NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Halaman yang Hilang

"Buang saja buku bersampul merah itu ke dalam perapian, Nona. Benda berdebu itu hanya akan membuat Anda bersin bersin dan merusak suasana pagi kita yang cerah ini."

​Odette meletakkan nampan perak berisi secangkir teh hitam panas dan setumpuk roti panggang di atas meja rias. Pelayan kecil itu memandang jijik ke arah buku harian bersampul kulit merah yang sedang dipegang erat oleh Geneviève.

​Cahaya matahari pagi yang menembus jendela kamar menerangi sisa sisa kertas yang robek kasar di bagian tulang jilidan buku tersebut. Geneviève tidak mengindahkan saran pelayannya. Jari telunjuknya mengusap perlahan potongan kertas kecil yang tertinggal di bagian belakang sampul, tempat di mana tulisan tidak utuh berbunyi 'cinta sejati' itu bertengger.

​Rasa frustrasi yang luar biasa pekat menekan dada Geneviève. Semalaman ia tidak bisa tidur, mencoba menyusun logika dari semua kepingan fakta yang berserakan di depan matanya.

​"Ini bukan sekadar buku harian tua, Odette," ucap Geneviève dengan suara pelan namun tajam. "Ini adalah bukti fisik dari konspirasi tingkat tinggi yang sangat mengerikan."

​Odette mengerutkan keningnya, berkacak pinggang di samping meja. "Konspirasi apa maksud Anda? Nona, Anda sendiri yang selalu bilang bahwa pemilik tubuh Anda di masa lalu hanyalah wanita yang terobsesi mengejar cinta Duke Vaudémont. Mungkin saja Anda sendiri yang merobek buku itu karena malu membaca tulisan Anda sendiri."

​"Itulah masalahnya, Odette," desah Geneviève. Ia meletakkan buku harian itu ke atas meja dan menatap pantulan wajahnya di cermin. "Aku selalu percaya pada narasi bahwa aku adalah pihak yang bertepuk sebelah tangan. Bahwa Lucien membenciku secara alami. Tetapi penemuan ini, dan kejadian racun semalam, membuktikan bahwa ingatanku dan ingatan Lucien telah dimanipulasi dengan sangat rapi oleh pihak luar."

​Geneviève menyilangkan tangannya, otak pekerja kantorannya berputar menganalisis fakta. Ia menolak keras ide tentang sihir atau kutukan. Baginya, penjelasan paling rasional adalah penggunaan zat kimia berbahaya dan teknik manipulasi psikologis tingkat lanjut.

​"Seseorang yang memiliki kekuasaan besar pasti telah secara rutin memasukkan racun halusinogen dan obat penghilang ingatan ke dalam minuman kami selama bertahun tahun," jelas Geneviève memaparkan teorinya. "Orang ini menciptakan ilusi kebencian di kepala Lucien dan ilusi amnesia di kepalaku. Tujuannya sangat jelas. Mereka ingin mencegah keluarga Duke of Montmirail dan Duke of Vaudémont bersatu. Jika kekuatan militer Lucien dan sumber daya alam keluargaku bergabung melalui pernikahan, faksi bangsawan lain atau bahkan kaisar sendiri akan merasa sangat terancam."

​Odette menelan ludah mendengar penjelasan majikannya. "Jadi... semua kebencian Tuan Ksatria Kaku dan majikannya itu adalah hasil manipulasi? Dan seseorang menyusup ke kamar ini untuk merobek buku harian Anda agar tidak ada bukti masa lalu yang tersisa?"

​"Tepat sekali," angguk Geneviève mantap. "Buku harian ini adalah kunci utama kita. Seseorang merobek halamannya dengan sangat terburu buru untuk menutupi jejak. Sayangnya, aku tidak tahu siapa pelakunya. Apakah itu menteri keuangan? Apakah itu faksi bangsawan oposisi? Atau orang dalam dari keluargaku sendiri? Tanpa halaman halaman yang hilang itu, aku tidak memiliki bukti konkrit untuk memulai penyelidikan."

​Geneviève berdiri dan merapikan gaun sutra birunya. Ia menekan rasa frustrasi dan kebingungan di dalam hatinya jauh ke dasar.

