"Kamu sedang mengatakan kamu bukan manusia biasa?"

"Saya sedang mengatakan pola Hendra mungkin terlalu lokal."

Putri menggeleng, tetapi ia sudah belajar bahwa kalimat seperti itu dari Arya biasanya bukan pamer kosong. Ia memandang langit sore. "Rafi mengirim hasil awal ke Pak Surya. Kamu masuk daftar observasi S."

Arya menoleh. "S? Mereka memberi huruf seperti game?"

"Kata Rafi, S berarti subjek strategis. Kemampuannya tinggi, risiko lingkungannya juga tinggi."

"Nama yang lebih buruk daripada Unit Nusantara Genius."

Putri tertawa kecil. "Aku setuju. Tapi isinya serius. Dengan status itu, kamu mendapat akses materi lanjutan dan kontak darurat. Sekolah juga harus melaporkan undangan publik yang melibatkanmu."

"Mereka mencoba membuat pagar tanpa menyebutnya pagar."

"Mungkin pagar lebih baik daripada lubang."

Arya tidak langsung menjawab. Angin atap membawa suara siswa pulang. Dulu, ketika pertama kali tiba di dunia ini, ia menganggap semuanya terlalu lambat, terlalu mudah, terlalu kacau. Ia masih berpikir demikian. Tetapi di antara sistem yang buruk itu ada Budi yang khawatir, Pak Surya yang belajar, Putri yang tajam, Rizky yang ribut, dan beberapa orang dewasa yang setidaknya tahu cara mengaku salah.

Dunia ini bodoh, tetapi tidak kosong.

Putri berkata, "Orang tuaku percaya UNG bisa membantu, tapi mereka juga takut. Ibuku bilang lembaga yang melindungi genius sering lupa genius itu manusia."

"Ibumu benar."

"Kamu takut?"

Arya melihat amplop di tangannya. "Saya tidak suka kata takut dipakai untuk semua bentuk kewaspadaan. Tapi ya, ada risiko. Bayangan melihat saya. UNG ingin menilai saya. Media ingin menjual saya. Sekolah ingin membanggakan saya. Semua orang punya versi Arya yang mereka butuhkan."

"Versimu sendiri?"

Pertanyaan itu lebih sulit daripada final provinsi.

Arya menyandarkan punggung ke pagar besi. "Versi saya ingin tahu kenapa saya ada di dunia ini. Ingin memastikan orang yang dekat dengan saya tidak menjadi korban. Ingin menemukan soal yang cukup sulit agar kepala saya tidak berkarat."

Putri memandangnya lama. "Kamu menyebut menjaga teman dan mencari soal sulit dalam satu daftar yang sama."

"Keduanya penting."

"Urutannya?"

Arya tidak menjawab dengan cepat. Putri tidak mendesak. Ia hanya menunggu, dan sikap menunggunya membuat Arya sadar bahwa beberapa orang tidak perlu memaksa untuk menjadi penting.

"Kalau harus memilih," katanya akhirnya, "orang dulu. Soal bisa menunggu."

Putri menunduk, menyembunyikan senyum yang terlalu jelas. "Bagus. Berarti kamu masih bisa dilatih."

"Saya bukan proyek pelatihan."`r`n`r`n"Bukan. Proyek pelatihan biasanya punya modul yang lebih patuh."

Arya menatapnya datar. "Analogi buruk."

"Tapi efektif."

Mereka tertawa pelan. Di bawah, sekolah mulai kosong. Untuk beberapa menit, tidak ada kamera, tidak ada polisi, tidak ada UNG, tidak ada Bayangan. Hanya dua siswa di atap, berbicara tentang hal-hal terlalu besar dengan suara biasa.

Ponsel Arya bergetar. Pesan dari Rafi masuk: undangan turnamen sudah dikonfirmasi. Grandmaster Hendra Kusuma menerima daftar peserta. Media nasional kemungkinan hadir. Pengamanan akan disiapkan jika kamu setuju.

