NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 1: Bangun di Tubuh Orang Lain

"Mas, saya hamil. Kursi itu kasih ke saya saja."

Bima Liem membuka mata tepat saat suara perempuan itu menusuk telinganya.

Kesadaran Bima pertama kali menangkap udara pengap bus antarkota, deru mesin, dan papan kecil di depan sopir bertuliskan Bandung-Waringin.

Bandung?

Waringin?

Bima menunduk. Di tangannya ada tiket bus antarkota atas nama Bima Liem. Di layar ponsel yang nyaris mati, ada puluhan pesan keluarga tentang Lebaran, foto warung kecil bernama Warung Dua Pohon, dan satu wallpaper dirinya bersama seorang gadis muda yang tersenyum sambil mengacungkan dua jari.

Ingatan asing menghantam kepalanya seperti air banjir.

Tubuh ini bernama Bima Liem. Dua puluh empat tahun. Kerja serabutan di Bandung. Pulang ke Kabupaten Waringin untuk Lebaran. Ayahnya Harto, ibunya Sri, adiknya Ratna.

Dan dirinya yang asli?

Mati? Pindah? Dilempar ke dunia lain?

Belum sempat ia menyusun napas, perempuan hamil di sebelah lorong mengetuk sandaran kursinya.

"Mas dengar, kan? Saya hamil. Masa kamu tega lihat ibu hamil berdiri?"

Bima mengangkat kepala.

Perempuan itu berdiri sambil memegang perutnya. Usianya mungkin awal tiga puluhan. Wajahnya lelah, tapi matanya tajam. Di belakangnya, seorang anak kecil menggenggam kantong keripik dan menatap kursi Bima seperti itu memang sudah menjadi miliknya.

Bus penuh. Orang berdiri di lorong. Tas ransel terselip di antara kaki. Beberapa penumpang menoleh.

Bima melihat nomor kursinya.

12A.

Ia melihat tiket.

12A.

Ia menatap perempuan itu lagi. "Maaf, Bu. Ini kursi saya."

Suara di dalam bus langsung turun menjadi hening yang menekan.

Seorang perempuan berkerudung cokelat dari kursi seberang mencondongkan badan. Usianya sekitar empat puluhan, wajahnya penuh keyakinan orang yang merasa dirinya selalu benar.

"Mas, jangan begitu. Ibu ini hamil. Kamu laki-laki, masih muda. Berdiri dua jam tidak akan mati."

Bima menoleh pelan. "Bu, tiket saya tertulis 12A."

"Tiket, tiket." Perempuan itu mendecak. "Sopan santun itu lebih tinggi daripada tiket."

Beberapa orang mengangguk.

"Iya, Mas. Kasihan, lho."

"Anak muda sekarang egois."

"Lebaran begini kok hati keras."

Bima menyandarkan punggung ke kursi. Kepalanya masih sakit karena ingatan baru yang belum selesai menyatu, tetapi kalimat-kalimat itu membuat sesuatu di dadanya menyala.

Jadi begini sambutan dunia baru?

Baru bangun di tubuh orang lain, langsung diperas pakai kata "tega".

Tiba-tiba, suara dingin berbunyi di benaknya.

[Deteksi emosi anti-pemerasan moral yang kuat.]

[Sistem Bantah Emas telah terikat. Selamat datang, Tuan Rumah.]

Di depan mata Bima, panel transparan terbuka. Tidak ada orang lain yang bereaksi. Perempuan hamil masih menatapnya. Bu sok suci di seberang masih siap memberi ceramah kedua.

[Tuan Rumah: Bima Liem]

[Level: 1]

[Poin: 0]

[Fitur aktif: Poin, Misi]

[Fitur terkunci: Undian, Toko]

Bima berkedip sekali.

Sistem?

Bu sok suci menunjuk wajahnya. "Mas, jangan pura-pura tidak dengar. Kalau ibu kamu yang hamil dan berdiri, kamu mau orang lain diam saja?"

