NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 : BAYANGAN DI LANGIT

Pagi menyingsing kelabu. Sunyi mencekam, seolah alam menahan napas. Sejak kepergian Kapten Wirayuda malam tadi, meninggalkan Bayu, Karta, dan seluruh warga Rancagaok, ada firasat tidak enak yang menggantung. Dul Kalong yang bertugas mengintai di puncak bukit, tiba-tiba mematung. Matanya terpaku ke ufuk barat.

"Ada apa, Dul?" teriak Bayu dari bawah. Suaranya terdengar cemas.

"YU! LANGIT!" balas Dul Kalong, suaranya tercekat.

"ADA PESAWAT TERBANG! BANYAK!"

Bayu segera berlari menaiki bukit kecil di sampingnya. Begitu matanya menatap cakrawala, jantungnya seperti diremas. Lima titik hitam bergerak beriringan, melaju cepat, deru mesin mereka makin lama makin memekakkan telinga. Pesawat-pesawat itu, kawanan burung besi pembawa maut.

"CELAKA!" desis Bayu. "SEMUA! KUMPUL! SEKARANG!"

Teriakannya membelah pagi yang hening. Warga yang masih tertidur atau baru memulai aktivitas, berhamburan keluar. Wajah-wajah yang tadinya masih mengantuk, mendadak pucat pasi melihat arah yang ditunjuk Bayu dan Dul Kalong.

"PESAWAT! BELANDA!" teriak Embek Gombloh, suaranya pecah karena panik.

"SEMUA! KE GUA! BAWA ANAK-ANAK! CEPAT!" perintah Bayu, suaranya menggelegar. Ia tak menunggu jawaban. Ia langsung berlari, memberi isyarat agar semua menuju gua rahasia.

Suara dengung mesin pesawat kini menjadi raungan yang mengerikan, seolah-olah seluruh langit akan runtuh. Tanah bergetar. Udara dipenuhi tekanan yang berat. Anak-anak mulai menangis histeris. Ibu-ibu berteriak memanggil nama anak mereka.

"PAK SOMAD! BANTU ARAHKAN WARGA KE GUA! JAKA, KARTA, KALIAN DI BELAKANG, PASTIKAN TIDAK ADA YANG TERTINGGAL!" perintah Bayu sambil berlari paling depan, membuka jalan.

"CEPAT! JANGAN MELENG! LANGSUNG KE DALAM HUTAN!" teriak Karta. Wajahnya yang biasa santai kini tegang penuh cemas.

"LEWATI SEMAK INI! JANGAN MENOLEH!"

DENGUNGAN MAKIN DEKAT!

Salah satu pesawat memisahkan diri dari formasi. Berputar. Moncongnya mengarah lurus ke tempat persembunyian mereka.

BROOOOM!!!

Ledakan pertama menghantam ladang di pinggir hutan. Tanah terpental tinggi, disusul api dan asap tebal yang membumbung. Padi yang baru menguning, ludes seketika. Sisa-sisa rumah yang tak dihuni, hancur berkeping.

"TURUN! MERUNDUK! JANGAN ANGKAT KEPALA!" teriak Bayu. Ia menarik tangan seorang ibu yang panik, memaksa wanita itu bersembunyi di balik gundukan tanah.

TAT... TAT... TAT...

Peluru senapan mesin menyisir udara, menghantam pepohonan. Batang-batang bambu patah seperti ranting kering. Percikan tanah dan serpihan kayu berhamburan.

"MAMA! MAMA!" tangis seorang anak kecil, berpegangan erat pada ibunya yang gemetar.

"YA ALLAH! APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?!" jerit seorang ibu, suaranya tertelan suara ledakan.

"JANGAN PANIK! JANGAN PANIK!" teriak Pak Somad, suaranya bergetar namun berusaha tetap tenang. Ia menuntun beberapa orang tua yang kakinya sudah renta.

"IKUTI JEJAK BAYU! JANGAN BERPENCAR!"

Pesawat itu berputar lagi, dan kali ini, bom dijatuhkan bertubi-tubi, seperti hujan batu dari langit.

BROOOOM!!! BROOOOM!!! BROOOOM!!!

Tanah bergejolak, seolah dihantam godam raksasa. Asap hitam pekat naik membumbung, menutupi seluruh lembah. Udara panas menjilat kulit. Bau belerang dan kayu terbakar menyengat hidung. Pepohonan besar tumbang, menciptakan jalan baru yang tadinya tak ada.

Salah satu ledakan menghantam area dapur umum darurat yang baru saja mereka bangun. Guncangannya membuat Karta dan beberapa orang terpental.

"JAKA! ADA YANG TERLUKA DI SINI!" teriak Karta sambil berusaha bangkit, matanya mencari-cari di tengah kepulan asap.

"BIAR AKU URUS! KALIAN TERUS BERGERAK!" balas Jaka Kelitik sambil menyeret seorang pria yang kakinya tertimpa reruntuhan.

Bayu melihat sekeliling. Pemandangan mengerikan. Api menjalar di mana-mana. Pohon-pohon gosong. Bekas persembunyian mereka yang dulu, kini hanya tinggal puing-puing berasap.

