Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.
Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.
Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.
Brak!
Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.
Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?
Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Sekolah kembali seperti biasa,Namun satu hal berbeda isu tentang bagas dan ayla sudah menyebar ke mana-mana.
"Katanya mereka putus."
"Iya,satu minggu kemarin rame banget semua pada lihat pertengkaran mereka."
Sampai bagas muncul di koridor dan menggenggam tangan ayla.
Semua yang melihat langsung terdiam.
"Hah mereka balikan?."
Namun kali ini bagas tidak berhenti di situ,Bagas menoleh ke sekitar,Seolah sengaja ingin semua orang mendengar.
"Sekalian gue lurusin."
Nada suaranya tegas.
"Aku sama ayla emang sempat ada masalah."
Ayla menatapnya.
"Tapi kita nggak pernah benar-benar selesai."
Hening.
Bagas menarik napas sebentar.
"Dan satu hal lagi."
Semua mulai fokus.
"Ayla tunangan gue."
SUNYI.
Beberapa detik.
Lalu semua orang.
"APA?!."
Sekolah langsung gempar.
Ayla langsung kaget.
"Bagas"
Bagas menoleh sebentar,Tatapannya tenang.
Ada Rina,Salsa,Dimas dan raka yang berdiri tidak jauh langsung saling pandang.
"Keren habis putus,Langsung go public"ucap rina.
Dimas menyeringai kecil.
"Udah bukan rahasia buat kita."
"Iya,Udah gak nanggung rahasia lagi kita"
Namun di antara keramaian itu keisha berdiri diam,Tatapannya berubah.
"Tunangan?."
Tangannya mengepal perlahan.
"Jadi selama ini."
"Aku cuma masuk ke cerita yang udah jadi?."
Keisha menarik napas pelan,Senyum tipis muncul.
"Menarik."
"Kalau aku bisa ngerusak ini."
"Pasti jauh lebih sakit."
Di kelas ayla.
Suasana masih ramai
"Keren banget calon suami kamu ay,habis putus,balikan,langsung go public tunangan"ucap salsa.
Ayla langsung salah tingkah.
"Yang penting sekarang udah gak ada yang harus disembunyikan jelas."
Di bangku lain,Keisha duduk diam,Menatap ke depan.
"Tunangan"
"Berarti kalau ini hancur."
"Yang hancur bukan cuma hubungan biasa."
Tiba-tiba bagas masuk.
Suasana langsung hening.
Bagas berjalan lurus,Bukan ke ayla,Tapi ke keisha.
Ayla langsung menegang.
Bagas berhenti di depan meja keisha.
Hening.
Keisha menoleh dan tersenyum tipis.
"Nyari aku?."
Bagas menatap dingin.
"Gue cuma mau jelasin satu hal."
Nada suaranya rendah.
"Tolong jauhin ayla."
Hening.
Keisha bersandar santai.
"Kalau nggak?."
Bagas sedikit mendekat.
"Kalau lo nyakitin dia lagi."
Matanya tajam.
"Gue pastiin lo keluar dari sekolah ini."
Hening.
Suasana kelas langsung tegang.
Keisha menatap balik.
Beberapa detik.
Keisha diam beberapa detik.
"Segitunya?."
"Hmm"Jawab bagas singkat.
Hening.
"Gue nggak bercanda."
Keisha diam,Untuk pertama kalinya tidak langsung membalas.
"Ini peringatan terakhir."
Bagas lalu berbalik,Keluar kelas.
Ayla hanya bisa menatap,Perasaannya campur aduk.
Keisha menunduk sedikit.
"Menarik."
"Semakin dijaga."
"Semakin pengen gue hancurin."
Waktu istirahat.
Seperti biasa rina dan raka izin bersamaan.
Namun kali ini Ayla,Bagas,Salsa dan dimas sudah saling paham,Mereka mereka saling melirik
"Mereka izin bersamaan lagi"bisik salsa.
Ayla mengangguk pelan.
"Kita ikutin aja."
Bagas menyipitkan mata.
"Mencurigakan."
Dimas langsung semangat.
"Wah ini seru."
Mereka berjalan pelan menuju belakang gedunng,Langkah dipelankankam,Sampai mereka melihat dari kejauhan.
Rina Dan raka berduaan.
Salsa langsung membelalak,Mulutnya hampir teriak ayla cepat menutup mulutnya.
"SSST!."
Mereka semua langsung jongkok di balik tembok.
Dimas ikut jongkok,Tapi terlalu semangat sampai hampir jatuh.
"Pelan dikit!"bisik salsa kesal.
Dimas mengangguk cepat.
Mereka mengintip pelan,Di sana rina dan raka terlihat sedang bicara.
Salsa berbisik cepat.
"INI FIX!."
Ayla menahan napas.
Dimas mendekat sedikit lagi,Terlalu dekat.
Salsa langsung narik bajunya.
"WOI,KETAUAN NANTI!."
Dimas mengangguk.
Beberapa detik aman,Sampai tiba-tiba
"ACK-HAUGH"
Batuk keras.
