Dipaksa menjadi pengantin pengganti demi melunasi utang lima miliar keluarga angkatnya, Kiyora Aleena pasrah dibawa oleh penguasa mafia Italia yang paling ditakuti—Salvatore.
Namun, alih-alih dijadikan tawanan atau simpanan, pria dingin nan kejam itu justru memperlakukannya bagai seorang ratu. Puncaknya terjadi saat sebuah bisikan misterual membakar ingatan masa lalunya.
"Aku tidak pernah salah mengenali milikku," bisik Salvatore rendah, menatap gelang perak berbandul merah di pergelangan tangan Kiyora.
"Kamu adalah Istriku. Ratu dari seluruh kerajaanku ... Alaura."
"N-Nama aku Kiyora, Om Tuan Mafia! Salah orang kali!" pekik Kiyora panik dengan mata bulatnya yang berbinar kaget.
Siapa sebenarnya Alaura? Dan mengapa takdir mempertemukannya kembali dengan Salvatore di tengah ancaman perang berdarah antar-klan mafia yang siap membongkar rahasia besar tentang identitas aslinya?
Terlebih, ada bocil cadel menggemaskan yang merecoki kisah percintaan mereka.
"Ini Mama Milooo!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaan Seorang Ibu
Setibanya mobil lapis baja milik Salvatore di halaman mansion, lampu sorot teras menyinari sosok mungil yang sudah berdiri menanti di dekat pintu utama. Milo. Bocah kecil itu melipat kedua tangan pendeknya di depan dada, menatap tajam ke arah mobil yang baru saja berhenti.
Kiyora turun terlebih dahulu. Begitu kakinya menyentuh lantai teras, pandangan mata Milo langsung terkunci padanya. Bola mata bulat bocah itu menyipit penuh kecurigaan. Tak lama, Salvatore turun dari pintu kemudi, menyusul di samping Kiyora. Para pelayan dengan sigap mendekati bagasi, mengambil bermacam-macam kantong belanjaan dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Milo melangkah maju dua langkah, kepalanya terdongak menatap dua orang dewasa di hadapannya.
"Dali pukul delapan campe cepuluuuuuh, kemana olang tua bawa Onty milo pelgiiiii?! Nda bawa miloooo?" pekik Milo dengan tatapan tajam dan nada menuntut yang menggelegar.
Kiyora menyeringai canggung, merasa bersalah pada keponakan kecilnya itu. "Bukan enggak mau, tapi Milo udah tidur," ucap Kiyora pelan, berusaha memberikan pengertian.
Milo melirik Kiyora dengan raut makin kesal. "Kan bica banguniiiiiin! Milo emang tidulnya kayak kebooo? Ndaaaaa, kenapa nda ada yang mau bangunin milooo?! Kenapa maunya tinggalin Milo cengcala di kamal tidul Miloooo?!" pekik anak itu dengan dramanya yang membumbung tinggi, sementara matanya mendadak berkaca-kaca menahan rasa sengsara yang dibuat-buat.
Salvatore yang berdiri di samping Kiyora hanya memutar bola matanya malas. Pria itu sama sekali tidak terpengaruh oleh sandiwara keponakannya.
"Mulai dramanya," desis Salvatore dingin. Tanpa memedulikan rengekan Milo, pria itu melangkah masuk melewati pintu utama, meninggalkan Milo yang terpaku menatap punggung pamannya.
Sebelum langkah Salvatore terlalu jauh, Milo menarik napas dalam-dalam lalu berteriak sekuat tenaga.
"CITU YANG CELALU BELDELAMAAAAA! BELDELAMAA MENYIKCA DILIII INIIIIIII!" teriak Milo dengan begitu emosi, suaranya melengking memenuhi area teras.
Milo lalu beralih menatap Kiyora yang memandangnya dengan raut syok sekaligus menahan tawa. Dalam sekejap mata, ekspresi emosi di wajah Milo meluruh. Ia menatap ke arah Kiyora dengan tatapan lemah dan sayu, berubah dari mode pemarah menjadi bocah paling merana di dunia.
"Milo kan mau jagain onty, bial nda di culik mucang klempeng," ucap Milo dengan nada pelan dan mengasihan.
Hati Kiyora seketika meleleh. Gadis itu segera berlutut kecil, meraih tangan mungil Milo dan menuntunnya berjalan masuk ke dalam ruang tengah yang hangat.
"Tadi Aunty belikan Milo makanan, susu, popok," ujar Kiyora mencoba mencairkan suasana seraya mengelus kepala Milo.
