NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:109
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Jaga Nama Baik

Pagi berikutnya, aturan pertama datang bukan dari Bima, melainkan dari tiga perempuan berseragam Persit.

Laras baru selesai menjemur popok Satya ketika ketukan terdengar di pintu depan. Iwan sudah berangkat membawa dokumen ke kantor batalyon. Bima pergi sejak sebelum matahari naik untuk apel dan dinas. Rumah itu hanya berisi Laras dan seorang bayi yang mulai mengantuk di gendongannya.

Ia membuka pintu sambil menepuk punggung Satya.

Perempuan di depan berdiri paling tegak. Kerudungnya rapi, lencana Persit terpasang lurus, dan senyumnya terlalu tipis untuk disebut ramah.

“Mbak Laras?”

“Iya. Silakan masuk, Bu.”

“Saya Ratna, istri Kapten Sofyan. Saya membantu kepengurusan Persit di sini.”

Dua perempuan di belakangnya saling pandang sebelum ikut masuk. Laras mempersilakan mereka duduk di ruang tamu, lalu mengambil air minum dari dapur. Saat kembali, Bu Ratna sedang memperhatikan pintu menuju kamar belakang.

“Kamarmu di sana?”

“Iya, Bu. Dekat dengan dapur supaya kalau Satya bangun malam saya tidak mengganggu bagian depan.”

Bu Ratna menerima gelas tanpa meminumnya. “Mbak Laras masih muda, ya.”

“Dua puluh enam.”

“Masih sangat muda untuk seorang janda.”

Kata terakhir diucapkan sedikit lebih keras.

Satya bergerak dalam gendongan. Laras mengubah posisi selendangnya, menahan bayi itu lebih dekat ke dada.

“Suami saya gugur saat bertugas, Bu.”

“Saya tahu. Kami ikut berduka.” Senyum Bu Ratna tidak berubah. “Karena itu saya datang. Kompleks ini punya aturan tidak tertulis. Semua orang saling menjaga. Apalagi rumah ini rumah seorang komandan.”

Laras menunggu.

“Pak Bima duda. Mbak Laras janda muda. Kalian tinggal satu atap.” Bu Ratna akhirnya menyesap air. “Orang bisa salah paham.”

Salah satu perempuan di belakangnya berdeham. Yang lain menunduk, menyembunyikan senyum.

“Saya tinggal di kamar belakang karena Satya harus menyusu malam,” jawab Laras. “Kalau saya pulang-pergi ke desa, bayi ini tidak makan.”

“Tidak ada yang menyalahkan pekerjaanmu.”

“Tapi Bu Ratna menyalahkan tempat saya tidur?”

Ruangan mendadak sunyi.

Bu Ratna meletakkan gelas lebih keras daripada perlu. “Saya cuma mengingatkan. Jaga jarak. Jaga nama baik. Jangan sampai orang luar mengira rumah seorang Danyon tidak tahu aturan khalwat.”

Laras mengusap kepala Satya. Ia bisa saja menunduk dan meminta maaf agar kunjungan itu cepat selesai. Namun ia teringat mulut Nala yang mencari susu ketika ditinggalkan. Ia teringat Mbah Inah yang sudah tua, beras yang menipis, serta lima kilogram beras di dapur yang baru bisa ia kirim sebagian setelah mendapat izin.

Ia tidak datang ke rumah ini untuk merebut suami siapa pun.

“Iwan keluar masuk rumah setiap hari,” katanya. “Prajurit piket dan pengantar barang juga datang. Pintu depan tidak pernah saya kunci saat Komandan ada di rumah. Kalau ada aturan tertulis yang saya langgar, tolong tunjukkan. Saya akan patuh.”

“Mbak Laras pintar menjawab.”

“Saya hanya ingin jelas, Bu. Saya bekerja untuk menyusui Satya. Kalau saya diminta menjaga nama baik, saya juga berhak menjaga nama baik saya sendiri.”

Wajah Bu Ratna menegang.

Satya tiba-tiba merengek. Tangannya mencengkeram kerudung Laras, lalu wajahnya menekan dada perempuan itu. Laras tahu tanda tersebut. Bayi itu lapar lagi.

“Maaf, Bu. Satya harus menyusu.”

Bu Ratna berdiri. “Ya sudah. Kami tidak mau mengganggu.”

Di depan pintu, ia berhenti dan menoleh.

“Ingat saja, Mbak Laras. Di kompleks tentara, omongan bisa sampai ke telinga atasan lebih cepat daripada laporan resmi.”

“Kalau begitu, semoga yang sampai adalah omongan yang benar.”

Dua perempuan di belakang Bu Ratna saling pandang lagi. Kali ini tak ada yang tersenyum.