​"Simpan buku ini kembali ke dalam koper dan kunci rapat rapat, Odette. Kita harus bersiap membuka toko. Apapun konspirasi masa lalu yang terjadi dan siapapun dalangnya, koin emas hari ini jauh lebih penting untuk mendanai penyelidikan kita nanti."

​Satu jam kemudian, gerobak etalase berjalan Le C'eow telah diparkir rapi di bawah pohon ek besar di Alun Alun Kemenangan.

​Cuaca ibu kota Lumière sangat cerah. Kerumunan pelanggan dari kalangan bangsawan menengah ke atas mulai memadati area sekitar karpet beludru putih mereka. Estetika perhiasan perak dengan safir biru dan kecubung ungu yang eksklusif masih menjadi primadona yang tak terbantahkan. Putri Mahkota Camille mungkin menjadi saingan bisnis dan politik yang menyebalkan, tetapi dalam urusan kualitas barang, istana telah kalah telak.

​Namun, ada pemandangan yang sangat berbeda pada hari itu.

​Tepat di sebelah kanan gerobak kayu mahoni tersebut, berdiri seorang pria tinggi besar yang mengenakan seragam militer resmi berwarna hitam dan perak. Jubah panjangnya berkibar tertiup angin musim gugur. Pedang panjang bersarung perak menggantung anggun di pinggangnya.

​Lucien de Vaudémont sedang memenuhi janjinya. Sang Komandan Ksatria berdiri tegap mengawasi setiap orang yang berani mendekati etalase Geneviève. Sepuluh ksatria elit berpakaian zirah lengkap disebar di berbagai sudut alun alun, memastikan tidak ada satu pun saingan dagang atau preman sewaan yang berani mencari masalah.

​Kehadiran Lucien sebagai pelindung toko benar benar memberikan kekebalan politik yang mutlak bagi Le C'eow, persis seperti perhitungan Geneviève. Namun, kehadiran pria itu juga membawa masalah baru.

​"Tuan Duke, Anda menakuti pelanggan potensial saya," tegur Geneviève setengah berbisik. Ia bersandar di sisi gerobak sambil memegang sempoa kayunya.

​Lucien menoleh menatap Geneviève. Pria itu mencondongkan tubuhnya mendekati Geneviève, mengabaikan jarak kesopanan antar bangsawan.

​"Aku tidak menakuti siapa pun," kilah Lucien dengan nada bariton yang rendah. "Aku hanya memastikan keamanan. Pria gemuk bertopi bulu yang baru saja pergi itu sedari tadi menatap bagian lehermu, bukan menatap kalung di dalam etalase kaca."

​Geneviève memutar bola matanya. "Pria gemuk itu adalah Viscount de Morcerf. Dia sedang mempertimbangkan untuk membelikan istrinya satu set kalung safir. Dan meskipun dia menatap hal lain, selama dia bersedia membayar lima ribu koin emas secara tunai, saya akan membiarkannya menatap ke arah gerobak ini sampai matanya lelah."

​Mendengar jiwa kapitalis Geneviève yang sangat terang terangan, rahang Lucien mengeras. Pria itu mendengus pelan.

​"Kau benar benar wanita yang tidak tertolong," gumam Lucien, namun ada nada geli yang tersembunyi di balik suaranya. "Jika kau sangat membutuhkan lima ribu koin emas, aku bisa membelinya untukmu. Berapa harga seluruh isi gerobak ini? Aku akan memborong semuanya agar kau bisa pulang dan beristirahat. Berada di keramaian seperti ini terlalu melelahkan."

​Geneviève tertawa renyah, sebuah tawa yang membuat jantung Lucien berdegup satu ketukan lebih cepat.

​"Anda tidak bisa memonopoli karya seni dengan uang militer Anda, Lucien," tolak Geneviève santai. Ia menatap wajah tampan pria itu. "Lagipula, mengapa Anda repot repot berdiri di sini? Perjanjian kita adalah Anda mengirimkan ksatria untuk berjaga. Saya tidak meminta kehadiran komandan utamanya secara langsung."

