"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Sinar matahari pagi menembus celah gorden penthouse, menerangi dua insan yang masih terlelap.
Sepanjang malam, Elzio tidak menyentuh Clara lebih dari yang seharusnya. Pria itu hanya memeluk tubuh Clara dengan erat dan posesif dari belakang, membiarkan wanita yang kelelahan karena menangis dan mabuk itu tertidur lelap di dalam dadanya yang hangat. Setiap kali Clara bergerak dalam tidurnya, cengkeraman Elzio di pinggangnya justru makin memperketat proteksinya.
Pukul delapan pagi di kantor Mahendra Group.
Clara melangkah keluar dari lift dengan setelan blazer krem yang rapi. Meski kepalanya masih sedikit berat akibat tequila dan matanya agak sembab, dia berusaha berjalan setegak mungkin.
Elzio berjalan tepat di sampingnya, memegang secangkir kopi hangat yang baru saja dibelinya.
"Minum kopinya dulu, Clara. Jangan pura-pura kuat kalau kepala kamu masih pusing," ujar Elzio, menyodorkan cangkir kopi itu ke hadapan Clara.
Clara menghentikan langkahnya di depan pintu ruang kerja, melipat kedua tangannya di dada dan menatap Elzio dengan dagu terangkat.
"Gue enggak pusing," sahut Clara dingin, mencoba menutupi rasa canggungnya atas kejadian semalam. "Dan jangan sok perhatian di depan karyawan lain, Pak CEO. Kita ini cuma atasan dan bawahan."
Elzio terkekeh pelan, menyenderkan badannya di kusen pintu sambil menatap Clara dengan binar penuh kejailan. "Atasan dan bawahan? Lalu siapa wanita yang semalam menangis sesenggukan di dada saya dan bilang kalau dia benci saya?"
Wajah Clara seketika memerah padam. "Elzio! Itu... itu karena gue mabuk! Jangan dibahas lagi, atau gue lempar berkas ini ke muka lu!"
"Ternyata rasa jual mahal kamu langsung kembali setelah bangun tidur, sweetheart," bisik Elzio rendah, menunduk sedikit untuk memangkas jarak. "Tapi tidak apa-apa. Jual mahal sesukamu, toh harga kamu sudah saya bayar dengan seluruh hati saya."
"Geli tau enggak?!" senggak Clara, mendorong dada Elzio pelan walau jantungnya berdegup kencang. "Udah sana masuk ruangan lu! Gue mau kerja!"
Belum sempat Elzio membalas ucapan Clara, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari ujung koridor. Arka berjalan cepat dengan raut wajah yang sangat tegang dan pucat.
"Pak Elzio," panggil Arka dengan nada panik yang jarang terlihat.
Elzio membalikkan badan, dadanya menegak. "Ada apa, Arka?"
"Komisaris Utama... Kakek Anda, Tuan Besar Wijaya Mahendra, baru saja tiba di lantai bawah bersama Nona Marissa," lapor Arka cepat. "Beliau minta seluruh jajaran direksi dan Anda segera berkumpul di ruang rapat utama detik ini juga."
Clara mengerutkan keningnya. "Kakeknya Elzio? Ada angin apa tiba-tiba datang?"
Elzio menyipitkan matanya tajam, aura dinginnya langsung terpancar kembali. "Marissa pasti sudah bermain api."
Ruang rapat utama Mahendra Group terasa mencekam. Suasana di dalam begitu hening hingga suara hembusan pendingin udara pun terdengar jelas.
Di ujung meja utama, duduk seorang pria tua berusia 70-an dengan tongkat kayu berukir emas di tangannya—Tuan Besar Wijaya Mahendra. Wajahnya yang keriput dipenuhi garis-garis ketegasan dan amarah yang menakutkan. Di sebelah kirinya, Marissa berdiri menyilangkan tangan dengan senyum kemenangan yang amat tipis.
Pintu rapat terbuka. Elzio melangkah masuk bersama Clara dan Arka di belakangnya.
"Ada masalah apa sampai Kakek harus turun tangan langsung ke anak perusahaan ini?" tanya Elzio dengan suara tenang namun tegas, melangkah menuju meja tanpa rasa takut sedikit pun.
BAM!