"MEREKA INGIN MENGHANCURKAN KITA SAMPAI KE AKAR-AKARNYA!" teriak Dul Kalong dari bukit, suaranya nyaris tak terdengar.

"PESAWAT MULAI MENJAUH! KESEMPATAN!"

"SEKARANG! SEMUA KE GUA! CEPAT! CEPAT! CEPAT!" teriak Bayu. Ia mengambil alih seorang anak kecil dari ibunya yang sudah tak berdaya. Ia berlari, memimpin jalan menembus hutan yang mulai porak-poranda.

Langkah kaki mereka menghantam tanah. Keringat bercampur debu dan jelaga. Paru-paru terasa terbakar. Mereka berlari, berlari, berlari, seolah nyawa mereka bergantung pada setiap langkah. Ledakan sesekali masih terdengar di kejauhan, tapi tak seintens sebelumnya. Pesawat-pesawat itu, setelah menghancurkan apa yang mereka inginkan, mulai menjauh.

Akhirnya, dengan napas terengah-engah, mereka tiba di mulut gua rahasia. Goa yang terlindungi rapat oleh dinding batu dan akar pohon besar, tempat yang selama ini mereka yakini sebagai perlindungan terakhir.

"MASUK! SEMUA MASUK!" teriak Bayu. Ia mendorong warga satu per satu ke dalam kegelapan gua.

Begitu semua orang masuk, Karta dan Embek Gombloh segera menutup pintu gua dengan batu dan ranting, menyamarkannya sebaik mungkin. Di dalam gua, hanya terdengar suara napas yang memburu, isak tangis pelan dari anak-anak, dan ketegangan yang pekat.

Hening.

Sebuah keheningan yang lebih menakutkan daripada suara bom. Di luar, suara api masih merayap, menghancurkan sisa-sisa yang ada.

Bayu bersandar di dinding gua, memejamkan mata sejenak untuk menahan rasa lelah yang luar biasa. Wajahnya hitam legam, tangannya penuh debu, namun matanya masih terbuka lebar menahan waspada.

"Semua sudah aman di dalam?" tanyanya pelan, suaranya masih sedikit bergetar dari ketegangan.

"Semua sudah, Yu. Beberapa luka ringan tergores batu, tapi tidak ada yang terluka parah," jawab Karta sambil menghela napas panjang, kemudian duduk di samping Bayu. Ia juga tampak kelelahan, namun tetap berdiri tegak siap siaga.

Pak Somad, Mbah Kartareja, dan Jaka Kelitik mendekat dari sudut gua. Wajah mereka serius dan berat.

"Tempat persembunyian utama hancur rata dengan tanah. Banyak persediaan makanan, alat pertahanan, dan pakaian kita ludes terbakar," lapor Pak Somad, suaranya rendah namun jelas.

Mbah Kartareja mengangguk perlahan, matanya menatap ke arah dinding batu seolah bisa melihat ke luar sana.

"Serangan dari udara ini hanya awal saja. Tujuannya adalah untuk melemahkan semangat kita dan membuka jalan. Sekarang, bersiaplah. Mereka akan datang dari darat. Dengan jumlah yang jauh lebih banyak, dan membawa senjata yang jauh lebih kuat."

Semua terdiam mendengarnya. Kata-kata itu menekan dada mereka. Mereka tahu betul apa artinya. Mereka kehilangan tempat tinggal, ladang, dan sebagian barang berharga. Kapten masih belum kembali, dan musuh kini semakin marah.

Namun, tidak ada suara tangis histeris seperti tadi. Tidak ada rasa putus asa yang buta. Hanya ada keheningan yang penuh pertimbangan.

Bayu membuka matanya perlahan. Ia berdiri tegak kembali, menatap satu per satu wajah yang ada di dalam kegelapan itu. Wajah-wajah yang dulu sering dipenuhi ketakutan, kini berubah menjadi tebal dan penuh tekad.

"Mereka ingin kita lari dan menyerah," ucap Bayu. Suaranya tenang namun menggema kuat di dalam gua.

"Mereka pikir dengan membakar rumah dan ladang, mereka bisa menghancurkan Rancagaok."

"Tapi mereka salah," tambah Karta, berdiri di sampingnya.

"Tanah ini ada di sini selamanya. Hutan ini akan selalu melindungi kita. Dan selama kita masih bernapas, kita tidak akan pernah membiarkan mereka mengambil apa yang menjadi hak kita," lanjut Bayu.

"Kita akan istirahat sebentar untuk memulihkan tenaga. Kita akan hitung apa yang masih tersisa, dan kita akan bersiap untuk pertempuran yang sesungguhnya."

Di luar gua, matahari mulai naik tinggi, menerangi lembah yang kini dipenuhi asap dan abu. Namun di dalam hati mereka, perlahan mulai menyala kembali api harapan yang tak akan pernah bisa dipadamkan oleh ledakan atau api. Rancagaok mungkin terbakar hari ini, tapi besok akan bangkit kembali—lebih kuat dan lebih berani dari sebelumnya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!