Bima Aditya, seorang dokter magang yang diremehkan dan dicampakkan kekasihnya demi pria kaya, tiba-tiba mendapatkan keajaiban setelah mengalami kecelakaan tragis. Ia membangkitkan Sistem Medis Super yang memberinya kemampuan bedah tingkat dewa, mata-X, dan pengetahuan medis puluhan tahun, dengan syarat ia harus terus menyelamatkan nyawa pasien di lapangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Wushhh.
Angin malam berhembus kencang menerpa tiga mobil SUV hitam yang melaju tanpa menyalakan lampu depan.
Ciiiit.
Mobil-mobil itu berhenti mendadak di balik semak belukar tinggi yang mengelilingi kawasan industri timur.
"Kita sudah sampai di batas luar pabrik pupuk, Dokter Bima," lapor Leo dari kursi kemudi.
"Bagus, suruh anak buahmu mematikan semua mesin sekarang," balas Bima dengan tenang.
Bima membuka pintu mobil dan turun menjejakkan kakinya di tanah yang becek sisa hujan sore tadi.
Dia menatap bangunan pabrik raksasa yang tampak seperti kerangka monster besi di tengah kegelapan malam.
"Kelihatannya sangat sepi, apakah informasi intelijen kita salah?" tanya Leo curiga sambil membawa senapan serbunya.
"Tidak, mereka semua ada di dalam sana."
Bima memfokuskan pandangan matanya ke arah bangunan utama yang tertutup rapat.
"Sistem, aktifkan Pandangan Sinar-X secara maksimal," perintah Bima di dalam hatinya.
[Pandangan Sinar-X diaktifkan.]
[Memindai struktur bangunan dan mendeteksi sumber panas tubuh manusia.]
[Terdapat empat puluh target bersenjata di lantai dasar dan sepuluh target di ruang bawah tanah.]
"Ruang bawah tanah," gumam Bima pelan.
"Ada apa, Dokter?" tanya Leo mendekat.
"Laboratorium mereka ada di bawah tanah, tepat di bawah cerobong asap utama itu."
Bima menunjuk ke arah struktur silinder tinggi yang menjulang di tengah area pabrik.
"Pasukanmu harus menyerang dari pintu depan untuk menarik semua perhatian penjaga ke sana."
Leo mengerutkan keningnya dengan cemas.
"Itu tindakan bunuh diri, Dokter Bima."
"Mereka punya senapan mesin berat tersembunyi di balik pintu gulung itu, aku yakin sekali."
"Aku juga bisa melihat senapan itu dari sini," jawab Bima tenang.
"Lalu apa rencana Anda untuk menembus pertahanan mereka?" tanya Leo semakin tegang.
"Kita gunakan ilmu kimia medis lagi."
Bima membuka tas ranselnya dan mengeluarkan dua buah tabung seukuran kaleng minuman bersoda.
"Lempar tabung ini ke lubang ventilasi udara di samping gerbang utama pabrik."
"Apa isi tabung ini, Dokter?"
"Itu adalah gas air mata konsentrasi tinggi yang sudah kucampur dengan ekstrak capsaicin murni."
"Mereka tidak akan bisa membuka mata atau bernapas dengan benar selama setengah jam penuh."
Leo tersenyum lebar dan menerima kedua tabung tersebut.
"Anda benar-benar menakutkan jika sudah menggunakan racikan bahan kimia, Dokter."
"Lakukan sekarang, aku akan menyusup lewat jalur pipa pembuangan air di belakang bangunan."
Leo langsung membelalakkan matanya terkejut.
"Tunggu, Anda mau masuk sendirian ke bawah sana?"
"Tugasku hanya mengambil sampel parasit yang masih hidup, bukan untuk ikut berperang."
"Tapi Tuan Besar Darma menyuruh saya menjaga Anda."
"Kau hanya akan menghambat gerakanku jika ikut masuk lewat jalur pipa sempit itu, Leo."
Bima menepuk bahu pengawal kekar itu dengan mantap.
"Buat keributan sebesar mungkin di depan, itu perlindungan terbaik untukku."
"Baik, Dokter Bima, saya mengerti."
Leo memberi isyarat tangan pada anak buahnya untuk mulai bergerak menyebar ke arah gerbang utama.
Bima segera berlari mengendap-endap menembus semak-semak menuju bagian belakang pabrik.
Suasana sangat sunyi selama beberapa menit pertama.
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah depan pabrik.
Bum! Bum!
Asap putih pekat langsung mengepul masuk melalui lubang ventilasi pabrik.
"Uhuk! Uhuk! Gas apa ini?!" teriak suara serak dari dalam gedung.
"Mataku panas! Aku tidak bisa melihat!"
Kekacauan langsung pecah di lantai dasar pabrik tersebut.
Dor dor dor!
Suara tembakan senapan serbu mulai bersahut-sahutan memecah keheningan malam.