Setelah mereka pergi, Laras menutup pintu dan menyandarkan punggung ke daun kayu. Lututnya terasa lemas. Ia memang berhasil menjawab, tetapi telapak tangannya basah oleh keringat.

Satya menangis semakin keras.

“Iya, Le. Sebentar.”

Panggilan lembut itu terdengar terlalu akrab di telinganya sendiri. Laras tertegun, lalu buru-buru membawanya ke kamar belakang. Ia duduk membelakangi jendela, merapatkan tirai, dan menyusui sampai tangis Satya berubah menjadi suara tegukan kecil.

Menjelang siang, Laras membawa popok bersih ke jemuran umum karena tali di belakang rumah putus. Baru beberapa langkah dari sumur, ia mendengar suara-suara perempuan.

“Masih muda sekali.”

“Katanya tidur di kamar belakang. Dekat dapur, dekat juga ke kamar utama.”

“Kalau cuma pengasuh, kenapa harus cantik?”

Tawa kecil pecah.

Laras menggantung popok pertama tanpa menoleh. Angin mengibaskan kain putih itu ke wajahnya.

“Suaranya pelan sedikit,” kata seorang perempuan lain. “Nanti dia dengar.”

“Kalau tidak merasa macam-macam, kenapa harus tersinggung?”

Laras memasang penjepit terakhir, lalu berbalik. Tiga perempuan di dekat sumur langsung sibuk dengan ember masing-masing.

“Bu,” sapa Laras tenang. “Kalau ada yang ingin ditanyakan tentang pekerjaan saya, tanyakan langsung. Suara dari sumur bisa berubah sebelum sampai ujung jalan.”

Salah satu dari mereka tersipu. “Kami tidak membicarakan siapa-siapa.”

“Syukurlah.” Laras mengangkat keranjang kosong. “Berarti saya tidak perlu menjelaskan apa-apa.”

Ia berjalan pulang dengan punggung tegak. Baru setelah berbelok di ujung jalan, napas yang ditahannya terlepas.

Di rumah, Iwan sudah kembali dan menaruh sebungkus nasi di meja dapur.

“Mbak Laras belum makan?” tanyanya.

“Nanti.”

“Jangan nanti terus. Satya minum dari badan Mbak.”

Laras membuka bungkusan itu. Nasi, sayur bening, tempe goreng, dan sepotong ayam. Porsi yang jauh lebih baik daripada makanannya beberapa hari terakhir.

Namun sebelum sempat menyuap, seorang pengantar dari desa tiba membawa pesan. Mbah Inah membutuhkan uang untuk membeli beras dan telur Nala. Bu Jum juga menagih bagian yang katanya pernah dijanjikan untuk Parman.

Gaji muka yang baru diterima Laras pagi tadi seolah sudah memiliki pemilik sebelum menyentuh tangannya.

Ia menyisihkan ongkos secukupnya, membungkus sisanya, lalu menitipkannya kepada pengantar. Beras dan telur untuk Nala, obat untuk Mbah Inah. Tidak satu rupiah pun untuk utang judi Parman. Ia meminta pesan itu disampaikan dengan jelas.

Saat kembali ke dapur, nasi telah dingin. Ayamnya ia simpan untuk besok, tempe ia makan setengah. Selebihnya ditutup rapat. Laras belum tahu apakah jatah itu hanya untuk sekali makan atau untuk sehari penuh.

Malam datang bersama tangis Satya.

Bayi itu rewel, mungkin perutnya kembung. Laras menggendongnya mondar-mandir sampai punggungnya pegal. Ia mengoleskan minyak telon, menggerakkan kaki kecil Satya perlahan, lalu menyusuinya sedikit demi sedikit agar tidak muntah.

Menjelang tengah malam, Satya akhirnya tertidur.

Laras kembali ke dapur. Bungkusan nasi masih ada, tetapi ia hanya mengambil tempe yang tersisa. Ketika hendak menggigit, dari luar terdengar dua perempuan lewat sambil membicarakan “janda di rumah Danyon”.

Tangannya berhenti.

Ia memasukkan lagi tempe itu ke dalam bungkus, seolah makan pun bisa dijadikan bahan tuduhan bila dilakukan di rumah ini.

Rasa perih merambat dari lambung ke dada. Laras mengambil segelas air putih dan meminumnya perlahan. Satu gelas, lalu satu lagi, sampai perutnya terasa penuh oleh sesuatu yang tidak bisa memberi tenaga.

Dari kamar belakang, Satya merengek.

Laras menaruh gelas dan kembali menggendongnya. Ia duduk di lantai, bersandar pada sisi kasur, sementara bayi itu mencari kehangatan di dadanya.

Di luar, malam kompleks militer terdengar tenang.

Di dalam kamar, suara perut Laras bersahutan dengan napas Satya yang belum teratur.

Malam masih panjang, dan air putih adalah satu-satunya yang berani ia telan sampai habis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!