​"Racun di dalam tubuhku mungkin sudah dinetralkan oleh logam perakmu, tetapi tabib menyarankanku untuk mencari udara segar," alasan Lucien dengan wajah yang sengaja dibuat serius. "Dan kebetulan udara di sekitar toko perhiasanmu sangat baik untuk kesehatanku."

​Geneviève mendengus pelan, sepenuhnya menyadari bahwa pria arogan ini hanya sedang mencari alasan untuk berada di dekatnya. Namun anehnya, Geneviève tidak merasa terganggu. Sejak menyadari bahwa Lucien mungkin adalah sesama korban amnesia buatan dari konspirasi politik ini, Geneviève mulai melihat pria itu bukan lagi sebagai musuh, melainkan sebagai sekutu senasib. Ada rasa aman yang perlahan menyusup ke dalam pertahanan logisnya setiap kali ia melihat punggung lebar Lucien melindunginya.

​Di bagian belakang gerobak, interaksi komedi yang jauh lebih terang terangan sedang terjadi.

​Odette sedang menata kotak kotak beludru kosong di atas meja kecil ketika Gaspard melangkah mendekat. Ksatria bayangan itu membawa sebuah bungkusan besar berlapis kain tebal di tangannya.

​"Selamat siang, Nona Odette," sapa Gaspard dengan suara datarnya yang khas. Posturnya sekaku tiang bendera istana.

​Odette menghentikan pekerjaannya. Ia memicingkan mata menatap bungkusan mencurigakan di tangan Gaspard. "Selamat siang. Benda apa yang Anda bawa itu? Tolong katakan bahwa Anda tidak membawa bangkai hasil perburuan majikan Anda ke mari."

​"Ini bukan bangkai, Nona Odette," jawab Gaspard dengan sangat harfiah. Ksatria itu menyodorkan bungkusan tersebut ke hadapan Odette. "Saya memperhatikan bahwa senjata bela diri Anda, yaitu wajan besi dari dapur kediaman Montmirail, memiliki gagang yang mulai berkarat dan titik berat yang tidak seimbang. Itu akan mengurangi efisiensi ayunan Anda saat memukul tengkorak penyusup."

​Odette melongo. Ia membuka lipatan kain tebal tersebut dengan ragu ragu.

​Di dalamnya, terdapat sebuah wajan besi hitam legam yang berukuran cukup besar. Permukaan besinya dipoles hingga mengilap sempurna. Gagangnya dilapisi oleh kulit rusa kualitas premium yang dijahit dengan sangat rapi, memberikan pegangan yang anti slip dan sangat nyaman.

​"Saya meminta pandai besi khusus militer Vaudémont untuk menempanya semalam," jelas Gaspard tanpa perubahan ekspresi sedikit pun. "Wajan ini terbuat dari baja campuran yang biasa digunakan untuk membuat perisai ksatria lapis baja. Benda ini tahan terhadap tebasan pedang ringan dan sangat optimal untuk pertarungan jarak dekat di dalam ruang tertutup seperti toko Anda."

​Wajah Odette memerah padam, bukan karena marah, melainkan karena ia benar benar kehilangan kata kata. Seorang ksatria elit membelikannya wajan tempur berkualitas militer sebagai hadiah? Ini adalah tingkat romansa yang terlalu absurd, namun entah mengapa sangat memanjakan jiwa barbar pelayan kecil itu.

​"Hamba... hamba tidak tahu harus berkata apa," cicit Odette, jari jarinya mengelus permukaan gagang kulit rusa itu dengan penuh kekaguman. "Ini... ini sangat berat dan mematikan. Hamba menyukainya."

​"Saya sangat bersukacita jika Anda menyukainya, Nona Odette. Silakan digunakan dengan bijak untuk mematahkan tulang musuh bisnis majikan Anda," balas Gaspard sambil membungkukkan badan sedikit, seolah ia baru saja memberikan seikat bunga mawar merah paling romantis di dunia.

​Hari itu berlalu dengan kesuksesan finansial yang luar biasa bagi Le C'eow. Kehadiran faksi Vaudémont membungkam semua protes dari pedagang saingan. Bisnis mereka berjalan lancar tanpa ada gangguan berarti.