[Peluang perolehan poin terdeteksi.]

[Sumber: tekanan moral publik.]

Sudut bibir Bima bergerak tipis.

Baik.

Kalau hidup baru ini dibuka dengan pemerasan moral, ia akan menjawabnya langsung.

Bima mengangkat tiketnya. "Bu, saya tanya satu hal. Kalau sopan santun lebih tinggi daripada tiket, kenapa Ibu tidak menyerahkan kursi Ibu?"

Perempuan berkerudung cokelat terdiam.

Beberapa kepala langsung menoleh ke arahnya.

Kursinya?

Ya. Ia duduk nyaman di 11B, tas belanja besar dipangku.

"Saya..." Perempuan itu membuka mulut. "Saya kan perempuan."

"Ibu ini juga perempuan," kata Bima sambil menunjuk perempuan hamil. "Kalau ukuran moralnya jenis kelamin, kalian seharusnya otomatis saling mengalah. Kenapa saya yang jadi target?"

Satu pemuda di belakang tertawa kecil, lalu cepat menutup mulut.

[Poin +12]

Mata Bima bergerak ke panel. Angka berubah dari 0 menjadi 12.

Menarik.

Perempuan hamil mengerutkan dahi. "Mas, jangan muter-muter. Saya cuma minta kursi. Masa segitunya?"

"Justru karena cuma minta kursi, kenapa minta kursi yang sudah dibayar orang lain?" Bima bertanya tenang. "Ibu punya tiket nomor berapa?"

Wajah perempuan itu berubah.

"Saya... tiket saya berdiri."

Bisik-bisik langsung menjalar di lorong.

"Oh, tiket berdiri..."

"Lho, berarti dari awal memang tahu tidak dapat kursi."

"Tapi hamil kok beli tiket berdiri?"

Perempuan hamil menggigit bibir. Anak kecil di sampingnya mulai merengek, "Bu, aku mau duduk."

Bu sok suci cepat masuk lagi. "Mas, jangan mempermalukan orang. Mungkin beliau tidak kebagian tiket duduk. Kita harus punya empati."

Bima mengangguk, seolah setuju.

Lalu ia menunjuk kursi Bu sok suci.

"Empati Ibu lebih besar dari saya. Silakan."

Suasana bus tertahan.

Wajah Bu sok suci menegang. "Kok jadi saya?"

"Karena Ibu yang paling keras menyuruh orang berkorban." Bima menaruh tiket di atas paha, lalu melipat tangan. "Saya cuma ingin belajar. Di dunia Ibu, orang yang paling pandai menasihati juga paling dulu memberi contoh, kan?"

[Poin +18]

[Poin +9]

[Poin +15]

Angka naik. Beberapa penumpang yang tadi ikut mengangguk mulai pura-pura melihat jendela. Seorang bapak berkemeja batik menurunkan koran dari wajahnya, matanya berkilat geli. Dari kursi belakang, terdengar suara ponsel mulai merekam.

"Wah, ada yang berani juga," bisik seseorang.

Bu sok suci sadar banyak mata mengarah padanya. Ia mengangkat dagu. "Saya ini baru operasi lutut."

Bima memandang lututnya. Tidak ada penyangga, tidak ada perban, bahkan kakinya tadi sempat ia lipat di atas kursi.

"Kalau begitu kita panggil kenek," kata Bima. "Biar dicatat. Di bus ini ada ibu hamil dengan tiket berdiri, ada Ibu dengan operasi lutut tanpa bukti, dan ada saya dengan tiket 12A yang diminta membayar kesalahan semua orang."

Pemuda di belakang kali ini tidak kuat menahan tawa.

"Waduh, lengkap benar laporan perjalanannya."

Beberapa penumpang ikut terkekeh. Tawa kecil itu membuat wajah perempuan hamil memerah. Ia memeluk perutnya lebih erat.

"Mas, kamu tega sekali. Saya ini bawa anak, lagi hamil. Kalau saya pingsan bagaimana?"

