Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detonator Bisu dan Dendam Sang Bidadari Kematian
Pecahan gelas *wine* berderak di bawah sol sepatu Arjuna saat pria itu melangkah membelah jarak di antara mereka.
Aluna berdiri tegak dalam balutan gaun sutranya. Tangan kanannya gemetar saat mengangkat pistol *revolver* tua peninggalan ayahnya itu, mengarahkannya bukan kepada Arjuna, melainkan menyodorkan gagangnya agar pria itu bisa mengambilnya.
"Sumpahmu adalah nyawaku, Juna," bisik Aluna, air mata mengalir membasahi pipinya yang pucat. "Lakukan. Tembak aku, lalu katakan pada ayahmu bahwa kau telah menghukum sang pengkhianat. Dengan begitu, kau akan selamat dari kemurkaannya."
Arjuna berhenti tepat di hadapan istrinya. Wajah sang monster bawah tanah yang biasanya sedingin es itu kini tidak memancarkan amarah sedikit pun. Sebaliknya, Arjuna menatap Aluna dengan sebuah senyuman—senyuman yang sangat dalam dan penuh pemujaan.
Perlahan, tangan besar Arjuna terulur. Ia mengambil *revolver* itu dari tangan Aluna.
Namun, alih-alih mengarahkannya ke kepala Sang Ratu, Arjuna memutar tubuhnya dan melemparkan pistol bersejarah itu tepat ke dalam kobaran api di perapian.
Aluna terbelalak, napasnya tercekat. "J-Juna? Apa yang kau lakukan?! Ayahmu dan para pembunuh Bratva akan—"
"Kau pikir aku ini siapa, Aluna?" potong Arjuna lembut. Ia melangkah maju, meraih pinggang istrinya dan menariknya ke dalam pelukan yang begitu erat hingga kaki Aluna nyaris terangkat dari lantai.
Arjuna membenamkan wajahnya di leher Aluna, menghirup aroma *lavender* yang selalu menjadi candunya.
"Aku adalah Baskara," bisik Arjuna di telinga istrinya, suaranya dipenuhi karisma seorang penguasa mutlak. "Tidak ada satu pun kurir rahasia, surat, atau paket apa pun yang bisa keluar dari kastel Eropa ini tanpa melewati sistem keamananku. Kau pikir aku tidak tahu kau menyewa kurir *blind-drop* dua hari yang lalu?"
Dada Aluna bergemuruh hebat. Matanya melebar menatap suaminya. "K-kau... kau tahu soal buku hitam itu? Soal paket untuk ayahku?"
Arjuna mengangguk perlahan, menangkup kedua pipi Aluna yang basah oleh air mata.
"Aku membaca setiap lembar *ledger* yang kau susun di tengah malam, Na," kekeh Arjuna pelan, menghapus air mata istrinya dengan ibu jarinya. "Dan aku yang secara pribadi membuka blokir sinyal di perbatasan agar kurirmu bisa menerbangkan paket itu ke meja Inspektur Arya di Jakarta."
Kaki Aluna mendadak lemas. "Lalu... kenapa kau membiarkanku melakukannya?"
"Karena selama kerajaan ayahku masih berdiri, kita tidak akan pernah benar-benar bebas," ucap Arjuna sungguh-sungguh. "Aku telah mencoba segalanya, Na. Tapi aku tidak bisa menghancurkan ayahku sendiri secara langsung. Aku butuh seseorang dari luar untuk meruntuhkannya... dan kau memberikan kunci itu kepada Inspektur Arya. Kau tidak menghancurkan kita, Sayang. Kau baru saja membukakan pintu kebebasan untuk kita berdua."
Tiba-tiba, suara deru baling-baling helikopter terdengar membelah badai salju di luar kastel. Cahaya lampu sorot merah menembus jendela kaca. Pasukan pembunuh elit Bratva kiriman ayahnya telah tiba untuk mengeksekusi mereka berdua.
Arjuna tersenyum miring, senyum mematikan Sang Algojo dari Timur. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah detonator kecil berwarna hitam. Ia telah memasang peledak di seluruh penjuru kastel untuk memalsukan kematian mereka, mengubur identitas Baskara dan Aluna selamanya dalam puing-puing.
"Waktunya Baskara mati," bisik Arjuna.
Ia menekan tombol itu dengan ibu jarinya.
**KLIK.**
Tidak ada yang terjadi.
Senyum Arjuna memudar. Ia menekan tombol itu lagi. Berkali-kali. Namun, ruangan itu tetap sunyi, hanya diisi oleh suara deru badai dan baling-baling helikopter yang semakin mendekat. Tidak ada ledakan. Tidak ada getaran.
Arjuna menegang. Insting membunuhnya bangkit seketika. "Sistemnya diretas..."
**BUM!**
Bukan dari bom milik Arjuna, melainkan pintu ganda dari kayu ek tebal di ujung ruangan yang tiba-tiba diledakkan dari luar. Asap kelabu dan serpihan kayu berhamburan ke udara, mengingatkan Aluna pada kekacauan di ruang sidang Pengadilan Negeri beberapa bulan lalu.
Dari balik kepulan asap tebal itu, sepasang sepatu bot militer melangkah masuk dengan tenang.
Rambut pirang platina itu berkibar tertiup angin dingin yang masuk dari celah pintu yang hancur. Katya, sang bidadari kematian dari Bratva, berdiri di sana. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah perangkat *signal jammer* (pengacak sinyal) tingkat militer yang lampunya berkedip hijau. Di tangan kanannya, ia menggenggam senapan serbu *Kriss Vector* yang moncongnya masih mengepulkan asap.
"Trik yang bagus, Baskara," seringai Katya melebar, menatap Arjuna dengan kilatan dendam dan kepuasan yang luar biasa. "Mencoba meledakkan kastelmu sendiri untuk memalsukan kematian? Sayangnya, Raja Mafia lebih mengenal kelicikan putra mahkotanya sendiri daripada yang kau kira."
Katya melemparkan perangkat pengacak sinyal itu ke lantai, lalu mengangkat senapannya, membidik tepat ke arah dada Arjuna. Di belakang wanita itu, puluhan tentara bayaran Bratva bermasker hitam mulai berhamburan masuk, mengepung ruangan itu dari segala arah.
Tatapan es Katya kemudian beralih pada Aluna yang masih berada di dalam pelukan Arjuna.
"Dan kau, Ratu Es," desis Katya, mengingat jelas penghinaan yang ia terima di ruang cerutu beberapa minggu yang lalu. "Sepertinya palu kayumu benar-benar tidak bisa menyelamatkanmu malam ini. Mari kita lihat, apakah suamimu masih bisa mengabaikanku setelah aku melubangi kepalamu."
Utopia pelarian mereka hancur dalam hitungan detik. Rencana kematian palsu itu telah gagal total.
Arjuna menarik Aluna dengan paksa ke belakang punggungnya. Dengan gerakan yang lebih cepat dari kedipan mata, ia mencabut dua pucuk *Glock* berwarna *matte* dari balik jasnya. Sorot mata Arjuna menggelap, kembali menjadi monster yang siap merobek siapa pun yang berani menyentuh istrinya.
Malam ini, bukan pelarian yang menunggu mereka. Malam ini adalah perang berdarah untuk menentukan siapa yang akan keluar dari kastel ini dalam keadaan hidup. Cerita mereka berdua masih jauh dari kata usai.