Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**
Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.
Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**
Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**
"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."
Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:
*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Hanya Bau Aho yang Bisa Menidurkan Bryan
Sebastian menyerah pada tidur sebelum fajar.
Ketika turun ke dapur dengan kemeja kerja berwarna gelap, Lia sudah mengukus bakpao dan memotong buah untuk sarapan keluarga. Bayangan perempuan berambut basah dari mimpinya semalam kembali muncul terlalu mudah.
Rahang Sebastian mengeras.
Lia melihatnya dan hampir menjatuhkan pisau.
“Selamat pagi, Ko Sebas.”
“Tentang wangi semalam.”
Pisau di tangan Lia berhenti di atas pepaya. Ia berharap pria itu akan menganggap pertemuan mereka sekadar kejadian kecil. Rupanya tidak.
“Saya sudah bilang, mungkin dari jamu.”
“Mungkin?”
Sebastian berdiri di sisi meja dapur. Di bawah lampu putih, wajahnya tampak lebih dingin daripada malam tadi, tetapi bayang-bayang kurang tidur terlihat di bawah matanya.
Lia memaksa tangannya bergerak lagi. “Saya seharian memasak. Ada kecap, jahe, buah, macam-macam bumbu. Wanginya mungkin menempel, lalu keluar lagi kena air hangat.”
“Bumbu dapur tidak menempel seperti itu.”
“Tubuh setiap orang berbeda, Ko Sebas.”
Untuk pertama kalinya, Lia berani menatapnya kembali. Hanya satu detik, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tak akan menjawab lebih jauh.
Tangis Bryan terdengar dari lantai atas. Disusul langkah tergesa dan suara Cornelia memanggil pengasuh.
Lia meletakkan pisau. “Saya harus membantu Tante Cornelia.”
Ia melewati Sebastian sebelum pria itu sempat menahan. Wangi di tubuhnya sangat tipis pagi itu karena sarapan belum menyentuh perut. Tetap saja, Sebastian menangkap sisa manis di udara.
Ia menatap potongan pepaya di meja.
Wangi buah. Wangi jamu. Wangi bumbu dapur.
Terlalu banyak jawaban untuk satu pertanyaan sederhana.
***
Selama dua hari berikutnya, Bryan mengubah seluruh isi rumah menjadi orang-orang yang kurang tidur.
Bayi itu menolak susu, menangis sampai wajahnya merah, lalu terlelap hanya beberapa menit sebelum kembali terbangun. Vanessa berdiri di dekat ranjang dengan rambut berantakan, sementara Cornelia mengukur suhu cucunya berkali-kali.
“Tidak demam,” kata Cornelia. “Popoknya juga kering.”
“Mungkin susunya tidak cocok,” keluh Vanessa. “Dari kemarin aku bilang ganti merek.”
Popo menyentakkan kipasnya. “Bayi bukan mesin. Jangan semua mau diganti setiap dia menangis.”
Lia berdiri di ambang pintu sambil membawa pakaian bayi yang baru dilipat. Ia ragu-ragu mengangkat tangan.
“Boleh saya coba gendong?”
Vanessa menatapnya. “Kamu?”
“Biarkan,” putus Popo.
Lia mencuci tangan, lalu menerima Bryan dengan hati-hati. Tubuh kecil itu menegang di lengannya. Tangisnya menusuk telinga.
Sejak siang Lia sempat makan setengah porsi nasi karena Popo terus mengawasi. Panas lembut masih tersimpan di bawah kulitnya. Saat ia mendekatkan Bryan ke dada dan menepuk punggung kecilnya, hidung bayi itu bergerak.
Tangisnya tersendat.
Bryan memalingkan wajah, mencari sumber aroma, lalu menempelkan pipi ke leher Lia. Kepalan tangannya perlahan terbuka.
Kamar yang semula riuh mendadak sunyi.
“Coba susunya,” bisik Cornelia.
Lia menerima botol. Dot menyentuh bibir Bryan, dan kali ini bayi itu mengisap tanpa menolak. Suara telannya kecil tetapi teratur.
Popo tersenyum puas. “Dia suka bau Aho.”
Lia menoleh. “Aho?”
“Nama kecilmu, bukan? Meilin pernah cerita. Popo Hwa memanggilmu begitu.”
Dada Lia menghangat. Sudah lama tak ada yang menyebut nama kecil itu dengan suara penuh sayang.
“Iya, Popo.”
“Nah, Bryan juga tahu. Hanya bau Aho yang bisa membuatnya tenang.”
Tidak ada yang menganggap kalimat itu sebagai rahasia. Mereka hanya melihat bayi rewel yang menyukai gendongan pengasuh baru.
Dari luar kamar, Sebastian berdiri tanpa masuk. Tatapannya berpindah dari Bryan yang tenang ke pipi Lia yang memerah.
Lia merasakan tatapan itu. Ia menunduk dan menepuk punggung Bryan lebih pelan.
“Mulai hari ini, kamu bantu pegang Bryan,” kata Cornelia. “Gajimu saya tambah lima ratus ribu. Masa percobaan selesai. Kamu tetap di sini.”
Lia mengangkat wajah. “Terima kasih, Tante Cornelia.”
“Terima kasih pada Bryan. Dia yang memilihmu.”
Vanessa menyilangkan tangan. Di antara semua wajah lega di kamar, hanya matanya yang tetap dingin.
***
Tiga hari kemudian, Cornelia menyuruh Lia membeli popok dan beberapa bahan dapur di supermarket dekat kompleks. Bryan ditinggal bersama Popo dan pengasuh lain karena baru saja tertidur.
Lia mendorong troli kecil menyusuri rak bumbu. Setelah memastikan daftar belanja lengkap, ia beralih ke bagian kebutuhan bayi.
Seorang pria bersandar pada rak popok sambil memainkan kunci mobil.
“Baru lihat wajah secantik ini belanja sendirian.”
Lia memindahkan troli ke sisi lain.
Pria itu ikut bergeser. Kaos bermereknya mahal, senyumnya terlalu akrab.
“Gue Bobby. Rumah keluarga gue dekat kompleks Wijaya.” Ia menatap Lia tanpa sopan santun. “Lo kerja di sana?”
“Permisi.”
Lia hendak lewat, tetapi Bobby menahan pegangan trolinya.
“Santai saja. Cuma kenalan.”
“Saya tidak mau berkenalan.”
Senyum Bobby menipis. “Jangan jual mahal. Gue bisa antar pulang.”
Lia melepaskan tangannya dari troli, berputar, lalu membawa keranjang belanja yang kosong dari tumpukan di samping kasir. Ia memindahkan barang dengan cepat dan meninggalkan troli di tangan Bobby.
“Terima kasih sudah menjaganya.”
Beberapa orang menoleh. Bobby tertawa pendek untuk menutupi wajahnya yang berubah.
Lia membayar, lalu keluar tanpa melihat ke belakang. Di bawah panas siang, telapak tangannya mencengkeram kantong belanja sampai plastiknya meregang. Tegang dan lelah membuat suhu tubuhnya naik. Wangi manis mulai lolos tipis dari lehernya.
Di balik pintu kaca supermarket, Bobby masih mengawasinya.
Ia mengangkat dagu dan berseru, “Adik manis, lo kerja di rumah siapa? Nanti gue cari!”