Riuh derap langkah di koridor kampus hari itu menjadi saksi hangatnya hubungan yang membendung segala keraguan. Di bawah naungan pohon angsana yang menggugurkan bunganya, Amanda duduk bersama Zahra, menatap lembaran tugas akhir yang hampir rampung. Enam tahun bukan waktu yang singkat untuk merajut benang persahabatan. Sejak mengenakan seragam putih-biru di bangku SMP, Zahra selalu menjadi tempat Amanda pulang, berbagi tawa, hingga rahasia terkecil sekalipun. Bagi Amanda, Zahra bukan sekadar teman biasa, melainkan saudara kandung yang tidak terikat oleh darah. Setiap keputusan besar dalam hidup Amanda selalu melewati pertimbangan Zahra, termasuk ketika seorang pria bernama Zidan datang mengisi hatinya dua tahun lalu.
Zidan adalah sesosok pria berkarisma dengan senyum menenangkan yang berhasil meluluhkan hati Amanda. Selama masa perkuliahan, ketiganya hampir tidak pernah terpisahkan. Di mana ada Amanda dan Zidan, di situ pula ada Zahra. Amanda sering kali merasa menjadi wanita paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Kegelapan Untuk Sebuah Pembalasan
Hari itu, hujan turun membasahi kota dengan lebatnya. Amanda pulang lebih awal dari kantor karena bermaksud memberikan kejutan untuk ulang tahun pernikahan pertama mereka. Dengan kue kecil di tangannya dan senyum yang mengembang, ia melangkah pelan memasuki rumah. Suasana rumah begitu hening, hanya terdengar suara gemericik air hujan yang menerpa kaca jendela. Namun, saat melangkah menuju kamar utama, langkah kaki Amanda mendadak terhenti. Pintu kamar yang biasanya tertutup rapat kini sedikit terbuka, membocorkan suara desahan dan bisikan mesra yang sangat familiar di telinganya.
Dada Amanda bergemuruh hebat ketika matanya menyipit menembus celah pintu. Di dalam sana, di atas tempat tidur yang biasa ia tiduri bersama suaminya, Zidan sedang memeluk mesra sosok wanita yang sangat ia kenali. Wanita itu adalah Zahra, sahabat yang sudah disayanginya melebihi saudaranya sendiri selama enam tahun terakhir. Dunia Amanda rasanya runtuh seketika. Tidak ada teriakan histeris, tidak ada amukan, dan tidak ada air mata yang menetes. Rasa sakit yang teramat luar biasa itu justru melumpuhkan seluruh emosinya, menggantikannya dengan kehampaan yang amat dingin.
Tanpa bersuara, Amanda melangkah mundur. Ia menjatuhkan kue di tangannya ke atas karpet dan berlari menuju mobilnya di tengah guyuran hujan keras. Pikiran Amanda benar-benar kosong; bayangan tawa Zahra dan janji manis Zidan berputar-putar seperti piringan hitam yang rusak di dalam kepalanya. Menginjak pedal gas dalam-dalam, ia melesatkan mobilnya menembus jalanan licin tanpa arah. Di sebuah persimpangan, saat lampu merah menyala, Amanda bukannya mengerem, melainkan semakin menekan gas menuju sebuah truk pembawa barang yang sedang melintas. Suara dentuman keras terdengar membelah malam, menyisakan puing-puing besi yang hancur bersimbah darah.
Tubuh Amanda yang tak berdaya dilarikan ke rumah sakit. Benturan keras membuat jantungnya sempat berhenti sebelum akhirnya para dokter berhasil menyelamatkan nyawanya. Selama satu minggu penuh, Amanda terbaring kaku dalam koma, melayang di antara batas hidup dan mati. Di luar ruang ICU, Zidan dan Zahra berpura-pura menunjukkan rasa duka yang mendalam, menangis di depan keluarga besar seolah-olah mereka adalah orang yang paling kehilangan, padahal di dalam hati mereka menyelinap rasa lega atas kecelakaan tersebut.
Hari kedelapan, keajaiban terjadi. Kelopak mata Amanda perlahan terbuka. Saat kesadarannya pulih sepenuhnya, ingatan tentang pengkhianatan keji itu langsung menyengat dadanya. Namun, alih-alih menangis, tatapan mata Amanda berubah menjadi begitu dingin dan tajam. Ketika dokter spesialis memeriksa kondisinya secara pribadi sebelum keluarga masuk, Amanda memegang erat lengan sang dokter. Dengan suara serak namun penuh penekanan, Amanda memohon sebuah permintaan gila: ia meminta dokter memalsukan rekam medisnya dan menyatakan bahwa kecelakaan itu telah merusak saraf penglihatannya hingga ia mengalami kebutaan permanen.
Dokter sempat ragu, namun melihat keutuhan tekad dan penderitaan mendalam di mata wanita muda itu, ia akhirnya menyetujui sandiwara tersebut. Ketika Zidan dan Zahra masuk ke dalam ruang perawatan dengan raut wajah terpukul yang dibuat-buat, Amanda menyambut mereka dengan pandangan mata yang kosong menatap langit-langit kamar. Ia berpura-pura panik, meraba-raba udara, dan meratapi kegelapan yang kini menyelimuti hidupnya. Zidan merangkulnya erat sambil mengusap air mata palsu, sementara Zahra memegang tangannya dengan pura-pura prihatin. Di balik kebutaan palsunya, Amanda bersumpah dalam hati untuk menyaksikan setiap detik busuk pengkhianatan mereka dari balik topeng kegelapan ini—menunggu waktu yang tepat untuk meruntuhkan kehidupan kedua pengkhianat itu tanpa tersisa.