Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: HARI PENENTUAN DAN SEBUAH JANJI
Coach Farhan menghela napas berat, menatap keteguhan mata kapten timnya. "Dua menit, Devan. Kalau sakitnya makin parah, kamu keluar."
Dengan bantuan Rio, Devan berdiri tegak kembali. Ia meringis pelan saat menggerakkan tangan kanannya, lalu melangkah menuju garis free throw untuk mengeksekusi tembakan hadiah akibat pelanggaran keras tadi.
Seluruh isi arena mendadak hening.
Devan berdiri di garis tembakan. Tangan kanannya terasa gemetar dan panas, sulit diposisikan secara presisi. Ia memejamkan mata sejenak, mengingat kembali instruksi Raina saat latihan di lapangan sekolah: tekuk lutut, fokus ke belakang ring, dorong pakai siku.
Eksekusi tembakan pertama: Bola meluncur dan memantul di besi ring sebelum masuk. Score: 55 - 56.
Eksekusi tembakan kedua: Bola meluncur mulus tanpa menyentuh besi. Score: 56 - 56. Seri!
Sorak-sorai penonton meledak seketika.
Sisa waktu tinggal 15 detik. Ball possession berada di tangan SMA Rajawali. Arya mencoba melakukan penetrasi cepat, namun pertahanan rapat SMA Garuda membuat umpan bola terpental liar ke arah garis tengah.
Devan melempar tubuhnya tanpa ragu, merebut bola liar di lantai kayu meski harus kembali terseret dan menahan rasa sakit di sikunya. Sebelum jatuh sepenuhnya, Devan melempar umpan silang jarak jauh ke arah Rio yang berdiri bebas di bawah ring lawan.
Swish!
Bola masuk tepat saat sirine tanda berakhirnya pertandingan memekik panjang.
Papan skor akhir: 58 - 56. SMA Garuda lolos ke Babak Final Kejurnas!
Seluruh pemain melompat kegirangan dan menyerbu Devan yang tergeletak pasrah di lantai dengan napas terengah-engah. Di pinggir lapangan, Raina mengusap air mata lega yang akhirnya menetes di pipinya, menyunggingkan senyuman paling bangga untuk sang kapten basket.
BAB 25: DI BALIK RUANG MEDIS
Keramaian perayaan kemenangan di lapangan berangsur meredup ketika Devan dipapah masuk ke dalam ruang medis GOR Tri Dharma. Bau antiseptik dan semprotan pereda nyeri (ethyl chloride) memenuhi ruangan kecil berpendingin udara itu. Coach Farhan dan tim medis baru saja selesai membebat siku dan mengompres bahu kanan Devan dengan kantung es tebal.
"Sendi bahumu aman, tidak ada dislokasi," ujar petugas medis sambil merapikan peralatan. "Tapi memar dan kram ototnya lumayan parah. Kamu harus istirahat total sampai pertandingan final lusa."
Devan hanya mengangguk pelan, bersandar pada ranjang periksa dengan wajah lesu. Sisa-sisa adrenalin yang tadi membakar tubuhnya kini menguap, menggantikannya dengan rasa nyeri yang menjalar dari siku hingga pangkal leher.
Pintu ruang medis terbuka perlahan. Raina melangkah masuk, membawa tas ransel Devan dan botol air mineral hangat. Wajahnya tampak jauh lebih tenang dibandingkan saat di lapangan tadi, walau jejak kekhawatiran masih menyisa samar di balik kaca mata berbingkai tipisnya.
"Coach, bisa tinggalkan kami sebentar?" minta Raina sopan.
Coach Farhan menepuk pelan bahu kiri Devan sambil tersenyum tipis. "Istirahat yang benar, Kapten. Tugas beratmu belum selesai."
Setelah pintu tertutup rapat, suasana ruangan mendadak hening. Raina berjalan mendekat, meletakkan tas Devan di kursi kayu sebelah ranjang, lalu menarik napas panjang.
"Masih mau sok jagoan?" tebak Raina pelan, melipat kedua tangannya di dada.
Devan menyunggingkan senyum lemah, mencoba mencairkan suasana. "Kan udah janji, Bu Wakil. Lagian, menang kan?"
"Menang tapi bikin orang satu lapangan mau senewen," potong Raina tajam, walau tangannya bergerak perlahan mengambil kantung es yang sedikit bergeser dari bahu Devan, membetulkan posisinya dengan sangat hati-hati agar Devan tidak kesakitan.
Sentuhan lembut jemari Raina membuat Devan terdiam. Ia menatap wajah Raina dari jarak dekat—mengecek setiap ekspresi gadis yang telah mengubah banyak hal dalam hidupnya selama beberapa bulan terakhir.
"Maaf udah bikin kamu cemas," bisik Devan tulus, suaranya pelan dan dalam. "Waktu gua jatuh tadi, hal pertama yang gua pikirin cuma wajah kamu yang takut kehilangan penjaminnya di depan Pak Hendra."