Tuan Besar Wijaya menghentakkan tongkat kayunya ke lantai dengan keras, membuat beberapa manajer yang duduk di sana tersentak kaget.
"Masih berani kamu bertanya ada masalah apa, Elzio?!" bentak Wijaya dengan suara menggelegar. "Kakek mendidik kamu untuk jadi pimpinan tertinggi Mahendra Group, bukan untuk jadi pria bodoh yang dibutakan oleh wanita pemuas!"
Clara tersentak mendengar kata "wanita pemuas". Matanya menajam menatap pria tua di depannya.
Elzio mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuhnya. Binar matanya mendadak memancarkan emosi yang sangat berbahaya. "Jaga ucapan Kakek. Siapa yang Kakek maksud?"
"Siapa lagi kalau bukan cewek udik di belakang kamu itu?!" tunjuk Marissa dengan nada tinggi penuh kebencian. "Kakek, lihat kan? Elzio bahkan berani membentak Kakek cuma demi ngebela cewek yang enggak jelas asal-usulnya ini!"
Marissa melangkah maju, melempar beberapa lembar foto ke atas meja rapat. Foto-foto itu memperlihatkan kejadian semalam saat Elzio menghajar Handoko dan foto Clara yang sedang memeluk Elzio di club.
"Semalam Elzio menghancurkan bisnis Pak Handoko dan membatalkan investasi PT Jaya Sentosa cuma demi membela cewek ini!" ceracau Marissa memprovokasi. "Bukan cuma itu, Kakek! Cewek ini ternyata anak dari keluarga bangkrut yang punya banyak utang! Dia manfaatin Elzio buat melunasi utang sepuluh miliar keluarganya dan merebut rumah peninggalan ibunya!"
Tuan Besar Wijaya menatap foto-foto itu dengan tatapan penuh kejijikan, lalu beralih menatap Clara lurus-lurus.
"Jadi kamu... wanita bernama Clara yang sudah meracuni pikiran cucu saya?" desis Wijaya dingin. "Kamu pikir Mahendra Group itu tempat penampungan cewek miskin bermental benalu?"
Clara mengepalkan jemarinya kencang. Rasa harga dirinya tersenggol hebat. Dia melangkah satu detik ke depan, menyejajarkan posisinya dengan Elzio tanpa rasa gentar.
"Maaf, Tuan Besar yang terhormat," potong Clara dengan suara lantang dan tegas. "Saya tidak pernah meminta cucu Anda melunasi utang siapa pun. Dan saya bukan benalu!"
"Diam kamu!" bentak Wijaya keras. "Kamu tidak punya hak untuk bicara di ruangan ini! Kamu cuma seorang asisten murahan yang memanfaatkan kepolosan Elzio demi uang!"
"Kakek!" geram Elzio dengan suara bariton yang amat menakutkan, melangkah pas di depan Clara untuk melindunginya. "Cukup! Jangan pernah sekali lagi Kakek menghina Clara di depan saya!"
"Elzio! Kamu sudah gila?!" teriak Wijaya murka, berdiri dari kursinya sambil menunjuk Elzio dengan tongkatnya. "Demi cewek tidak berpendidikan dan tidak berkelas ini, kamu berani menentang Kakek?! Marissa ini anak dari keluarga kolega terdekat kita! Dia yang pantas mendampingi kamu, bukan cewek simpanan ini!"
Marissa tersenyum puas di belakang Wijaya, merasa berada di atas angin. "Benar kata Kakek, Elzio. Cewek ini cuma mau harta kamu! Dia bahkan baru saja diputusin sama mantan tunangannya karena ketahuan matre!"
Clara menyunggingkan senyum sinis yang amat dingin, memutar bolanya malas. "Proyeksi diri sendiri ya, Nona Marissa? Yang dari kemarin ngejar-ngejar pria yang jelas-jelas enggak sudi ngetatap lu itu siapa?"
"Kurang ajar kamu ya!" pekik Marissa histeris.
"CUKUP!" Wijaya menepuk meja dengan sangat keras. Pria tua itu menatap Elzio dengan pandangan penuh ancaman mutlak. "Elzio, Kakek beri kamu dua pilihan hari ini!"
Elzio menyilangkan tangannya di dada, menatap kakeknya dengan pandangan tanpa ekspresi. "Pilihan apa?"
