Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.
Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KENCAN BUTA
Dua minggu setelah "pertemuan damai" yang sebenarnya lebih mirip gencatan senjata dingin di rumah orang tua, Lina memutuskan untuk kembali ke dunia nyata. Dunia yang bukan berisi hutan pinus, kopi pahit, atau tupai mata-mata bernama Pak Broto.
"Kamu gila," kata Arka kaget di seberang telepon. Suaranya terdengar seperti orang yang sedang mengunyah keripik kentang. "Kamu baru saja keluar dari neraka pernikahan, dan sekarang kamu mau masuk ke purgatory kencan online? Itu namanya bunuh diri sosial, Lin."
Lina sedang berdiri di depan cermin full-body di kamarnya, lina mencoba memutuskan apakah memakai gaun merah atau blazer hitam. Gaun merah membuatnya terlihat seperti lampu lalu lintas yang merah. Blazer hitam membuatnya terlihat seperti agen rahasia yang akan membunuh targetnya dengan pulpen.
"Aku nggak mau cari suami baru, Raka," jawab Lina sambil melempar gaun merah ke tempat tidur. "Aku cuma mau... tes pacar. aku Mau tahu apakah masih ada pria normal di luar sana. Atau apakah seluruh populasi pria di kota ini sudah bermutasi menjadi Raka-versi-02."
"Statistik mengatakan 90% pria di aplikasi kencan itu bot, penipu crypto, atau pria yang masih tinggal sama ibunya dan meminta izin dulu sebelum membalas chat," jelas Arka datar. "Sisanya 10% adalah pria aneh seperti saya. Dan percaya deh, satu orang aneh saja sudah cukup buat satu kota."
Lina tertawa. "Yaudah, kalau aku ketemu pria aneh lagi, aku bakal ajak dia jadi partner bisnis 'Jasa Konsultasi Patah Hati'. Kita bagi hasil 60:40. Aku 60, kamu 40 karena kamu lebih tua dan lebih bijak."
"Woi, umur cuma angka!" protes Arka. "Oke, oke. Tapi janji satu hal: Jangan bawa pulang siapa-siapa malam ini. Apartemenmu masih bau cat baru dan kesedihan. Nggak cocok buat romansa."
"Siap, Bos," kata Lina sambil menutup telepon.
Tempat kencannya adalah sebuah kafe buku yang aesthetic banget. Lampunya redup, musiknya jazz pelan, dan kopinya harganya setara dengan ginjal kiri. Lina datang lima menit lebih awal,dia duduk di meja pojok dengan buku tebal di tangan lina ber pura-pura membaca baca, padahal matanya melirik jam setiap tiga detik.
tak lama kemudian Pria itu datang tepat waktu. Namanya Bima. Dari fotonya di aplikasi, dia terlihat seperti model iklan pasta gigi: putih, bersih, dan tersenyum terlalu lebar sampai menunjukkan semua gusi.
"Halo, Lina?" sapa Bima, suaranya berat dan berusaha terdengar seksi.
Lina menoleh. Bima asli ternyata sedikit berbeda. Dia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak yang dikancingkan sampai leher meski cuaca panas, dan rambutnya disisir rapi dengan gel sebanyak satu toples kecil.
"Halo, Bima," jawab Lina sopan. "Silakan duduk. Maaf, kursinya agak keras. Ini desain ergonomis untuk mencegah kita terlalu nyaman dan lupa pulang."
Bima tertawa terdengar seperti mesin diesel yang sulit distarter. "Wah, humoris juga ya. aku Suka itu. kamu tau Wanita cerdas itu seksi."
Lina menahan diri untuk tidak muntah. Wanita cerdas itu seksi? Kalimat klise nomor satu dalam buku panduan pickup artist tahun 2005.
"Makasih," kata Lina datar. "Jadi, Bima. Di profil kamu tertulis hobi kamu adalah 'Menjelajahi Alam Semesta'. Apa artinya kamu astronot? Atau kamu cuma suka main game Star Wars?"
Bima tampak gugup. Dia menggaruk lehernya yang sudah berminyak. "Eh... maksudnya, saya suka hiking. Naik gunung. Cari ketenangan. Sama seperti kamu mungkin?"
Lina mengangkat alis. "Oh, kamu tahu soal gunung? Kamu stalking Instagram saya?"
"Bukan stalking!" bantah Bima cepat. "Cuma... algoritma medsos itu pintar. Dia tahu kita punya hobi yang sama. Jadi dia suggest profile kamu."
Lina menyipitkan mata. Algoritma memang pintar, tapi tidak sampai bisa membaca pikiran tentang trauma masa lalu seseorang. Ada yang aneh.
"Oke," kata Lina santai. "Jadi, selain hiking dan menjadi korban algoritma, apa lagi hobi kamu? Mungkin mengumpulkan perangko? Atau merawat kaktus yang depresi?"
Bima tersenyum kaku. "Saya... suka fotografi. Foto alam. Foto manusia. Foto... momen."
"Momen apa?" desak Lina.
"Momen privat," bisik Bima, mendekatkan wajahnya. Matanya berkilat aneh. "Saya suka mengambil foto orang tanpa mereka tahu. Itu seni candor. Murni. Tanpa pose."