Semua langsung freeze.
Ayla langsung menoleh ke dimas,Melotot.
Salsa juga.
"DIMAS?!"Berbisik marah.
Dimas panik,Menutup mulutnya.
"Debu"bisiknya lemah.
Namun sudah terlambat,Di depan rina dan raka langsung menoleh.
Hening.
Tatapan mereka tepat ke arah tembok.
"Keluar."Suara Raka datar.
Hening beberapa detik.
Dimas pelan-pelan berdiri duluan,Senyum canggung.
"Hehe kebetulan lewat."
Bagas langsung tepok jidat.
Salsa ikut berdiri.
Ayla menyusul pelan.
Rina langsung kaget.
"Kalian?."
Raka di sampingnya menghela napas.
"Udah ketahuan ya."
Hening.
Rina menunduk.
"Iya."
Dimas langsung bereaksi.
"SERIUSAN KALIAN?!."
Salsa ikut kaget.
"DARI KAPAN?!."
Ayla mendekat pelan.
"Kenapa nggak cerita?."
Rina menggenggam tangannya sendiri.
"Karena,Hubungan ini nggak boleh ketahuan."
Hening.
Raka melanjutkan.
"Orang tua kita ada masalah bisnis lama"
Rina mengangguk.
"Kalau sampai mereka tahu"
Suaranya mulai bergetar.
"Aku bisa dipindahin sekolah."
Semua langsung terdiam.
Hening.
Ayla langsung memeluk rina.
"Kamu nggak sendirian."
Rina langsung berkaca-kaca.
"Iya"
Salsa ikut memeluk.
"Kita rahasiain bareng-bareng."
Dimas mengangkat tangan.
"Aman dari gue."
Lalu dimas batuk kecil lagi.
"Ack-haugh."
Semua langsung menoleh.
Bagas langsung nyeletuk.
"Kalau lo batuk lagi,Gue kunci lo di sini."
Salsa langsung ketawa kecil.
Suasana yang tadinya tegang sedikit mencair.
Hening.
Kini rahasia itu hanya diketahui mereka berenam Dan harus dijaga.
Flashback.
Beberapa tahun lalu.
Sore hari.
Hujan baru saja reda.
Di depan sebuah gerbang sekolah,Rina dan raka berjalan keluar bersama.
Rina tersenyum kecil.
"Untung kamu tadi nungguin aku."
Raka mengangkat bahu santai.
"Ya masa aku biarin kamu sendirian."
Rina mengangkat ponselnya,Layar hampir mati.
"Handphone juga lowbat."
Raka terkekeh.
"Makanya,Lain kali jangan lupa bawa charger."
Mereka berjalan menuju mobil,Suasana ringan dan Tanpa beban.
Ditempat lain
Beberapa jam sebelumnya.
Di ruang meeting.
Dua orang tua mereka terlibat perdebatan.
"Laporan ini jelas beda dari yang kita terima!"suara ayah rina tegas.
Ayah raka langsung membalas.
"Itu karena ada data yang belum diperbarui!."
"Kenapa tidak dikirim dari awal?!."
"Karena tim kalian juga belum kirim revisi terakhir!."
Hening sejenak.
Keduanya saling menatap tajam.
Ini bukan soal niat buruk,Namun kesalahan komunikasi,Data yang tidak sinkron,Informasi yang terlambat dan ego yang sama-sama tinggi.
"Akhirnya proyek gagal"kata ayah rina dingin.
"Dan sekarang saling menyalahkan."
Ayah raka menghela napas.
"Kalau dari awal kita duduk bareng lagi,Ini bisa selesai."
Namun emosi sudah terlanjur naik.
Ayah rina berdiri.
"Saya anggap kerja sama ini selesai."
Hening.
Ayah raka ikut berdiri.
"Kalau itu keputusanmu."
Tatapan mereka dingin.
"Mulai sekarang tidak ada lagi hubungan kerjasama antara kita."
Suasana membeku.
Kembali ke rina dan raka
Rina dan raka baru saja sampai di depan rumah Rina.
Mobil berhenti.
Rina tersenyum.
"Makasih ya,Rak."
"Iya,sama-sama."
Rina membuka pintu.
"RINA!"
Suara keras membuat mereka langsung terkejut.
Ayah rina berdiri di depan rumah dan Wajahnya marah.
Rina langsung bingung.
"Papa?."
Tatapan ayahnya beralih ke raka,Semakin dingin.
"Kamu."
Suasana langsung tegang.
Rina tidak mengerti apa-apa.
"Turun."
Rina menurut.
"Apa yang kamu lakukan sama dia?!."
Rina kaget.
"Pa?."
Ayahnya menunjuk Raka.
"Kamu berani dekat sama dia?!."
Rina semakin bingung.
"Raka?."
Raka juga diam,Terkejut dengan situasi ini.
"Jawab!."
Rina panik.
"Aku nggak ngerti."
"Jangan bohong!."
Air mata mulai menggenang,Dengan cepat Rina berkata.
"Kita nggak ada hubungan apa-apa pa!."
