Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
...Keesokan paginya, berkas sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah gorden, menerangi kamar yang bernuansa modern maskulin....
...Ratri perlahan membuka matanya yang terasa sangat berat dan sembap....
...Butuh waktu beberapa detik baginya untuk mengumpulkan kesadaran, sampai akhirnya ia menyadari bahwa ia berada di sebuah kamar apartemen yang sama sekali asing baginya....
...Ia menoleh ke samping ranjang dan mendapati seorang lelaki bertubuh tegap sedang tertidur lelap dalam posisi duduk di atas kursi, dengan kepala bersandar di tepi kasur....
...Lelaki itu masih mengenakan kemeja kerja yang tampak kusut....
...Ratri memegang kepalanya yang berdenyut nyeri. Ia mencoba memutar kembali memori tentang apa yang terjadi semalam. Mengapa ia bisa ada di sini?...
...Namun, alih-alih mengingat pertemuannya dengan lelaki asing di bandara, ingatan Ratri justru terlempar jauh pada kejadian beberapa jam sebelum itu....
...Bayangan pintu lemari yang terbuka sedikit... aroma parfum Imelda yang menyengat... suara tawa durhaka Tasya dan Gabriel... hingga pemandangan menjijikkan saat Indra dan sahabatnya itu menanggalkan pakaian di atas ranjangnya sendiri....
...“Kalian semua... parasit.” Kata-kata itu kembali terngiang, menghantam dadanya dengan rasa sakit yang sama persis seperti semalam....
...Rasa hancur, dikhianati, dan dihina kembali meluap seketika....
...Pertahanan Ratri runtuh lagi di pagi yang cerah itu....
...Kedua tangannya meremas selimut erat-erat saat air mata kembali meleleh deras membasahi pipinya....
...Ratri menangis sesenggukan, suara tangisnya yang tertahan namun pilu seketika memecah keheningan kamar....
...Suara tangisan itu langsung membuat Devandra tersentak dari tidur ayamnya....
...Ia membuka mata, menegakkan tubuhnya dengan cepat, dan mendapati Ratri sudah sadar namun dalam kondisi menangis histeris berselimutkan kedukaan yang mendalam....
...Devandra langsung bergerak dari kursinya, duduk di tepi ranjang, dan memeluk tubuh Ratri yang bergetar hebat akibat tangis sesenggukan....
...Ia mengusap punggung Ratri dengan lembut, menyalurkan kehangatan dan rasa aman yang sangat dibutuhkan wanita itu....
..."Tenang... Ratri, tenang... Aku di sini," bisik Devandra berulang kali dengan suara rendah yang menenangkan, sampai perlahan-lahan napas Ratri yang semula memburu kembali teratur....
...Setelah merasa sedikit lebih tenang dan detak jantungnya tidak lagi berkejaran, Ratri perlahan mendorong dada Devandra untuk memberi jarak. Dengan suara serak, bibir gemetar, dan mata yang bengkak sembap, ia menatap pria di hadapannya dengan gurat ketakutan yang jelas....
..."K-kamu siapa?" tanya Ratri lirih, kebingungan melihat sosok asing yang merengkuhnya di tempat yang tidak ia kenali....
...Devandra tidak tersinggung. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sengaja ia tunjukkan untuk mencairkan suasana mencekam di antara mereka....
..."Aku Devandra, teman sekolah kamu dulu," jawabnya lembut, mencoba membuka kotak memori masa lalu Ratri....
..."Aku anak IPS 1 yang hobi bikin gaduh, dan kamu anak emas IPA 1 yang selalu jadi bintang sekolah. Dan sekarang..." Devandra jeda sejenak, menatap lekat sepasang mata rapuh itu. "...kebetulan aku pimpinan baru kamu di maskapai."...
...Ratri tertegun. Penjelasan itu perlahan menariknya kembali ke realitas, ingatan masa SMA dan wajah Vincent semalam samar-samar berputar di otaknya....
...Namun, kenyataan bahwa pria di depannya ini adalah pimpinan tertingginya yang baru, sekaligus orang yang menyaksikannya hancur lebur di bandara, membuat Ratri mendadak didera rasa malu yang luar biasa....
..."M-maaf... Aku benar-benar tidak ingat," cicit Ratri, menunduk dalam-dalam....