​Malam harinya, setelah gerobak kembali diparkir di kediaman Montmirail dan Odette telah pergi tidur dengan memeluk wajan baja barunya, Geneviève duduk sendirian di dalam kamarnya.

​Hanya ada satu lilin yang menyala di atas meja riasnya. Ia kembali menatap buku harian bersampul merah yang halamannya robek tersebut. Misteri tentang konspirasi amnesia ini terus menghantuinya. Ia butuh bukti. Ia butuh tahu siapa dalang di balik semua ini dan apa yang sebenarnya terjadi tiga tahun yang lalu.

​Tiba tiba, hembusan angin malam yang sangat dingin menyapu tengkuk Geneviève.

​Lilin di atas meja bergoyang hebat nyaris padam. Korden jendela kamarnya berkibar perlahan, meskipun Geneviève sangat yakin ia telah mengunci jendela itu rapat rapat dari dalam.

​Naluri bertahan hidup Geneviève langsung bereaksi. Ia bangkit berdiri secara perlahan, tangannya meraba laci meja untuk mencari pisau pembuka surat berbahan perak.

​"Selamat malam, Nona Montmirail. Mohon jangan berteriak. Saya tidak memiliki niat sedikit pun untuk melukai Anda malam ini."

​Suara bariton yang sangat datar terdengar dari sudut ruangan yang gelap.

​Geneviève menahan napasnya. Sosok tinggi besar melangkah keluar dari balik bayangan lemari pakaiannya. Pria itu mengenakan pakaian serba hitam yang menyatu dengan kegelapan. Itu adalah Gaspard. Sang ksatria bayangan telah menyusup masuk ke dalam kamar tidur seorang putri Duke tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun.

​"Gaspard?" desis Geneviève, melepaskan cengkeramannya pada pisau perak. "Apa yang kau lakukan di kamarku pada tengah malam? Jika Odette melihatmu di sini, dia akan benar benar menguji wajan barumu ke kepalamu."

​"Jika Anda menjerit, Nona Odette mungkin memang akan mendobrak pintu dan memukul saya tanpa ampun. Saya lebih suka menghindari konfrontasi domestik tersebut," jawab Gaspard dengan nada serius yang sama sekali tidak terdengar seperti lelucon.

​Ksatria itu melangkah mendekati meja rias Geneviève. Ia berdiri tegap, menjaga jarak yang sopan dan tidak menunjukkan sikap mengancam.

​"Saya diperintahkan secara rahasia oleh Tuan Duke untuk datang kemari," lapor Gaspard. Suaranya diatur pada volume yang sangat rendah. "Ada pihak pihak tak dikenal yang mulai menggerakkan mata mata mereka di sekitar kediaman Vaudémont. Tuan Duke tidak bisa menembus pengawasan itu malam ini tanpa memicu kecurigaan faksi musuh. Oleh karena itu, beliau mengutus saya untuk memberikan ini kepada Anda."

​Gaspard merogoh saku bagian dalam jubah hitamnya. Ia mengeluarkan selembar kertas yang dilipat rapi. Kertas itu terlihat tua, menguning di bagian tepinya, dan ada sedikit noda tinta yang mengering di salah satu sudutnya.

​"Apa ini?" tanya Geneviève. Otak detektifnya segera bersiaga.

​"Malam sebelumnya, saat saya menyelidiki arsip masa lalu Tuan Duke yang dibakar oleh pengkhianat, saya menemukan sebuah ruang penyimpanan rahasia di balik laci meja kerja pribadi beliau," jelas Gaspard. "Dokumen ini disembunyikan dengan sangat rapat di dalam kompartemen tersebut. Api yang membakar catatan perjalanan tidak sempat menjangkaunya."

​Geneviève mengulurkan tangannya dengan sedikit gemetar. Ia mengambil lipatan kertas tua itu dari tangan Gaspard. Kertas itu terasa kasar dan rapuh di ujung jemarinya. Bagian tepinya tidak beraturan, seolah olah kertas ini baru saja dirobek paksa dari sebuah buku.