Milo mendongak, menunjukkan raut wajah keberatan. "Milo cudah becal, nda pelu popok," tolaknya tegas.
"Tapi Milo masih enggak mau cebok sendiri," balas Kiyora menggoda.
"Bukan nda mau, geli Onty. Capi aja nda mau cebok cendili, Milo nda mau juga lah," balas anak itu dengan logika ajaibnya yang sangat percaya diri, membuat Kiyora akhirnya tak sanggup menahan tawa dan terkekeh kecil seraya merangkul bocah ajaib itu.
.
.
.
.
Sementara itu, di waktu yang sama di kediaman klan D'Alterio, atmosfer di dalam ruang keluarga terasa begitu berat dan mencekam. Tangisan Amoera kembali pecah, bergema pilu menembus dinding-dinding batu megah mansion. Wanita itu terduduk di sofa panjang, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang gemetar. Di sampingnya, Leon tampak berusaha menenangkan sang istri dengan mengusap lembut punggungnya.
Namun kali ini, usapan hangat itu tak mampu meredakan badai trauma di hati Amoera. Wanita itu mendadak menepis tangan Leon secara kasar. Ia mendongak, memperlihatkan wajahnya yang sembab dan memerah oleh air mata.
"Kenapa kamu tidak pernah percaya padaku?!" seru Amoera dengan suara serak yang memutus keheningan malam.
Leon tersentak pelan. Matanya menatap Amoera dengan penuh keprihatinan. "Amoera, tenanglah—"
"Tidak! Aku tidak bisa tenang!" potong Amoera histeris, napasnya kempas-kempis menahan sesak di dada. "Sejak dulu ... bahkan di mana putri kita hilang, bahkan sampai detik ini, kamu tidak pernah mempercayai ucapanku! Kamu selalu menganggapku gila! Kamu menganggap setiap jeritan hatiku hanyalah ilusi dari penenang!"
"Amoera, aku hanya tidak ingin kamu terus menyiksa dirimu sendiri dengan harapan palsu ...," lirih Leon, suara bass-nya bergetar jarang memperlihatkan kerapuhan.
"Sekali ini saja ... tolong percaya padaku!" jerit Amoera, jemarinya mencengkeram erat kerah kemeja Leon dengan sisa tenaga yang dimilikinya. "Aku melihat putri kita! Aku menyentuh wajahnya, Leon! Aku ibunya ... perasaanku, naluriku mengatakan dia adalah anakku! Seorang ibu tidak akan pernah salah mengenali darah dagingnya sendiri!"
Dada Amoera kempas-kempis, air matanya menetes membasahi kemeja Leon. Tatapan matanya yang sarat akan duka mendalam dan keyakinan mutlak menghantam dinding pertahanan Leon hingga hancur berkeping-keping. Pria ketus yang terkenal tak berhati di dunia bawah itu membeku. Selama belasan tahun, ia menutup rapat pintu harapannya agar tidak hancur saat kecewa, namun melihat keputusasaan di mata istrinya malam ini, rasa ragunya mulai goyah.
Bagaimana jika ... kali ini Amoera benar?
Di sudut ruangan, Enzo Eren turut menyaksikan pertengkaran emosional kedua orang tua mereka. Pria kembar itu saling pandang dengan raut wajah yang mendadak berubah sangat serius. Binar tengil yang biasanya ada pada wajah Eren seketika sirna, digantikan oleh kewaspadaan tinggi.
Leon memejamkan matanya rapat-rapat selama beberapa detik, menghela napas panjang yang amat berat. Ketika ia kembali membuka mata, ketegasan seorang Don Mafia telah kembali ke dalam binar matanya, namun kali ini bercampur dengan rasa tekad yang membara.
Ia membelai lembut pipi Amoera, menghapus jejak air mata di sana. "Baik," bisik Leon pelan namun mantap di depan wajah istrinya. "Aku akan mempercayaimu kali ini, sayang."
Leon perlahan berdiri dari sofa. Tubuh tegapnya berbalik menatap kedua putra kembarnya yang berdiri sigap di dekat ambang pintu. Suasana di dalam ruangan seketika berubah tegang dan dipenuhi aura perintah yang tak bisa dibantah.
Leon menatap Enzo dan Eren dengan sorot mata tajam nan mengintimidasi.
"Cek CCTV mall tersebut," perintah Leon dingin dan tegas. "Cari tahu siapa gadis yang ditemui mommy malam ini. Lakukan sekarang juga."
__________________
Dor dor dorrr🤣🤣
kiyora 😭