NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 : PENYISIRAN HUTAN BELANTARA

Malam mulai turun, menyelimuti seluruh kawasan bekas pertempuran dalam gelap pekat yang hanya bisa ditembus oleh cahaya lentera yang dibawa oleh pasukan Belanda. Udara terasa dingin dan lembap, bercampur dengan bau tanah basah, daun busuk, dan sisa arang yang belum padam. Pasukan yang terdiri dari lebih dari seratus orang itu mulai bergerak, menyusuri jalan setapak yang di penuhi semak berduri.

Kapten De Vries berjalan di barisan depan, peta yang dilipat tergenggam erat di tangan, sementara Sersan Van der Velde berjalan di sisinya, terus-menerus mengawasi sekeliling dengan tatapan waspada.

"Kapten, kau yakin jejak ini benar?" tanya Sersan Van der Velde dengan logat Belanda yang tebal, menunjuk ke arah tanah yang ditutupi tumpukan daun kering. " Dit ziet er niet naar uit dat iemand baru saja leefde hier. (Ini tidak terlihat seperti ada orang baru saja lewat di sini.)"

De Vries menggeleng, wajahnya penuh ketidakpastian namun tetap memaksakan keyakinan. " We moeten doorgaan, Piet. Mayor ingin kita bergerak cepat. Jangan banyak tanya, hanya ikuti perintah. (Kita harus terus maju, Piet. Mayor ingin kita bergerak cepat. Jangan banyak tanya, hanya ikuti perintah.)"

Di barisan belakang, terdengar gumaman dari sekelompok prajurit yang mulai merasa lelah dan gerah.

" Godverdomme, hutan ini sangat buruk sekali! " seru Kopral Jansen, mengusap keringat yang mengalir di dahinya. " Kita tidak bisa melihat lima langkah ke depan. Kalau mereka mau sembunyi, di sini mereka lebih ahli daripada kita. "

"Jangan mengeluh, Jansen!" potong Sersan Kooijman yang berjalan di dekatnya. "Ingat apa yang dikatakan Mayor? Kalau kita lambat, kita yang akan kena marah. Inlander itu cuma binatang! Kita pasti bisa tangkap mereka! "

"Binatang atau bukan, mereka pintar sekali menyembunyikan jejak," sahut Jansen sambil menginjak sebatang bambu yang tergeletak. " Lihat ini. Mereka potong dan susun daunnya supaya terlihat seperti aslinya. Ini bukan kerja orang bodoh, Kapten. "

Kapten De Vries mendengar percakapan itu dan berhenti sejenak. Ia tahu apa yang dikatakan prajurit itu benar. Medan hutan ini bukan sekadar tanah asing bagi mereka. Hutan Rancagaok hidup, bergerak, dan memiliki rahasia yang tidak akan pernah mereka pahami sepenuhnya.

"Maju semua!" teriak De Vries, mengangkat senjatanya. "Hati-hati! Kami menemukan tanda-tanda jebakan di sini! Jangan berjalan berbaris rapat! Sebar ke samping!"

Tak lama kemudian, barisan pasukan berubah. Mereka bergerak menyebar, memeriksa setiap batu, setiap akar pohon, dan setiap celah tanah. Namun semakin mereka masuk ke dalam, semakin sulit jejak yang mereka temukan.

" Kapten! Lihat ini! " teriak seorang pengintai dari depan. Ia menunjuk ke arah sebuah lubang kecil yang tertutup rapat oleh ranting dan tanah. " Ini jebakan! Kalau kita melangkah, kita akan jatuh ke dalam lubang! "

De Vries berjalan mendekat, mengintip ke dalam lubang itu. Di dalamnya terlihat paku-paku bambu yang dipotong runcing dan diwarnai racak alami. Ia mengumpat kasar, bahasa campuran antara Belanda dan Melayu yang kasar.

" BANGSAT KOWE INLANDER! " teriaknya. "Mereka memang berbahaya! Mereka tidak bermain adil! Ini bukan perang biasa, ini seperti perang melawan hantu!"

" Ze zijn slim, Kapten. Ze weten setiap jalan dan jalan sempit di sini. " (Mereka pintar, Kapten. Mereka tahu setiap jalan dan jalan sempit di sini.) ucap Sersan Van der Velde dengan nada serius.

"Ya, aku tahu," jawab De Vries pelan. "Tapi kita tidak boleh mundur. Kita sudah berjanji pada Mayor. Kita akan terus menyisir sampai kita temukan mereka."