​Mata Geneviève langsung melirik ke arah buku harian bersampul merah di atas mejanya. Kertas ini memiliki warna dan tekstur yang sama persis dengan sisa kertas di tulang jilidan buku tersebut.

​"Tuan Duke membaca kertas itu siang tadi sebelum menemui Anda di alun alun," lanjut Gaspard. "Beliau mengatakan bahwa kertas ini adalah kunci dari semua kebingungan yang kalian alami. Tugas saya selesai, Nona. Saya undur diri."

​Tanpa menunggu balasan dari Geneviève, Gaspard mundur ke arah bayangan, membuka kaitan jendela dalam satu gerakan mulus, dan melompat keluar ke dalam kegelapan malam tanpa suara. Ksatria bayangan itu menghilang bagaikan hantu yang tertiup angin.

​Geneviève berdiri mematung sendirian di dalam kamarnya. Suara detak jantungnya sendiri terasa sangat bising memukul mukul gendang telinganya.

​Ia menatap lipatan kertas di tangannya. Ia menarik napas panjang, menekan seluruh logika pekerja kantorannya yang selama ini menolak kenyataan bahwa ia mungkin memiliki masa lalu yang indah di dunia ini. Perlahan lahan, dengan gerakan yang sangat hati hati, Geneviève membuka lipatan kertas tua tersebut.

​Di bawah cahaya temaram sebatang lilin, mata cokelat Geneviève membaca isi kertas itu.

​Di bagian atas kertas, terdapat sebuah sketsa kasar yang digambar menggunakan tinta hitam. Sketsa itu menggambarkan bentuk sebuah cincin dan sebuah bros yang saling melengkapi. Ukiran sulur rantingnya digambar dengan sangat detail. Bentuk batu safir dan kecubung ditandai dengan tulisan kecil di bagian sampingnya.

​Itu adalah cetak biru orisinal dari cincin yang saat ini melingkar di jari Geneviève, dan bros yang berdetak di dada Lucien.

​Namun, bukan sketsa itu yang membuat napas Geneviève seolah berhenti total. Melainkan tulisan yang tertera di bagian paling bawah kertas tersebut. Tulisan tangan itu bukanlah tulisan milik tubuh aslinya. Itu adalah tulisan tangan yang sangat tegas dan kuat, khas seorang ksatria yang terbiasa memegang pena dan pedang dengan keteguhan yang sama.

​Tulisan tangan Lucien de Vaudémont. Tinta di kertas itu mengukir sebuah kalimat pendek yang meruntuhkan seluruh asumsi Geneviève selama ini.

​'Dari Lucien, untuk cintaku Geneviève.'

​Kertas itu nyaris terlepas dari genggaman Geneviève.

​Tubuh Geneviève seketika lemas. Ia menjatuhkan dirinya ke kursi rias. Air mata yang tidak ia duga sebelumnya menggenang dan jatuh membasahi pipinya. Rasa hancur, marah, dan kesedihan yang luar biasa besar meledak di dalam dadanya menyapu bersih rasionalitasnya.

​Kertas ini adalah halaman yang hilang dari buku hariannya.

​Kebenaran mutlak akhirnya terbongkar dengan sangat jelas. Narasi novel romansa tragis yang selalu ia percayai itu adalah kebohongan paling kejam yang pernah ada. Dirinya bukanlah penjahat yang bertepuk sebelah tangan. Ia bukanlah penguntit gila yang terobsesi mengejar cinta yang tak pasti.

​Ia dan Lucien de Vaudémont adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dengan sangat dalam. Seseorang, entah faksi mana yang ketakutan melihat persatuan mereka, telah meracuni dan merampas ingatan mereka berdua dengan sangat rapi. Kehidupan dan cinta masa lalunya telah dicuri dan dibuang begitu saja.

​Di tengah keheningan malam itu, sang wanita rasional akhirnya berhenti berlari. Geneviève de Montmirail menghapus air matanya dengan kasar. Matanya kini berkilat memancarkan dendam yang luar biasa mematikan. Mulai malam ini, ia bukan sekadar pedagang perhiasan. Ia akan menjadi detektif dan algojo bagi siapa pun dalang yang telah berani menghancurkan kehidupannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!