Lina merasa bulu kuduknya berdiri. Voyeur. Dia sedang duduk berhadapan dengan seorang pengintai berkedok seniman.
"Menarik," kata Lina tetap tenang meski tangannya di bawah meja sudah menggenggam erat tasnya yang berisi semprotan merica "Jadi, kamu pernah mengambil foto saya? Sebelum kita ketemu?"
Bima terdiam. Senyumnya hilang. Wajahnya berubah serius, dan terlihat menyeramkan. "Saya melihat potensi, Lina. Potensi wanita yang terluka tapi kuat. Saya ingin mendokumentasikan proses penyembuhanmu. Untuk portofolio pribadi saya."
Lina tertawa. Kali ini tawanya dingin. "Portofolio pribadi? Atau koleksi barang bukti?"
Tiba-tiba, ponsel Bima bergetar di atas meja. Layarnya menyala. Notifikasi dari grup WhatsApp bernama "Komunitas Pengamat Sosial".
Lina melirik sekilas. Di situ ada Banyak foto wanita. Termasuk foto Dinda yang sedang keluar dari klinik kandungan. Dan foto Lina saat dia menangis di taman.
Jantung Lina berhenti berdetak sesaat.
"Kamu..." suara Lina bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang meledak-ledak. "Kamu memata-matai kami? Kamu bagian dari kelompok stalker itu?"
Bima mulai panik. Dia meraih ponselnya. "Ini salah paham! Kami cuma observasi sosiologis! Kami nggak jahat!"
"Observasi sosiologis my ass!" bentak Lina. Dia berdiri, kursi di belakangnya terjatuh dengan bunyi keras. Seluruh pengunjung kafe menoleh. "Kalian melanggar privasi! Kalian menghancurkan hidup orang demi kepuasan morbida kalian!"
Bima mencoba menenangkan Lina. "Shht, Lin. Jangan bikin ribut. Nanti reputasimu rusak. Orang akan bilang kamu stres."
"stress?" Lina tertawa sinis. Dia mengambil gelas air es di meja dan menyiramkannya ke wajah Bima. Splash!
"Aaaagh!" teriak Bima, sambil mengelap wajahnya yang basah kuyup. "Kamu sudah gila!"
"Saya mungkin gila," kata Lina lantang, memastikan semua orang mendengar. "Tapi setidaknya saya gila yang jujur. Bukan gila yang nyembunyiin kamera di semak-semak!"
Sebelum Bima bisa bereaksi, Lina mengambil tasnya dan berlari keluar kafe. Jantungnya berdegup kencang. Dia harus lapor polisi. Dia harus memberi tahu Dinda. Kelompok ini berbahaya. Mereka bukan sekadar tukang gosip. Mereka predator.
Saat Lina berlari menuju parkiran, sebuah mobil hitam mewah tiba-tiba berhenti di depannya untuk menghalangi jalannya Kaca jendela mobil perlahan turun.
Di dalamnya duduk seorang pria. Dia mengenakan kacamata hitam, meskipun hari sudah sore. Dan di pangkuannya, ada sebuah folder tebal berwarna cokelat.
Pria itu menurunkan kacamatanya sedikit. Matanya tajam, dingin, dan sangat familiar.
"Naik lah Lina," kata pria itu. Suaranya rendah, berwibawa, dan membuat darah Lina membeku.
Itu bukan Arka Atau pun Raka.
dia adalah pria yang kemarin sore Lina lihat sedang berbicara empat mata dengan pengacara Raka di koridor pengadilan. Pria yang diam-diam membeli saham perusahaan mantan mertua Lina.
"Siapa kamu?" tanya Lina, mundur selangkah.
Pria itu tersenyum tipis
"Namaku Victor," ucap nya. "Dan saya punya informasi tentang 'Komunitas Pengamat Sosial' itu. Informasi yang bisa menyelamatkan adikmu. Atau menghancurkan sepenuhnya. Pilihan ada di tanganmu."
Lina menatap folder di pangkuan Victor. Lalu menatap wajah pria misterius itu.
"Apa maumu?" tanya Lina waspada.
Victor membuka pintu mobil. "Diskusi. Di tempat yang aman. Kalau kamu mau."
Lina ragu. Instingnya berteriak bahaya. Tapi rasa penasaran dan kekhawatiran pada Dinda lebih kuat. Jika kelompok stalker itu benar-benar mengincar Dinda, dia butuh bantuan. Dan Victor tampaknya tahu banyak hal.
Dengan tangan gemetar, Lina membuka pintu mobil dan masuk.
Mobil itu melaju pergi, meninggalkan kafe yang ramai dan Bima yang masih sibuk mengelap wajahnya yang basah
Di dalam mobil, Victor menyerahkan folder itu ke tangan Lina tanpa mengatakan apapun,
Lina membukanya. Isinya bukan dokumen hukum.
Isinya adalah foto-foto. Foto Raka bertemu dengan seseorang yang bukan Dinda. Seseorang yang jauh lebih berbahaya.
Dan di halaman terakhir, ada sebuah nama. yang membuat napas Lina tercekat.
Nama ayahnya sendiri.
"To be continued..."