...Rasa bersalah dan malu bercampur aduk di dadanya....
...Devandra terkekeh pelan, mencoba mengurangi kecanggungan yang merayap di antara mereka....
..."Tentu saja kamu tidak ingat. Aku bukan anak pintar yang selalu duduk di barisan depan seperti kamu. Aku anak badung yang sukanya bolos ke kantin belakang."...
...Gurauan kecil itu berhasil memancing senyum tipis—meski getir—di bibir Ratri yang terluka....
..."Maaf, Pak, saya sudah sangat merepotkan Anda semalam."...
...Ratri tertegun, wajahnya mendadak memerah karena malu sekaligus bingung....
...Ia memundurkan tubuhnya di atas ranjang, menyadari pakaian yang ia kenakan sudah berganti menjadi kemeja pria yang longgar....
...Devandra yang menangkap gelagat itu segera menggelengkan kepala, menolak panggilan formal....
..."Ratri, kalau di luar kantor, anggap aku teman lama seperti zaman SMA dulu. Dan soal pakaianmu, maaf... terpaksa aku ganti karena semalam kamu basah kuyup dan hampir hipotermia. Sekarang, aku mau kamu cerita apa yang terjadi sampai kamu sehancur ini di bandara."...
...Sebelum Ratri sempat menjawab, Devandra memotong kalimatnya sendiri....
..."Tapi, kamu harus makan dulu. Tubuhmu lemas sekali. Sebentar, aku ambilkan bubur ayam hangat untuk kita berdua." Devandra bangkit menuju dapur, tempat makanan yang dibelikan Thomas semalam telah dihangatkan kembali....
...Tak berselang lama, Devandra kembali membawa semangkuk bubur ayam hangat....
...Ia dengan sabar memastikan Ratri menelan beberapa suap makanan hangat tersebut sebelum menuntut penjelasan lebih lanjut....
...Rasa hangat dari makanan itu perlahan memberi sedikit tenaga pada tubuh Ratri yang ringkih....
...Sembari memegang mangkuk dengan tangan yang masih bergetar hebat, Ratri akhirnya membuka suara....
...Tatapannya lurus menatap permukaan bubur, namun pikirannya kembali terlempar ke malam terkutuk itu....
..."Aku... aku sengaja memajukan jadwal kepulanganku, Dev," awal Ratri dengan suara yang putus-putus dan serak....
..."Kemarin adalah hari jadi pernikahan kami. Aku ingin memberikan kejutan... aku sudah menyiapkan tiket liburan mewah untuk kami sekeluarga."...
...Ratri berhenti sejenak, tenggorokannya tercekat saat memori di kamar tidur itu berputar kembali....
..."Saat aku sampai, rumah sepi. Aku dengar mobil Indra datang. Karena ingin mengejutkannya, aku, bersembunyi di dalam lemari pakaian kami."...
...Sepasang mata Ratri mulai berkaca-kaca, air mata baru kembali menggenang....
..."Tapi ternyata... kejutan itu justru berbalik menghancurkanku. Indra masuk ke kamar... bersama Imelda. Sahabatku sendiri, Dev. Mereka bermesraan di depan mataku."...
...Devandra tertegun, napasnya tertahan....
..."Dan yang paling membuat hatiku mati..." Ratri terisak, cengkeramannya pada sendok menguat hingga gemetar....
..."Tasya dan Gabriel... anak-anak kandungku sendiri, mereka ada di sana. Mereka tertawa melihat ayah mereka berselingkuh. Mereka mendukungnya, Dev! Mereka memperlakukan Imelda seperti ibu mereka, sementara aku... aku hanya dianggap sebagai wanita asing penyuplai uang mereka. Mereka semua parasit!"...
...Mendengar kronologi malam terkutuk itu, rahang Devandra mengeras sempurna....
...Tangannya yang berada di atas lutut mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih....
...Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun. Pria mana yang begitu biadab memperlakukan istri sehebat Ratri seperti sampah? Dan anak-anak macam apa yang tega menginjak-injak harga diri ibu yang bertaruh nyawa di angkasa demi menghidupi mereka?...
..."Aku seperti orang bodoh, Dev. Bodoh sekali aku!" tangis Ratri pecah seutuhnya....