Di tengah perjalanan, mereka juga menemukan tumpukan batu besar yang disusun rapi di atas tebing curam.

" Mereka siapkan ini untuk menjatuhkan ke kepala kita nanti, " gumam Jansen. " Sangat licik. Seperti mereka menunggu kita datang. "

"Jangan terlalu banyak bicara!" tegur temannya. "Lebih baik kita berdoa supaya mereka tidak melempar saat kita lewat."

Suasana di antara pasukan mulai berubah. Rasa percaya diri yang sempat mereka bawa dari kota perlahan mulai memudar, digantikan oleh rasa waspada dan sedikit rasa takut yang terselubung. Mereka merasa seolah-olah setiap pohon, setiap semak, dan setiap suara angin adalah mata yang mengawasi mereka.

Tiba-tiba, dari kejauhan terdengar suara anjing pelacak yang menggonggong dengan bingung.

" Wat is er? (Apa itu?) " tanya De Vries, berjalan cepat menuju tempat anjing itu berada.

Anjing itu berjalan mondar-mandir, mengendus tanah dengan cemas, lalu berhenti dan mengangkat kepala seolah bingung. Tidak ada jejak yang jelas, jejak kaki yang seharusnya ada, malah hilang begitu saja di tengah jalan.

" Jejaknya hilang, Kapten! " lapor si penjaga anjing, wajahnya kecewa. " Seolah-olah mereka menghilang ke udara tipis. "

De Vries menghentakkan kakinya ke tanah, marah bukan main. " VERDOMME! Bagaimana mungkin? Kita baru saja melihat jejak segar! Mereka lari ke mana?!"

" Mungkin mereka lari ke arah sungai? Atau masuk ke dalam gua kecil? " usul salah satu prajurit.

"Tidak, aku tidak percaya itu!" potong De Vries. "Mereka tahu kita punya anjing pelacak. Mereka pasti menyamarkan jejaknya. Ini taktik mereka. Mereka ingin membuat kita lelah, ingin membuat kita bingung, dan ingin membuat kita menyerah."

Sersan Kooijman berjalan mendekat, suaranya rendah namun tegas.

"Kapten, dengan segala hormat," ucapnya, " ini tidak masuk akal. Kita adalah pasukan yang terlatih, tapi kita berjalan di sini seperti orang buta. Hutan ini terlalu luas dan terlalu berbahaya. Mungkin... mungkin kita harus menunggu bantuan lebih banyak datang? "

Mendengar kata-kata itu, De Vries menatap tajam ke arah bawahannya. Ia tahu apa yang dipikirkan orang itu: rasa takut.

" Kau ingin aku melapor pada Mayor bahwa kita gagal lagi? " tanya De Vries dengan suara rendah namun mengancam. " Jangan pernah katakan itu lagi di hadapanku! "

" Maaf, Kapten. Aku hanya khawatir pada anak buahku, " jawab Kooijman, menunduk.

De Vries menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia tahu bahwa kekhawatiran itu wajar. Namun egonya sebagai seorang perwira tidak membiarkannya menyerah begitu saja.

"Dengar semua," seru De Vries kepada seluruh pasukan, suaranya kini tegas dan penuh paksaan. "Mereka hanya segelintir orang. Sekelompok EXTREMIS kecil yang pikir mereka bisa mengalahkan kekuatan kita. Kita tidak akan mundur! Kita akan tetap menyisir sampai kita menemukan mereka! Setiap inci hutan ini akan kita periksa!"

" Ja! Voor Orde en Vrede! (Ya! Untuk Ketertiban dan Kedamaian!) " teriak sebagian prajurit, meski suaranya terdengar kurang semangat.

Namun di dalam hati masing-masing, banyak yang bertanya-tanya: Apakah mereka benar-benar akan berhasil?

Malam semakin dalam. Suara jangkrik dan hewan hutan lainnya terdengar makin jelas, namun bagi pasukan Belanda, suara-suara itu terdengar seperti suara orang yang bersembunyi di balik pohon, mengawasi setiap gerak mereka.

"Lihat ke sana," bisik Sersan Van der Velde, menunjuk ke arah seberang sungai kecil yang airnya tenang. " Ada asap tipis. Jauh di sana. Mungkin itu api unggun mereka. "

De Vries menatap ke arah itu. Terdapat kabut tipis yang naik dari arah sana, namun ia tidak yakin apakah itu benar-benar tanda musuh atau hanya kebetulan alam.

