Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duri Diantara Senyuman
Pagi berikutnya, suasana di kantor pusat Devan Corp tampak begitu sibuk. Gedung pencakar langit yang megah itu berdiri kokoh di pusat bisnis kota, dipenuhi oleh lalu lalang para profesional berjas rapi.
Sementara Devan sudah berada di ruang kerja megahnya di lantai paling atas sejak pagi-pagi sekali, Kirana tiba dengan penampilan yang sangat sederhana namun anggun. Ia mengenakan kemeja putih polos yang rapi dan rok bahan berwarna gelap. Tidak ada barang mewah, tidak ada perhiasan mencolok, dan tidak ada pengawal yang mengawalnya hingga ke dalam gedung. Sesuai kesepakatan, Kirana ingin memulai segalanya murni sebagai rakyat biasa.
Melalui jalur penerimaan umum yang telah diatur secara halus oleh asisten pribadi Devan tanpa menimbulkan kecurigaan, Kirana melangkah menuju ruang wawancara untuk posisi karyawan magang di divisi analisis bisnis.
Di dalam ruang interview, tiga orang pewawancara mengamati berkas lamaran dan riwayat akademis Kirana dari Australia. Mata para pewawancara itu berbinar saat menelusuri catatan nilai dan portofolio analisis riset yang dibuat oleh gadis di hadapan mereka.
"Riwayat pendidikanmu sangat luar biasa, Miss Kirana," ujar kepala tim HRD dengan nada kagum yang tak bisa disembunyikan. "Pemahamanmu mengenai strategi pasar dan analisis risiko sangat tajam untuk seorang lulusan baru."
"Terima kasih, Pak," jawab Kirana dengan tenang dan senyum profesional yang mengembang di wajahnya. "Saya sangat berharap bisa memberikan kontribusi terbaik untuk Devan Corp."
Setelah serangkaian pertanyaan teknis yang berhasil dijawab Kirana dengan sangat memuaskan dan tanpa cela, para pewawancara saling berpandangan dan mengangguk setuju.
"Selamat, Kirana. Kau diterima sebagai karyawan magang di Divisi Perencanaan Bisnis. Kau bisa mulai bekerja hari ini juga," ucap sang manajer seraya mengulurkan tangan.
"Terima kasih banyak, Pak!" jawab Kirana gembira. Hatinya bergetar penuh rasa syukur. Ini adalah langkah pertamanya untuk berdiri di atas kakinya sendiri, membuktikan bahwa tanpa nama besar keluarga Husein, ia tetaplah seorang wanita berdaya.
Sementara itu, di lantai teratas gedung—di dalam ruangan CEO yang sangat luas dengan dinding kaca melengkung yang memperlihatkan pemandangan seluruh kota—Devan berdiri menatap layar monitor khususnya.
Layar itu menampilkan pemberitahuan internal dari sistem HRD bahwa calon magang bernama Kirana telah resmi diterima.
Asisten pribadinya yang berdiri di samping meja kerja menunduk hormat. "Nona Kirana telah resmi diterima di Divisi Perencanaan Bisnis lantai 12, Tuan Devan. Semua staf di sana tidak ada yang mengetahui hubungan Anda dengannya."
Devan menyunggingkan senyum tipis—senyuman bangga yang amat jarang terpancar dari wajah dingin sang penguasa bisnis tersebut.
"Bagus," gumam Devan pelan, matanya menatap tajam ke arah dokumen di mejanya. "Biarkan dia mengepakkan sayapnya. Tapi pastikan tidak ada satu orang pun di lantai itu yang berani bertindak melampaui batas padanya."
Seorang staf HRD mengantar Kirana menuju lantai 12, area kerja Divisi Perencanaan Bisnis yang terkesan modern dan dinamis. Begitu pintu lift terbuka, suasana riuh suara kibatan kertas dan dentikan papan ketik langsung menyapa telinganya.
"Perhatian semuanya," ujar staf HRD seraya menepuk tangan pelan untuk menarik perhatian orang-orang di ruangan itu. "Ini Kirana, anak magang baru yang akan bergabung di tim analisis mulai hari ini. Mohon bantuannya, ya."
Beberapa karyawan yang berada di meja terdekat langsung mendongak. Paras Kirana yang jernih, senyumnya yang ramah, serta pembawaannya yang anggun namun rendah hati seketika menarik simpati banyak orang.
"Selamat datang, Kirana! Kalau ada yang bingung, tanya saja ya," sapa seorang karyawan senior bermata ramah.
"Terima kasih semuanya, mohon bimbingannya," balas Kirana seraya membungkuk sopan.
Namun, tidak semua mata menatapnya dengan kehangatan. Di sudut ruangan yang agak memojok, seorang wanita dengan riasan tebal dan pakaian brand mencolok tampak menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya menyipit, menatap Kirana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan sorot mata penuh permusuhan dan rasa iri yang membakar.
Wanita itu adalah Siska, salah satu staf senior yang selama ini selalu merasa menjadi pusat perhatian dan paling cantik di divisi tersebut. Merekah cantiknya Kirana yang alami tanpa balutan barang mewah membuat Siska merasa posisinya langsung terancam.
"Nanti juga paling cuma mengandalkan wajah," gumam Siska pelan dengan dengusan sinis yang hanya didengar oleh teman sebangkunya. "Gadis magang polos begini paling tidak sampai sebulan juga sudah menyerah."
Staf HRD membawa Kirana ke sebuah meja kerja bersih yang tak jauh dari jendela. "Ini mejamu, Kirana. Semoga betah bekerja di sini."
"Terima kasih banyak, Pak," jawab Kirana tulus.
Kirana mendudukkan dirinya di kursi kerja, menata buku catatan dan alat tulisnya dengan rapi. Dari kejauhan, ia sempat menangkap tatapan sinis Siska yang tak mengalihkan pandangannya. Namun, alih-alih gentar, Kirana hanya menyunggingkan senyum tipis yang tenang. Bagi Kirana yang pernah melewati kekejaman keluarga kandungnya sendiri, tatapan iri seperti itu hanyalah kerikil kecil yang tak akan mampu menghentikan langkahnya.