Bima menatapnya cukup lama hingga perempuan itu mulai gelisah.

"Kalau Ibu pingsan, kita bantu. Kita panggil sopir berhenti, cari puskesmas atau klinik terdekat. Itu namanya pertolongan." Suaranya tetap datar. "Tapi mengambil hak orang lain dulu, baru menyebut orang tidak punya hati kalau ditolak, itu bukan darurat. Itu strategi."

Bus kembali hening. Kali ini mereka tidak lagi menunggu Bima kalah; mereka menunggu siapa yang berani melawan lagi.

[Poin +21]

[Poin +17]

[Total Poin: 92]

Bima menatap panel itu dengan tenang. Dalam beberapa menit, ia sudah memahami aturan dasar sistem ini. Semakin banyak orang merasa tersengat oleh bantahannya, semakin banyak poin masuk.

Sederhana. Sedikit tidak waras.

Bu sok suci memukul sandaran kursinya sendiri. "Mas, kamu pintar bicara, tapi hati kamu kosong. Anak muda seperti kamu ini penyebab bangsa rusak. Semua dihitung uang, tiket, hak. Tidak ada gotong royong!"

Kata "gotong royong" membuat beberapa penumpang yang tadi sudah mundur kembali berani mengangguk.

Bima mengangkat alis.

"Gotong royong itu semua orang ikut mengangkat beban," katanya. "Bukan satu orang ditunjuk jadi korban, lalu yang lain merasa suci karena ikut menyuruh."

Seorang bapak di depan menurunkan kopernya dari pangkuan. Ia ragu sebentar, lalu berdiri.

"Bu, kalau mau duduk, duduk di kursi saya saja. Saya sebentar lagi turun di rest area."

Perempuan hamil menoleh cepat. Ia langsung bergerak ke kursi bapak itu, tapi wajahnya tetap cemberut.

Anaknya duduk di pangkuannya. Selesai.

Masalah yang sejak awal bisa selesai tanpa merampas kursi Bima, ternyata memang selesai begitu orang yang benar-benar mau membantu berhenti sibuk menyuruh orang lain.

Bima menatap Bu sok suci.

"Lihat, Bu. Itu empati. Yang tadi Ibu lakukan namanya meminjam mulut moral untuk memakai tenaga orang lain."

"Kurang ajar," desis Bu sok suci.

[Poin +30]

[Total Poin: 122]

Ponsel di belakang kini jelas mengarah ke Bima. Layar kecilnya menangkap wajahnya, tiket di tangannya, perempuan hamil yang sudah duduk, dan Bu sok suci yang kehilangan kata-kata.

Bima tidak menghindar. Rekaman itu justru menjadi bukti bahwa ia tidak mengambil hak siapa pun.

Panel sistem kembali bergetar.

[Poin mencapai ambang awal.]

[Misi Pertama Telah Aktif: Hadapi Semua Pemerasan Moral di Perjalanan Ini.]

[Pilihan akan muncul saat konflik berikutnya terdeteksi.]

Belum sempat Bima membaca baris terakhir, seorang pria berkaus hitam dari kursi tengah berdiri. Wajahnya tidak senang. Di sampingnya, dua penumpang lain ikut menatap Bima dengan mata panas.

"Mas," kata pria itu, suaranya berat, "mulut kamu dari tadi terlalu tajam. Di bus umum itu jangan sok benar sendiri."

Bu sok suci seperti mendapat bala bantuan. Ia langsung menunjuk Bima lagi.

"Nah! Bapak ini benar. Orang seperti dia harus diajari adab."

Beberapa ponsel baru terangkat.

Angka poin di panel berkedip pelan, seolah sistem sedang tersenyum.

Bima menyimpan tiketnya ke saku, lalu menatap satu per satu wajah yang mulai mengepungnya dengan moralitas pinjaman.

Ia baru bangun di dunia ini kurang dari setengah jam.

Dan dunia ini sudah memberinya pekerjaan pertama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!