"Siapkan senjata!" perintahnya. "Kita akan bergerak mendekat dengan hati-hati. Tapi ingat, hati-hati dengan jebakan!"

Mereka bergerak perlahan, melintasi sungai kecil dengan jalan berjinjit, memastikan setiap langkah aman. Namun semakin mereka mendekat ke arah sumber asap itu, semakin mereka sadar bahwa sesuatu tidak beres. Tidak ada suara orang berbicara, tidak ada suara api yang berkobar kencang. Hanya ada asap tipis yang perlahan menghilang di udara malam.

" Ini jebakan lagi, " gumam Jansen. " Hanya untuk menipu kita. Untuk membuat kita pergi ke arah salah. "

De Vries mengumpat lagi, kali ini dengan sangat kasar. " BANGSAT KOWE INLANDER! KITA AKAN TEMUKAN KAU! KITA AKAN BAKAR SEMUA HUTAN INI SAMPAI TIDAK ADA SATU POHON PUN YANG TINGGAL! "

Meskipun sudah dipastikan itu hanyalah tipu daya, semangat pasukan sedikit terangkat kembali. Setidaknya mereka tahu bahwa mereka benar di jalur yang tepat. Musuh itu ada di sana, tidak jauh lagi.

Namun, saat mereka hendak berbalik untuk melanjutkan pencarian, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari kegelapan, datang dari segala arah sekaligus—jeritan yang panjang dan mengerikan, bukan dari manusia, tapi dari suara yang dibuat dengan cara membelah batang bambu.

SSSSSSSTTTTT... BOOOOOM!!!

Suara itu memekakkan telinga, membuat anjing pelacak menggonggong histeris dan sebagian prajurit melompat ketakutan.

"APA ITU?!" teriak De Vries, tangan segera mengangkat senjata.

" Itu mereka! Mereka mengerjakan sihir! " seru seorang prajurit muda yang wajahnya pucat pasi.

"TIDAK ADA SIHIR! ITU HANYA CARA MEREKA MEMBAWAKAN BERITA!" teriak De Vries, meski jantungnya juga berdegup kencang.

Mereka berdiri di sana, dikelilingi kegelapan dan suara-suara aneh yang mulai terdengar dari setiap penjuru hutan. Suara ranting yang dipatahkan, suara bisikan angin yang terdengar seperti kata-kata, dan suara-suara yang membuat mereka merasa seperti dimata-matai oleh ribuan mata yang tak terlihat.

Kapten De Vries menatap ke arah Sersan Van der Velde.

" Mereka bermain dengan pikiran kita sekarang, " ucap De Vries dengan suara rendah. "Mereka ingin kita lelah, mereka ingin kita putus asa. Tapi kita tidak akan menyerah. Kita akan terus berjalan."

" Ya, Kapten. Kita akan terus berjalan sampai tujuan akhir, " jawab Sersan itu, meski matanya juga menunjukkan ketidaknyamanan.

Malam semakin larut, dan perburuan ini baru saja benar-benar dimulai. Pasukan Belanda terus bergerak, diterangi cahaya lentera yang berkedip-kedip, berjalan di tengah hutan yang tidak bersahabat, dikejar oleh ketakutan sendiri dan musuh yang tak terlihat.

Di kejauhan, jauh di atas bukit yang sama, Bayu dan teman-temannya mengamati mereka dari balik dedaunan. Mereka melihat pasukan besar itu bergerak lambat, terlihat bingung dan lelah.

"Mereka terlihat seperti kelompok semut yang tersesat," kata Karta sambil tersenyum tipis, namun tetap waspada.

"Jangan meremehkan mereka," jawab Bayu. "Mereka kuat, tapi mereka tidak tahu medan ini. Biarkan mereka lelah dulu. Nanti saat mereka sudah benar-benar lelah dan bingung, barulah kita beri kejutan lagi."

Sukria dan Jaka hanya mengangguk, mengamati dari jauh sambil memegang senjata mereka. Sementara di bawah sana, di dalam kegelapan hutan, perburuan yang panjang dan melelahkan sedang berlangsung. Dan bagi Belanda, mereka belum menyadari bahwa ini baru permulaan dari neraka yang akan mereka alami di tanah Rancagaok.

 

📝 PESAN PENULIS

Untuk dialog indonesia yang di ucapkan kompeni sengaja di bikin belepotan.

Bagi yang fasih bahasa Kompeni, mohon koreksi jika ada yang keliru. Semua terjemahan ini murni dari Google Translate 🙏

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!