"Pecat cewek ini sekarang juga, putuskan hubungan kalian, dan umumkan pertunangan kamu dengan Marissa minggu depan!" tegas Wijaya. "Atau... Kakek akan mencopot posisi kamu sebagai CEO Mahendra Group, membekukan seluruh akses saham kamu, dan mengusir kamu dari keluarga Mahendra tanpa membawa uang sepeser pun!"
Seluruh direksi di ruang rapat menahan napas. Pilihan itu sangat mengerikan. Kehilangan takhta kekuasaan tertinggi Mahendra Group hanya demi seorang wanita.
Marissa tersenyum lebar, yakin betul Elzio tidak akan pernah mau mengorbankan kekayaan dan posisinya yang bernilai ratusan triliun hanya demi Clara.
Clara sendiri tertegun. Dia melirik profil samping wajah Elzio. Ada sedikit rasa cemas yang menyelusup di hatinya. Apakah Elzio bakal melepas semuanya cuma demi dia?
Elzio diam sejenak. Lalu, sebuah tawa renyah yang amat dingin keluar dari bibirnya.
Elzio merogoh saku jasnya, mengeluarkan kartu identitas CEO serta kunci ruangan pribadinya, lalu melempar benda-benda berharga itu ke atas meja di hadapan kakeknya.
KLAK!
Suasana ruangan seketika membeku total.
"Elzio... apa maksud kamu?!" gagap Wijaya, raut wajah tegasnya mendadak goyah oleh rasa terkejut.
Elzio meraih tangan Clara, menggenggam jemari wanita itu dengan sangat erat di depan mata semua orang.
"Ambil kembali seluruh takhta, saham, dan jabatan yang Kakek banggakan itu," ujar Elzio santai namun penuh penekanan yang amat dalam. "Saya bisa membangun Mahendra Group dari nol, dan saya juga bisa membangun kerajaan bisnis saya sendiri tanpa nama Mahendra."
Marissa membelalakkan mata tak percaya. "Elzio! Kamu gila?! Kamu nolak jabatan CEO cuma demi cewek ini?!"
Elzio menoleh pada Marissa dengan tatapan membunuh. "Tutup mulutmu, Marissa. Kamu bahkan tidak layak menyebut nama wanita saya."
Elzio lalu menatap kakeknya yang kini terpaku kaku di tempatnya. "Satu hal yang Kakek harus tahu. Tanpa harta Mahendra pun, saya tetaplah Elzio. Tapi tanpa Clara... saya tidak punya alasan untuk hidup."
Clara membeku. Dadanya bergemuruh hebat mendengar kalimat yang keluar jujur dari mulut pria di sampingnya ini. Rasa gengsi dan jual mahalnya runtuh tak berbekas dalam satu detik.
"Arka," panggil Elzio pada asistennya.
"Ya, Pak Elzio?"
"Siapkan pengunduran diri saya hari ini. Dan pastikan seluruh aset pribadi atas nama saya sendiri ditransfer ke rekening Clara."
"Baik, Pak."
Elzio membalikkan badannya, menggandeng erat tangan Clara dan menuntun wanita itu melangkah keluar dari ruang rapat tanpa berpaling sedikit pun.
"Elzio! Kembali kamu! Elzio!" teriak Tuan Besar Wijaya histeris, namun Elzio terus berjalan tegap menembus koridor.
Di luar ruangan, Clara menghentikan langkahnya, menarik tangan Elzio hingga pria itu berbalik menatapnya.
"Elzio! Lu gila ya?!" jerit Clara dengan mata meremang basah. "Kenapa lu lepaskan jabatan CEO lu?! Lu bisa aja pecat gue sementara buat nenangin kakek lu!"
Elzio menunduk, menangkup kedua pipi Clara yang hangat dengan kedua tangannya. Binar matanya menatap Clara dengan kelembutan yang teramat dalam.
"Saya tidak akan pernah mengorbankan kamu untuk apa pun di dunia ini, Clara. Bahkan untuk seluruh harta di bumi," bisik Elzio tulus.
Clara menggigit bibir bawahnya, air matanya menetes. "Tapi sekarang lu enggak punya apa-apa... Lu bukan CEO lagi..."
Elzio tersenyum tampan, mengecup kening Clara dengan hangat. "Saya masih punya kamu, sweetheart. Dan buat saya... itu lebih dari cukup."