Arya mengetik: Setuju. Jangan berlebihan.

Balasan Rafi datang cepat: Definisikan berlebihan.

Arya menjawab: Kalau Rizky bisa melihatnya, berarti berlebihan.

Di kantor kepala sekolah, Pak Surya menerima pemberitahuan yang sama. Ia menatap kalender, lalu menulis satu baris di bawah jadwal kompetisi pengetahuan: Turnamen Gomoku Nasional. Setelah itu ia membuka lemari dan melihat semua piala lama sekolah. Piala provinsi yang baru masih berkilau. Anehnya, kilau itu sudah terasa seperti awal dari tangga yang lebih tinggi.

Di Jakarta, Maya Kartika membaca laporan Rafi dan menandai satu frasa: memilih orang sebelum soal. Ia mengetuk meja sekali. "Dia tajam, dan dia bisa terikat. Itu membuatnya lebih kuat sekaligus lebih rentan."

Rafi bertanya lewat panggilan aman, "Apakah kita naikkan status perlindungan?"

"Belum. Biarkan turnamen berjalan. Strategi papan akan memberi data yang tidak bisa diberikan lomba pengetahuan."

"Dan Bayangan?"

Maya melihat foto Rahman, lalu foto Arya di panggung. "Mereka juga akan menonton."

Malam itu, Arya membawa pulang amplop turnamen. Budi membaca nama Hendra Kusuma dan bersiul pelan. "Ayah bahkan tahu orang ini. Kamu yakin?"

"Tidak ada alasan untuk tidak yakin."

"Itu bukan jawaban rendah hati."

"Ayah sudah lama tinggal dengan saya. Harusnya tidak berharap terlalu tinggi pada kerendahan hati."

Budi tertawa, lalu mengusap rambutnya. "Menang atau kalah, pulang utuh."

Arya mengangguk. Di meja, amplop itu terbuka seperti pintu.

Di balik pintu itu ada panggung nasional, Grandmaster yang angkuh, organisasi yang menilai, musuh yang mengintai, dan mesin bernama Otak Akhir yang belum ia ketahui.

Keesokan harinya, Rizky akhirnya mengetahui detail turnamen dan langsung mencari video Hendra Kusuma. Mereka bertiga menonton di laboratorium komputer setelah izin Pak Surya. Hendra bermain tenang, senyum tipis, dan sering membuat lawan menyerah sebelum posisi benar-benar selesai. Komentator lama menyebutnya pembaca jiwa papan.

Rizky menunjuk layar. "Dia terlihat seperti paman yang bisa tahu kita bohong soal nilai ulangan."

Putri berkata, "Dia menang karena lawan merasa rencananya dibaca."

Arya mengangguk. "Itu teknik tekanan psikologis. Kuat melawan pemain yang butuh keyakinan emosional. Lemah melawan posisi yang memaksa."

"Jadi kamu punya rencana?" tanya Putri.

"Membuat papan tidak memberi ruang untuk membaca perasaan. Setiap pilihan buruk. Kalau dia membaca saya, dia hanya menemukan saya sedang menghitung."

Rizky mematikan video. "Aku tidak tahu apakah itu strategi atau ancaman halus terhadap semua pemain nasional."

"Keduanya bisa berguna," jawab Arya.

Putri turun dari atap lebih dulu, tetapi sebelum membuka pintu tangga ia berhenti. "Arya, kalau nanti turnamen itu menjadi perang lain, jangan menunggu sampai semuanya hampir terlambat baru memberitahu kami."

Arya memasukkan amplop ke tas. "Saya akan memberitahu lebih cepat."

"Itu janji?"

"Itu data baru dalam sistem saya."

Putri menghela napas. "Untukmu, mungkin itu versi janji."

Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, Arya merasa soal berikutnya mungkin tidak membosankan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!