Hening.
Ayahnya terdiam sesaat.
"Dia cuma nganter aku pulang."
Rina mengangkat ponselnya.
"HP aku lowbat pa,Jadi gak bisa pesan ojol."
Suasana hening.
Ayah rina menatap tajam,Seolah mencari kebohongan.
Raka akhirnya angkat bicara.
"Om saya cuma bantu."
Nada suaranya sopan.
Hening beberapa detik.
Ayah rina menghela napas kasar.
"Mulai sekarang,Jangan pernah berdekatan lagi sama dia"Tatapannya tajam ke rina sambil menunjuk raka.
Rina menunduk.
"Iya,Pa."
Ayahnya berbalik masuk rumah.
Pintu tertutup.
Hening.
Rina berdiri diam,Masih bingung.
Raka menatapnya.
"Kayaknya ada masalah besar antara papa aku dan papa kamu."
Rina mengganguk pelan.
Namun sejak saat itu jarak mulai tercipta Dan perlahan mereka sadar ada sesuatu yang memisahkan mereka bukan karena perasaan Tapi karena kesalahpahaman orang dewasa.
Flashback selesai.
Kembali ke masa sekarang.
Rina menunduk.
"Awalnya aku benar-benar nggak tahu apa-apa."
Raka menggenggam tangannya pelan.
"Dan sekarang kita harus sembunyi."
Hening.
Namun satu hal pasti perasaan itu tetap ada,Meski harus disembunyikan.
Sepulang sekolah.
Di depan gerbang.
Ayla,Bagas,Salsa dan dimas berdiri bersama.
Rina datang sambil menarik tangan raka.
"Eh,Kalian jangan pulang dulu."
Dimas langsung curiga.
"Kenapa nih?."
Raka menghela napas.
"Gue sama rina mau traktir."
Hening.
Salsa langsung teriak.
"HAH?!SERIUS?!."
Dimas paling heboh.
"GUE DENGER KATA TRAKTIR!."
Bagas menyipitkan mata.
"Tumben."
Rina langsung melotot ke raka.
"Itu karena kamu ngomongnya kayak nggak ikhlas!."
Raka pasrah.
"Ya emang nggak ikhlas sepenuhnya."
Rina langsung nyubit.
"Aduh!Iya,Iya,Ikhlas!."
Ayla tertawa kecil.
"Kenapa tiba-tiba traktir?."
Rina tersenyum.
"Sebagai ucapan makasih,Udah jagain rahasia kita."
Hening.
Ayla langsung tersenyum hangat.
"Ya nggak usah juga."
Dimas langsung motong.
"NGGAK!HARUS!."
Semua langsung ketawa.
Salsa mengangguk cepat.
"Aku setuju sama dimas."
Bagas santai.
"Ya udah,Kita manfaatin aja."
Raka langsung menghela napas panjang.
"Dompet gue yang dimanfaatin."
Rina nyengir.
"Salah sendiri punya pacar aku."
Dimas langsung nyeletuk.
"Wah ini yang bikin bangkrut nih."
Raka menatap datar.
"Lo paling gue waspadai."
Beberapa menit kemudian.
Di tempat makan,Mereka duduk bersama.
Dimas langsung buka menu,Matanya berbinar.
"Wah ini enak semua."
Raka langsung menunjuk.
"Lo pilih yang normal aja."
Dimas pura-pura nggak dengar.
"Aku mau ini,Ini,Ini,Sama ini."
Hening.
Raka langsung kaget.
"ITU BUAT BERAPA ORANG?!."
Salsa langsung ketawa.
Ayla menahan senyum.
Bagas santai.
"Udah,Biarin aja,Sekali-sekali."
Raka menatap bagas.
"Bukan duit lo."
Bagas langsung jawab.
"Makanya gue santai."
Semua ketawa.
Rina menggeleng.
"Kamu sih,Mas."
Dimas masih fokus ke menu.
"Minumnya dua aja deh."
Raka langsung nyela.
"KENAPA DUA?!."
"Yang satu haus,Yang satu cadangan."
Salsa langsung ngakak.
Ayla sampai menutup mulut.
Bagas geleng kepala.
"Ini orang nggak ada rem."
Makanan datang.
Suasana jadi hangat.
Di tengah makan rina menatap teman-temannya.
"Serius ya makasih."
Hening.
Ayla tersenyum.
"Kita sahabatan udah lama rin."
Salsa mengangguk.
"Iya,Bukan cuma rahasia doang yang dijaga."
Dimas sambil makan.
"Mmm enak."
Semua langsung menatap dia.
"Apa?"katanya polos.
Raka langsung geleng kepala.
"Fokus makan aja lu."
Bagas tersenyum tipis.
"Yang penting satu."
Semua menoleh.
"Jangan sampai ketahuan orang lain."
Hening.
Rina dan raka saling pandang,Mengangguk pelan.
"Iya."
Dan untuk sementara semua terasa aman,Meski mereka tahu rahasia ini tidak akan mudah dijaga selamanya.