Leo dan pasukannya sudah mulai melakukan penyerangan dari luar untuk menekan mundur para penjaga.
"Sekarang giliranku," gumam Bima.
Bima menemukan sebuah lubang pipa pembuangan air berbahan beton yang mengarah langsung ke ruang bawah tanah.
Dia menyalakan senter kecil di mulutnya dan merangkak masuk ke dalam pipa yang berbau pesing tersebut.
Berkat ketajaman mental yang ditingkatkan sistem, Bima tidak merasa panik atau sesak napas di tempat sempit itu.
Dia merangkak sejauh dua puluh meter hingga menemukan sebuah jeruji besi penutup saluran ventilasi.
Bima melihat ke bawah melalui celah jeruji tersebut.
Dia bisa melihat sebuah ruangan laboratorium serba putih yang sangat bersih, berbanding terbalik dengan kondisi pabrik di atasnya.
"Sistem, pindai ruangan di bawah ini," batin Bima.
[Tidak terdeteksi jebakan laser atau sensor gerak di dalam ruangan.]
[Terdapat tiga target manusia di dalam laboratorium.]
Bima mengeluarkan sebuah obeng kecil dari sabuk medisnya.
Klotak klotak.
Dia membuka baut jeruji besi itu dengan sangat cepat dan hati-hati.
Setelah jeruji terbuka, Bima meluncur turun dan mendarat di atas lemari pendingin berukuran besar.
Brak.
Suara pendaratan Bima terdengar cukup keras di ruangan yang sunyi itu.
"Siapa di sana?!" teriak seorang pria yang mengenakan jas lab putih.
Bima melompat turun dari atas lemari dan berdiri tegak menghadap ketiga orang tersebut.
Salah satu dari mereka membelalakkan matanya karena sangat terkejut.
"Ternyata kau benar-benar berani datang ke sini, Dokter Magang."
Pria itu adalah Kevin, yang sedang berdiri di dekat sebuah meja bedah baja.
Tangan Kevin masih dibalut perban akibat luka bakar bahan kimia di rumah sakit semalam.
"Kau rupanya belum mati juga, Kevin," sapa Bima dengan senyum mengejek.
"Bagaimana kau bisa masuk ke ruangan ini?!" bentak Kevin dengan wajah pucat.
"Aku hanya mengikuti bau busuk dari tubuhmu."
"Tutup mulutmu!"
Kevin menoleh ke arah dua orang penjaga bertubuh besar di sebelahnya.
"Bunuh dia sekarang juga!" perintah Kevin panik.
Kedua penjaga itu langsung mencabut pistol dari pinggang mereka.
Dor dor!
Bima bergerak secepat kilat menghindari arah moncong senjata sebelum peluru diletuskan.
Dia meluncur ke balik meja bedah baja yang tebal.
Ting ting!
Peluru memantul mengenai kaki meja baja tersebut.
Bima tidak tinggal diam, dia mengambil dua buah jarum suntik berisi cairan pelemas otot dari sabuknya.
Bima mengintip dari balik meja dan melemparkan kedua jarum itu layaknya pisau lempar.
Jleb! Jleb!
Kedua jarum itu menancap akurat di paha kedua penjaga tersebut.
"Argh! Apa ini?!" erang salah satu penjaga sambil mencabut jarum suntiknya.
Hanya butuh waktu tiga detik sebelum obat pelemas otot dosis tinggi itu bereaksi di aliran darah mereka.
Brugh! Brugh!
Kedua penjaga itu ambruk ke lantai dengan tubuh kejang-kejang ringan sebelum akhirnya lumpuh total.
Kevin yang melihat kejadian itu langsung gemetar ketakutan.
Dia melangkah mundur hingga punggungnya menabrak rak kaca berisi tabung-tabung cairan hijau.
"Sekarang tinggal kita berdua, Kevin," ucap Bima sambil berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.
"Sistem, pindai seluruh tabung kaca di ruangan ini," batin Bima.
[Memindai struktur genetik.]
[Mendeteksi DNA parasit mutan hidup dengan tingkat kecocokan seratus persen pada tabung di belakang target.]
Mata Bima langsung tertuju pada sebuah tabung kaca khusus di atas meja di belakang Kevin.
Di dalam tabung itu, seekor parasit hitam berukuran sebesar jari telunjuk sedang menggeliat di dalam cairan nutrisi.
"Ternyata barang yang kucari ada tepat di belakangmu," ucap Bima dengan nada dingin.
"Minggir dari sana."
Kevin merogoh saku jasnya dengan tangan gemetar dan mengeluarkan sebuah pistol kecil.
"Kau tidak akan bisa membawanya hidup-hidup, Bima!"
"Jika aku menembak tabung ini, sampel induk parasitnya akan hancur dan Kiara akan mati!" ancam Kevin sambil menodongkan pistolnya ke arah tabung tersebut.