...Ia meletakkan mangkuknya dengan kasar, lalu menutupi wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang hebat oleh rasa hina yang teramat dalam....
...Tanpa berkata-kata, Devandra langsung bergerak merengkuh tubuh Ratri ke dalam pelukannya....
...Ia membiarkan wanita itu menangis di dadanya, membiarkan kemejanya basah oleh air mata Ratri....
..."Kamu tidak bodoh, Ratri. Mereka yang binatang," bisik Devandra dengan suara rendah yang bergetar menahan amarah....
...Namun, Devandra tidak membiarkan Ratri tenggelam terlalu lama dalam keterpurukan....
...Setelah tangis Ratri sedikit mereda, Devandra mengurai pelukannya dan memegang kedua bahu Ratri dengan tegas....
..."Dengarkan aku, Ratri. Kamu adalah Kapten Ratri. Perempuan tangguh yang mengendalikan ratusan ton baja di langit. Kamu tidak boleh kalah oleh parasit-parasit seperti mereka," ujar Devandra dengan tatapan mata yang menghujam tajam....
..."Aku sudah menandatangani surat cuti sakitmu. Mulai hari ini, kamu bebas dari tugas terbang selama tujuh hari ke depan. Aku sudah mengirimkannya ke manajemen," lanjut Devandra, menunjukkan ponselnya....
...Ratri mendongak, menatap Devandra dengan sisa air mata di pipinya....
..."Tujuh hari...?"...
..."Ya. Tujuh hari untuk memulihkan fisikmu, dan yang paling penting... tujuh hari untuk menyusun strategi," ucap Devandra, suaranya kini terdengar begitu dingin dan penuh perhitungan....
..."Aku menawarkan bantuan penuh untukmu, Ratri. Apapun yang kamu butuhkan—pengacara hukum terbaik di negeri ini untuk mengurus perceraian dan hak asuh, sokongan finansial untuk memblokir semua aset yang mereka nikmati, hingga perlindungan penuh di apartemen ini agar mereka tidak bisa menyentuhmu."...
...Devandra mendekatkan wajahnya, memberikan keyakinan mutlak....
..."Kita akan buat mereka jatuh semiskin-miskinnya. Kita akan ambil kembali semua yang mereka curi darimu. Kita susun pembalasan dendam yang elegan, bersih, dan mematikan. Kamu mau?"...
...Mendengar tawaran itu, perlahan-lahan pancaran rapuh di mata Ratri meredup, digantikan oleh kilatan sedingin es yang belum pernah terlihat sebelumnya....
...Rasa cinta yang beralih menjadi benci telah membakar habis sisa kelemahannya....
...Ratri menatap tajam langsung ke manik mata Devandra, lalu mengangguk perlahan namun dengan kepastian yang mengerikan....
..."Aku mau, Dev. Aku akan pastikan mereka merangkak di kakiku untuk meminta ampun," jawab Ratri dengan suara yang kini tak lagi bergetar....
...Aliansi itu resmi terbentuk, dan Ratri siap mengubah setiap tetes air matanya menjadi senjata paling mematikan bagi keluarganya....
..."Sekarang ayo, kamu makan lagi," ucap Devandra....
...Ratri menganggukkan kepalanya dan mengambil mangkuk yang ia taruh tadi....
tinggal tunggu karmaa yg menghampiri kalian ,,
sama2 gx punya maluu ,, sama2 gx tau diri ,, dan sama2 haus harta yg bukan milik ny ,, 😏😏😏😏
jgn hidup ngandelin keringat orang lain ,, apa lagi istri yg sbntar lgi jd mantan ,, gx maluu tuuh ma b*lalai ,,
😒😒😒😒😒😒😒😒
tp tdk memungkinkan badai yg sebenarnya baru aj di mulai ,,
😒😒😒
semoga cepat bisa di temukan ,
gregeet bangeet
😒😒😒😒
😒😒😒😒
udh numpang hidup tp gx tau diri ,,
jgn2 si indra juga gx kerja ,, hidup Dr uang istriny Selama ni ,,
dasar tak tau malu ,,
skraaang masa aktif ATM berjalan kalian sudah habis ,,
waktuny kerja keras sendri buat gaya hidup kalian ,,, 😒😒😒😒